
Pagi kembali menjamah, sinar terang mulai muncul menggantikan sang rembulan untuk menghilang dari peraduan. Harum masakan Maura sangat menggoda indera penciuman Gifali. Maura sedang memasak nasi goreng dan telur dadar untuk sarapan mereka berdua pagi ini.
Terlihat Gifa masih berdiri didepan cermin, merapihkan seragam khusus ospek yang saat ini tengah ia pakai.
"Pomade kamu, ada dilemari sayang.." seru Maura dari arah dapur.
"Oh iya, sayang.." jawab Gifa sambil melangkah kembali menuju lemari. Mengambil kotak pomade miliknya, mengusapkan jeli tersebut ke pelataran rambutnya hingga menjadi rapih dan licin. Gifali terlihat semakin tampan hari ini. Sudah dipastikan cewek-cewek bule akan tebar pesona kepadanya.
"Selama aku di kampus, kamu di rumah aja ya, Ra. Jangan kemana-mana!" ucap Gifa.
"Iya sayang, aku akan dirumah saja." jawab Maura sambil berjalan melewatinya menuju ruang depan dengan dua piring nasi goreng beserta telur dadar penuh dengan daun bawang ditangannya.
"Ayo makan dulu, sebentar lagi kamu harus berangkat biar nggak telat sampai kampus." titah Maura.
Gifa pun menghampiri istrinya, Maura seketika melamun tanpa kedipan. Sungguh ia terpukau dengan ketampanan sang suami. Tubuh tinggi dan tegap, memakai seragam dengan rapih, rambut yang tertata licin serta tas yang sudah mengalung indah di kedua pundaknya.
"Hey, Maura.." Gifali mengibaskan telapak tangannya di wajah sang istri. Maura pun terkesiap ketika Gifali mengetahui dirinya tengah melamun.
"Ayo makan sayang, kenapa melamun?" Gifa mulai menyendok nasi goreng ke dalam mulutnya, melahap masakan itu dengan berbagai pujian.
"Masya Allah, enak banget. Mirip kaya masakan Mamaku, Ra."
Maura tersenyum senang. Apalagi yang akan dirasakan seorang istri ketika masakannya di puji oleh suami? Kalau berseru histeris karena bahagia.
"Beneran sayang?" bola mata Maura berbinar, ia begitu ingin memastikan pujian dari suaminya. Gifali pun mengangguk dan memberikan senyuman kepada istrinya. Ia dengan lahap menghabisi sarapan itu dengan semangat.
"Sayang.." tanya Maura lagi.
"Hemm..?" jawabnya sambil memasukan potongan telur dadar kedalam mulutnya.
"Kalau ada cewek yang godain kamu, kamu nya diam aja ya. Jangan di ladenin, walaupun di mata mereka kamu single, tapi kenyataannya kamu sudah menikah!" ucap Maura menatap lurus wajah suaminya.
Gifa langsung menoleh cepat dengan mulut yang masih penuh karena sedang mengunyah. Ia menangkap raut kecemasan di wajah sang istri. Jangan lupakan, walaupun ia mempunyai hati seindah lembayung senja dan mempunyai rasa sabar yang tinggi. Tapi ia juga mempunyai sisi kelemahan yaitu mempunyai sifat cemburu yang menurun dari sang Papa. Orang tuanya sudah sangat hafal bagaimana ketika Maura sedang cemburu.
Gifa menjulurkan tangan untuk mengambil cangkir tehnya, namun lebih dulu Maura meraihnya untuk langsung menyodorkan ke bibir suaminya.
Makanan yang belum selesai dikunyah dengan halus, begitu saja terdorong dengan air teh sampai ke dasar lambung. Ia menatap wajah istrinya dalam-dalam sambil tersenyum.
"Kok senyum kenapa?" tanya Maura.
"Kamu cemburu ya?" Gifa berbalik tanya ketika cangkir teh sudah menjauh dari mulutnya. Maura meraih sehelai tissue ketika melihat tetesan teh tertinggal disekitar dagu yang akan jatuh membasahi seragam suaminya.
Maura mengangguk, wajahnya bersemu merah. Wanita polos dan baik hati ini malu karena diketahui. Gifali yang gemas langsung mencium bibir istrinya.
"Jangan takut, Ra. Aku udah enggak tertarik sama cewek lain." Gifa menyampir kan helaian rambut istrinya ke belakang daun telinga.
"Karena hanya ada kamu di hatiku.." Gifali menggoda Maura dengan rayuan receh nya.
Jika wanita lain akan mencebik dan merasa aneh karena digoda, beda hal dengan Maura yang begitu senang. Baginya setiap rayuan dan pujian yang mencuat dari bibir suaminya adalah suatu doa dan kebahagiaan, Maura selalu bersyukur akan hal itu. Ia pun mengalungkan kedua tangan di leher Gifali.
