My Sabbatical Wife

My Sabbatical Wife
Eks Part Two



"Pakai kerudung ya, Nak."


Geisha menolak ketika tangan Gifali mau memasangkan sebuah hijab kecil di kepalanya. "Gelah Ayah. Adek ndak suka." cicit Geisha dengan menggoyang-goyangkan jari.


Gifali hanya bisa menggerakkan kepalanya dengan anggukan kecil. Ia harus bersabar, Geisha memang masih terlalu dini. Baru mau empat tahun, tapi menurut Gifa maka dari sedini lah, ia harus bisa mengajarkan hal itu kepada anak perempuannya.


"Udah, Yah?" tanya Geisha, ketika Gifa sudah selesai memasangkan sepatu bertali di kakinya. Kembali merapihkan gamis anak itu dan menjawab. "Sudah, tunggu dulu di ruang tivi ya." Geisha mengangguk faham lalu berlalu untuk menghampiri dua saudara kembarnya yang juga sudah rapih dengan stelan koko dan kopiah.


Gifa membuka lemari, dan meraih sebuah kopiah berwarna putih dan melekatkan erat kepalanya. Ia memakai baju koko klasik modern berwarna hijau yang dipadu padankan dengan celana bahan berwarna cream.


"Bun ..." Gifali memanggil dan menoleh ketika langkah kaki Maura mulai memasuki kamar. Wanita hamil itu tetap saja berkutat dalam urusan rumah, padahal ia sudah rapih. Seperti sesaat lalu, contohnya, ia masih saja berkutat di dapur.


"Ibu Dante, tidak usah dibantu lagi. Kasihan kamu capek, Bun." ucap Gifa.


Bukan karena kejam kepada IRT, tapi Gifa rasa. Ia benar, memperkerjakan Ibu dante di sini, bertujuan agar istrinya tidak kelelahan. Sudah mengandung anak kembar ditambah harus mengurus tiga anak kembar pula.


"Tadi aku hanya bantu untuk mengepak kue-kue yang aku buat." jawab Maura. Ia memilih untuk duduk di tepi ranjang, menunggu sang suami siap.


Gifali mengangguk sambil menyemprotkan farfum non alkohol di pergelangan tangan, yang ia gosok-gosok terlebih dulu lalu di usap ke seluruh bajunya.


"Sudah siap, Yah?" tanya Maura. Wanita hamil yang semakin hari semakin menawan saja. Bahkan Gifali selalu saja memandangnya tak jemu-jemu. Sering memuji dan melontarkan kata-kata cinta.


Gifali tersenyum. "Sudah ... Oh, iya. Al-Quran nya jangan lupa dibawa." ucapnya mengingatkan. Maura mengangguk. "Sudah semua kok, punya Bunda dan Ayah ada di dalam tas." jawabnya.


"Yah, Bunda----"


"Cantik. Kamu sudah cantik." Gifali menyelak pertanyaan istrinya sambil menghampiri ke bibir ranjang dan mengecup singkat pipi istrinya.


Maura tertawa, karena sang suami sudah sangat hapal, apa yang akan ia katakan setelah selesai berdandan dan memakai gamis dan hijab syar'i modern. Tidak terlalu panjang, hanya sebatas dada saja.


Gifa mengusap perut buncit Maura. "Gea dan Ginka, lagi gerak-gerak banget nih, Bun."


"Kayaknya anak-anak kamu nih lagi salto deh, udah dua jam. Gerakannya aktif banget engga mau berhenti."


Kini, Gifali yang tertawa. "Ya udah, ayo kita berangkat." Ia dan Maura berlalu dari kamar menuju ruang tivi, dimana ketiga anak kembarnya sudah berkumpul untuk menunggu mereka.


Hari ini, adalah minggu ke empat dalam satu bulan. Dimana, perkumpulan orang-orang Islam di London, akan berkumpul untuk mendengarkan tausiyah, tilawah bersama dan bersilahturahmi kepada para jamaah lainnya. Pramudya dan Tamara pun akan menghadirinya.


Karena sudah dua tahun ini Harun dan Fatimah mengajak pasangan suami istri tersebut. Sebelum-belumnya Pramudya selalu menolak, namun karena mengetahui putranya suka ikut dalam kajian.


Hatinya pun tergugah untuk ikut, apalagi dirinya akan bertemu ketiga cucunya. Mungkin ini adalah hidayah untuk Pramudya dan Tamara lewat Harun dan Gifali dari Allah SWT.


***


"Kakek ..." seru ketiga anak itu ketika melihat Pramudya sedang berdiri di bingkai pintu masjid. Senyumnya sangat sumringah ketika melihat ketiga cucunya berlari sesaat turun dari dalam mobil ke arahnya.


Sampai dimana, Geisha terjatuh karena Bisma ingin mendahuluinya, karena pangkal bahu anak lelaki itu, tidak sengaja mengenai tubuh Geisha yang mungil. Akhirnya anak itu terjatuh.


"Ya Allah ..." seru Pramudya. Sang Kakek pun melangkah menghampiri cucu perempuannya yang sedang menangis kesal karena perbuatan Kakaknya.


