My Sabbatical Wife

My Sabbatical Wife
Membunuhku Secara Perlahan.



"Sedang ada di kamar mandi, Gifa."


"Kalau begitu aku akan menunggu." Gifali tahu Gadis hanya sedang berlasan.


Mendengar ucapan Gifa, membuat Gadis tergugu dengan gawai yang masih ia genggam didepan daun telinganya. Ia melirik Maura yang sedang asik menata kue-kue nya di basket roti. Bagaimana mengatakan kepada Gifali kalau Maura masih tidak mau bicara.


Gadis menurunkan gawai itu dan berbisik ke arah Maura. "Kak ..."


"Matikan saja!"


DEG.


Gadis dan Gifali sama-sama tercengang.


"Kak, ayolah bicara. Kasian suamimu."


"Hallo, Dis? Itu Maura kan? Ayo cepat berikan ponselmu padanya." suara Gifali terdengar nyaring di sambungan telepon. Lelaki itu bahagia karena dapat mendengar suara istrinya lagi walau tidak secara langsung.


Sudah satu bulan selepas kepergian Gifali ke London, Maura memilih membisu. Bahkan di saat kepergian Gifali, Maura memilh untuk tidak mengantar nya ke bandara. Tidak memberikan kecupan hangat selamat tinggal.


Maura tidak pernah mengabari keadaanya Kepada Gifali. Ia tidak mau membalas satu pesan pun atau mengangkat telepon dari suaminya. Gifali akan selalu meneror orang rumah, untuk mencari tahu bagaimana keadaan Maura. Ini memang tidak baik, tapi Maura tidak punya pilihan lain. Ia masih berharap Gifali mau menjemputnya ke sini


"Maaf, Gifa. Kakak masih tidak mau." jawab Gadis jujur.


"Tolong, Dis. Rayu Maura, aku rindu padanya." suara lelaki itu terdengar amat lirih. Gadis sampai terenyuh tidak sanggup menjawab.


Gadis memutuskan untuk mendekati Maura. Memegang lengannya agar wanita itu menoleh. Maura menurunkan tangannya ketika sedang mengisi roti-roti di rak.


"Suamimu ... Rindu."


Mendengar ucapan itu, membuat raut Maura berubah menjadi sendu. Berjauhan dengan suami sungguh membuat hatinya linu. Bahkan Maura merasa, rindu nya lebih besar melebihi rasa rindu Gifali kepadanya.


Maura menggeleng. "Aku tidak mau."


Gadis menghela napas panjang sambil memijat pelipis.


"Aku bujuk dulu, ya. Kamu tau kan orang hamil bagaimana?" tanya Gadis.


"Tapi ini sudah seribu kali kamu membujuknya, Dis. Dan Maura tetap tidak mau berbicara denganku. Mau sampai kapan?" desisan kesal terdengar dari Gifali. Rasanya puncak kesabarannya akan habis.


"Katakan padanya, jika saat ini masih mengabaikan teleponku. Aku tidak akan meneleponnya lagi."


"Gifa jangan begitu, jangan ikut emosi. Wajar kalau Kakak masih belum menerima."


"Aku pun tersiksa, Dis. Bukan hanya Maura." suara Gifali terdengar berat. Sepertinya lelaki itu menangis.


"Aku janji akan membujuknya. Nanti aku telepon kamu lagi."


Gadis memutuskan sambungan telepon itu secara sepihak. Ia memutuskan untuk menyusul Maura ke dalam ruangannya.


"Mau sampai kapan sih, Kak? Kasian suamimu." ucap Gadis. Ia berdiri di bingkai pintu. Tapi Maura tidak ambil pusing dengan ocehan Gadis. Ia masih saja sibuk mengecek beberapa kwitansi bahan-bahan baku roti yang kembali ia data ke dalam komputer.


Sejak Gifali pergi, Maura memutuskan untuk kembali meneruskan bisnisnya dulu yang sempat ia alihkan kepada Gadis. Ia ingin kembali beraktivitas, membunuh rasa bosan dan kecewa karena ditinggal suaminya. Walau keputusan Maura ini tanpa seijin Gifali.


Gifali tetap melarang, namun Maura bersikukuh. Ia sudah tidak perduli suaminya akan marah atau tidak. Maura masih kecewa, karena Gifa tetap pergi meninggalkannya.


"Kak ..." seru Gadis lagi. "Kasian kan Gifa, sudah di sana sendirian. Tidak ada yang mengurus, kuliah sambil kerja. Dan ia masih harus dibebankan dengan kamu yang terus merajuk. Apa susahnya membuat hatinya lega? Dia bilang, jika kamu tidak mau mengangkat teleponnya. Gifa tidak akan lagi menelepon mu, Kak."


"Dia jadi susah seperti itu kan, karena maunya sendiri. Biar saja. Aku akan terus seperti ini, sampai ia berubah fikiran dan mau membawaku ke London!" decak Maura.


Wanita berhijab itu memilih membiarkan Gifali yang sedang merana diseberang sana karena menahan rindu.


