My Sabbatical Wife

My Sabbatical Wife
Merasa Sesak Di Hati



"Alhamdulillah, Nak. Om turut bahagia dengan kehamilan Maura." jawab Om Malik di Indonesia. Pria paru bayah itu masih meletakan gawai di daun telinganya. Hatinya gembira mendapat telepon dari Gifali, mengabari tentang kehamilan Maura yang memang telat untuk ia kabarkan.


Tadi, satu jam sebelum menelpon Om Malik. Mama Difa melalukan percakapan serius kepada sang Anak. Alih-alih membawa anak itu untuk berjalan-jalan keluar kostan sebentar.


Ia ingin bertanya bagaimana perkuliahan, pekerjaan dan rumah tangga dengan Maura. Karena Mama Difa sempat tidak bisa tidur beberapa hari karena terus memikirkan Gifali. Ketika ia tahu beberapa hari lalu sang anak menelponnya sambil menangis.


Gifa pun menjelaskan dan menceritakan secara garis besarnya saja. Tetapi untuk masalah rumah tangganya dengan Maura. Ia tetap memegang teguh untuk menyembunyikannya. Tentu kesalahan Maura memang fatal, tapi ia tau, sang istri melakukannya karena cintanya yang begitu besar untuk dirinya.


"Sudah kabari Om Malik, Nak?" tanya Mama Difa. Wanita itu hanya ingin berlaku bijak, bahwa Om Malik juga mempunyai peran penting untuk mengetahui kabar baik ini.


"Astagfirullohaladzim, Kakak lupa, Mah."


"Ya udah kabari dulu." pinta Mama Difa.


"Iya, Mah."


Dan di sini lah mereka berdua berada. Di bangku taman kota, tidak jauh dari kostan. Mama Difa fokus mendengarkan suara Om Malik yang sudah berbulan-bulan ini tidak ia dengar. Gifali sengaja menekan tombol speaker, agar sang Mama bisa juga ikut mendengarkan.


"Iya, Om. Terimakasih banyak."


"Oh iya, Papa dan Mama mu sudah tau kabar ini?"


"Sudah Om, malah Mama dan Papa sedang berada di sini bersama aku."


"Di London? Mereka sedang ada di sana?" suara Om Malik terdengar riang. Belum saja ia menjawab, lelaki paru baya diseberang sana kembali melemparkan pertanyaan.


"Apa Om boleh berbicara dengan Mamamu?"


Seketika Gifali dan Mama Difa hening. Wanita itu mengerjap matanya beberapa kali, ia seperti bingung ada hal apa lelaki itu ingin berbicara dengan nya.


"Gifa?" seru Om Malik lagi.


Mama Difa menggelengkan kepalanya, seraya kode kalau ia tidak mau. Bukan karena embenci lelaki itu, tapi ia tidak ingin lagi membohongi suaminya. Tidak ingin membuat masalah baru. Ia tahu Papa Galih masih belum bisa menerima Om Malik dengan segala kesalahannya.


"Kamu memang istriku yang solehah." ada suara yang tiba-tiba muncul, membuat mereka berdua menoleh. Mama Difa dan Gifali terkesiap ketika melihat Papa Galih sudah berdiri dibelakang mereka.


"Pa--pa?" seru Mama Difa terbata-bata. Wajahnya seketika tegang, ia takut suaminya akan salah sangka.


"Enggak usah takut, Papa sudah dengar sejak tadi." Papa Galih menjelaskan.


"Ayo kembali ke kostan, Papa kesini ingin menjemput Mama." Papa Galih menggandeng tangan istrinya untuk dibawa pulang.


"Iya, Pah." jawab Mama Difa, ia menurut tanpa banyak berkomentar.


"Kakak di sini aja dulu, selesaikan dulu pembicaraan dengan Paman mu." titah Papa Galih.


"Biar nanti aku yang bertindak setelah ini. Mau apa sih lelaki itu masih saja ingin mencari Nadifa!" Papa Galih membatin.


