My Sabbatical Wife

My Sabbatical Wife
Mau Apa Kamu?



Untuk menjalankan misi mempertemukan Pramudya dengan Gifali. Akhirnya Malik ikut serta untuk melesat menuju London bersama Tamara dan Pramudya. Mereka mengambil penerbangan malam agar bisa sampai siang hari di London.


Pramudya sudah tidak sabar ingin berjumpa dengan anak kandungnya. Pemuda yang selama dua bulan ini selalu berdekatan dengannya. Membantu pekerjaannya, makan siang dan shalat Dzuhur selalu bersama di mushola.


Selama didalam pesawat lelaki paru bayah itu tak kunjung berhenti menangis. Tangis karena bahagia, sedih dan menyesal. Haru, karena akan bertemu anak kandung yang selama ini selalu ia terka-terka masih hidup atau memang sudah meninggal, ia merasa mendapatkan mukjizat nyata dari Allah SWT ketika tahu anaknya masih hidup.


Sedih, karena tidak tahu apa yang akan diucapkan oleh Gifali nanti. Mungkin ia akan menolak, tidak langsung menerima atau mengeluarkan kata-kata tidak enak. Lalu menyesal, karena mengapa baru sekarang ia mendapatkan Gifali.


"Mengapa saya harus berhutang budi dulu dengan keluarga kamu, Galih. Saya takut kamu menyulitkan posisi saya setelah ini."


Pramudya terus mendekap Tamara, menumpahkan segala asa nya yang masih terasa gamang. Fikiran nya campur aduk. Namun ia beruntung ada bidadari cantik yang bisa membuatnya merasa nyaman. Setidaknya kegamangan hati itu sedikit sirna.


"Tenang sayang .... Gifa akan menerima kita." ucap Tamara, ia terus mengunci tubuh suaminya dengan kedua tangannya. Melepas kecupan hangat di pertengahan rambut lelaki paru bayah itu yang masih saja berwarna hitam pekat.


Pramudya hanya mengangguk, tanpa bisa berucap kata. Yang ia inginkan adalah berlari secepat mungkin untuk memeluk Gifali.


Begitu pun dengan Malik, lelaki itu duduk didepan Tamara dan Pramudya. Sejak tadi ia terus menerka-nerka. Apa yang akan terjadi dengan dirinya di sana. Bagaimana nanti sikap Nadifa dan Galih, karena dirinya yang telah lancang membeberkan rahasia dan aib keluarga mereka.


"Nadifa pasti akan kecewa lagi dengan saya." desah Malik. Ia hanya bisa merebahkan tubuhnya lemas di kursi. Seraya menerima dengan pasrah jika besok ia akan dibenci oleh banyak orang.


Dan Tamara, wanita itu tidak berhenti untuk berdoa, agar Semesta senantiasa menjernihkan fikiran Gifali agar bisa bersikap bijaksana ketika mengetahui Pramudya adalah Ayah Kandungnya.


Begitulah kecemasan Pramudya, Malik dan Tamara.


*****


Setelah menempuh perjalanan selama enam belas jam. Akhirnya mereka bertiga telah sampai di London. Pramudya tahu Malik lelah, tetapi ia tetap memaksa untuk siang ini juga bertemu dengan Gifali, dan Malik menyetujuinya.


Walau selama ini Pramudya selalu berdekatan dengan Gifali. Namun ia belum tahu dimana anak itu tinggal selama ini. Maka dari itu Malik sedang berfikir bagaimana cara memberikan alasan kepada Gifali, agar pemuda itu mau memberikan alamatnya.


"Sebentar ya, saya telepon Gifali dulu." Sepertinya Malik sudah mempunyai ide, ia pun memutuskan untuk menghubungi Gifali lewat sambungan telepon.


"....Oh enggak Gifa, Om hanya ingin tahu saja. Kemungkinan bulan depan Om akan menemui kamu bersama Leta dan Aisyah." kilas Malik. Ia berdalih, agar Gifali tidak curiga .


