
Melihat raut wajah Tamara berbeda, Pramudya mencoba menenangkannya.
"Bagaimanapun kesalahannya kemarin. Ia juga tetap anakku, Mah. Aku yang membesarkan, mencurahkan kasih sayang, mengganti sosok Papa kandungnya selama ini. Aku pasti sayang padanya, walau kemarin aku sempat kecewa."
Tamara terhenyak bahagia. "Apa Papa sudah memaafkan, Agnes?"
Pramudya mengangguk. Dengan wajah gembira. Tamara langsung mendekap suaminya. Mengucap kata terimakasih berulang-ulang. "Iya, Mah. Sama-sama."
Drrt drrt drrt
Gawai Adrian bergetar seiring air matanya berlinang ketika melihat keharuan Tamara dengan Pramudya di sofa tidak jauh darinya. Begitupun Gifa dan Maura yang ikut terharu melihat dua pasangan paru bayah itu.
"Agnes?" seru Adrian. Dan suaranya itu berhasil membuat semua orang menoleh ke arahnya. Adrian mengusap icon kamera, untuk menjawab panggilan video call dari Agnes.
"Aku ingin berbicara dengan Maura, Kak. Apakah boleh?"
Adrian menatap Maura dan Gifali. "Boleh, sini, Kak." ucap Maura. Adrian mengangguk senang lalu beranjak bangkit dari kursi.
"Assalammualaikum, Kak. Bagaimana kabarmu? Maaf aku belum sempat menjenguk mu di sana." salam sapa Maura kepada wanita berhijab diseberang sana.
Mendengar kebaikan hati Maura, hati Tamara kembali berdesir. Ia tidak menyangka sama sekali. Agnes akan diterima kembali dengan baik.
"Waalaikumsallam, Ra. Aku baik-baik saja. Bayiku pun sehat, sekarang sudah jalan enam bulan." Agnes memperlihatkan perutnya yang sudah membuncit.
"Masya Allah Tabarakallah." puji Maura.
"Maaf aku tidak bisa melihat anakmu lahir, Ra." ada nada sendu diseberang sana. Terlihat Razik mengusap lembut bahu istrinya, agar tidak menangis.
Semakin hari perlakuan Razik semakin indah, dan Agnes bisa membuka ruang untuk mencintai lelaki itu kembali. Razik pun sudah berhenti menjadi bandar narkoba. Namun perasaan takut tertangkap oleh polisi masih saja menghantui.
"Sudah tidak apa-apa, aku mengerti, Kak." jawab Maura.
Lalu disela-sela mereka sedang berbincang. Perawat datang untuk menjemput Maura menuju kamar operasi. Karena waktu persalinan sudah tiba.
"Sudah dulu ya, aku akan ke kamar operasi sekarang. Tolong doakan aku, Kak." ucap Maura. Di sana Agnes mengangguk dan melambaikan tangan perpisahan. Dan sambungan telepon diantara mereka pun terputus.
Perawat mulai mendorong brangkar Maura untuk dibawa menuju kamar operasi. Gifali melangkah beriringan dengan brangkar Maura yang tengah di dorong.
Lelaki itu kembali panik. Jantungnya terus memburu. Dag-dig-dug rasanya, karena sebentar lagi ia akan ikut masuk ke dalam kamar operasi dan mengikuti proses persalinan Maura.
Semua keluarga ikut mengekor di belakang mereka. Ingin menemani Maura sampai ke pintu operasi.
"Sayang ... Aku ingin telur gulung." ucap wanita hamil itu dengan cicitan manja. Maura mendongak ke atas menatap wajah suaminya yang terus memandang lurus kedepan. Sontak mendengar ucapan itu membuat Gifali menyerengit. Ia menurunkan tatapannya.
"Nanti ya habis kamu melahirkan." jawabnya dengan senyuman tipis. Ia tidak habis fikir dengan istrinya, masih ada saja kemauannya yang ingin dituruti. Padahal saat ini dirinya sedang gelisah dan takut seperti ingin terjun kedalam jurang yang banyak ularnya, namun sang istri masih saja merancau ingin sesuatu.
Apa lagi tadi katanya? Telur gulung, ck.
Perawat dan keluarga hanya bisa terkekeh mendengar permintaan Maura yang semakin aneh-aneh saja.
"Dasar gendut, udah diujung persalinan. Masih aja mikirin makanan." decak tawa Adrian dalam langkahnya.
Maura benar-benar tampak biasa saja, seperti orang yang bukan mau melahirkan. Beda sekali dengan suaminya. Gifali terlihat tegang, kaku, telapak tangannya basah dan dingin. Ia gugup setengah mati.
Sesampainya di pintu masuk operasi. Maura terlebih dulu mencium tangan Pramudya dan Tamara secara bergantian. Tamara dan Ramona memeluk dan mencium Maura. Banyak doa yang mereka curahkan untuk keberhasilan persalinan wanita itu.