Memang bukan tanpa alasan Om Malik ingin menghubungi salah satu dari mereka. Ada yang menganggu fikirannya berminggu-minggu ini. Namun sepertinya berbicara dengan Mama Difa lebih bisa mendapat titik terang dibandingkan Papa Galih.


****


"Hmm ..." Maura berdehem, sekilas ia melirik sang Papa yang masih saja menggoda istrinya yang tengah menggoreng bakwan.


"Sana ah, ngapain sih di sini. Sempit, Pah!" decak Mama Alika.


"Papa kangen sama Mama, tadi malam yang Papa peluk si Gifa." cicit Papa Bilmar.


Maura terkekeh geli. Ia pun menoleh sambil mengelap tangannya yang masih basah dengan tissue.


"Baru semalam udah segitunya, Pah." timpal Maura.


"Lagian kalau malam juga, awal-awalnya aja peluk-peluk Mama. Habis itu juga yang di cari bantal guling lagi." sungut Mama Alika.


Papa Bilmar dan Maura tertawa.


"Duh Maura kangen banget sama Mama dan Papa. Coba aja kalau kalian terus di sini sama Kakak." Maura bergeliat manja dilengan sang Mama. Papa Bilmar pun melakukan hal yang sama di lengan kiri istrinya. Anak dan Bapak itu terus aja menempel ditubuh Mama Alika yang masih sibuk membolak-balikan spatula di wajan.


"Kalau Kakak mau Papa belikan Apartemen sih nggak masalah, Nak. Setiap minggu bolak-balik ke London, akan Papa dan Mama lakukan." ucap Papa Bilmar sungguh-sungguh. Ia tetap tidak nyaman jika berlama-lama tinggal di kostan seperti ini.


"Papa! Jangan ajari Maura menjadi istri yang durhaka kepada suaminya." timpal Mama Alika.


"Tapi Papa kasian sama Kakak, Mah. Lihat anak kita sedang mengandung." tatapan lelaki itu sendu. Ia tidak sampai hati melihat rumah tangga Maura seperti ini.


"Papa nyesek banget, Papa fikir kehidupan Kakak nggak begini, Mah. Di Indonesia hidup kita enak, masa di sini Maura menderita! Bener-bener emang si Gifali. Kadang Papa jadi kesel lagi sama dia!" Papa Bilmar tetap saja mengumpat, ia terus saja mengeluarkan kekesalannya.


"Kakak nya sanggup nggak hidup kayak gini?" tanya Mama kepada anaknya.


Maura mengangguk. "Sanggup, Mah. Maura bahagia di sini bersama Gifa."


"Tuh kan, lihat anaknya. Maura nya aja sanggup, Pah. Kenapa kamu yang melow kaya anak bayi. Hidup sederhana itu baik ketika menjalani awal pernikahan, biar kalau terjatuh tidak begitu sakit berkepanjangan. Ibarat lagi naik anak tangga aja, kan pijakan pertama harus tetap di naiki untuk sampai ke tangga yang paling atas. Enggak bisa kan langsung terbang?" Mama Alika menasehati suaminya.


"Iya Pah, Kakak baik-baik aja. Seneng-seneng aja di sini, Papa gak usah khawatir ya." Maura berpindah untuk bergeliat manja dilengan sang Papa.


"Pokoknya Papa enggak usah merasa bersalah. Hidup seperti ini memang kita yang mau." Maura mencium pipi Papanya. Mama Alika tersenyum menatap kemesraan Papa dan Anak tersebut.


"Iya, Nak. Walau hati Papa masih aja berat, tapi kalau memang Kakak bahagia, Papa hanya bisa menurut saja." Papa Bilmar melepas kecupan di pusaran rambut sang anak. Merasa sesak di hati, namun tidak bisa berbuat apa-apa.


****


Like dan Komennya ya jangan lupa gengss❤️