My Sabbatical Wife

My Sabbatical Wife
Kamu Sakit, Ra!



"Sayang, ayo bangun. Mandi dulu, habis itu kita jamaah subuh." seru Gifali sambil menggosok-gosok kan rambutnya yang masih basah dengan handuk. Ia baru saja selesai mandi besar.


"Ra ...?" panggil Gifa kembali.


Ia kembali fokus menatap cermin sambil mencukur bulu-bulu halus di atas bibirnya. Merasa istrinya tidak juga bangun, membuat Gifa merasa aneh. Pasalnya Maura akan lebih dulu bangun dari nya, dan biasanya sekali Gifali memanggil sang istri pasti akan cepat membuka kedua mata dan menyauti panggilannya.


Gifali pun menoleh, menatap Maura yang masih meringkuk dibawah selimut. Terlebih dulu ia gantung handuk dan memakai baju kokoh dan sarung untuk persiapan shalat subuh. Setelah itu ia menghampiri Maura di ranjang.


"Ya Allah, panas banget badan kamu!" seru Gifa ketika memegang tangan Maura. Terdengar geretukan gigi dari dalam mulut Maura, bibirnya pun sedikit bergetar karena menahan panas yang sudah membelenggu tubuhya.


"Kamu sakit sayang." ucap Gifa.


Ia pun bangkit dari ranjang lalu beranjak ke dapur untuk mengambil air dari termos yang dicampur dengan air dingin, ia ingin mengompres Maura. Gifali kembali datang dengan membawa baskom berisi air untuk surface cooling dan handuk kering.


Gifali mulai mengompres tubuh istrinya.


"Kamu enggak usah ikut ospek dulu ya, nanti aku yang akan ke kampus untuk bawakan surat ijin kepada mereka."


"Kamu nih kecapean, Ra." sambung Gifa tanpa ada respon dari Maura. Istrinya hanya diam tidak menjawab, ia masih terlelap dalam tidurnya.


Bagaimana Maura tidak sakit, dihari pertamanya ospek, ia disuruh untuk berdiri dilapangan, dibawah teriknya sinar matahari selama tiga jam, belum lagi setelah pulang dari kampus ia langsung bekerja sampai malam, dan malam sebelum tidur Gifali masih meminta jatah haknya dari Maura. Tentu semua aktivitas itu, membuat tubuh Maura bereaksi. Maura sudah melakukan aktivitas lebih dari kapasitas dirinya. Wanita ini belum terbiasa.


Adzan subuh berkumandang, dirasa suhu tubuh Maura sudah lebih baik. Gifali menghentikan kompres-mengompresnya.


"Sayang ... Bangun, yuk." Gifa membangunkan Maura dengan lembut. Samar-samar kedua kelopak matanya membuka, lalu memicing karena rasa panas masih tertinggal dibayangan matanya.


"Aku kenapa, Gifa?" tanyanya ketika ia merasa semua tubuhnya basah.


"Aku habis kompres kamu, badan kamu tuh tadi panas banget, Ra." jawab Gifali.


Maura menatap Gifa yang sudah tampan dengan balutan baju kokoh di tubuhnya.


"Sudah adzan subuh ya?" tanyanya lagi sambil memegangi kepala lalu bangkit untuk duduk. Maura terasa sedikit pusing.


Gifali mengangguk dan kembali meletakan tangannya di perpotongan dagu Maura. "Iya sudah subuh, habis itu kita ke Dokter ya, kamu nih kecapean."


Maura memberikan gelengan kepala. "Aku nggak apa-apa, kalau udah minum obat masuk angin, pasti akan enak lagi." jawab Maura santai.


"Tapi badan kamu masih hang--"


"Aku mandi dulu ya, habis itu kita shalat jamaah sayang." Maura menyelak cepat ucapan suaminya, lalu menyeka selimut dan akhirnya bangkit menuju kamar mandi. Ia tidak ingin membuang-buang uang untuk berobat ke klinik. Ia tahu, dirinya hanya belum terbiasa dengan aktivitas melelahkan kemarin.


"Kamu benar sudah enakan, Ra?"


"Iya."


Lalu tak berapa lama, terdengar Maura berjibaku dengan air, sabun dan sampo di dalam kamar mandi. Tapi Gifa tetap melarang Maura untuk datang ke kampus hari ini, ia ingin istrinya istirahat dulu dikostan. Gifa mulai mengambil tasnya yang ia gantungkan di dinding lalu menarik sebuah kertas dari binder, dan mulai membuat surat izin yang akan ia antar kan ke kampus Maura.


****


"Kamu hati-hati di kostan ya sayang, nanti kalau sudah waktu istirahat, aku akan pulang dulu untuk belikan kamu makan siang."


