My Sabbatical Wife

My Sabbatical Wife
Maafkan Aku, Sayang.



"Hah? Kok bisa?" Maura menatap lurus manik mata hazel milik Gifa penuh tanda tanya. Wanita itu terperanjat ketika suaminya menceritakan perihal Harun yang baru saja diketahui, menjadi salah satu dosen di kampusnya.


Gifa mengelus punggung Maura. "Kamu nya tenang, Ra. Tadi sore aku udah sempat nego sama Pak Harun."


"Nego gimana maksudnya?" wajah Maura tiba-tiba pucat, napasnya terasa begitu berat. Bola mata wanita itu berkaca-kaca.


"Jangan nangis dulu dong, Ra."


"Aku takut kamu dikeluarin, Gifa.." cicitnya sendu. Tidak tega melihat Maura sedih seperti ini, Gifali pun membawa Maura masuk kedalam pelukannya.


"Tenang aja, kemarin aku udah bicara baik-baik kok sama Beliau, nanti kita akan bertemu lagi di kampus, untuk membahasnya." jawab Gifa meyakinkan. Ia menyeka air mata istrinya yang mulai menetes. Padahal beberapa jam yang lalu mereka begitu riang tertawa dalam permainan cinta yang mereka ulangi dalam dua babak permainan.


"Kenapa nggak sekarang aja kita kerumah Pak Harun? Aku bisa bujuk Bu Fatimah."


Gifali menggelengkan kepalanya. "Ini kan urusan kampus, nggak perlu dibawa ke rumah. Biarkan aku selesaikan secara laki-laki!"


Hembusan napas panjang mencuat dari bibir Maura. Hatinya kembali redup, walau Gifa berkali-kali menenangkannya tetap saja ia takut dan gegana.


"Oh iya, besok kamu ke bank ya. Buka tabungan baru. Uang yang kemarin aku dapat, dijadikan satu saja dengan sisa uang yang masih ada." titah Gifa membuat Maura menganggukan kepalanya.


"Masih ada barang yang ingin kamu beli nggak, buat keperluan ospek lusa? Kalau masih ada, besok aku siap temenin."


"Loh, kan, kamu masih harus ospek, Gifa." Maura menautkan alisnya.


"Aku dapat keringanan, berkat kuis itu. Jadi boleh mengikuti ospek hanya dua hari, lagian capek banget, Ra. Seharian gitu kerjain ini-itu. Ini aja punggung aku rasanya pegal banget!"


Gifali bergeliat seperti orang yang yang habis memanggul dua puluh karung beras. Maura tersenyum, lalu tertawa pelan.


"Bilang aja mau dipijitin, pakai segala alesan. Ayo berbaring lah, aku akan pijat kamu."


Wajah Gifa terlihat manis dua kali lipat ketika tersenyum, ia sangat bahagia mendapatkan istri seperti Maura. Selalu mengiyakan apapun kemauannya.


"Sebentar ya, aku mau ambil minyak zaitun dulu." Maura bangkit dari ranjang lalu melangkah menuju lemari.


Gifali berbaring dengan menelungkup kan tubuhnya. Membuka kaos dalam, sehingga tubuh bagian atasnya terlihat polos. Maura pun beringsut untuk menuangkan minyak diatas punggung suaminya. Memulai pijatan pelan yang masih amatir.


"Masya Allah, Aisyah-ku. Sungguh aku bersyukur mendapatkan mu menjadi istriku. Nikmat mana lagi yang aku dusta kan." Gifali terus saja mengucap syukur kepada Maha Pencipta dan memuji-muji Maura dengan roman picisannya. Ia begitu bahagia, ketika telapak tangan beserta jari-jari halus Maura meremas lembut permukaan kulit punggungnya.


"Makasih ya sayang, enak nggak?" begitulah Maura, ia akan terbang ke awang-awang ketika sudah di puji-puji oleh suaminya. Padahal kedua matanya sudah mengerjap beberapa kali karena rasa kantuk yang mulai menjamah.


"Rasanya gimana sekarang?" tanya Maura ketika memijat tengkuk lehernya, membuat Gifa bersendawa dengan leganya.


Sepertinya masalah tentang Pak Harun begitu saja menghilang sejenak dari fikiran Maura. Wanita itu akan melakukan apa saja, untuk mempertahankan kebahagiaan suaminya. Nasihat dari sang Mama pun, selalu menjadi acuan dalam rumah tangganya bersama Gifali.


