
Maura masih berdiri di meja dapur. Wajahnya terus memberikan kilatan binar yang tak kunjung padam. Wanita hamil itu terus saja memperlihatkan senyum gempitanya. Maura masih terbawa kejadian kemarin sore ketika ia dan suami berada di taman.
Ia mengusap cincin dan gelang yang Gifali berikan, belum lagi tadi malam. Mereka kembali bermain cinta. Dan setelah subuh pun Gifa melakukannya lagi. Ia sengaja, karena menurut Dokter, berhubungan di saat- saat hamil tua sangat disarankan.
"Duh kok jadi ngelamun." gumamnya dengan kekehan kecil.
Ia kembali mengaduk-aduk teh manis hangat untuk suaminya. Karena sebentar lagi Gifa akan pulang dari kampus dan lanjut bekerja.
Setelah teh manis siap untuk di santap, Maura membawa cangkir berisi teh tersebut ke ruang kerja suaminya. Maura tidak lagi diperbolehkan masak, Gifa takut wanita itu kelelahan.
Maka Gifali akan selalu mampir ke toko makanan sebelum pulang ke kantor. Membeli makan siang untuk dirinya dan sang istri.
"Assalammualaikum, Aisyah" suara meneduhkan terdengar dari balik pintu yang tengah dibuka.
Maura mendongak dan mendapati belahan hatinya sedang tersenyum sambil melangkah masuk. Terlihat lelaki itu menggenggam kantung plastik yang berisikan sterofoam makanan ditangannya.
"Waalaikumsallam, sayang." Maura menyambut kedatangan suaminya penuh suka cita. Ia sedikit membungkuk dan mencium tangan suaminya.
"Duduk dulu dan minum tehnya."
Gifali mengangguk. "Kita makan siang dulu." ia memberikan jinjingan plastik itu kepada Maura. Maura pun bergegas kembali menuju dapur untuk menyiapkan makan siang mereka berdua sebentar lagi.
Gifali duduk di kursi kerjanya lalu menyesap rasa manis dari air teh tersebut. Menyandarkan tubuh di sandaran kursi untuk melepas lelah.
Kedua matanya tak luput menyoroti banyak beberapa berkas yang sudah menumpuk di meja. Mungkin beberapa bawahannya sudah berlalu lalang masuk kedalam ruangannya sejak pagi.
Maura meletakan dua piring dan dua gelas air putih untuk segera mereka santap di meja kerja Gifali yang terbuat dari kaca gelap.
"Capek ya sayang?" Maura beringsut, ia berdiri dibelakang kursi suaminya untuk memijat tengkuk dan pangkal bahu Gifali.
Gifa mengangguk. "Duh enak banget. Baiknya Aisyaku."
"Segini cukup?" Maura menanyakan gerakan tangannya. Supaya tidak terlalu keras dalam memijat.
"Cukup."
"Sedang banyak tugas ya?"
Dengan mata yang mulai memejam, lelaki itu mengangguk lagi. "Iya, Ra. Tugas dikampus lagi banyak-banyaknya. Kak Adrian saja hari ini ijin tidak ke sini, karena ia mau mencari bahan tugas bersama teman-temannya."
"Apakah tugasmu sulit? Mau aku bantu sayang?"
Gifali tertawa singkat. "Cukup bantu aku, untuk selalu di sini saja." Gifa menunjuk ke dalam dadanya. Maura kembali tertawa. Gifali membuka kedua matanya lalu mendongakkan wajah ke atas dan menatap istrinya lama, Maura yang masih memijat tengkuk lalu menurunkan wajahnya untuk mencium bibir suaminya.
Muah. Mereka kembali berpandangan.
"Ayo kita makan dulu. Aku sudah lapar." Maura menyudahi pijatan itu, bergegas menyadarkan lamunan mereka. Takut-takut terus dilakukan, ia sudah hafal. Pasti akan bermuara di ranjang siang ini.
Maura mengambil kursi untuk diletakan disebelah suaminya. "Apakah sudah ada tanda-tanda mulas?" sebelum Gifa memegang sendok, ia lebih dulu mengusap perut istrinya.
Maura menggeleng dengan bibir mengerucut. "Belum, Gifa."
"Apa mau di operasi saja?"
Maura kembali terdiam, kedua bola matanya lurus menatap makanan yang ada di atas piring. Ia bingung.
"Tapi aku masih ingin normal, sayang." lirihnya.
Gifali menghela napas untuk melegakan dadanya yang mulai terhimpit. Di kampus pun lelaki itu tidak tenang. Ia terus memikirkan keadaan bayi-bayi mereka yang tak kunjung keluar. Apalagi kaki Maura sudah sangat bengkak. Ia sangat takut, malah kalau boleh jujur, ia selalu mengadu kecemasan kepada Ayahnya. Dan akan bersikap tenang jika bersama Maura.
Gifali hanya mengangguk untuk memberikan respon kepada istrinya.