Walau Maura terus berucap tidak apa-apa dengan tubuhnya. Tapi Gifali tetap bersikeras agar Maura tidak masuk dulu hari ini. Ia merasa tidak tenang, ia takut Maura akan jatuh pingsan di kampus. Apalagi ia ingat kalau acara ospek selalu pulang malam , seperti kemarin misalnya.


Setelah menyuapi Maura sarapan dan menyuruhnya untuk menenggak obat penurun panas biasa, Gifa bersiap untuk berangkat.


"Aku berangkat ya." Gifa melepas kecupan hangat di dahi, pipi dan bibir Maura. Dan dibagian bibir Gifa terlihat melumatt sedikit bibir Maura.


"Nah kan basah, tadi tuh bibir kamu kering banget, Ra." Gifa berdecis geli.


Maura hanya tertawa melihat kejahilan suaminya. Ia meraih tangan Gifa untuk disalami.


"Kamu hati-hati ya, suamiku." Maura mencium pipi Gifa sekilas.


Gifa membantu Maura untuk kembali berbaring, memakaikan kaos kaki dan menutup tubuhnya dengan selimut. Setelah melihat Maura sudah bisa ditinggal, barulah ia melangkah keluar kostan menuju kampus. Namun lebih dulu ia melangkah ke kampus Maura. Ingin memberikan surat izin itu kepada ketua senat di sana.


****


"Permisi, Pak. Maaf saya menganggu, apakah saya boleh masuk kedalam untuk bertemu dengan ketua senat?" tanya Gifa di ambang pintun gerbang kampus kepada salah satu satpam di sana.


Tanpa banyak bertanya, ia pun di antar menuju lapangan.


"Tunggu dulu di sini ya." Satpam menghentikan langkahnya yang masih berjarak lima meter lagi dari lapangan.


Gifali mengangguk dan menurut. Ia seret bola matanya ke arah lapangan, Gifali tertegun melihat banyak siswi yang tengah berjongkok di atas lapangan sambil memutar dan menyanyikan sebuah lagu. Seketika ia tertawa karena merasa lucu, membayangkan Maura di ospek seperti itu kemarin. Padahal lelaki itu tidak tahu saja, kalau kemarin istrinya habis menjadi bulan-bulanan si Ketua Senat.


Tak berapa lama, terlihat sosok Agnes muncuk, ia melangkah menuju ke arah Gifa yang didampingi oleh satpam.


"Sama Nona Agnes ya." ucap satpam, seraya memperkenalkan Agnes kepada Gifa, lalu pamit berlalu dari mereka.


Gifali mengangguk dan tidak lupa mengucapkan kata terimakasih.


Agnes menatap Gifali dengan lamunan yang cukup lama, seraya menerawang jauh tentang ingatan yang berusaha ia tarik kembali dari dalam kepalanya, sambil menerka-nerka, siapakah lelaki tampan ini.


Lalu


Sudut bibirnya begitu saja terangkat ke atas, ia tersenyum lebar memperlihatkan gigi geliginya yang putih. Gifa sedikit aneh melihat perangai Agnes yang tidak biasa kepadanya. Ia pun membalas walau dengan senyuman kaku.


"Maaf, Nona. Saya menganggu anda." ucap Gifali.


"Iya, ada perlu apa ya?" jawab Agnes dengan tutur kata yang begitu lembut. Entah mengapa menatap Gifa, membuat hatinya berbunga-bunga. Gifali sedikit risih ditatap centil seperti itu.


"Ini ..." Gifa menyodorkan sebuah amplop berisi surat izin yang sudah ia buat sejak subuh. Agnes pun meraih, membuka dan membaca tulisannya.


Deg.


Netra cokelat milik Agnes kembali ia lemparkan untuk menatap lurus Gifali yang masih terdiam mematung, menunggu apa yang akan diucapkan oleh wanita ini, ketika sudah membaca perihal surat izin yang tidak bisa masuk hari ini.


"Gue nggak nyangka, kalau lelaki tampan ini Kakaknya si Maura, anak yang kemarin gue hukum dan gue omelin abis-abisan." gumam Maura sambil menggigit bibir bawahnya. Ia terus menatap tulisan Gifali di sana.


"Oh, nama nya Gifali ternyata, bagus juga." Agnes memutar bola matanya untuk membaca nama dan tanda tangan Gifa di surat izin tersebut.


Mungkin setelah ini, Agnes akan memperlakukan Maura dengan baik, karena ia ingin mengambil hati Kakaknya. Entah bagaimana pecah hatinya, jika ia tahu kalau lelaki yang mulai ia sukai ini adalah suami dari Maura.


****