My Sabbatical Wife

My Sabbatical Wife
Bukan ini yang Papa mau?



[Sayang, aku sudah mentransferkan uang. Coba di cek ya. Maaf aku tidak bisa pulang bulan ini, aku janji bulan depan aku akan ke Indonesia sampai kamu melahirkan. I love you]


Maura mendengus. Ia hanya bisa menghela napas ketika membaca pesan itu masuk ke dalam whatsapp nya. Maura masih bertahan dalam keterdiaman nya.


Ngomong-ngomong saat ini sudah dua bulan setengah Gifali meninggalkan Maura di Indonesia. Dan selama itu pula Maura tetap bertahan, ia tidak mau bertukar pesan atau suara dalam alat komunikasi.


Ponsel ia letakan begitu saja disamping piringnya. Ia membiarkan Gifa untuk kesekian kalinya. Kehamilan pertama ini membuat Maura banyak berubah, salah satunya tega membuat suami kelabakan kita mencari kabar mengenai dirinya.


Ponsel Maura kembali terang dan berdering. Namun si empu, hanya membiarkan saja. Membuat Papa, Mama dan Adiknya yang sedang ikut sarapan merasa terganggu.


"Angkat sayang, itu pasti dari Gifa." ucap Mama Alika.


"Biarkan saja, Mah." jawab Maura singkat.


"Ya sudah biar aku aja yang angkat." ucap Ammar. Seketika tangannya ditepis oleh sang Kakak ketika ingin meraih ponsel itu. "Jangan ikut campur urusan rumah tanggaku, Ammar!" Maura berdecak. Ia sangat berubah, seperti orang yang sulit untuk dikenal.


"Kakak ..." suara Mama Alika begitu meneduhkan, membuat Maura kembali menunduk dan melahap makanannya. Ammar memasang wajah tidak suka, ia pun beranjak bangkit dan tidak menyelesaikan sarapannya.


"Adek ... Makanan kamu belum habis, Nak." seru Mama.


"Udah kenyang, Mah." jawab Ammar dan terus berlalu.


Papa Bilmar mendengus, menatap Maura dengan tatapan kesal.


"Mau sampai kapan kamu seperti ini?" suara bariton yang membuat Maura sedikit mengedikkan pangkal bahu. Tapi, karena ia masih kecewa. Maura bertahan untuk tidak menjawab, ia kembali melahap makanannya.


"Kak ..." panggil Mama.


"Iya, Mah." jawab Maura pelan.


Kesal karena tidak dihargai, Papa Bilmar semakin murka. Ia berendam dalam kekesalan.


"Kenapa kamu tidak mau menjawab pertanyaan Papa? Sikap seperti ini yang Gifali ajarkan pada mu?"


Maura mendongak ketika nama suaminya di singgung. Terlihat sekali raut wajah Maura memerah.


"Jadi cepat marah, cepat tersinggung, tidak bisa diajak bicara baik-baik! Mau sampai kapan kamu mendiami suamimu----?" suara bariton Papa Bilmar terdengar mengudara. Membuat Maura mendongak dan menatap Papanya dingin.


"Bukan ini yang Papa mau? Memisahkan ku dengan suamiku?"


DEG.


Mendengar anaknya membantah dengan kata menyakitkan, Papa Bilmar tersentak. Lelaki itu seperti dihunus panah tepat di tengah-tengah hatinya. Papa Bilmar tidak percaya anak perempuannya yang selalu lugu, selalu berbahasa lembut kini berani melawannya.


Papa Bilmar menghentak meja. Membuat semua benda-benda dari kaca itu berdentang semua. "Kamu!" seru lelaki itu marah.


Mama Alika cepat bangkit dan mendekati suaminya. "Kakak, masuk ke dalam kamar!" titah Mama.


"Ini kan yang Papa mau? Memenjarakan ku di rumah ini?" Maura terus menantang. Tak sadar ia sudah melawan orang tuanya. Kedua matanya seperti sudah terkabut emosi.


"Kakak anak baik, enggak boleh begini, Nak."


lagi-lagi suara menenduhkan membuat hatinya berdesir. Maura beralih menatap Mama dengan air mata yang sudah menggenang. Maura pun beranjak dan melangkah cepat menuju kamar.


"Kurang ajar sekali anakmu, Mah!" decak Papa dengan napas yang mulai berat.


"Sabar, Pah. Ingat jantungmu." ucap mama Alika seraya mengusap dada suaminya. Lelaki itu hanya menghembuskan napas kasar sambil menatap kepergian bayangan sang anak yang sudah mengilang.


