
Satu bulan sudah berlalu. Kini rumah mereka terasa sepi kembali. Karena dua minggu lalu, Papa Bilmar dan Mama Alika memutuskan untuk kembali pulang ke Indonesia. Padahal Ammar tidak pernah merengek untuk meminta mereka pulang.
Anak lelaki itu tahu kalau sang Kakak sedang membutuhkan Mama dan Papanya. Hanya saja pekerjaan Mama Alika dan Papa Bilmar sudah menumpuk dan harus segera diselesaikan.
Kandungan Maura saat ini sudah memasuki usia dua bulan. Perut itu akan terlihat membuncit jika Maura sedang duduk. Namun akan terlihat datar jika ia sedang berdiri.
Kehamilannya masih bisa ia tutupi dengan baju seragam yang terlihat kebesaran. Gifali sengaja membelikannya lagi agar lingkungan kampus tidak mencurigai istrinya.
Dengan uang yang pernah diberikan oleh Pramudya serta gaji yang diberikan dari pekerjaannya di kantor. Membuat Gifali memutuskan untuk membeli sebuah mobil. Ia tahu, tubuh Maura akan membesar, tentu membawa tiga anak didalam perutnya pasti akan melelahkan.
"Sudah cubi sekarang pipimu, wahai Aisyah-ku." ucap Gifali sambil tertawa kecil. Ia terlihat sedang mengaduk susu hamil di gelas untuk ditenggak oleh istrinya. Ia terus saja menggoda Maura.
Maura yang baru saja sampai di meja makan hanya tersenyum malu. Bukannya marah, namun wanita itu senang. Akhirnya ada perubahan juga dalam dirinya.
"Yang benar sayang?" senyuman yang paling di sukai oleh Gifa akhirnya muncul. Maura menjawil-jawil kedua pipinya.
Gifali tersenyum dan mengangguk.
"Alhamdulillah ..." seru Maura, kemudian menarik kursi untuk duduk. Menuangkan nasi di piring suami dan dirinya.
Tuk.
Gifali meletakan segelas susu itu disamping piring istrinya. "Habiskan ya."
Maura mengangguk. "Ayo duduk, kita sarapan dulu." titah Maura.
"Makan sayur yang banyak." Gifali menuangkan lagi tumisan sayur di atas piring Maura.
Setiap pagi dan malam, Gifali tidak akan pernah absen untuk membuatkan istrinya susu. Dan entah mengapa bayi mereka menyukainya, pernah suatu hati Maura membuat susunya sendiri, tapi ia malah mual dan muntah-muntah.
Sepertinya tiga bayi itu memang sengaja ingin terus di sayang.
Saat ini dirumah mereka sudah ada pembantu. Wanita paru bayah yang akan datang setiap pagi dan pulang jika Maura sudah sampai di rumah. Dengan gaji dari sang Ayah, Gifa mengatur sedemikian rupa untuk bisa membayar jasa pembantu.
Untuk melakukan pekerjaan rumah seperti halnya mencuci dan memasak. Awalnya Maura menolak, ia bilang masih sanggup mengerjakannya sendiri. Tapi Gifali bersikeras untuk menolak.
Ia takut Maura akan letih. Perkuliahan saja sudah membuat istrinya kelelahan, apalagi sekarang sedang mengandung tiga bayi kembar. Maka dari itu Gifa tidak mau mengambil resiko.
Baginya, biarlah walau harus sampai lembur-lembur di kantor, yang penting ia masih bisa menafkahi istri dan calon buah hatinya. Kadang seringkali Gifa terkena maaf, pusing atau masuk angin. Karena dalam sehari otaknya selalu diperas untuk berfikir. Menyebabkan suka telat makan jika sudah asyik belajar dan bekerja.
"Makasih ya sayang." Maura tersenyum melihat perhatian Gifali yang semakin hari semakin luar biasa.
"Nanti sore mau dibelikan apa?" tanya Gifa.
"Hemm ..." bukan karena sedang mengunyah, tapi karena Maura sedang berfikir.
Karena setiap sore sehabis pulang bekerja, Gifali rutin akan membawakan apapun yang Maura inginkan. Dua hari lalu saja, Gifa membelikan daster hamil untuk istrinya. Walau masih kebesaran, tapi Maura senang dan langsung memakainya.
"Cheese burger aja sayang." akhirnya wanita hamil itu menjatuhkan pilihannya. Walau Gifa tahu, ujungnya nanti ia yang akan menghabiskan makanan tersebut seperti yang sudah-sudah. Ia tahu Maura hanya inginnya saja.
"Iya sayang, nanti aku bawakan. Jangan lupa susunya di minum kalau sedang dikampus. Biar anak kita gak kehausan." Gifali mengingatkan.
Demi sang istri, Gifa membelikan susu hamil kemasan, agar bisa langsung di nikmati tanpa harus diseduh terlebih dulu. Dan Maura akan meminumnya jika hanya berdua dengan Ramona atau di kelas yang sedang kosong.
