
Pasien harus di operasi ulang, Pak. Perdarahan ternyata semakin meluas di dalam. Darah dari lukanya pun masih merembes hebat.
Pramudya kembali melepas air mata didepan pintu kamar operasi. Tidak ada pilihan selain mengiyakan ucapan Dokter satu jam lalu. Dan Pramudya harus siap, karena kesadaran Gifali setelah ini akan lebih lama dibandingkan pasca operasi pertama.
Tak ada jalan lain, selain menurut.
"Maafin Agnes, Pah." ucap Tamara dalam isak tangisnya. Pramudya hanya diam, duduk di kursi tunggu menyandarkan kepalanya di dinding, sambil memejam kedua mata.
"Tolong jangan dulu sebut nama anakmu, Mah. Kalau kamu masih ingin hidup bersamaku!"
Kalimat yang sangat berat dikeluarkan oleh Pramudya, namun harus ia ucapkan. Karena hatinya masih begitu sakit dengan perbuatan Agnes. Dan terlebih lagi ia baru tahu, kalau anak perempuan yang ia didik dan dibesarkan itu adalah seorang pencandu narkoba.
Tamara hanya bisa mengangguk lemah, dengan tetesan air mata yang masih mengucur. Ia tidak marah atau kesal dengan ucapan suaminya, karena ia tahu Agnes pantas mendapatkannya. Namun sebesar apapun kesalahan anak, Ibu pasti akan membelanya. Memikirkan bagaimana keadaan anak itu sekarang.
Dari kejauhan, beberapa meter dari pintu operasi. Tepatnya di ujung koridor, ada Ramona dan Adrian yang sama-sama sedang ikut terjaga. Menunggu bagaimana hasil operasi kedua kali ini.
"Makan dulu ya, Kak. Kamu sejak pagi belum makan." ucap Ramona menyodorkan roti yang sudah ia buka dari bungkus nya kepada Adrian.
Adrian menggeleng. "Kamu aja yang makan." roti itu ia sodorkan ke mulut Ramona. "Ayo buka mulutmu." titah Adrian.
Ramona pun tidak menyangkal, kalau ia memang sudah lemas sekali. Karena seharian di Rumah Sakit, tidak ada sebutir nasi atau air yang ia telan kedalam kerongkongan.
"Aku memikirkan Gifa, aku takut, dia---"
Ramona menggelengkan kepala dan meletakan satu jari di bibir kekasihnya.
"Jangan bicara macam-macam! Kira harus berfikir positif! Aku pun sama, mencemaskan Maura di sana, bagaimana keadaannya sekarang, apakah sudah sadar?" nada suara itu terdengar memelas. Wajah pucat Maura beberapa jam kemarin, tak urung sirna dari sorotan matanya yang kosong.
"Jika saja waktu itu aku pergi bersamanya ke atas, tentu Agnes tidak akan menyakitinya." sambung Ramon.
"Tapi nasi sudah jadi bubur, Mona." ucap Adrian. Lelaki itu kembali memandang ke sudut atap. Mencari bayangan Gifali, namun tak kunjung ia temukan. Dadanya kembali bergemuruh. Rasa sesalnya semakin menyeruak.
***
Dengan keputusan kilat, Keluarga Hadnan melakukan penerbangan malam ini juga menuju London. Dengan memakai alat transportasi udara---Jet pribadi keluarga besannya. Agar bisa sampai besok siang di negara yang selalu banyak dikunjungi oleh berjuta wisatawan perhari nya dari berbagai negara.
Mereka sudah mengantungkan sebuah alamat dari Papa Bilmar mengenai Rumah Sakit yang menjadi pembaringan Gifali saat ini. Daan berbagai fasilitas selama di sana. Sudah Papa Bilmar siapakan. Ia meminta tolong Robert untuk menyiapkan dua kamar hotel untuk kedua besan dan ketiga adik Gifali.
Mama Difa sedang menimang-nimang, apakah ia harus memberitahukan keadaan Gifali kepada Malik. Ia sudah menebak, kalau Malik tahu.Lelaki itu pasti akan langsung melesat ke London, dan pasti bertemu lagi dengan suaminya.
Mama Difa sesekali menoleh ke samping, dimana Papa Galih sedang memejamkan mata sambil menyandar lemah di kursi penumpang.
"Suasana hati Papa sedang kacau. Walau niatku baik, hanya ingin meminta doa dari Pamannya Gifa. Tapi, sepertinya masih akan dianggap lain oleh, Mas Galih." gumam Mama Difa. Dan keputusannya, ia memilih untuk tidak mengabarinya.
"Biar Pramudya saja yang mengabari, Pak Malik."
Mama Difa menoleh ke arah kursi yang di duduki oleh ketiga anaknya. Mereka tertidur saling bergenggam tangan satu sama lain. Raut kesedihan masih kentara.
