
"Pagiku celahku, matahali belsinal. Ku gendong tas melahku di pundak ... selamat pagi cemua, ku nantikan dilimu ... guluku telsayang ..."
Geisha terus bernyanyi dengan kepala yang di goyangkan ke kanan dan ke kiri. Kedua tangannya diletakan di atas pinggang, mengikuti goyangan penyanyi cilik yang ada di televisi.
Anak cantik yang semua sisi tubuhnya sangat enak untuk di gigit karena saking montoknya. Rambutnya lurus, terurai panjang. Sang Ayah melarang rambut anak perempuannya itu untuk di potong. Gifali suka wanita berambut panjang, maka dari itu sedari dulu rambut Maura akan selalu terurai panjang sampai selengan.
"Pagiku celahku, matahali belsinal. Ku gendong tas melahku di pundak ... selamat pagi cemua, ku nantikan dilimu ... guluku telsayang ..."
Geisha kembali bernyanyi. Jika dihitung-hitung anak itu sudah mengulanginya sebanyak sepuluh kali. Membuat Bisma dan Pradipta mulai bosan, kesal dan terganggu.
"Matiin aja tivinya. Aku belisik nih." seru Bisma. Anak lelaki yang akan menginjak usia empat tahun dua bulan lagi terlihat kesal.
"Iya, aku juga sama ..." imbuh Pradipta.
Seakan tak memperdulikan, Geisha hanya menoleh dan kembali menatap layar tivi. Ia kembali bernyanyi. Geisha suka bernyanyi, maka Maura sengaja membelikan dvd lagu-lagu anak-anak yang Geisha suka.
Karena kesal, Geisha tidak mau menurut. Bisma bangkit dari posisi tengkurapnya di atas karpet. Anak lelaki itu yang semakin hari semakin mirip dengan wajah Kakek Bilmar, sedang mewarnai berbagai hewan dibuku gambarnya. Ia menghampiri televisi dan mematikan tontonan dvd tersebut.
"Ahhh! Kakak ..." seru Geisha. Walau mereka kembar, tapi tetap saja Geisha lebih pendek dan mungil dibandingkan Bisma dan Pradipta.
"Balikin lemotnya!" Geisha berjinjit dengan tangan terulur ke atas ketika Bisma menggantungkan remot itu ke udara.
"Adek, tolongin." Geisha menatap Pradipta dengan wajah mengiba. Tapi karena ia juga merasa berisik dan terganggu dengan nyanyian Geisha. Maka anak itu hanya menggeleng.
Membuat Geisha semakin berteriak. Ia terduduk di lantai sambil mengguling-gulingkan tubuhnya.
Hiks ... Hiks
Anak gembul itu menangis sampai wajahnya memerah. "Ayah ... Bunda!" ia terus berseru sambil menangis. Menghentak-hentakkan kakinya.
Bisma dan Pradipta tidak peduli. Kata mereka biar saja menangis, karena telinganya sudah pengang dan terganggu.
Mendengar putri cantiknya menangis, Maura muncul dari dalam kamar dengan langkah terburu-buru. Menurunkan daster yang sejak tadi tersingkap di atas paha sampai ke bawah lutut, kembali mengancingkan kancing dasternya yang terbuka.
Gifali pun mengekor di belakang istrinya, namun ketika langkahnya sampai di ruang tamu. Ia kembali bergegas ke kamar, ia baru sadar kalau dirinya masih bertelanjang dada hanya memakai boxer. Tidak pantas jika dilihat ketiga anak-anaknya.
Hari libur, siang hari. Memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk bercinta dengan istrinya yang sudah hamil tua, di saat anak-anaknya sedang sibuk bermain di ruang tamu.
"Kenapa, Nak? Kok, nangis?" Maura berjongkok untuk mengangkat tubuh Geisha agar berdiri.
Geisha mencebikkan bibirnya dalam air mata yang semakin deras. Ia menunjuk kedua saudara kembarnya.
"Kenapa, Kak, Dek?" tanya Bundanya.
"Adek belisik, Mah." jawab Bisma tanpa menoleh. Anak itu masih asik mewarnai.
"Iya tuh Kakak nyanyi-nyanyi telus." timpal Pradipta sambil meraih crayon merah.
Mendengar hal itu membuat Geisha semakin menangis. Anak perempuan itu menghampiri ke dua saudaranya dan menjanggut rambutnya.
"Ah ... Sakit!" Bisma dan Pradipta teriak. Karena mereka lelaki, tenaga yang dimiliki pun besar. Kedua anak lelaki itu mendorong perut Geisha sampai anak itu terjatuh.
"Ya Allah ..." Maura berteriak.
Geisha terhuyung dengan kepala terjeledak di lantai. Anak perempuan itu langsung diam dari tangis dan hanya menatap Bundanya tanpa kedipan mata. Tiba-tiba seperti orang bisu.
"Astagfirullahaladzim, Geisha." Maura panik, bola matanya menatap tajam. Geisha hanya menatap wajah Bundanya tanpa ekspresi.