"Ayo habiskan makananmu, habis itu aku antar ke kampus." jawab Gifali.
Ia yang sudah melahap habis makanannya, kemudian mengupas jeruk dari kulitnya. Meletakan di piring kecil lalu di menaruhnya disebelah piring Maura.
Setelah itu Gifali beranjak bangkit dari kursi dan melangkah menuju garasi rumah, untuk memanaskan mobil.
Maura tersenyum menatap kepergian suaminya. Sedikit meneteskan air mata haru, karena ia merasa begitu bahagia. Selalu perhatikan dan di nomor satu kan.
*****
Setelah kejadian di Apartemen Razik sebulan lalu, membuat Agnes murung dan berkali-kali ingin bunuh diri. Ia mengutuk perbuatan Razik yang dengan sengaja merampas kehormatannya. Hanya karena dasar cinta, Razik merusak hidupnya, membuat ia tidak bisa lagi untuk merengkuh cinta Gifali.
Selama sebulan ini juga, Agnes menutup diri dari keluarga, dan para sahabatnya. Ia benci dirinya, mengapa hidupnya bisa sehancur ini. Berkali-kali Razik ingin mendatangi rumah Pramudya. Ingin melamar wanita itu untuk menjadi istrinya. Namun Agnes selalu menolak dan mengancam ingin bunuh diri.
"Ada apa dengan Agnes ya, Mona? Tidak biasanya ia murung terus seperti itu. Apakah ada masalah?" pertanyaan maura itu membuat Ramona menoleh ke arah Agnes yang sedang duduk melamun di bangku taman. Ia hanya memberikan senyuman singkat serayA mengejeka.
Yang ia tahu Agnes mundur karena takut jika rahasianya dibongkar, namun lebih dari itu. Karena ia sedang terpukul luar biasa dengan perbuatan dari sang Kakak.
"Biarkan saja, orang jahat seperti dia pantas untuk mendapatkan berbagai masalah, Ra."
Maura hanya terdiam sambil menenggak susu kotaknya lagi. Jauh dalam lubuk hatinya, ia merasa iba. Tapi jika mengingat bagaimana ia berusaha ingin menyakiti dirinya dan mencoba merebut Gifali, sungguh Maura kembali emosi.
"Jangan begitu, Mona. Kita harus tetap mendoakannya agar selalu menjadi orang yang baik."
Ramona menyengir kuda. "Walau dia sudah mencoba ingin membunuhmu dan merebut suamimu?" Ramona seraya mengingatkan. Wanita itu masih saja kesal dengan sikap Agnes bulan lalu, yang ingin menyakiti sahabatnya.
"Jika mengingat hal itu aku benci, Mona. Tapi selama sebulan ini, ia tidak pernah mengusik hidupku dengan Gifa. Dan selalu menunduk malu jika menatapku. Aku jadi Iba." ucap Maura lalu menyeruput susu dari balik sedotan.
"Iya sih, sikapnya juga kepadaku agak lain. Biasanya kan ia selalu memberikan tampang sombong dan angkuh. Tapi sekarang enggak, seperti orang yang sedang ketakutan." timpal Ramona, ia terus saja menatap Agnes dari kejauhan.
"Dan sudah sebulan ini, ia terlihat kurus, wajahnya juga pucat dan kusut. Tidak pernah lepas dari jaket. Seperti orang sedang sakit." ucap Maura. Lalu beranjak turun dari bangku taman yang berjarak 50 meter dari Agnes. Ia melangkah menuju tempat sampah untuk membuang kotak susunya. Lalu saat kembali memutar langkah untuk duduk kembali di sebelah Ramona. Seketika Maura mengeluhkan sakit sambil memegangi perut.
"Kenapa, Ra?" Ramona langsung beranjak dan bergegas cepat menghampiri Maura. Merangkul Maura yang tengah meringis, di dudukannya kembali di bangku taman.
"Ayo minum dulu, Ra." Maura mengangguk dan meraih botol minuman Ramona.
"Tadi kenapa, sakit?" Ramona mengelus perut Maura yang terasa sudah mengencang.
"Iya, Mona. Agak keram, emang udah tiga hari ini begini terus." desah Maura.
Wajah Ramona berubah khawatir. Ia takut terjadi apa-apa dengan tiga bayi didalam sana.
"Kita ke Dokter aja yuk, Ra." ajak Ramona.
"Nanti saja dengan Gifa, Mona." jawabnya sambil mengelus lembut perutnya. Ramona hanya bisa menghela napas dan kembali memendam rasa kecemasan.
*****
Pasti abis ini, komennya gini deh.
Thor jangan kayak cerita Mama dan Papanya dulu ya, yang kehilangan Bilka dan Abrar😂🤭
Hahah. Kagak kok guys, beda cerita. Aku tetap ingin Gifali menjadi Ayah muda yang menggemaskan😍😍
Gimana Agnes gak meleleh, authornya aja mencair----eh😛😋