
"Sudah cubi sekarang pipimu, wahai Aisyah-ku."
"Yang benar sayang?"
Gifali masih terbayang dengan hangat suara manis istrinya yang tengah ia goda beberapa hari yang lalu.
Air bening menggelosor secara vertikal dari sudut mata Gifali. Jatuh tumpah ruah membasahi leher sampai ke dada. Kedua pangkal bahunya membuncang. Penuturan sang Mama membuat hatinya tercabik-cabik, melebihi rasa perih pada luka yang sudah dua kali dibongkar jahitannya.
"Sayang ... Aku mau susu."
"Iya, cintaku, sebentar."
Lama-lama isakkan itu semakin kuat, dan menyebar ruak dengan nyaringnya. Ia baru sadar, kalau beberapa hari ini tidak membuatkan istrinya susu.
"Ya Allah ..." rintih Gifali.
Sesak itu semakin meremas dadanya. Tak sanggup berucap apapun selain menangis dan berseru sedan. Sukmanya ingin berteriak, tapi tidak mampu ia keluarkan.
"Apa benar kamu menciumnya, Gifa?"
Gifa kembali teringat dengan kalimat yang ditanyakan oleh istrinya pada saat kejadian kelam itu terjadi. Yang membuat dirinya berpisah dari Maura.
"Akhh ...!" pekik Gifa. Ia memukul-mukul kepalanya dengan kedua tangan. Beban di hatinya tidak mampu ia bendung hanya dengan tangisan.
"Aku bodoh! Bodoh! Bodoh! Tidak bisa menjaga istri! Tololl!Bodoh!!" Gifali terpukul. Ia meronta dan berteriak dibalik sungkup oksigen. Selang infusan tertarik kesana kesini karena pergerakan tangannya yang kacau.
Istri yang selama ini ia manjakan, ia perhatikan, ia cintai, ia nafkahi dan di jaga spenuh hati begitu saja sakit tidak berdaya.
"Bahkan ujung kukuku saja tidak pernah aku gunakan untuk menyakitinya!" seru Gifali kencang.
Papa Galih dan Pramudya beringsut cepat untuk memeluk sang Anak. Memegangi tangan kanan dan kiri Gifali yang masih ingin memukuli kepalanya.
"Sabar, Nak. Ini bukan salah kamu, kamu sudah menjadi suami yang baik." seru Mama Difa yang berdiri dibelakang Papa Galih. Ia ikut memegangi tubuh anaknya.
"Jangan begini, Nak. Nanti lukamu tambah parah." ucap Pramudya.
Lelaki itu pun tersentak, tidak percaya jika keadaan menantunya akan parah seperti itu. Raut kekesalan di wajahnya kentara jika mengingat perbuatan Agnes adalah dasar dari semua ini.
Sedangkan Tamara memilih pergi, karena tidak tega melihat Gifali dan mendengar kabar Maura yang sangat memperihatinkan. Ia tahu, Gifali pasti akan membencinya setelah ini.
"Kakak, tenang! Maura akan baik-baik saja. Bayi kalian pun sehat." sambung Papa Galih. Sekuat tenaga ia menenangkan sang anak yang baru saja
Gifali menatap mereka berdua dengan leleran air mata dan campuran peluh. "Tapi istriku cacat! Sebagai suami, Gifa lalai menjaganya!" serunya.
Tak surut air matanya yang terjun deras membasahi pipi. "Bagaimana dengan keadaan bayinya jika Ibu nya seperti itu? Bagaimana bisa istriku hamil dengan keadaan seperti itu? Aku harus menyusul Maura, Pah ... Yah." terakhir Gifa menatap sang Ayah kandung. Pramudya hanya bisa menggangguk walau hal itu sangat berat ia lakukan. Sejatinya ia sudah tahu, jika akan kalah dengan keadaan. Ia hanya bisa mengalah untuk kebahagiaan Gifali.