"Makanya pelan-pelan, Kak." seru Gifali kepada Bisma dari balik pintu penumpang ketika membantu Maura untuk turun. Setelah Maura tegak berdiri di atas aspal masjid. Gifa beralih membuka bagasi, untuk mengambil makana-makanan yang sengaja akan ia sajikan untuk semua jemaah.


Bisma mengangguk dan mengusap-usap tubuh Geisha yang sudah dalam gendongan sang Kakek. Anak itu menangis, biasalah namanya juga anak perempuan. Ia tahu dirinya akan menjadi pusat perhatian. Ia yang selalu di manja oleh Kakek dan Neneknya di sini.


Pramudya terus menciumi pipi gembul Geisha yang masih merengek seperti tengah kesakitan.


"Maafin Kakak ya, Dek." ucap Bisma. Dengan wajah merungut, Geisha mengangguk.


Pramudya lantas mencium Bisma dan Pradipta bergantian. "Ayo sana masuk, gabung sama teman-teman kalian." anak kembar itu mengangguk, sebelum pergi, mereka mencium dulu punggung tangan Kakeknya. Karena sedari datang, peristiwa terjatuhnya Geisha. Membuat mereka lupa. Anak pintar dan soleh.


Pramudya masih berdiri menggendong Geisha di perbatasan suci Masjid. Menunggu Anak dan menantunya yang sedang melangkah.


"Ayah ..." Gifa dan Maura bergantian mencium tangan lelaki setengah abad itu.


"Kalian sehat?" tanya Pramudya. Lelaki ini terlihat amat rindu dengan Gifali. Karena setelah lulus kuliah. Mereka jadi jarang bertemu. Hanya bisa memanfaatkan waktu libur untuk saling mengunjungi.


Mereka berdua mengangguk. "Ayah dan Ibu bagaimana?"


"Alhamdulillah Ayah dan Ibumu sehat. Oh iya, bulan depan acara pertunangan Adrian dan Ramona, apa kalian sudah tahu?" ucap Pramudya dengan langkah kaki mereka yang sudah bersisihan menuju ke dalam Masjid.


"Sudah, Yah. Ramona sudah mengabari Maura." Maura menjawab lebih dulu.


"Kak Adrian juga sudah mengabari Gifa, Yah."


"Baiklah kalau begitu." langkah mereka akhirnya sampai di ambang pintu Masjid. Terlihat di sana, jejeran para Ibu-ibu Talim sudah memenuhi ruangan. Ada sekat pembatas untuk menjaga jarak dengan para lelaki.


Tamara beranjak bangkit, ia terlihat menyudahi tilawahnya bersama Fatimah. Tamara menghampiri Maura dan Geisha yang baru saja ditinggal oleh Gifali dan Pramudya untuk bergabung dengan Harun dan para jamaah lainnya.


Maura mencium tangan Tamara, begitu pun Geisha. "Gendong sama Nenek ya." Geisha mengangguk ketika Tamara menjulurkan tangan kebawah ketiaknya. "Di situ aja." Tamara menunjuk ke arah kosong disebelah Fatimah.


Wanita yang sedang duduk di atas karpet itu melambaikan tangan ke arah Maura. Raut rindu dari wajah Fatimah begitu terlihat. Karena setiap melihat Maura, ia akan selalu terbayang dengan Nurul, putrinya yang suda berpulang.


"Sudah besar perutmu, Nak." ucap Fatimah ketika Maura baru saja mencium tangannya. "Jalan enam bulan, Bu."


"Jangan capek-capek ya."


Maura mengangguk. "Ibu sehat kan?" tanyanya.


"Alhamdulillah, Ibu dan Abi, sehat semua."


"Alhamdulillah, Maura ikut senang, Bu." Maura akhirnya duduk disebelah Fatimah. Dan Tamara duduk disebelahnya sambil memangku Geisha.


"Ayo salim dulu sama Nenek, Nak." titah Maura kepada Geisha. Geisha mengangguk lalu mencium tangan Fatimah.


"Cantik banget kamu, Nak. Kayak Ibu mu." Fatimah mencium pipi Geisha singkat setelah mengelus rambutnya. Geisha kembali ke dalam pangkuan Tamara.


"Makasih, Ibu." Maura mewakili Geisha, sekaligus mengajari anaknya untuk ikut berbicara seperti itu.


"Makasih, Ibu." Geisha mengulangi dengan suara polosnya. Membuat mereka bertiga tertawa karena gemas.


Maura menyodorkan kue-kue yang ia bawa kepada pengurus Talim. Untuk di sebarkan menjadi beberapa jumlah di piring dan bisa di edarkan sampai ke jamaah laki-laki. Sungguh, hal terindah dalam berumah tangga ketika suami istri bisa saling bergandengan dalam mencari pahala dan ridho Allah SWT.


***


Like dan Komennya jangan lupa ya. Aku akan kasih bonchap, walau gak setiap hari ya. Doain aja aku sehat😘🌺