"Mama dan Papamu masih ada di sana? Oh, oke, oke, kalau begitu. Kamu hati-hati di sana ya."


Tut.


Sambungan telepon antara Malik dengan Gifali terputus.


"Sebentar lagi Gifali akan mengirimkan alamatnya." ucap Malik.


Tamara dan Pramudya mengangguk senang, walau rasa was-was masih menyelimuti mereka.


"Apa yang harus saya ucapkan pertama kali? Saya sangat gugup." ucap Pramudya kepada Malik.


"Teruslah berdoa, agar Gifali mau menerima anda dengan tangan terbuka." jawab Malik singkat, padat dan jelas. Sejujurnya dirinya pun bingung, kalimat awalan apa yang akan ia ucapkan kepada Gifali mengenai Pramudya dan Sagita.


"Siapa yang menelepon?" tanya Papa Galih yang masih terduduk di meja makan. Memang pada saat Malik menelepon, Gifa memilih untuk menjauh sebentar. Ia tidak ingin Papanya cemburu. Takut-takut lelaki itu menghubunginya hanya ingin mencari Mamanya seperti beberapa hari yang lalu. Gifali kembali duduk, disebelah Maura. Yang berhadapan dengan kedua orang tua mereka.


"Om Malik, Pah." jawab Gifa singkat, ia pun jujur. Gifa merasa pembicaraan tadi tidak ada kaitannya dengan Mama Difa.


"Malik? Mau apa dia?" benar saja kan, Papa Galih balik bertanya dengan suara yang tidak suka. Membuat Mama Alika, Papa Bilmar dan Maura mengerutkan kening. Sedangkan Mama Difa memberikan kode mata kepada Gifa untuk diam. Namun Gifa sudah kepalang basah untuk menyebutkan nama lelaki itu barusan.


"Bukannya Malik itu adalah Pamannya Gifa? Mengapa Mas Galih seperti membencinya? Aneh ya." gumam Papa Bilmar memandang besannya.


"Mau apa dia?" suara bariton Papa Galih kembali menggema telinga semua orang yang sedang menikmati makan siang.


"Pah, ayo habiskan dulu makananmu." titah Mama Difa, ia kembali meletakan tumisan sayur di piring suaminya.


"Makan dulu sayang." sambungnya lembut.


"Kok Mba Difa jadi kaku gitu ya." gumam Mama Alika bertanya-tanya, sambil menuangkan air kembali di gelas Papa Bilmar yang tinggal setengah. Suami istri itu saling bertanya-tanya dalam kebingungan.


Jangan bingung, sebentar lagi kalian juga akan tau.


"Itu Pah, mau minta alamat tinggal kami di sini, katanya akhir bulan mau berkunjung dengan Kak Leta dan Kak Aisyah." jawab Gifa jujur.


"Oh." jawab Papa Galih singkat. Tenang hatinya. Padahal sejak kemarin ia sudah geram dengan lelaki itu pasca pembicaraan di Taman waktu itu, menanyakan apakah bisa berbicara dengan istrinya, saat itu Papa Galih ingin mengubungi balik, nyatanya ia malah lupa.


Tidak ada lagi pertanyaan dari lelaki itu, ia kembali memasukan suapan nasi kedalam mulutnya, ketika sang istri mengelus bahu untuk memtitahnya kembali melanjutkan makanan siangnya.


"Iya sayang ..." jawab Papa Galih lembut.


Ia kembali tersenyum menatap istrinya. Cinta lelaki itu memang sangatlah besar untuk Mama Difa. Tidak pernah surut, usang dan menurun porsinya. Wanita itu selalu indah dimatanya, walau dulu pernah menebar luka dan penghianatan.


Maka dari itu, Ia selalu merasa Malik adalah ancaman terbesarnya. Ia selalu berdoa, agar lebih baik Malik dulu yang meninggal dibandingkan dirinya. Ia tidak akan rela jika akhirnya Mama Difa menikah dengan Malik. Walau hal itu tidak mungkin terjadi, Mama Difa sudah mengubur Perasaan itu rapat-rapat.