"Sabar, Nak. Kondisimu belum stabil. Ayah pasti akan membawamu. Difa, tolong panggilkan Dokter. Bilang padanya, Gifa sudah sadar." Pramudya beralih menatap Mama Nadifa. Karena ia dan Papa Galih masih berusaha untuk memegangi tubuh Gifali yang masih meronta.
"Kakak akan pulang secepatnya, bersama Papa." imbuh Papa Galih. Pramudya kembali menatap Papa Galih dengan raut tidak suka.
Tak lama berselang. Dokter, Perawat dan Mama Dita datang kembali menuju pembaringan Gifali. Papa Galih dan Pramudya bergeser untuk memberi celah kepada Dokter dan Perawat untuk memeriksa keadaan putra mereka.
"Apakah saya boleh pulang, Dok? Saya ingin kembali ke Indonesia." Gifali memohon penuh harap. Ia melepas sungkup oksigen dari hidungnya.
"Keadaan anda masih sangat mengkhawatirkan, Pak. Operasi dua kali dalam bagian yang sama, sangat beresiko. Anda harus di monitor dulu selama tiga hari di ruang ini, dan seminggu di kamar perawatan, biar luka ada bisa sembuh secara maksimal."
"Saya takut luka akan basah, dan perdarahan kembali ada. Jika itu terjadi, nyawa anda akan menjadi taruhannya. Apalagi jika harus kembali ke Indonesia, pergerakan di pesawat, akan berakibat fatal pada luka anda. Bersabarlah, tunggu beberapa waktu dulu."
Semua tercengang, tidak semudah itu ternyata. Walau Gifali sudah sadar, tetap ia tidak bisa begitu saja pergi dengan keadaan seperti ini.
"Saya berjanji akan melanjutkan pengobatan saya di sana, Dok." Gifali tetap memaksa. Papa Galih dan Mama Difa saling menatap. Mereka ingin membawa Gifali, tapi mereka juga tidak mau anaknya dalam keadaan yang mengkhawatirkan.
"Saya tidak mengizinkan Pak, tunggulah sampai anda bisa berjalan dengan baik. Akan saya pertimbangkan." jawab Dokter. Ia kembali memeriksa luka dan keadaan Gifali.
"Jangan terlalu banyak fikiran ya. Biar lukanya cepat kering dan keadaan anda membaik dengan cepat, agar bisa berobat jalan." tukas Dokter.
Gifali mengangguk lemah.
"Baik kalau begitu saya permisi."
"Terimakasih banyak, Dok." jawab mereka semua.
"Kalian dengarkan apa kata Dokter? Gifali harus menunggu waktu yang tepat untuk pulang. Perhatikan juga keselamatannya." ujar Pramudya kepada Mama Difa dan Papa Galih.
Jujur, rasa sakit yang menjalar di perut Gifali memang sangat menyakitkan. Untuk menggerakkan kaki saja dirinya belum mampu. Ia memandang lurus atap langit dengan sorotan matanya yang sendu.
"Tunggu aku sayang, secepatnya aku akan pulang untuk menjagamu."
Ia harus sehat dulu, agar bisa menjaga istrinya di sana. Karena jika dirinya tidak berdaya, itu hanya akan membuat Maura semakin terluka. Baginya, Maura yang perlu penjagaan khsus darinya. Sembari ia berfikir, langkah apa yang akan ia ambil untuk perjalanan kehidupan mereka setelah ini.
"Ayah janji, jika Gifa sudah sehat. Ayah akan mengantarkan mu, Nak." ucap Pramudya mengusap rambut Putranya, lalu mengecup kening yang sudah basah karena peluh.
Gifali mengangguk dengan iringan air mata. Lalu ia menoleh ke arah Papa Galih dan Mama Difa. "Kakak ingin melihat Maura, Mah, Pah."
"Iya, nanti akan Mama hubungan lewat video call ya, Nak." jawab Mama, dan diiringi anggukan kepala oleh Papa Galih.
****
"Jadi kamu orangnya? Dasar wanita kurang ajar!" Ganaya masih menghajar Agnes. Menendang, menampar dan memukul.