Geisha hanya diam tidak menjawab. Maura mulai panik. Cintanya begitu besar kepada sang Anak, bahkan ia tidak pernah membiarkan satu nyamuk pun menghisap darah ketiga anaknya jika sedang tertidur.
"Geisha, ayo ngomong!" tidak sadar Maura sampai berteriak. Membuat Bisma dan Pradipta mematung dan takut. Maura khawatir dengan perubahan anak perempuannya yang tiba-tiba berbeda setelah jatuh. Ia menyesal kenapa kedua tangannya lolos begitu saja ketika akan menangkap tubuh Geisha.
"AYAH!!" seru Maura kepada suaminya yang sedang berganti pakaian di kamar.
***
Sudah dua jam Maura dan Gifali berada di IGD Rumah Sakit. Mereka bisa bernapas lega, karena ternyata Geisha tidak apa-apa. Anak perempuan itu hanya kejang biasa. Ia syok, karena dorongan sang Kakak yang cukup kasar sampai dirinya terjungkal ke lantai.
Hasil pemeriksaan di kepalanya juga tidak menyatakan adanya keanehan, semua aman. Namun Dokter bilang, jika nanti malam Geisha demam, tidak usah panik. Di surface colling saja. Biasanya itu efek samping yang terjadi.
"Dek, maafin Kakak ya." ujar Bisma, pun sama dengan Pradipta. "Kak, maafin Adek, ya." cicitnya polos.
Bisma dan Pradipta sedari tadi merayu, membujuk dan mengusap-usap punggung Geisha yang sedang memeluk leher Ayahnya dalam pangkuannya. Di genggaman tangannya terlihat ada permen kaki rasa strawberry.
Gifali dan Maura yang duduk bersisihan di bangku tunggu Apotik hanya bis menggeleng samar dengan kelakuan Bisma dan Pradipta.
Sesekali Geisha bergeliat, ia tidak mau disentuh oleh dua saudaranya itu. Sepertinya ia masih kesal. Jangankan menjawab, disentuh saja tidak mau.
"Mau seperti itu lagi?" tanya Maura kepada kedua anak lelakinya itu. Wajah mereka yang sudah sendu sejak Geisha jatuh, lantas menggeleng.
"Enggak, Bunda. Kami janji." jawab mereka berdua lalu menundukkan kepala. Maura hanya bisa menghela napas sambil mengelus-elus perutnya.
"Semarah apapun, jangan pernah memukul! Bunda aja enggak pernah kan, mukul kalian? Ayah juga enggak pernah, tuh. Kalian tuh diajarin siapa?" Maura masih emosi. Nadanya masih terdengar tinggi. Pradipta dan Bisma hanya diam tertunduk. Bulir-bulir air matanya sudah menggenang.
"Memang Geisha yang memulai duluan, tapi kalian harus mengalah. Karena kalian itu anak lelaki! Tidak ada anak lelaki yang boleh memukul wanita!" Maura terus merancau.
Hanya dia yang terus berseru, dan sang suami hanya diam. Gifali punya waktu khusus untuk mengajak anak lelakinya berbicara dari hati ke hati. Apalagi sekarang Maura sedang hamil, mood dan emosinya sangat naik turun.
Tidak perduli orang yang disebelahnya menoleh kaget. Maura tidak boleh diam, ketika anaknya sudah berani bermain kasar.
"Geisha itu perempuan. Lihat tubuhnya saja lebih kecil dibanding kalian! Sampai hati mendorong?" Maura tetap saja marah.
Ia bisa mati kalau sampai Geisha kenapa-kenapa.
"Udah lah, Yah. Geisha kita titipin aja dirumah Eyangnya. Biar Bisma dan Pradipta enggak gangguin adiknya lagi." Maura sengaja membuat kedua anaknya tambah menyesal dan takut.
Mendengar ucapan itu, mereka tak rela. Bagaimanapun Geisha adalah saudara perempuan satu-satunya saat ini sebelum si kembar yang ada diperut Bundanya lahir ke dunia. Walau Geisha itu cerewet, berisik tapi ia perhatian sekali kepada Bisma dan Pradipta.
Tumpah sudah air mata dua anak lelaki itu. Gifali dan Maura hanya mendiamkannya saja. Geisha yang mendengar saudaranya menangis tidak tega. Ia pun menoleh dan ikut menangis. Batin saudara kembar memang sangat kental.
Geisha beranjak turun dari pangkuan sang Ayah. Pradipta dan Bisma langsung memeluk bocah perempuan mungil itu. Mereka menangis bersamaan. Bisma dan Pradipta tidak berhenti menciumi wajah adiknya. Membuang rasa bersalah karena sudah menyakiti adiknya.
Maura dan Gifali hanya bisa saling memandang dengan helaan napas panjang. Membiarkan saja ketiga anak kembarnya itu saling menangis.
***
Kalau Bunda udah marah, emang Ayah bisa apa?🤪🤪😂
Geisha Alyra Hadnan🌺🌺