My Sabbatical Wife

My Sabbatical Wife
Kita Panggil Dia, Bos!



Gifali masih terus saja menunduk. Menghindari kontak mata dengan Harun. Tapi Harun tetap menatapnya, ia tahu Gifali sedang takut untuk diketahui. Ia pun terkejut mendapatkan Gifali akan menjadi salah satu anak didiknya di sini.


Samar-samar Gifali mengangkat kepalanya dan bersitatap dengan Harun walau jarak mereka lumayan jauh. Hal yang tidak pernah disangka oleh Gifali adalah ketika ia melihat Harun memberikan senyuman hangat kepadanya. Tentu membuat debaran rasa takut berangsur menghilang, Ia pun memberikan senyum balik kepada Harun.


Dan detik selanjutnya, Gifa berubah menjadi tenang, ia yakin Harun bisa diajak negosiasi.


"Saya akan memberikan dua pertanyaan, dan tentu hadiahnya berbeda dari setiap jawabannya. Jika ada yang bisa menjawab pertanyaan saya, maka bisa mengacungkan tangan." suara tegas mencuat dari bibir Pramudya. Lelaki paru bayah yang masih terlihat segar itu, sungguh banyak dikagumi oleh para mahasiswa.


Gifali masih fokus menatap Pramudya yang sedang memberikan kuis kepada seluruh Maba yang sedang berbaris. Ia tidak menyangka jika lelaki itu yang menjadi dekan di kampus ini.


Semua Maba terkecuali Gifa, sedang konsentrasi mendengarkan pertanyaan yang baru saja di lontarkan oleh Pramudya. Sesaat setelah itu semua mahasiswa hening, seraya berfikir untuk mengemukakan jawabannya.


Lalu


Tak berapa lama, ada seorang pemuda laki-laki yang tampan rupawan terlihat mengacungkan tangannya disekitar ratusan mahasiswa. Para teman mereka bersorak dan menoleh, siapakah yang sanggup untuk menjawab dua pertanyaan dari sang Dekan.


Ketua senat menghampiri mahasiswa yang baru saja mengacungkan tangan, untuk membawanya berdiri sendiri ditengah lapangan. Menatap Dekan dan Asisten Dekan yang masih berdiri tegap di podium.


Pramudya terlihat melamun sebentar ketika langkah Gifali sudah terhenti tidak jauh darinya. Gifa pun menoleh menatap Harun dengan anggukan dari kepalanya sebagai tanda hormat.


"Anak ini lagi? Jadi dia mahasiswa baru di sini?" Pramudya masih mengingat jelas wajah Gifali. Bagaimana tidak, sejak kejadian itu, lelaki paru bayah ini selalu terngiang-ngiang dengan wajah Gifa yang baru saja ia lihat tidak kurang dari 5 menit.


"Pak ..." panggil Harun kepada Pramudya. Harun tau sahabatnya itu tiba-tiba melamun. Pramudya pun terkesiap, ia mencoba menepis bayangan itu dan kembali menatap wajah Gifa dengan tatapan normal.


"Baiklah silahkan jawab!" titah Pramudya.


"Tapi maaf, Pak. Saya hanya bisa menjawab soal nomor dua saja." jawab Gifa takut-takut tapi masih dengan nada sopan. Dan tak lama kemudian, suara hingar bingar menyorak, mencemooh dan meledek terdengar nyaring untuk mengejek Gifali di depan sana.


"Ngapain ngacungin tangan, kalau cuman bisa jawab nomor dua doang, hahahah."


"...Iya, ya. Pede banget lagi, jawabannya juga belum tentu bener."


Begitulah serentetan suara Maba yang lain, ketika menghina Gifa didepan sana. Mereka iri, karena kalah cepat dari Gifa. Pramudya memberikan kode dengan tangannya kepada semua mahasiswa baru, agar tidak ribut.


"Tenang semuanya, saya harap jangan gaduh!" ucap Pramudya kepada mereka. Lalu ia mengubah tatapannya untuk beralih menatap Gifali.


"Perkenalkan diri dan jurusan anda, jika sudah selesai, silahkan anda mulai menjawab sambil menatap semua teman-teman anda."


Gifali pun mengangguk dan mulai memutar tubuhnya untuk menghadap semua teman-temannya di halaman luas kampus. Topan dan Arif seperti memberikan acungan jempol agar lelaki itu bersemangat dalam menjawab pertanyaan yang ia mampu saja.


"Nama saya Putra Gifali Hadnan---" Gifali mulai menjelaskan siapa dirinya dan mulai menjawab salah satu pertanyaan yang diberikan oleh Pramudya.


