My Sabbatical Wife

My Sabbatical Wife
Cantik Sekali Kamu, AisyahKu.



Maura POV.


Hari yang selalu aku tunggu-tunggu. Akhirnya tiba. Tepat hari ini, suami tercintaku akan di wisuda. Dimana di nama belakangnya akan ada satu gelar yang tersemat.


Dengan begitu akan menjadikan dirinya lebih bernilai, tambah kuat, bermartabat dan tentunya dapat digunakan untuk membiayai kehidupan aku dan anak-anak.


Haha, maaf aku tertawa. Karena begitu lah keadaannya. Saat ini aku dan anak-anak hanya bisa menggantungkan hidup dari rezeki yang Allah berikan lewat suamiku.


Setiap bulan seluruh gajinya akan ia berikan padaku. Aku hanya akan memberikan uang jajan setiap minggu kepadanya, untuk bensin, makan siang ataupun keperluan lain yang ia butuhkan. Sisanya aku yang atur, untuk kehidupanku dan anak-anak.


Setelah itu, ia tidak pernah menanyakan lagi berapa sisa uangnya, berapa yang ada didalam tabungan atau pun menanyakan aku sudah membeli barang apa saja dari uangnya. Karena katanya, uangnya sudah menjadi uangku. Jadi terserah aku, mau bagaimana dengan uang itu.


Setiap hari aku bangun kisaran pukul 04:00 pagi, untuk bangun lebih dulu dari suami dan anak-anakku. Sebenarnya masih ingin unyel-unyelan di kasur, tapi apalah daya. Tugasku menanti.


Bayangkan saja rasa dinginnya air ketika di jam-jam segitu, apalagi jika aku harus mandi besar dulu sebelum shalat subuh. Sungguh dinginnya menyiksa kulit.


"Bangun sayang." aku berbisik tepat di telinganya. Suamiku memang orang yang tidak sulit untuk dibangunkan.


Hanya dengan menyentuh pelan kulitnya saja, ia akan mudah terbangun. Maka aku suka kasian kepadanya, jika di hari weekend, ingin melepas istirahat di siang hari, ketiga anak kami pasti akan mengganggunya.


Tapi, suamiku itu tidak akan marah. Sudah resiko katanya. haha, lucu kan?


"Jam berapa?" suaranya begitu serak.


Gifali memang sedang batuk, sejak semalam aku memberinya obat batuk dan pelega tenggorokan. Ku sentuh kulit wajahnya. Oh, syukurlah, tidak panas. Aku khawatir, ia tumbang di saat hari penting seperti ini.


"Jam setengah lima, ayo Ayah shalat subuh dulu. Lalu mandi."


Gifali mengangguk, lalu ia menyeka selimut. Dan merapatkannya lagi untuk menutup tubuh anak-anak kami yang masih pulas.


Ia duduk di bibir ranjang dengan kepala tertunduk. Ingin menghilangkan sisa-sisa kantuk yang masih bersarang. Tak lama kemudian, ia mendongak dan menjulurkan tangannya kepadaku dengan sikap manja.


"Mandiin, boleh gak?" tanyanya dengan kekehan kecil. Aku mendelik sedikit. Bukan karena tidak mau, tapi karena aku tahu arti dibalik pertanyaannya. Ia pasti sedang menagih.


Aku menggeleng seraya melangkah untuk meninggalkannya. Tapi dengan cepat aku ditarik olehnya menuju kamar mandi.


"Ayah kepengin, Bun. Sekalian kita mandi bareng. Habis itu baru shalat." ucapnya dengan nada memelas sebelum masuk ke kamar mandi.


Aku hanya bisa memukul pelan lengannya. "Ada-ada aja kamu tuh. Hari ini tuh kamu mau di wisuda, masih sempatnya minta jatah!" decakku.


"Ini kebutuhan alam." jawabnya tertawa sambil mengedipkan mata kepadaku. Dan setelah pintu kamar mandi tertutup, dengan lahap ia langsung memakanku dengan lahap, sesuai takaran porsinya sekenyang yang ia mampu.