"Aku akan membuatkan mu telur gulung yang banyak." ucap Ramona.
Maura merentangkan kedua tangannya lagi untuk memeluk Ramona. Bahagia sekali hatinya bisa mendapatkan orang-orang yang berhati baik di sekeliling hidupnya. Wanita itu pun menerjang pelukan Maura. "Makasih, Mona. Aku sayang kamu." seru Maura gembira.
"Iya, Ra. Aku juga sayang kamu." balas Mona.
"Padahal aku tuh inginnya sekarang, Mon." bibir Maura terlihat mengerucut.
Ramona melepas pelukan itu dan tertawa. "Makan terus ih yang difikirin. Kamu tuh udah gendut, liat tuh mata kamu udah sipit kaya orang Hongkong." Ramona menjawil Maura, lalu di kecup singkat.
"Lancar ya, Nak. Kami di sini mendoakan kalian." ucap Pramudya kepada Gifali dan Maura.
"Jangan tegang, Gif. Lo yang harus nguatin Maura di dalam nanti." Adrian memegang bahu adiknya. Gifali mengangguk. Dan mengedarkan pandangan senyum kepada semua orang.
"Terimakasih banyak." ucapnya.
Perawat kembali mendorong brangkar Maura untuk masuk kedalam pintu kamar operasi. Gifali pun ikut masuk kedalam untuk bersiap berganti baju.
Betul-betul menegangkan. Dan Gifali tetap belum bisa mengendalikan dirinya dari rasa panik. Meraih atasan dan bawahan berwarna hijau yang baru saja di sodorkan oleh Perawat untuk ia pakai. Tangannya sedikit bergetar ketika memegang baju itu dan melangkah menuju kamar mandi untuk berganti pakaian.
"Bismillah... Sebentar lagi aku akan menjadi seorang Ayah." Gifali berusaha melepas rasa gugup dan panik dengan tekad yang besar. Benar apa kata Adrian, ia harus kuat demi ketiga bayi mereka.
****
Maura sudah dibaringkan di atas meja operasi. Gifali setia berada disampingnya.
Perawat mempersilahkan Gifa untuk duduk atau berdiri. Dan Gifali memilih untuk berdiri dibelakang istrinya, agar bisa merangkul tubuh Maura dari belakang.
Ia sudah bermunajat untuk bisa mengendalikan rasa gugup, dan Allah mengijabahnya. Gifali mulai tenang. Dan Maura senang akan hal itu.
Hanya saja rasa senang itu tidak berlangsung lama, karena tak lama kemudian Maura menjerit ketika sebuah cairan anestesi di suntikan di punggung bagian bawah.
Ia memegang erat tangan suaminya. Gifali ikut meringis dan terus mengucapkan untaian shalawat di daun telinga Maura. Sorotan matanya jelas sekali ketika melihat sebuah suntikan dengan jarum panjang menembus dinding kulit istrinya.
"Akhh ... Sakit, Ya Allah." desah Maura panjang. Dan isakkan tangis muncul setelahnya. "Papa ... Mama!" serunya lagi, terlihat ia mengigit bibir bawahnya kuat-kuat.
Gifali ikut meringis, ia seperti ikut merasakan sakit. Menurunkan tatapannya tepat di wajah sang istri. "Jangan di gigit, nanti bibirmu luka, Ra."
"Ya Allah ... Sakit sekali." Maura terus merancau. Genggaman tangan mereka pun semakin kuat. "Gifa ..." Maura merintih menyebut nama suaminya.
"Sabar, Aisyah." Gifa mengecup kening Maura yang sudah basah karena peluh.
Akhirnya Maura menangis. "Sakit." lirihnya.
"Ayo kembali berbaring terlentang." titah Dokter. Gifa membantu membaringkan istrinya kembali dengan posisi yang di minta.
"Hhh ..." napas kasar berhembus dari bibir Maura. Gifali tidak henti mengusap keringat istrinya dengan tissue.
"Masih sakit?" bisik Gifali.
"Iya."
Gifali mengelus kedua bahu istrinya untuk memberikan pijatan kecil.
"Rileks sayang."
Maura mengangguk dengan rasa sakit yang masih kentara. Ia tidak akan membayangkan rasanya akan perih sekali. Air bening dari sudut matanya terus berduyun-duyun turus dengan jejak garis lurus.
Mereka kembali fokus menatap ke depan. Anehnya, Maura tidak mengantuk sama sekali. Matanya masih segar terjaga. Ia bisa melihat bagaimana proses persalinannya dengan mata telanjang. Gifali tidak berhenti mengecup kening istrinya. Ia ingin memberikan kekuatan, rasa aman dan nyaman kepada Maura. Walau ia juga membutuhkan hal itu.