Maura menutup pintu kamarnya dengan kasar. Wanita yang sedang hamil tujuh bulan setengah itu menangis kembali. Ia mematung dibelakang daun pintu, menatap lurus ranjang dengan air mata. Meremat kain daster dibagian dada yang saat ini tengah ia pakai.


Ia menangis sesegukan sambil menggelosor kan tubuhnya sampai ke atas lantai. Ia duduk sambil memeluk kaki dan menenggelamkan kepalanya di pertengahan lutut. Namun itu tidak berlangsung lama, karena ia terlihat pengap.


Dengan tubuh yang sudah menggemuk, dan perut yang maju membuat ia sudah duduk dengan posisi seperti itu. Ia memilih untuk duduk berselonjor dan membiarkan air matanya luruh begitu saja.


"Kenapa aku jadi seperti ini? Aku bukan Maura yang dulu! Aku bukan Aisyah mu yang dulu, Gifa! Maafkan aku."


"Maafkan Kakak, Pah."


"Aku masih belum menerima keadaan ini."


Maura terus merancau sedih. Ia menyuarakan kekecewaan dan permintaan maaf kepada dua lelaki yang amat ia cintai lebih dari jiwanya sendiri.


Ketiga anaknya pun lalu bergerak, seperti sedang jumpalitan didalam. Mereka merasakan kesedihan yang sedang Bundanya rasakan.


"Apakah Bunda akan kuat tanpa Ayah kalian, Nak?"


*****


Malam kembali menjamah. Setelah perdebatan tadi pagi, Maura memilih untuk diam dan tidak mau keluar kamar. Ia melewatkan makan siang dan makan malamnya. Mama Alika sudah bolak-balik masuk kedalam kamar putrinya. Membujuk dan menemani Maura. Namun putrinya itu hanya menangis dan memeluknya dengan erat.


Ia menaikan selimut sampai ke perbatasan dada Maura, mengusap ketiga cucunya yang tidak lagi bergerak aktif. Mereka ikut tidur bersama Bundanya. Mama Alika melepas kecupan hangat di kening Maura sesaat sebelum berlalu dengan gelas kosong bekas susu ditangannya.


"Sudah tidur anakmu, Mah?"


Mama Alika menoleh, ia mendapati Papa Bilmar tengah duduk di ruang televisi. Namun wanita paru bayah itu hanya melengos. Ia tetap berjalan menuju dapur. Setelah meletakan gelas susu Maura di wastafel dapur. Wanita yang umurnya sudah setengah abad itu memilih kembali masuk kedalam kamar.


"Mah?" seru Papa Bilmar. Ia aneh mengapa istrinya tidak mau menyahut panggilannya. Terlihat di raut wajah Mama Alika, begitu kesal.


Jantung Papa Bilmar berdebar. Hal yang tidak ia suka jika melihat sang istri akan merajuk.


"Sayang." ucapnya lagi sambil menutup pintu kamar. Ia melangkah mendekati istrinya yang sudah duduk di bibir ranjang dengan sedikit menunduk.


"Mama kenapa? Sakit?"


Mama Alika menepis tangan suaminya. "Papa yang sakit!" decak Mama Alika.


"Jantung Papa enggak kenapa-napa, kok, Mah. Segar bugar nih." jawabnya sumringah.


"Memang bukan jantung kamu, Pah. Tapi hati dan otak kamu yang sakit!" nada dingin Mama Alika begitu saja membuat permukaan kulit suaminya merinding. Wanita itu memperlihatkan aura kemarahannya.


"Melindungi anak bukan berarti dengan cara seperti membunuh, Pah! Kamu melukai hati putri kita, membunuh rasa cinta kepada suaminya secara perlahan. Membuat Maura secara tidak sadar menjadi durhaka kepada suami!"


"Kamu biarkan Maura berpisah dengan suaminya. Membiarkan mereka tidur tanpa saling berpeluk. Maura sedang hamil, tentu belaian yang kita berikan, tidak akan sama seperti belaian dan sentuhan dari suaminya."


DEG.


Mendengar ucapan itu, seketika membuat jantung Papa Bilmar berdentam kuat sekali. Serasa di tampar bolak-balik, dan rasanya lebih sakit dari tamparan yang nyata.


"Mama ... Ingin Maura kembali ke London."


***


Aku akan up beberapa part, tapi tolong like dan komennya jangan lupa ya guys🤗❤️