
Terlihat seorang lelaki dengan perangai tampan, bertubuh tinggi dan berdada tegap. Tengah berdiri dengan kedua tangan terlipat didada, disertai senyuman hangat di pertengahan anak tangga.
Lelaki itu memandang penuh cinta kepada wanita yang beberapa bulan ini memutuskan hubungan dengannya.
"Akhirnya kamu datang sayang, Aku yakin kamu pasti akan kembali padaku." ucap Razik.
Kemudian ia menuruni anak tangga dan menghampiri Agnes yang masih berdiri tegak dipertengahan ruang tamu. Agnes menatap Razik dengan tatapan tidak suka.
Agnes tertawa mengejek. "Jangan pede kamu, Kak!"
Seketika Agnes melengos ketika Razik memiringkan kepalanya untuk mengecup bibir Agnes.
"Jangan pernah sentuh aku! Kita sudah---"
"Putus?" selak Razik. Agnes mengangguk dengan dagu yang sedikit di naikan.
Razik menyengir. "Itu kan kata kamu, bagiku tidak! Kamu tetap milik aku, Nes!" bola mata Razik menyala-nyala. Ia mencengkram kuat kedua lengan Agnes. Seraya ingin membuat Agnes takut dan kembali bertekuk lutut padanya seperti dulu.
Agnes meringis sakit dan sekuat tenaga melepas cengkraman itu. Karena cintanya kepada Gifali, tentu membuat ia menjadi wanita pemberani. Buktinya ia berani ingin melenyapkan Maura.
"Tolong berikan aku obat! Simpanan obatku sudah habis. Ini uangnya." Agnes menyodorkan sejumlah uang dollar dari saku celananya kepada Razik.
"Aku tidak mau memberikannya lagi! Dulu hanya kesalahan, Nes. Kamu terlalu lancang untuk mencobanya!" Razik menunjuk kedua mata Agnes dengan jari. Amarah lelaki itu kembali muncul.
"Aku mohon, Kak. Kali ini aja. Aku butuh obat itu!" pinta Agnes, ia bergeliat memohon di lengan Razik.
Razik tahu sebentar lagi Agnes akan sakauu. Lelaki itu tidak tega, tapi ia juga sudah berjanji tidak akan lagi menyeret Agnes untuk mencoba obat terlarang itu, dirinya saja sanggup untuk tidak menyentuh atau memakainya. Karena dasarnya ia hanya ingin cepat kaya dengan menjual barang haram tersebut. Agnes tetaplah cinta pertamanya yang selalu ingin ia jaga.
"Enggak!" sentak Razik.
Ia melepaskan tangan Agnes, dan gadis itu pun terhuyung ke atas lantai. Tubuhnya sudah mulai tidak enak, keringat terus bercucuran ditambah lagi rasa dingin yang membuat tubuhnya seketika menggigil.
"Tolong aku, Kak." Agnes meronta, mendongak menatap Razik yang juga menatapnya ke bawah.
Razik berjongkok dan mengelus wajah Agnes. "Kembali lagi sama aku ya." ucapnya. Dan Agnes tetap dalam pendiriannya. Ia menggeleng.
"Enggak bisa! Aku udah gak cinta lagi sama kamu, Kak!"
Elusan lembut dari Razik tiba-tiba berubah menjadi kasar. Ia mencakup wajah Agnes sehingga bibir Agnes berubah menjadi huruf O.
"Yang benar? Bukannya dulu kamu sangat mencintai aku?" tanya Razik, mencari-cari kepalsuan di indera penglihatan Agnes, sayangnya ia benci karena rasa itu tidak ia temukan.
"Benar, Kak! Aku memang sudah tidak mencintaimu lagi, setelah kamu berhasil membohongiku!"
"Tapi aku lakukan semua ini, karena ingin membahagiakanmu, Nes. Aku cinta sama kamu!" sentak Razik. Nada suaranya naik satu oktaf. Seketika permukaan kulit Agnes meremang. Ia mengedik takut.
"Tapi aku udah enggak cinta sama kamu!" Agnes tetap dalam pilihannya.
"Karena Gifali? Lelaki muda itu?" Bola mata Razik memicing. Satu alis nya naik dan meninggi.
Sekuat tenaga Agnes menepis tangan Razik dari wajahnya. Ia mencoba beranjak untuk duduk beselonjor.
Agnes berdecih menantang. Walau jantungnya sedang berdetak cepat. Karena jujur saat ini ia merasakan takut. "Apa adik tiri mu sudah melaporkanku?"
"Ramona maksud kamu?" Razik tertawa sarkas. "Aku bahkan belum bertemu dengannya lagi, dari dua bulan kemarin."
Agnes menautkan alisnya, merasa tidak percaya. Razik adalah Kakak tiri Ramona. Lelaki itu adalah anak dari pernikahan pertama Papa Ramona. Setelah Ibu Razik meninggal, sang Papa pun menikah lagi dan mendapatkan anak perempuan, yaitu Ramona.
Keluarga Ramona adalah keluarga terpandang. Mempunyai berbagai usaha di bidang kuliner. Maka dari itu Papanya sangat menginginkan Ramona dan Razik menjadi chef. Namun sayang Razik menolak dan terus membangkang. Membuat ia memilih untuk hidup terpisah dari keluarga dan menjalankan usahanya sendiri.
"Ayolah sayang, harusnya kamu tuh gak usah kaget! Kamu tau kan siapa aku?" ucap Razik menyeringai.
Lekat, ia tatapi wajah Agnes dengan tatapan penuh damba, cinta dan hasrat. Tak sabar, Razik menekan tengkuk Agnes untuk mendekat maju ke wajahnya. Dan tanpa menunggu lama, Razik berhasil melumatt bibir Agnes.