Ganaya, Gelfani dan Gemma sangat mencintai Kakaknya. Terutama Ganaya dan Gelfani yang sudah geram ingin mengobrak-abrik Agnes dengan kepalan tangannya sendiri.
Mama Difa kembali mengalihkan arah matanya untuk menatap suaminya. Gumaman kesedihan yang tidak terlalu jelas keluar dari bibir Papa Galih. Ada air bening yang menyudut di ekor matanya. Ia usap kumpulan air bening itu dengan sekaan dari buku jarinya.
Jari-jari Mama Difa masih menggenggam untaian tasbih. Sudah bengkak kelopak matanya. Air matanya sepertinya akan ia tampung, karena sangat perih untuk diteteskan lagi.
"Padahal kemarin pagi, aku masih mendengar suara anakku di telepon seperti biasa." desahnya frustasi.
"Ya Allah, Ya Rahman ... Lindungilah anakku." Mama Difa kembali memohon dalam doa. Ketulusan dan kemurnian hati dalam mencintai Gifali tidak pernah ia bedakan dengan ketiga anaknya yang lain.
Jdrr.
Ada suara gaungan petir yang terdengar beriringan dengan laju pesawat. Mungkin Allah sedang mengijabah doa Mama Difa untuk menemani jalan operasi Gifali malam ini.
Dan sampai detik ini Pramudya bertahan untuk tidak memberitahu bagaimana kabar dan keadaan putranya kepada Mama Difa dan Papa Galih. Itulah yang membuat hati Papa Galih memanas, karena merasa tidak dihargai.
Pramudya hanya takut membebani mereka lagi, sudah cukup pengorbanan Mama Difa dan Papa Galih selama ini, karena sudah mengurus Gifali sedari bayi.
Entah bagaimana kekagetan nya ketika melihat keluarga Hadnan tiba di Rumah Sakit. Mereka ingin menjemput Gifali untuk dibawa pulang ke Indonesia.
****
"Aamiin Ya Roballamin."
Kalimat terakhir dari serentetan untaian doa yang Mama Alika dan Papa Bilmar ucapkan. Kedua pasangan suami istri itu terlihat baru saja selesai melakukan Shalat Duha di kamar perawatan Maura. Sedangkan Ammar pergi bersama Gadis ke kantin untuk membeli makanan dan minuman.
Kamar sudah sepi, karena semua keluarga di titah untuk kembali pulang saja ke rumah. Mereka akan dikabari jika Maura sudah sadar, apalagi dengan kedua orang tua mereka, Kakek Bayu dan Kakek Luky, dua lelaki lansia itu tidak di perbolehkan berlama-lama di Rumah Sakit. Karena akan rentan terkena penyakit.
Mama Alika seperti biasa membuka kitab suci Al-Quran, menyambung tilawah dari surah ke surah. Sedangkan Papa Bilmar memilih beranjak bangkit untuk kembali mengecek kondisi putrinya di pembaringan.
"Maura ... Bangun, Nak. Sudah siang, masa dari kemarin enggak bangun-bangun juga." bisik Papa Bilmar. Mencium kening Maura beberapa kali dengan pejaman mata, sambil melepaskan beberapa bait doa lagi untuk kesadaran sang anak.
Seketika kening Papa Bilmar mengerut ketika bibirnya merasakan ada gerakan sedikit di wajah sang anak. Ia membuka mata cepat dan menurunkan tatapannya untuk menatap wajah Maura.
"Ya Allah, Alhamdulillah ... Mah, sini!" Papa Bilmar berseru. Mama Alika mendongak, menghentikan tilawahnya. Wajahnya berbinar, dengan cepat ia beranjak berdiri menghampiri ranjang Maura.
Kelopak mata Maura yang sejak kemarin terkatup. Samar-samar tampak terbuka.
"Alhamdulillah Ya Allah ..." seru Mama Alika, wanita paru bayah itu merebahkan kepalanya di ceruk leher sang anak. Menghujani wajah Maura dengan berbagai kecupan.
"Alhamdulillah ... Alhamdulillah." seru mereka bersamaan. Bersyukur karena Maura kembali sadar.
Tapi.
Mama Alika dan Papa Bilmar saling bersitatap, ada yang aneh pekik mereka.
Tidak ada ekspresi dari wajah wanita hamil ini. Rautnya datar, ia mengerjap beberapa kali. Mencari-cari sesuatu yang bisa ia temukan dari balik sorotan indera penglihatannya. Daun telinganya sedari tadi bergerak-gerak seraya mencari-cari suara yang terdengar jauh sekali padahal sangatlah dekat.
*****
Like dan Komen ya guyss❣️masih ada satu episode lagi. Tungguin🤗