My Sabbatical Wife

My Sabbatical Wife
Aku Memaklumi Kamu, Sayang.



"Ra ..." Gifa langsung menyergap Maura ketika baru saja keluar dari dalam toilet. Gifa sudah memakai celananya walau masih bertelanjang dada.


"Pakai baju ya, nanti kamu masuk angin sayang." ucap Maura masih bernada lembut. Gifali sedari tadi sudah takut kalau istrinya merajuk.


Maura terlihat ingin melangkah ke lemari, namun wajah meringis nya tidak dapat disembunyikan. Desah sakit terdengar pelan. Raut Maura terlihat berbeda, wanita itu cemas dengan setetes darah yang tadi ia lihat. Dan dirinya sedang berfikir untuk mengadukan hal ini apa tidak kepada Gifali.


Gifali menggeleng dan membawa Maura untuk duduk di bibir ranjang.


"Aku tadi kasar ya." Gifa menangkup wajah istrinya. Ia baru sadar kalau dirinya bermain dengan urakan.


"Tapi aku memaklumimu." Maura tetap memberikan senyum. Senyuman itu semakin membuat dada Gifali sesak.


"Arghh ..." Gifali langsung memukul-mukul kepalanya.


"Udah jangan, nanti kamu sakit, Gifa." Maura melepaskan kepalan tangan itu dari kepala suaminya.


Berkali-kali Gifali menghembuskan napasnya dengan kasar, meraup kembali pasokan oksigen di udara agar bisa membuat dirinya segar. Jujur saat ini, lehernya terasa tercekik. Ia marah pada dirinya sendiri, mengutuk perbuatan yang seperti binatang ketika memperlakukan istrinya.


"Maafin aku, Ra. Aku gak sadar." lirihnya bersalah.


"Iya sayang gak papa, aku mengerti." jawab Maura.


Gifali kembali mempertegas beberapa bulatan keunguan yang ia ciptakan di kulit leher istrinya.


"Astagfirullahaladzim, Ya Allah ..." Gifali semakin mendesah berat. "Sakit, Ra?" ia menyentuh kulit leher Maura. Dan istrinya mengangguk pelan.


Gifali semakin merasa bersalah. "Kenapa aku jadi begini. Demi Tuhan sayang, aku gak ada maksud nyakitin kamu."


"Aku gapapa kok, sakitnya juga udah mau hilang. Walau masih perih sedikit. Hanya tadi tuh---" Maura mengelus perutnya.


"Tadi tuh kenapa? Perutnya sakit?" Gifa menyelak cepat. Ia ikut mengelus lembut perut istrinya.


"Tadi ada setetes darah yang keluar."


"HAH?" suara Gifa begitu nyaring membuat Maura langsung membekap mulut suaminya.


"Pelanin suara kamu! Papa masih di ruang tivi lagi nonton bola." Maura berbisik.


Membuat dua bola mata Gifali membulat sempurna. Maura menurunkan tangannya dari mulut Gifali. Memang suara mertuanya masih terdengar, seperti orang yang sedang ribut dengan para tetangga. Lelaki paru bayah itu memang selalu seperti itu jika sedang menonton acara sepak bola atau basket.


"Darah? Keluar dari---"


Maura meyakinkan terkaan suaminya dengan mengangguk.


"Kita ke Dokter ya, aku khawatir." Gifali beranjak bangkit dari ranjang, dan Maura mencekal lengannya dan metitahnya untuk duduk lagi.


"Kalau malam-malam begini gak ada Dokter Kandungan yang buka. Palingan besok pagi." jawab Maura.


"Terus gimana dong, aku cemas! Ya Allah kalau sampai anakku kenapa-napa gimana, Ra? Ini emang salahku!" Gifa kembali menjangguti rambutnya.


"Udah tenang, kita berdoa aja semoga dedeknya gapapa, sayang." Maura menenangkan suaminya.


"Tapi darahnya masih keluar gak?"