Dan yang paling romantisnya, setelah aku sudah memberikan kebahagiaan padanya, ia akan beralih untuk menyabuni tubuhku, memijat rambutku dengan sampo dan menggosok tulang keringku dengan sikat khusus agar kulitku selalu halus. Serta memberikan pijatan kecil di kedua bahuku.


Beberapa saat kemudian. Kami pun keluar dengan balutan handuk dan kebasahan di rambut. Sudah selesai mandi besar dan ingin melaksanakan Shalat Subuh.


Setelah semua rangkaian itu selesai. Ia melangkah untuk meraih kemeja batik yang sudah aku siapkan menggantung di pegangan lemari, agar ia mudah menjangkau dan memakainya.


Satu bulan lalu, aku sengaja membelikannya batik baru. Batik Cendana berwarna cokelat bata berlengan panjang. Aku ingin ia memakainya di hari spesial ini. Serta di padu padankan dengan celana berbahan hitam dan sepatu pantopel yang berwarna sama dengan celananya. Masya Allah, gantengnya cintaku. Aku terus memujinya dalam senyum.


Jika ia sudah berganti pakaian, tapi belum denganku. Aku masih memakai daster, karena aku harus memandikan ketiga anakku yang sebentar lagi akan aku mandikan secara paksa.


"Bangun, Nak." aku cium mereka satu persatu.


Aku goyang-goyangkan tubuh si kembar, sampai mereka bergeliat dan membuka mata. Ketiga anakku pun tidak sulit untuk dibangunkan, mereka semua mirip sekali dengan suamiku.


Pradipta lebih dulu menjulurkan tangannya agar digendong oleh ku, dari kedua anakku yang lain. Pradipta memang lebih kolokan. Pradipta merebahkan kepalanya di pundakku, dengan kaki yang membentang di perutku. Ia menguap beberapa kali, sepertinya masih mengantuk.


Lalu aku gandeng Bisma, untuk menuruni ranjang. Sedangkan Geisha, aku suruh untuk menunggu giliran. Ayahnya, melarang aku untuk memandikan Geisha bersamaan dengan Bisma dan Pradipta.


"Au apain, Unda?" tanya Bisma sambil mengucek- ngucek kelopak matanya. Kedua anak lelakiku ini merasa aneh, karena mengapa sepagi ini mereka sudah aku bangunkan dan di giring kedalam kamar mandi.


"Mandi ya, kan kita mau jalan-jalan." hanya dalihan itu yang dapat aku berikan untuk membuat mereka semangat. Dan benar saja, Bisma dan Pradipta bersorak senang walau matanya masih setengah tertutup.


Menerima setiap sentuhan yang aku berikan. Mungkin karena masih pagi. Setelah selesai dengan Bisma dan Pradipta, aku bergegas cepat untuk memandikan Geisha.


Bisma dan Pradipta aku pakaikan batik yang mirip dengan Ayahnya. Sedangkan Geisha, ia memakai dress panjang brokat bertile yang mirip denganku.


Sebenarnya Gifali selalu membujuk Geisha untuk memakai hijab sejak dini. Namun anak itu selalu menolak, ia kegerahan. Karena tidak terbiasa, ia selalu tidak mau jika aku pakaikan.


Malah akan menangis. Dari semenjak itu, kami tidak memaksa. Tapi setelah umurnya mau menginjak tujuh tahun, aku akan memaksanya. Kata suamiku, mau tidak mau, suka tidak suka, Geisha harus memakai hijab dari dini. Ya, aku akui.


Kami memang bukan lah pasangan suami istri lulusan pesantren, belum sepenuhnya mengerti akan ilmu agama. Tapi kami hanya ingin menjadikan putra-putri kami untuk bisa meneguhkan iman dari kecil.