*****


Gifali sudah berangkat dari tiga jam yang lalu dengan perut kenyang dan wajah segar karena semalam habis di pijat oleh istrinya. Terlihat Maura sedang memilih-milih dari tiga gamis yang baru ia punya. Gamis panjang yang dibelikan oleh Gifali selama mereka di London. Sang suami ingin Maura memakai pakaian itu jika hendak keluar rumah.


"Yang ini aja deh." ucapnya sambil meraih gamis bermotif bunga lili dengan warna pink bercampur biru navy. Ia pun memakainya dan menyenadakan warna kerudung yang berbentuk segitiga, yang ia juntai kan sisi kainnya kebawah, sehingga menutup bagian dadanya.


Sungguh cantik, bagai bidadari turun dari kayangan, seperti pujian yang sering di lontarkan oleh Gifali. Maura terlihat sangat ayu dengan penampilannya sekarang, tak lupa ia berfoto selfie untuk dikirimkan ke grup chat keluarga Artanegara. Ia rindu orang tuanya di sana. Padahal Papa Bilmar dan Mama Alika akan menelepon putrinya setiap pagi atau malam.


Posisi Bank memang sedikit jauh dari kawasan tempat tinggalnya, tapi Maura masih bisa menjangkaunya dengan berjalan kaki. Menikmati udara siang yang semakin terik, terkadang ia menundukkan wajahnya ke bawah, karena tidak ingin terpapar sinar matahari.


Entah mengapa dengan berjalan kaki, membuat kerongkongan Maura terasa begitu kering. Ia pun haus, dan memutuskan untuk mampir ke toko perniagaan. Memilih minuman dingin yang berguna untuk menghilangkan dahaganya.


Belum saja Maura menggenapkan langkah kakinya diluar toko, ia sudah berteriak kencang. Botol minumannya seketika jatuh dan tumpah. Ia merasa ada yang menarik tasnya, dan membawanya kabur begitu saja.


"Tolong ... Tolong!" seruan Maura membuat beberapa manusia yang lewat begitu saja berkumpul mendekatinya, mereka hanya bisa menatap Maura dalam tatapan diam dan entah bisa melakukan apa. Maura terus saja menderu-deru dalam tangisan. Menatap lurus bayangan si pencuri yang sudah kabur entah kemana.


"Apa yang terjadi?" salah satu dari mereka yang berkumpul membuka suara.


Maura yang masih terlihat panik, hanya bisa menangis. Beruntung ponsel nya masih ia genggam ditangannya. Hanya saja tas yang ia sampirkan dilengan kanan, begitu mudahnya ditarik dan dibawa pergi.


"Ya Allah ..." desah Maura, wanita itu hanya menangis terisak-isak.


Meninggalkan sekumpulan orang yang masih mengerubunginya didepan toko perniagaan. Wanita berhijab itu menangis di sepanjang jalan. Sesekali meremas lapisan kerudung yang menjuntai di depan dadanya. Hatinya terasa hancur dan sakit. Kerja keras milik suaminya hilang begitu saja tanpa perlawanan. Sesekali ia menghentakkan kakinya, karena tidak tahan untuk menahan rasa kecewa.


"Sayang ... Gifa." Maura terus merintih nama suaminya. Ingin mengadu, namun ia takut. Walau Maura tahu Gifa tidak akan memarahinya. Tapi lelaki itu pasti akan kecewa. Seluruh uang yang ingin ia tabungkan sudah terhempas begitu saja.


"Bahkan sekarang udah nggak ada lagi uang yang tersisa sepeserpun! Aku harus bagaimana sekarang?" Maura memilih duduk dikursi taman, merenung dan terus berfikir. Menyeka air keringat yang sudah bercampur dengan air mata yang terus saja menetes.


Ia kembali teringat dengan wajah Gifa yang masih terlihat bangga karena kesuksesannya kemarin, tapi berkat keteledorannya, semua kesuksesan itu seperti tidak ada harganya.


"Maafkan aku sayang, maafkan aku!" lirihnya. Ia terus menyesal, tapi mau bagaimana lagi? Nasi sudah jadi bubur. Kejadian tadi tidak akan pernah bisa diputar kembali.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Bahkan bahan makanan untuk nanti malam saja, aku tidak bisa membelinya." Maura kembali menangis sambil menangkup wajah yang sudah basab dengan kedua telapak tangannya. Satu masalah tentang Harun saja belum bisa membuat hatinya lega, namun dirinya kembali diguncang dengan kejadian seperti ini.


Bersabarlah Maura, semua pasti akan ada jalan terbaiknya.


****