"Lihat karena perbuatan mu, membuat kedua Kakakku terluka!" seru Ganaya, tangannya tidak henti menjambak rambut Agnes.
"Akh ... Sakit!"
"Kedua kakakku lebih sakit!" decak Ganaya. Gadis itu terus melampiaskan kekesalannya.
"Tolong ampuni aku, aku kesini hanya ingin meminta maaf kepada Gifa dan Maura." jawab Agnes dengan tatapan memelas.
"Sudah telat!" pekik Ganaya dan terus saja menjambak rambut Agnes.
"Tolong berhenti ini Rumah Sakit!" seru Razik, ia mencoba melerai perkelahian diantara mereka. Saat ini diluar ruang ICU yang sepi hanyalah mereka bertiga.
Ramona dan Adrian pergi ketika melihat Tamara keluar dari ruang ICU sambil menangis. Mereka pun membawa wanita itu pergi dulu untuk menenangkan diri. Sedangkan Gemma dan Gelfani pergi sebentar ke kantin untuk membeli minum.
Tinggal lah Ganaya sendiri di depan ruangan. Dan dua bola matanya tertohok, ketika ia melihat seorang wanita dan pria sedang menanyakan apakah betul Gifali berada didalam kepada Perawat yang tidak sengaja lewat.
"Siapa kamu?" tanya Ganaya dengan wajah angkuh. Kedua tangannya melipat didepan dada.
"Saya Agnes."
Dan saat itu pula, Bogeman mentah Gana layangkan tepat di wajah Agnes.
Karena Razik tidak tahan dengan pukulan yang diberikan Ganaya kepada Agnes. Lelaki itu tanpa sadar mendorong tubuh Ganaya sampai terpelanting ke belakang. Gadis itu terhuyung sambil memegangi pinggang.
Agnes hanya meringis, dengan berbagai luka di wajahnya. Wanita itu sadar jika dirinya salah, ia tidak membalas perlakuan Ganaya sedikit pun.
"Kakak!!" pekik Gelfani dan Gemma dari arah lain. Mereka terperanjat ketika melihat dua wanita terhuyung di atas lantai. Gelfa lebih dulu merengkuh Ganaya untuk dipapah berdiri.
"Apa yang kamu lakukan pada Kakakku!" teriak Gema kepada Razik.
Anak lelaki yang tahun depan akan menginjak bangku SMA itu memandang lurus Razik tidak suka. Walau Gemma memiliki postur tubuh yang kurus, tapi ia mempunyai tinggi yang sama dengan Razik.
"Maaf saya tidak sengaja, Kakakmu duluan yang menyerang Agnes!" jawab Razik jujur, a memapah Agnes untuk bisa berdiri dan menyembunyikan wanita itu dibelakang tubuhnya.
"Oh jadi kamu!" teriak Gelfa, ia juga bernapsu ingin menghajar Agnes. Ia melepas rangkulan nya dari Gana lalu melangkah menuju Agnes, namun tangannya dicekal oleh Gemma.
"Lepasin, Dek. Kakak mau hajar dia!" teriak Gelfa.
Gemma menggelengkan kepala. "Menghukum pembunuh tidak perlu dengan cara mengotori tangan kita, Kak. Serahkan saja pada mereka." jawab Gemma memandang lurus ke arah belakang Razik dan Agnes.
Terlihat beberapa polisi dengan senjata lengkap berjalan menuju mereka semua.
Dua bola mata Razik dan Agnes membeliak sempurna. Melotot sampai kornea nya ingin jatuh menggelinding di atas lantai.
"Kakak ..." bisik Agnes kepada Razik. Wanita jahat itu merekatkan tubuhnya kepada Razik. Untuk meminta pertolongan.
"Membusuk lah kamu di penjara! Bayar perbuatanmu kepada Kakak-Kakak kami!" seru triple G kepada Agnes dan Razik.
*****
Like dan Komen ya guyss.
boleh Follow IG ku @megadischa
Aku banyak kasih seputar info novel disana. tenkyuh❣️😘