***


Aku sudah cantik dengan riasan sederhana. Menurutku sih, haha. Belum tahu dengan ekspresi suamiku nanti. Karena Gifali dan anak-anak masih ada di ruang makan, sedang menikmati sarapan yang aku buat ala kadarnya. Karena aku tidak punya banyak waktu untuk membuat banyak menu sarapan seperti setiap harinya.


Aku memandangi dress yang sudah terpasang di tubuhku. Dress brokat penuh dengan aksen tile yang melingkar di pinggang dan dipergelangan tanganku. Serta hijab polos berbahan satin yang senada dengan warna dress, tak lupa aku sematkan bros dengan insial huruf G. Benda itu terpajang cantik di lilitan hijab yang aku kaitkan ke atas pundak.


Aku melangkah keluar dari kamar dengan menggunakan flat shoes berwarna cokelat bata yang aku senada kan dengan tas dan arlojiku. Aku menuju ruang makan untuk menghampiri keluarga kecilku di sana.


Baru saja sampai di bibir meja. Suami dan ketiga anak-anakku langsung menoleh dan menatap ku tanpa kedipan mata. Aku lihat raut wajah Gifali berbinar bahagia, samar-samar sudut garis senyumnya merekah. Ia sampai beranjak berdiri dan menghampiriku.


"Cantik sekali kamu, AisyahKu ..." Gifali setengah merangkulku dan melepas kecupan hangat di kening.


"Sungguh, aku kagum." tukasnya lagi.


Dan semua pujiannya berhasil membuat aku terlena. Seperti ingin terbang ke langit ke tujuh dan membenamkan diri di atas awan biru. Hatiku berbunga, senang dan bahagia.


"Beneran, Yah?" rona merah sepertinya mulai tampak di kedua pipiku. Dan suamiku yang tampan itu kembali memberikan kecupan di pipiku beberapa kali.


Seolah mengerti ucapan dan tindakan Ayahnya. Ketiga anak-anakku ikut berseru.


"Antik Unda ... Antik." ucap mereka bersamaan. Mereka tersenyum riang.


Bisma, Geisha dan Pradipta yang masih sibuk mengunyah dengan selembar roti ditangannya langsung beranjak dari kursi. Mereka menghampiriku, aku pun berjongkok untuk mensejajarkan tubuhku dengan tinggi tubuh mereka.


Mendapatkan berbagai kecupan bergantian dari mereka bertiga, sungguh membuat aku bertambah bahagia.


"Muach." seru Bisma, ketika ia menjadi orang yang terakhir menciumiku.


Suamiku sedari tadi, sibuk mengambil foto kami yang sedang bercengkrama dalam pelukan.


"Ayo kita berangkat sekarang, aku tidak mau kita terlambat."


"Tapi Bunda kan belum sarapan." jawab suamiku. Ia menatap satu lembar roti berselai cokelat yang masih belum aku sentuh.


Aku beranjak berdiri lalu berjalan ke lemari dapur, mengambil kotak bekal. "Makan di jalan aja, Yah." jawabku sambil meletakan roti itu ke dalam kotak bekal.


"Ya, baiklah. Ayo anak-anak, ikut Ayah ke mobil." titah Gifali, dan ketiga anakku menganggukan kepala. Mereka jalan bersisihan keluar rumah menuju garasi.


Aku kembali melirik ke arah jam dinding, aku mengulum senyum, karena waktu yang sudah aku atur secara sempurna bisa berjalan dengan baik. Jam tujuh kami sudah harus berada di gedung, dan aku tidak ingin suamiku terlambat.


Ayah dan Ibu mertuaku, serta Kak Adrian dan Ramona juga akan menunggu di sana. Suamiku memang sedikit sedih hari ini, karena Mama dan Papa kami yang ada di Jakarta berhalangan hadir. Mereka hanya bisa mengirimkan doa dan semangat.


Dan yang paling mengharukan ketika proses wisuda nanti, Ayah mertuaku lah yang akan bertugas untuk memindahkan tali di topi wisuda suamiku dan wisudawan lainnya.


***


Like dan Komennya ya guyss. Bentar lagi Abang Gifali bakal di Wisuda.