Ya, Razik benar. Seharusnya Agnes tidak perlu curiga dengan Ramona. Karena Razik adalah lelaki tangguh yang bisa menghalalkan segala cara untuk mendapatkan hal yang ingin ia capai.
Razik adalah sindikat bandar narkoba di negara ini. Selama tiga tahun terakhir, ia tidak pernah tertangkap. Alur penjualannya pun selalu berjalan mulus. Uang yang ia punya pun sekarang sudah menggunung. Razik bisa membeli Apartemen, mobil dan barang mewah lainnya.
Untuk perlindungan dirinya, Razik mempunyai beberapa body guard dan mempunyai keamanan lewat udara dengan menggunakan sistem informasi teknologi canggih. Dan hanya untuk menyelidiki Agnes selama ini, sangatlah mudah baginya.
"Hhh ..." dengan napas yang terengah-engah. Agnes melepaskan perpagutan bibir tersebut.
"Aku rindu kamu sayang." bisik Razik, ia ingin memagut bibir itu kembali tapi Agnes menghindar.
Agnes kembali meringkuk, memeluk tubuh dengan kedua tangan. Memejamkan mata dan meringis sakit. Tubuhnya menggigil tidak tertahan. Terdengar giginya saling mengeretuk. Agnes sudah tidak sanggup berbicara.
Razik tidak tega melihat Agnes bergeliat seperti itu. Kemudian ia menepukkan tangan, dan para asistennya datang menghampiri.
"Iya, Tuan?"
"Tolong ambilkan kotak obat saya!"
"Baik, Tuan." dua lelaki itu pun berlalu dari hadapannya.
"Sungguh aku enggak mau kamu seperti ini lagi, Nes!" ucap Razik memelas. Berkali-kali mengusap wajahnya gusar. "Tapi ini semua karena kecorobohan mu dulu! Kalau saja dulu kamu tidak lancang untuk menyentuhnya, mungkin sekarang kamu tetap menjadi wanita yang normal!" rintih Razik.
Tak lama kemudian dua lelaki yang ia amanatkan kembali datang menghampirinya.
"Ini Tuan." lelaki itu menyodorkan kotak obat milik Razik.
Razik mengeluarkan spuit baru dan memasukan cairan obat yang sudah ia oplos terlebih dahulu. Lalu menyuntikan nya dibagian lengan dalam Agnes.
"Kalian boleh pergi." titah Razik kepada mereka berdua.
"Baik, Tuan."
Setelah mereka berlalu. Razik meletakan tangannya di bawah tengkuk dan di balik paha Agnes. Mengangkat tubuh Agnes untuk dibawa ke kamarnya. Samar-samar Agnes membuka matanya. Namun tatapannya sudah beda, ia sedang berimajinasi dalam euforianya.
"Gifali ... Sayangku." Agnes merancau. Membuat Razik menatap tajam ke arah Agnes.
"Teruslah sebut dia! Nyatanya hari ini, yang kamu layani adalah aku!" Razik menyeringai licik.
"Ini adalah satu-satunya jalan untuk mengikat kamu menjadi milikku, Nes! Kamu itu punya aku! Calon istri aku!" kelakar Razik penuh keyakinan.
Razik terus melangkah membawa Agnes menuju pembaringan. Meletakkan gadis itu di pusaran ranjang. Agnes masih mengawang-ngawang jauh entah kemana. Perasaanya terlihat tentram, temaran dan bahagia.
Razik hanya bisa tersenyum menatap Agnes. Jari-jari tangannya bergerak cepat untuk melucuti seluruh pakaian yang hinggap di tubuhnya. Setelah dirasa tubuhnya sudah polos, ia merangkak naik untuk mengkungkung Agnes.
"Setelah ini kita akan menikah, Agnesita Magnolia ..."
Wanita yang sudah membuat hidupnya berbunga selama setahun ini. Saat itu Agnes tidak tahu jika lelaki yang ia temui di toko kopi perlahan mencintai dirinya. Selalu merebut perhatiannya dan akhirnya mau menerimanya.
Agnes terlonjak kaget, ia pernah memutuskan hubungannya dengan Razik pada saat ia tahu lelaki itu adalah bandar narkoba. Dan Agnes ikut mencoba barang haram itu tanpa sepengetahuan Razik. Namun lelaki itu kembali meyakinkan Agnes, kalau dirinya akan berubah.
Suatu hari ketika Agnes sedang sakau di kamar sang Kakak, tanpa sengaja Ramona memergokinya. Dan dari saat itu, Agnes membenci Ramona. Ia menghalalkan segala cara untuk membuat Adrian dan Ramona berpisah, karena takut ia akan membeberkan aib dirinya kepada keluarga besarnya. Dan kesepakatan antara Ramona dan Agnes pun terjalin.
Tapi, hati Agnes kembali goyah, ketika ia menemukan Gifali untuk pertama kalinya. Senyuman lelaki itu amat meneduhkan. Lelaki dewasa dan beriman. Tentu hal itu sangat menyentuh kalbu Agnes, maka dengan itu ia mantap untuk menjauh dari Razik.
Ia fikir dengan membawa kabur dua gram ganjaa. Dirinya bisa bertahan hidup tanpa Razik. Nyatanya salah besar. Agnes kembali ke dalam sarang Razik.
******
Nah gitu deh guys percintaan Mbak Agnes sama Mas Razik. Mereka nih ujungnya bakalan sedih loh, sama kayak Abang Gifa dan Kakak Maura.
Like dan komennya ya, biar aku selalu kuat buat cerita ini. Hanya makasih yang bisa aku sampaikan kepada kalian, karena sudah mau setia membaca cerita ini. sekali lagi makasih ya🤗