"Mama makan sayur yang banyak ya, sini Papa ambilin." Papa Galih menyendok tumisan sayur, dan meletakan di piring istrinya. Membuat Mama Alika tersenyum melihat keharmonisan diantara Mama Difa dan suaminya. Gifali akhirnya bisa bernapas lega, ia pikir Papa nya akan marah, namun ternyata tidak.


"Nih Mama makan lagi dagingnya ya." jangan lupakan lelaki yang satu lagi pun sama posesifnya. Ia juga ingin di lihat sebagai suami idaman.


Mama Alika tertawa lalu mengusap lembut tangan suaminya dan sedikit berbisik. "Makasih ya Papa." Papa Bilmar mengangguk dan tersenyum.


Lalu tak lama kemudian, ada suara bel terdengar dari luar pintu. Semua bertanya-tanya siapakah yang datang siang-siang begini.


"Biar Mama aja yang buka, kamu teruskan makan." ucap Mama Difa kepada Maura yang hendak berdiri. Karena Mama Difa berada di kursi ujung yang posisinya lebih dekat ke arah pintu utama.


"Iya, Mah." Maura menurut.


"Kalian pesan sesuatu memangnya?" tanya Papa Galih kepada Maura dan Gifa. Pasangan suami istri itu pun menggelengkan kepala secara bersamaan.


"Lalu itu siapa yang datang?" sambung Papa Bilmar membuat Papa Galih kembali berfikir.


"Mereka baru saja pindah kemarin, dan tempat tinggal Gifa yang baru tentu dirahasiakan. Siapa yang tahu, selain ...."


DEG.


Jantung Papa Galih seketika berdetak cepat. Keningnya berkerut-kerut, seraya menerka siapa kah yang datang.


"Apakah, Malik? Dia datang?" Papa Galih terus mengkaitkan semua kebetulan yang ada. Beberapa menit lalu lelaki itu menelepon sang anak untuk meminta alamat tempat tinggalnya.


"Shitt! Mengapa harus Difa yang membukanya!" tanpa pamit, Papa Galih beranjak dari kursi dan bergegas menuju pintu utama.


"Difa?" seru Om Malik ketika melihat Mama Difa yang keluar untuk membukakanya pintu. Lelaki itu masih terkatung didepan pintu, menatap tidak percaya dengan perubahan wanita yang pernah ia cintai dulu, dan mungkin rasa cinta itu masih ada walau setitik.


Mama Difa terkesiap, ia betul-betul tidak percaya kalau lelaki ini yang datang.


"Kamu di sini, Pak?" gumam Mama Difa pelan, jika sudah begini ia tahu sekali, badai antara Papa Galih dengan Om Malik pasti akan terjadi.


"Kamu pakai hijab sekarang?" tanya Om Malik dengan senyuman hangat, ia memandang takjub.


"Cantik sekali." desahnya lagi, lalu tersadar kalau ia sudah kelewat batas dalam memandang Mama Difa, dan mengubah tatapannya menjadi biasa kembali.


"Maaf Difa, saya kesini untuk---"


"MAU APA KAMU DI SINI?"


Om malik, Mama Difa menoleh secara bersamaan ketika ada suara bariton yang menerobos masuk diantara pembicaraan mereka. Ada Papa Galih yang masih berdiri dengan kedua tangan bersidekap. Menatap lurus dan dingin kepada Om Malik. Lelaki itu pun tahu, kedatangannya tidak disukai.


Begitupun halnya Tamara dan Pramudya yang masih bersemyembunyi dibalik pintu. Ia tahu suara lugas dan dingin itu berasal dari mana.


"Itu pasti Galih!" desah Pramudya, helaan napas panjang mencuat dari bibirnya.


"Tolong lancarkan hambamu ini, Ya Allah." doa Pramudya.


*****


Tegang ya guyss heheh, tungguin satu episode lagi ya, moga reviewnya gak lama.