
"Enggak mau, Pah." Maura langsung berseru. Ia lupa sudah melanggar janjinya kepada Gifali untuk tetap bersikap tenang. Tidak memotong atau menyelak ketika orang tua sedang berbicara.
"Ra ..." Gifali memegang tangan istrinya, seraya kode untuk kembali diam.
Maura begitu tertotohok ketika Papa Bilmar begitu saja memutuskan akan membawa dirinya untuk kembali ke Indonesia. Tanpa alih-alih membicarakan masalah ini dengan kepala dingin kepada mereka berdua.
"Pah, sabar dulu. Jangan pakai emosi, semua ini pasti ada jalan keluarnya. Bagaimanapun Maura sudah menjadi istri, Gifali mempunyai hak atas istrinya." ucap Mama Alika kepada suaminya yang masih saja terlihat geram.
"Sekarang solusi kamu apa, Kak? Biar kami semua tenang." kini Papa Galih yang bertanya. Emosi Papa Galih terlihat lebih stabil dibandingkan Papa Bilmar.
Gifali hening sesaat. Ia pun belum punya jawaban dari solusi yang harus ia jelaskan kepada para orang tua.
"Buntu kan kepala kamu? Tidak ada solusi? Ya sudah kalau begitu, lebih baik cari aman. Maura kembali ke Indonesia, sampai anak kalian lahir. Apa itu masalah?" Papa Bilmar kembali membuat hati Maura dan bercampur aduk, tetapi Gifali tetap bersikap hangat. Tidak mau terjebak dalam emosi.
"Kak?" tanya Mama Difa kepada putranya. Menunggu jawaban yang sedang mereka tunggu sejak tadi.
Gifali masih diam, lelaki itu bingung. Sejak tadi pun Maura terus merengek menatapnya sambil menarik-narik tepi kaosnya.
"Bagaimana ini sayang?" bisik nya pelan.
Ia tahu sekali perangai Papanya yang sangat keras kepala. Karena Gifali masih saja diam, Maura pun beringsut untuk memeluk Mama Alika.
"Mah, gimana nih, Mah? Kakak enggak mau jauh dari Gifali." rintik air mata Maura kembali turun.
"Sabar, Nak. Biar suamimu yang memutuskan." Mama Alika mendekap erat putrinya.
Papa Bilmar menekan rasa iba nya, tentu ia tidak tega menatap Maura merengek seperti itu. Selama 18 tahun membesarkan putrinya, tidak pernah sekalipun ia menolak permintaan Maura, dan karena permintaan sang anak dulu lah yang bisa membuat ia menikah dengan Mama Alika.
Mama Difa beringsut, mendekati Gifali. Mengelus bahunya seraya menguatkan sang anak untuk bisa kuat. Ia tahu, putranya sedang dalam posisi yang sulit. Menikah muda, langsung memiliki anak. Apalagi tengah menjalani perkuliahan di negara tetangga tanpa orang tua.
Setelah berfikir sejenak, Gifali mendongak menatap mantap wajah para orang tua mereka.
"Gifa memang belum tau apa yang akan terjadi didepan nantinya. Tapi sebisanya, Gifa akan menjaga Maura. Sebelumnya kita sudah sepakat untuk menjalaninya dulu. Sampai dimana Maura sanggup untuk kuliah, jika memang tidak. Maura akan cuti dulu dari kuliahnya dan fokus mengurus anak kami." jawab Gifali.
Maura menyeka air matanya, menatap lurus lelaki yang masih memperjuangkan dirinya.
"Maura akan tetap di sini, Mah, Pah. Kami sudah menikah, kemanapun Gifa pergi, Maura harus ikut. Apapun yang terjadi setelah ini, Gifa akan pasang badan untuk Maura. Gifa yang akan bertanggung jawab nantinya."
Serentetan penjelasan yang sudah Gifa keluarkan tentang keputusan terakhirnya. Ia adalah lelaki tangguh dan sudah menjadi kepala keluarga, tidak bisa seenaknya diatur begitu saja oleh orang tua mereka.
Papa Bilmar menghela napasnya panjang, pun sama dengan Papa Galih. Mereka berdua hanya bisa terdiam, seraya berfikir dan menimang-nimang keputusan anak dan menantunya.
"Lalu bagaimana jika kalian ketahuan? Perut Maura akan membesar, apa bisa ditutupi?" tanya Papa Bilmar.
"Begini, Pah. Dalam satu semester hanya ada delapan bulan perkuliahan teori, sisanya dipergunakan untuk praktek di luar kampus. Apalagi sekarang Maura sudah menjalani dua bulan setengah, masih ada enam bulan lagi untuk menutupinya di kampus, maka di tujuh bulan kehamilan. Maura sudah berada di lapangan. Hal ini pasti akan aman."
"Apalagi tubuh Maura mungil, hamil enam bulan sepertinya belum terlalu besar, Mas, Mba." ucap Mama Difa kepada Papa Bilmar dan Mama Alika.
Ia tetap meyakinkan orang tua Maura. Mama Difa tentu tidak akan sampai hati jika Gifali berpisah dengan istrinya, apalagi di masa-masa kehamilan anak pertama.
"Iya, Pah betul apa yang dikatakan Mba Difa." ucap Mama Alika kepada suaminya.
"Kita coba saja dulu, Mas. Sampai dimana Maura sanggup, tentu anak saya akan selalu menjaga anak kamu." timpal Papa Galih.
Papa Bilmar semakin terhimpit. Semua orang berada di pihak menantunya. Bahkan istri tercintanya pun tidak mau berpihak kepadanya. Lelaki itu pun sadar, mungkin tindakannya salah. Tapi ia hanya khawatir akan keselamatan putrinya.
"Ya baiklah. Tapi ingat Gifa, jika Maura kembali masuk kedalam sebuah masalah. Saya pastikan akan membawanya langsung ke Indonesia, walau kamu tidak mengizinkannya." ultimatum Papa Bilmar.
Akhirnya Maura dan Gifali bisa tersenyum dan bernafas lega. Mereka tidak dipisahkan di hari ini, berdoalah Gifa semoga hari-hari berikutnya adalah hari keberuntungan kalian.
"Tapi ada satu permintaan dari saya." ucap Papa Bilmar. Dan mereka semua kembali serius mendengarkan.
"Apa, Pah? Jangan aneh-aneh kamu, Bil!" sungut Mama Alika. Sudah lega hatinya, namun Papa Bilmar kembali saja berulah. Maura dan Gifali masih hening dan fokus menunggu apa yang akan di ucapkan oleh Papa Bilmar.
****
Mau ngomingin apaan sih, Kek? Banyak banget mau nyah😂😂😂. Sekarang Gifa dan Maura nya enak-enak dulu ya, nikmati aja dulu masa-masa kehamilan awal Maura.
Masih ada satu episode lagi yaaa, like dan komennya ya jangan lupa.