Di hadapannya, tepatnya didepan perut. Sudah berdiri beberapa Dokter dan Perawat. Pisau, gunting, clamp, dan benda tajam lainnya yang terbuat dari stainless stell terus memberikan suara yang tidak biasa.
"Santai ya, Bu." ucap Dokter Kandungan tanpa menoleh. Ia masih fokus merobek permukaan kulit perut Maura yang berlapis-lapis.
"Iya, Dok." Maura masih bisa menjawab dengan baik.
"Enggak ngantuk?" tanya Dokter Anestesi. Yang tidak jauh berdiri didekatnya.
Maura menggelengkan kepala. "Enggak, Dok."
Dokter menganngguk dan kembali memasukan obat ke dalam infusan.
"Sakit enggak rasanya?" bisik Gifa. Wajahnya terlihat menahan kelinuan ketika melihat perut istrinya banyak mengeluarkan darah.
Maura menggeleng. "Enggak ada rasanya." Maura ingin mendongak namun buru-buru di tahan oleh Gifali.
"Jangan!"
"Aku ingin lihat, tidak jelas kalau begini."
"Jangan banyak bergerak dulu ya, Bu." seakan tahu Maura melalukan pergerakan kecil, Perawat memberikan instruksi kepada wanita itu.
Maura mengangguk malu. "Maaf ya, Sus."
Sorot mata Gifa tidak kunjung luput dari permainan cantik Perawat yang sedang melakukan transfer alat kepada Dokter. Terlihat banyak kasa penuh darah di sana.
Dan tak lama kemudian.
Byrrr.
Air ketuban pecah seiring dengan tangisan bayi yang diangkat paksa oleh Dokter. Kedua mata Maura dan Gifali membola hebat, mereka sampai membekap mulut saking tidak percaya. Melihat bayi pertama mereka terangkat di udara.
"Gifa, anak kita sudah lahir." serunya dengan tangis. Wajah Maura memerah, menahan senang namun haru. Pun sama dengan Gifa. Lelaki itu menyeka air matanya beberapa kali.
"Maha Suci Allah ..." gumam Gifa.
Sudah ada tiga perawat anak yang bertugas untuk menerima bayi.
"Yang pertama keluar laki-laki ya, Bu."
Maura dan Gifa mengangguk.
Eya eya eya. Suara Bisma lebih dulu menggelegar ruangan.
"Itu Bisma ya?"
"Iya sayang, Gardapati Bisma." timpal Gifali.
Kembali terdengar suara bayi yang menangis.
"Yang kedua, perempuan ya, Bu."
Eya eya eya. Suara Geisha terdengar lebih nyaring setelah Bisma.
"Geisha ..." seru Maura dengan wajah berbinar.
"Geisha Alyra." imbuh Gifali.
"Yang ketiga, lelaki lagi ya, Bu."
Eya eya eya. Suara Pradipta terdengar setelah Geisha. Untuk Pradipta, Dokter memperlihatkan tubuhnya secara jelas kepada Maura dan Gifali. Rambutnya lebat sekali walau masih basah karena air ketuban.
"Pradipta sayangnya Bunda ..."
"Gasendra Pradipta." Gifali menyebut nama lengkap anak ketiganya. "Keturunan Hadnan." sambungnya dengan senyum perkasa.
"Semua normal ya, tidak kurang satu apapun." ucap Dokter lagi.
"Alhamdulillah, terimakasih banyak, Dok." jawab Mereka bersamaan. Dokter mengangguk dan kembali konsen untuk menjahit luka di perut Maura.
Para bayi yang masih menangis itu segera dibawa oleh ketiga perawat anak untuk dibersihkan, di timbang, di ukur tinggi dan diperiksa semua alat vitalnya.
"Makasih sayang ... Makasih banyak." Gifali mencium kening istrinya lagi dengan kecupan yang lama.
Air bening muncul begitu saja dari balik pejaman mata Gifali. Lega rasanya, tenang jiwanya. Anak dan ketiga bayinya dapat selamat tanpa hambatan sama sekali. Jantungnya yang sejak tadi bertalu-talu, kini sudah bisa berirama dengan normal.
"Aku berhutang jasa kepadamu, Aisyah. Terimakasih banyak." ucapnya pelan. Lalu ia membuka kedua mata dan menurunkan tatapannya lagi untuk menatap bola mata istrinya.
"Loh, Ra ..." Gifali mengguncangkan tubuh istrinya yang mulai memejamkan kedua mata.
"Ra ..." raut senang di wajah Gifali begitu saja redup, ketika melihat Maura yang sudah tidak sadarkan diri.
"Dok, tolong istri saya ..."
****
Like dan Komen ya guyss
Ini lagi gendong siapa ya? hehe.