"Tadi sih pas aku basuh lagi, udah gak ada kok. Apa mungkin ada yang lecet di dalam sini, tapi aku juga gak ngerti." jawab Maura jujur.


"Maafin aku sayang ... Maafin." Gifali memeluk istrinya. "Kamu jadi korban pelampiasan aku!" rintih Gifali.


"Aku sudah bilang tadi, aku memaklumimu. Siapa lagi yang akan maklum, jika bukan aku ... Istrimu!" jawab Maura sambil mengusap-usap punggung suaminya yang masih tidak berpakaian.


Gifali melepas pelukannya.


"Ayo kamu berbaring. Tiduran di sini, aku akan buatkan kamu susu dulu." Maura menurut dan mau begitu saja dibaringkan oleh suaminya. Melepas kecupan dikening Maura dan pergi berlalu tanpa menggunakan baju.


"Et, et, Gifa!" seru Papa Bilmar ketika Gifali baru saja keluar dari kamar dan hendak melangkah pergi ke dapur.


Sang memantu menoleh. "Iya, Pah?"


"Kamu ngapain tuh telanjang begitu, pakai boxer doang lagi." tanya Papa Bilmar sambil memasukan beberapa kacang atom ke dalam mulutnya.


Gifali menunduk dan menatap dirinya. "Eh iya, Pah." jawabnya malu.


"Kandungannya masih muda, jangan digempur terus. Bahaya! Kalau ada apa-apa dengan cucu Papa, habis kamu Papa cincang."


Gifali meringis dan memberikan senyuman kaku. Jantungnya kembali berdebar, tentu ultimatum itu bukanlah candaan semata. Ia sangat tahu bagaimana perangai mertuanya. Tentu kegarangannya melebihi Papa Galih.


"Iya, Pah. Enggak kok."


Gleg.


Dengan susah payah Gifali mendorong saliva nya jauh kedalam kerongkongan, dadanya sedikit sesak karena sudah berdalih. Entah apa yang diterka itu menjadi kenyataan.


"Ya bagus." jawab Papa Bilmar singkat, ia kembali membawa arah matanya ke layar terang dihadapannya. Berseru kembali ketika bola masuk ke dalam gawang.


Gifali kembali melangkah sambil mengelus dada.


Lalu


"Gifa ..."


"Emp?" Gifa kembali terhenyak, dia menghentikan langkahnya ketika namanya kembali diserukan.


"Iya, Pah?" jawabnya, setengah menoleh.


"Kamu ngapain ke dapur?"


"Mau buatin susu untuk Maura, Pah. Papa mau sesuatu?" Gifa menawarkan.


"Buatkan Papa kopi ya sama bikinin roti, selai cokelat aja jangan pakai mentega."


Mau sarapan, Kek?


"Iya, Pah. Gifa buatkan."


Papa Bilmar mengangguk dan kembali menatap televisi. Dari pada ia harus membangunkan istrinya yang sudah tertidur, lebih baik Gifali yang ia suruh. Gifali berlalu ke dapur, membuatkan susu, kopi dan roti. Kepalanya semakin ruwet. Masalahnya kembali bercabang.


"Semoga Mama dan Papa tidak marah padaku, dan kandungan istriku baik-baik saja." gumamnya sambil menuangkan air panas di setiap gelas yang sudah ia taburkan bubuk susu hamil dan kopi.


****


Sebenarnya hari ini mereka sudah harus masuk kampus kembali. Namun niat mereka terurungkan karena Gifali memaksa Maura untuk memeriksakan kandungannya ke Dokter.


Papa Bilmar sampai bertanya mengapa kantung mata Gifa terlihat sangat gelap. Itu karena Gifa tidak bisa tidur semalam. Kedua matanya terus terbuka sampai detik ini.