"Oh iya, tadi di kampus. Ayah bilang, barang-barang untuk keperluan ketiga bayi kita sudah sampai di rumah. Jadi nanti setelah kamu melahirkan, kita akan langsung pulang ke sana. Aku juga akan mengambil cuti dulu satu minggu, atau mungkin lebih. Mau lihat perkembangan mu dulu."
Sesuai rencana Gifali memang akan membawa kembali istrinya untuk tinggal di rumah Papa Bilmar dan Mama Kannya dulu di negara ini.
Maura tersenyum dan mengangguk setuju. "Baik sekali Ayah, kita merepotkan nya, Gifa."
"Wajari saja, Ra. Beliau kan Kakek dari ketiga bayi kita. Oh iya, apa kamu sudah mengabari Mama dan Papa, perihal keadaanmu?"
Gifali mengangguk sambil memasukan suwiran daging kedalam mulutnya. "Iya, Mama juga sudah menelpon ku, katanya akan berangkat bersama."
"Nanti akan ramai banget ya pasti." ucap Maura tersenyum senang.
Tentu tidak bisa dibayangkan bagaimana ketiga kelakukan para kakek dan nenek, ketika sudah melihat para cucu-cucunya lahir ke dunia. Pasti sangat menggemaskan dan mengharukan.
Walau mereka semua belum tau kapan Maura akan melahirkan, tapi Papa Bilmar meminta untuk datang ke London lebih cepat. Ia mau menemani sang anak disepanjang proses melahirkan. Ya, namanya juga cucu pertama.
Gifali ikut tersenyum bahagia, ia hanya bisa mengangguk karena sedang mengunyah. Tak lama kemudian terdengar gawai Maura berdering dari dalam kamar. Maura meletakan sendok dan menyesap air putih dari gelasnya sebelum beranjak bangkit dari kursi.
Namun ketika baru berjalan empat langkah, Gifali yang tak sengaja menoleh melihat ada yang lain dari balik kain daster Maura.
"Ra ..." panggil Gifali, sontak seruan itu membuat Maura menoleh dan menghentikan langkahnya.
"Ya?" tanyanya. Dengan kerutan dikening, Gifa beranjak bangkit dari kursi lalu memutar meja dan menghampiri istrinya yang masih setia berdiri.
"Kamu lagi enggak ngompol kan?"
"Hah?"
Gifali memegang kain daster Maura tepat dibagian bokongnya. "Ini basah banget. Lebar lagi."
"Ah, masa sayang?" seru Maura tidak percaya. Ia melikuk kan tubuhnya sedikit, untuk menoleh ke arah bagian kain yang sedang dipegang oleh suaminya.
"Oh, iya basah. Kok aku enggak ngeh ya. Basah kenapa ini?" Maura ikut bertanya-tanya.
"Coba ..." Gifali memasukan tangannya ke dalam daster memeriksa kain inti Maura.
"Tuh basah, Ra. Kamu pipis? Enggak sadar apa gimana?"
Maura menggeleng bingung. "Beneran aku enggak pipis, masa iya kalau kebelet. Enggak sadar sih." sungut Maura.
Gifali menarik tangannya dan mengendus aromanya.
"Tapi kok enggak bau ya?"
"Tuh kan bener, aku emang gak pipis sayang."
"Terus kebasahan ini apa ya?" kedua alis Gifali menaut. Pun sama dengan Maura, ia hanya bisa berdiam diri dan terus berfikir.
"Aku pun aneh, enggak biasanya. Air apa ini?" tanyanya pelan.
Sepertinya stimulus otak mereka berdua baru berjalan. Baru teringat dengan hal yang sudah di ucapkan oleh Dokter beberapa kali ketika mereka kontrol.
Kalau air ketuban sudah pecah langsung ke Rumah Sakit ya.
Kedua mata Gifa dan Maura membola bersamaan, mereka saling menatap dalam terkaan yang sekarang tengah bersarang.
"Gifa, sepertinya ini ..."
"Ayo, kita ke Rumah Sakir sekarang." Gifali menggandeng istrinya untuk dibawa kamar. Berganti baju dan bersiap-siap membawa kebutuhan seadanya yang akan ia bawa ke Rumah Sakit.
Wajar saja, mereka masih tabuh. Masih muda, dan tentunya pengalaman pertama. Sedihnya lagi mereka jauh dari orang tua. Tidak ada yang membimbing atau memberikan arahan. Namun nikmatnya memang di sini, mereka bisa mempunyai banyak pengalaman dengan kemandirian.
"Sepertinya ini air ketuban ya?" tanya Maura mulai panik.
"Iya." Gifali membantu menanggalkan daster istrinya dan memakaikan gamis hamil di tubuh Maura. Lelaki itu terlihat gugup. Setelah memasangkan hijab, dan membawa barang-barang yang diperlukan. Mereka pun bergegas menuju Rumah Sakit.
****
Triple G on the way guys❤️
Like dan Komen ya guyss❤️