"Ya udah aku jalan ya, kamu hati-hati dirumah, dan ingat jangan lupa pakai jilbabmu walau hanya keluar dari pekarangan kamar!" Gifali memberikan sejumput nasihat.
Maura mengangguk dan tersenyum, ia meraih punggung tangan suaminya untuk dicium.
"Semoga sukses ya sayang ospek nya. Jangan terlalu letih, dan cepat pulang ya."
"Iya, Ra, kamu juga. Istirahat aja dirumah, tiga hari lagi kan kamu sudah mulai ospek."
Setelah berpamitan dengan istrinya, Gifali pun berlalu meninggalkan kostan menuju kampus. Untung saja jarak menuju kampus tidak terlalu jauh, bisa di lalui dengan berjalan kaki. Bisa dibayangkan betapa efisiennya Gifa selama kuliah di sana, mungkin ia hanya akan mengeluarkan uang untuk makan siang selama di kampus. Maura buru-buru kembali ke kamar untuk memakai jilbabnya. Ia melangkah lagi untuk keluar dari dalam kosan.
"Dada sayang.." seru Maura dari depan kamarnya di lantai tiga.
Suara Maura membuat Gifali mendongak keatas, menatap legam wajah Maura yang sedang tersenyum dengan kerudung rumahan yang menutup kepalanya, menambah kecantikan Maura menjadi berkali-kali lipat. Gifali pun melambaikan tangan sebelum akhirnya ia menyuruh Maura untuk masuk lagi kedalam kostan, Gifali kembali melanjutkan langkah untuk keluar dari pintu gerbang menuju kampus.
****
Hingar bingar suara mahasiswa baru sudah terdengar di pelataran lapangan kampus. Mereka sudah dibagi dalam beberapa barisan sesuai dengan jurusan masing-masing . Beberapa anggota senat sudah berkumpul di sana, untuk memperhatikan, mengawasi dan membimbing para adik junior mereka dalam jalannya ospek yang berlangsung selama tiga hari di sini.
Gifali berada di barisan terdepan. Ia dipilih menjadi ketua tim regu dari barisannya. Gifali adalah anak yang supel, belum lama saja ia berada di sana, sudah dapat menggandeng beberapa teman.
Tidak sedikit mahasiswa dari Indonesia yang ikut menempuh pendidikan di sini, seperti Arif dan Topan, misalnya. Dua anak lelaki itu sudah akrab dengan Gifali sejak berbelas menit yang lalu. Mereka pun terlihat dari keluarga berada.
"Eh jangan cengengesan, sebentar lagi acara mau dimulai. Kamu mau baris disamping ketua senat?" ucap kakak senior kepada salah satu mahasiswa baru yang berada tepat disebelah Gifali. Anak lelaki itu terlihat banyak mengobrol dengan beberapa teman yang lain.
"Kamu juga ngapain lihat-lihat?" sentak Kakak senior itu kepada Gifali yang tak sengaja ikut menoleh menatapnya.
"Kamu mau juga berdiri didepan sana?" Kakak senior itu menunjuk ke arah depan, dimana di sana ada seorang laki-laki bertubuh tinggi yang tidak kalah tampan darinya, memakai jas almamater berwarna biru dongker. Sedang berdiri menggenggam sebuah mikropon yang akan ia gunakan untuk memberikan kata sambutan kepada para adik-adik junior sebentar lagi.
Gifa hanya menggelengkan kepala dengan sopan.
"Maaf Kak, atas kelancangan saya." tutur Gifali lalu menundukkan pandangannya.
Arif dan Topan juga ikut menundukkan kepala, mereka juga takut jika akan menjadi santapan dari Kakak senior itu.
"Yan, gimana? Acara kapan mau dimulai?" tanya Martin kepada Adrian. Lelaki itu masih memperhatikan para mahasiswa baru yang sudah berbaris rapih beberapa jarak meter dari hadapannya saat ini.
"Ya udah kita mulai aja sekarang." jawab Adrian, lalu ia melangkah menuju ke atas podium. Tidak banyak mahasiswa baru berjenis kelamin wanita begitu tertohok dengan ketampanan Adrian, si ketua senat di kampus ini. Parasnya yang gagah membuat hati mereka begitu merekah karena dilanda kekaguman.
Acara ospek pun dimulai dengan awalan pembukaan dan ucapan sambutan yang diucapkan oleh Adrian. Lelaki itu menjelaskan tentang keorganisasian senat, tentang cikal bakal kampus dan rundown acara selama ospek berlangsung. Para mahasiswa baru begitu antusias, salah satunya adalah Gifali yang sedari tadi menatap Adrian dengan wajah penuh semangat. Ia tidak menyangka bisa menjadi bagian dari kampus terfavorit di Negara ini.
Selamat menjalani Ospek Gifali, tunggulah beberapa kejutan yang akan datang sebentar lagi. Nikmati saja awal permulaan ini.
****
Ayo komennya yang banyak, nanti aku UP satu episode lagi❤️❤️, dan Jangan lupa Like nya juga ya.