*****


"Nggak mau ngomong lagi?" tanya Adrian. Ia memegang bahu Gifali seraya menguatkan. "Sabar, Gif. Wajarin aja." sambung Adrian.


Tanpa Gifali tahu, Maura akan selalu bertukar pesan dengan Adrian, wanita hamil itu akan selalu menanyakan kabar, keadaan dan segala aktivitas suaminya dalam satu hari. Dan Maura meminta Adrian untuk tutup mulut. Maura tidak begitu saja melepas Gifali seorang diri di sana tanpa pantauannya.


Gifa mengangguk lemah. "Aku rindu padanya. Aku ingin dengar suaranya. Aku juga rindu dengan anak-anakku, Kak." lirih lelaki itu.


Adrian ikut meratap kesedihan Adiknya. "Maaf, Gifa. Karena ulah Agnes, membuat hubunganmu dengan Maura jadi seperti ini."


"Tidak perlu dibahas lagi, Kak. Kami sudah memakluminya. Setidaknya, dengan masalah yang ada, membuat Agnes tersadar untuk bisa berubah menjadi wanita yang baik. Walau harus mengorbankan jarak antara aku dengan istriku. Mungkin ini sudah takdir Allah."


Ya, benar. Agnes memang sudah banyak berubah semenjak menjadi biang masalah dalam pernikahan Gifali dan Maura. Wanita yang baru saja di nikahi dua minggu lalu oleh Razik, semakin merubah sifat dan perilakunya.


Walau Agnes sudah menikah, tapi ia tetap masih menjalani masa-masa penyembuhan narkoba di tempat rehabilitasi. Razik akan selalu setia menemani Agnes dari pagi sampai malam. Lalu akan datang lagi esok pagi, untuk menjenguk Agnes.


Agnes juga sudah mulai shalat dan mau belajar mengaji. Bahkan saat ini ia sudah mengenakan hijab. Razik masih mengerahkan pengacara terbaik agar Agnes dapat lolos dari jeratan penjara. Papa Bilmar masih tidak mau mencabut tuntutan hukumnya kepada pengadilan.


****


Selama di London. Gifali memilih untuk tinggal di kantor. Pramudya membuat kamar khusus untuk anaknya dibalik ruang kerja Gifali. Itu pun karena permintaan Gifali sendiri. Walau Pramudya sudah meminta sang Anak untuk tinggal bersamanya, namun Gifali menolak. Lelaki itu masih trauma dengan kejadian yang ia alami bersama istrinya di rumah sang Ayah.


Sementara ini Gifali masih dipersatukan dikantor bersama Adrian. Karena kantor yang baru, masih dalam tahap pembangunan. Untuk segala kebutuhan Gifa, Pramudya menyiapkannya semua nya tanpa tertinggal satu pun. Baju bersih, makanan, dan kebutuhan lainnya untuk sang anak selalu ia penuhi. Karena Pramudya tahu, kini Gifali tinggal tanpa istri di sampingnya.


Karena pekerjaannya sudah beres semua, Gifa memilih untuk mengakhirinya pekerjaannya sore ink. Memilih untuk membaringkan diri di atas kasur. Ia tatap lamat-lamar bola lampu yang menggantung dibawah atap, sedang menyorotkan cahaya ke dalam iris matanya.


Tatapannya kosong, seakan sedang menerawang jauh. Memikirkan bagaimana kisah rumah tangganya kedepan. Maura masih belum bisa di ajak berdamai.


Gifa meraih gawai nya yang terletak sembarang di atas kasur. Mencari kontak istrinya dan melakukan panggilan. Walau saat ini di Indonesia sudah memasuki malam hari. Gifa tidak perduli, rasa rindunya semakin melebar tidak karuan. Ingin membuncah karena sudah tidak sanggup menahan.


"Angkat dong, Ra. Aku kangen banget sama kamu dan anak-anak." gumam Gifa dengan genangan air mata.


Terakhir ia dapat kabar dari Ammar, kalau empat hari lalu. Istrinya kembali kontrol ke Dokter Kandungan bersama Mama dan Papa mertuanya. Dan Dokter mengatakan bayi yang sejak kemarin menyembunyikan jenis kelaminnya, kini sudah di putuskan berkelamin perempuan.


"Angkat sayang, angkat! Kasihani aku, Ra." desahnya mengiba.


Tut ...Tut


Hanya nada itu yang terdengar di telinganya. Wanita di seberang sana tetap tidak mengangkatnya. Bukan karena Maura sedang tidur, melainkan ia masih berpendirian teguh untuk tidak mengangkatnya. Ia ingin Gifali berubah fikiran, dan mau membawanya ke London.


Gifa mematikan sambungan telepon itu. Ia termenung lagi dengan desahan napas yang sulit dikeluarkan, seperti mencekik lehernya.


[ Dengan sikapmu seperti ini, itu sama saja membunuhku secara perlahan]


Gifali mengirimkan pesan tersebut kepada Maura. Ia sudah tidak tahan hanya bergeming dengan sikap dingin istrinya, tapi ia juga tidak ada kekuatan untuk mengubah takdir rumah tangganya yang sedang berjalan.


*****


Like dan Komen ya guys❤️