Dengan menggunakan mikrofon, Gifali memberikan penjelasan dengan amat jelas dan bagus. Walau suara Gifa terdengar sedikit bergetar karena lelaki itu gugup. Bagaimana tidak gugup, wajahnya ditatap lurus oleh seluruh Maba. Ia akan malu jika kembali disoraki apabila jawabannya salah, mana hanya bisa menjawab salah satunya saja.


"Tapi maaf, Nak. Yang barusan kamu jawab adalah pertanyaan nomor satu." Pramudya memberikan tepuk tangan meriah sesaat Gifali sudah selesai memberikan jawaban akan pertanyaan yang ia berikan.


Para Maba dan anggota senat ikut memberikan tepuk tangan mereka sebagai tanda takjub. Tidak menyangka Gifa bisa menjawab pertanyaan yang biasanya digunakan untuk ujian anak semester tiga. Sejak kecil Gifa memang dikenal guru-guru mempunyai otak jenius. Ia sangat suka membaca, karena dengan membaca bisa membuat jendela dunia kita menjelajah dengan hebat.


"Secerdas itu kah, Gifali?" tanya Harun dalam hatinya sambil ikut memberikan tepukan tangan.


Wajah Gifali begitu bersinar. Lelaki itu amat bahagia, karena ia akan mendapatkan sejumlah uang yang sudah dijanjikan oleh dekannya jika berhasil menjawab salah satu pertanyaan. Dan beruntungnya Gifa bisa menjawab pertanyaan nomor satu, dimana pertanyaan itu dinilai amat susah. Padahal ia sudah putus asa, karena hanya akan bisa menjawab pertanyaan nomor dua.


"Cerdas sekali dia, sepertiku---" suara hati itu terhenti.


Pramudya bingung, mengapa juga ia, menyamakan Gifali dengan dirinya? Jelas-jelas Gifali adalah anak orang lain, yang begitu saja selalu masuk kedalam mimpinya sudah lima malam ini.


Pramudya pun turun dari podium, ia melangkah menuju Gifa dan memberikan jabatan tangan sebagai tanda selamat sudah memenangkan sayembara kali ini. Pramudya memberi kode kepada Adrian, dan anak itu pun menoleh kepada salah satu anggota senat yang lain, diminta untuk membawa nampan berisi hadiah yang sudah disiapkan.


"Kita emang nggak salah pilih teman, Rif. Ternyata Gifali cerdas banget!" ucap Topan kepada Arif yang masih menatap Gifa dengan senyuman bangga.


"Mulai saat ini, kita panggil dia BOS!" ujar Arif.


Gifa tidak henti-hentinya menatap ke atas langit sambil berucap syukur kepada Allah SWT, karena berkah darinya, hari ini Gifa selangkah lebih beruntung dibandingkan para teman-temannya yang lain. Ini juga berkat doa istri dan orang tuanya.


"Selamat ya, Nak. Anda bisa menjawab soal dengan baik. Saya bangga punya anak didik secerdas Anda." ucap Pramudya kepada Gifa.


"Terimakasih banyak, Pak." jawab Gifa sangat sopan.


Pramudya kembali terdiam, ketika menatap manik mata Gifali, ia seperti tengah berbicara dengan Sagita Haryani, wanita yang pernah ia cintai setengah mati namun selalu menolak dan mengejeknya. Sagita hanya menginginkan satu lelaki yang selalu ia anggap pantas untuk bersanding dengannya, yaitu Galih Hadnan.


Gifali pun mendapatkan hadiahnya. Uang sebesar 300 dolar atau setara lima juta rupiah. Tidak hanya itu yang ia dapatkan, tapi Gifa juga mendapatkan kelonggaran hanya mengikuti ospek selama dua hari, mendapatkan koneksi internet gratis selama 6 bulan dan bisa mendapat jatah untuk menjadi Asisten Dosen.


Tentu dengan beragam hadiah itu, membuat jantungnya berdetak kencang, ia tidak akan menyangka hari ini, benar-benar hari keberuntungannya. Bagaimana tidak, sudah mendapatkan hadiah, tenar di semua para Maba, dan terpenting ia mempunyai nilai lebih dimata dekan dan para dosen.


"Aku persembahkan semua ini untuk kalian." Gifa memejamkan kedua matanya, seraya mengingat wajah Maura, Mama dan Papa serta ketiga adiknya.


Mereka pun pasti bangga sekali atas pencapaian Gifali sekarang, bibit-bibit kesuksesan mulai Gifali rengkuh. Semoga saja Maura bisa terus menemani Gifa dari nol sampai menjadi orang hebat.


****


Kalau sayang sama mereka, Like dan Komennya ya. Nih yang view banyak, tapi yang like nya dikit. Jangan pelit-pelit dong amaa akuu❤️