Pertama ia khawatir dengan anaknya yang masih berumur satu bulan, kedua ia menunggu balasan kabar dari orang tuanya apakah mereka sudah sampai di Indonesia, dan ketiga ia takut dengan kemarahan Papa Bilmar jika tahu kandungan anaknya bermasalah.


"Ada setetes darah yang keluar, setelah kami berhubungan, Dok." ucap Gifa kepada Dokter kandungan yang ada dihadapannya sekarang.


"Ritme nya terlalu cepat ya?" tanya Dokter.


Gifali mengangguk dengan wajah penuh penyesalan.


"Sebaiknya jika dalam awal-awal kehamilan seperti ini, jangan sering melakukan hubungan intim. Ritme nya juga harus halus, pelan dan lambat. Bapaknya harus bisa bersabar. Sepertinya darah itu keluar karena ada luka akibat pergesekan didalam. " jawab Dokter.


Gifali dan Maura mengangguk bersamaan.


"Apakah masih sakit, Bu?" tanya Dokter kembali, membuat Gifa menoleh untuk menatap wajah istrinya dari samping.


"Sudah berkurang, Dok."


Gifali menggenggam erat tangan Maura diatas pangkuannya. Dadanya seperti tertusuk, karena rasa menyesal terus saja membuncah belum mau menghilang.


"Ayo Bu, silahkan."


Perawat mempersilahkan Maura untuk berbaring di ranjang pasien. Dokter pun beranjak dari kursinya untuk berpindah duduk disamping ranjang Maura. Kedua matanya fokus menatap alat usg. Perawat lebih dulu mengoles gel di permukaan perut Maura yang masih polos dan datar.


Dokter mulai menggerakkan krusor usg tepat di perut Maura. Raut gelisah masih memancar jelas di wajah mereka berdua. Gifali terus melantunkan untaian tasbih dimulut nya. Ia terus menyerukan nama Allah, untuk meminta dan memohon agar anak mereka baik-baik saja.


"Enggak ada yang perlu di khawatir---"


Helaan napas lega yang baru saja mencuat, mendadak begitu saja terganti dengan kerutan yang tercetak jelas di kening Gifali dan Maura secara bersamaan.


Mereka berdua menoleh lagi menatap Dokter. Maura dan Gifali bingung dan kembali cemas ketika Dokter menghentikan ucapannya. Terlihat Dokter itu membeliakkan netra pekat miliknya. Dr. Albert tertegun dengan apa yang baru saja ia lihat.


"Saya nggak salah lihat kan?" ucap Dokter pelan sambil membenarkan posisi kaca mata pada tulang hidungnya.


"Kenapa Dok? Bagaimana dengan anak saya?" tanya Gifali dengan nada was-was, ia masih terduduk di meja Dokter.


Melihat perangai Dokter seperti itu, membuat jantungnya kembali berdegup, bisa rontok organ tubuhnya jika ia mendengar kabar yang tidak mengenakan. Pun sama dengan Maura, terlihat dua tangannya mengepal. Menahan debaran jantung yang kembali muncul. Ia takut, jika kehilangan anaknya yang belum lama menempati rahimnya.


"Dok bagaimana? Tadi Dokter bilang tidak ada yang perlu di khawatirkan, kan?" kini Maura yang bertanya, meyakini argumen pertama Dokter kandungan tersebut.


Dokter kandungan itu pun mengangguk, kedua matanya masih saja membola, dengan tangan yang tidak berhenti menggerakkan krusor usg diatas perut Maura, iya kembali memutuskan dengan tepat yang baru saja ia teliti dan lihat.


"Selamat ya, ada tiga janin diperut Ibu."


*****


Akhirnya Gifali gak jadi di cincang sama Bapak Mertua😂. Selamat ya Bunda dan Ayah, dapat kembar tiga. Mau cowok mau cewek nih anaknya? Wahay pasukan nutrijel, eh netizenkuh😘. Aku besok libur ya dulu ya manteman, seeyu❣️komennya yang banyak biar aku gak libur lama hehe🤣