
Terlihat Gifali masih terduduk dibangku tunggu pasien didepan ruang IGD dengan wajah panik dan gelisah, ada Harun yang sedari tadi menenangkan pemuda itu. Ada apa? Apa yang terjadi? Apakah keadaan Maura parah? Atau belum sadarkan diri selama beberapa jam?
Jawabannya adalah bukan. Yang terjadi adalah, Gifali masih terlihat syok dengan hasil laboratorium istrinya.
"Selamat ya, Pak. Istri anda positif hamil."
Ya, begitu lah ucapan Dokter setengah jam yang lalu kepada Gifali didepan Harun. Memang tidak ada yang lebih indah ketika pernikahan baru saja dibentuk lalu hadir seorang makhluk bernyawa hasil percintaan pasangan suami istri. Bukan bersyukur, namun Gifali hanya bingung jalan apa yang harus ia pilih sekarang.
"Maura hamil, secepat ini?" gumam Gifali pelan, namun Harun masih bisa mendengarnya, ia terus mengelus bahu pemuda itu beberapa kali.
"Bagaimana, Pak?" tanya Gifali dengan suara memelas, ia mengadu seperti ingin meminta banyak nasihat untuk menghadapi masalahnya sekarang. Tentu ia merasa pusing, masalah Maura yang kemarin saja belum menghilang sepenuhnya dari hati, namun sekarang ditambah lagi dengan kabar kalau ia akan mempunyai seorang anak, di waktu yang tidak tepat.
"Semua ini sudah kehendak Allah, Gifa. Daun yang jatuh dari pohon saja itu juga kehendak Allah, kita manusia hanya bisa berencana tapi Allah lah yang maha mengabulkan."
Gifali mengusap wajahnya kasar, lalu merebahkan dirinya di sandaran kursi dengan perangai lemah. Memejam kedua mata dan perlahan-lahan kepalanya mulai mengangguk.
"Jalani saja dulu, sebagai kepala keluarga kamu harus bisa berfikir positif. Tenangi istrimu, dia butuh kamu, Gifa." sambung Harun.
"Tapi bagaimana kalau---"
"Tentang kampus?"
Gifali membuka matanya dan kembali menatap Harun.
"Kampus kamu atau kampus Maura?" Harun kembali bertanya.
"Dua-duanya, Pak. Saya bingung." jawab Gifa dengan raut wajah yang memang terlihat bingung.
"Kalau di kampus kita, usahakan jangan sampai ada yang tau, walau itu Pak Pramudya dan Adrian serta teman-teman dekatmu yang lain. Saya yakin tidak akan ada yang tau ... lalu kalau di kampus Maura, ehmm ..." Harun terdiam sebentar. "Mungkin juga harus disembunyikan dulu, jangan panik dan gelisah. Ikuti saja alur kehidupan yang Allah berikan, Allah yang akan memberi jalan keluarnya. Syukuri saja dulu."
Hati Gifali yang terasa gamang sedari tadi akhirnya bisa sedikit lowong. Mendengar nasihat Harun membuat jiwa segar dan kembali membaik. Sedikit hilang ketakutan yang sedang menerpa batinnya.
"Terimakasih banyak, Pak. Saya dan Maura sangat berhutang budi kepada Bapak dan Ibu."
Harun mengangguk senyum, ia merekatkan tangannya di bahu Gifa untuk merespon tanda terimakasih yang Gifa berikan. "Ayo kita temui istrimu, Maura butuh kamu, Gifa."
Gifali dan Harun akhirnya beranjak bangkit dari kursi dan kembali masuk kedalam IGD untuk menyambangi Maura yang masih berbaring lemas diatas ranjang pasien.
Dua jam lalu, disaat Maura masih mendekap Gifali di kostan. Ia terus saja menangis hebat dan akhirnya tidak sadarkan diri. Di rasa selama 15 menit Maura tidak juga kunjung sadar, akhirnya Gifali menggedor pintu rumah Harun dan Fatimah, bermaksud ingin meminjam kereta besi mereka untuk membawa Maura menuju rumah sakit.
Harun dan Fatimah pun ikut syok mendengarnya, akhirnya mereka memaksa ikut dan Gifali mengizinkannya.
*****
Maura sudah siuman, namun mengapa dia bisa seperti ini, dirinya pun belum tahu pasti. Fatimah masih menggenggam tangannya dan hanya bilang ia dilarikan ke Rumah Sakit karena pingsan.
"Gifa dan Abi masih berbicara dengan Dokter, kamu sabar dulu ya, Nak. Insya Allah tidak ada hal yang mengkhawatirkan."
"Makasih banyak, Bu. Sudah mau direpotkan malam-malam seperti ini, mengganggu istirahat Ibu dan Bapak." desah Maura menyesal.
"Yang penting kamu sudah sadar kembali, kami semua senang." jawab Fatimah membuat Maura tersenyum dalam raut wajah yang masih pucat.
Tak berapa lama langkah Gifali dan Harun pun sampai dihadapan mereka.
"Gifa ..." seru istrinya.
Gifa memutar langkah untuk duduk ditepian ranjang bersebrangan dengan Fatimah. Meraih punggung tangan istrinya untuk dicium berkali-kali. Hening sesaat, Gifali sedang mengatur kata-kata untuk menyampaikan berita ini kepada Maura. Ia tahu istrinya pasti akan syok kembali.
"Mi, ayo kita keluar dulu." bisik Harun kepada Fatimah. "Ada apa, Bi?" tanya sang istri.
"Nanti Abi jelaskan, ayo kita keluar dulu." Harun menggandeng tangan Fatimah untuk bangkit.
"Kita tinggal sebentar ya, Ra." ucap Harun, membuat Maura dan juga Fatimah merasa aneh. Maura pun mengangguk tanpa kata.
Setelah pasangan paru baya itu berlalu, ia kembali menoleh menatap Gifali yang masih saja mencium tangannya dengan kepala sedikit menunduk. Memejamkan kedua matanya, seperti sedang memikul beban berat.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Maura dengan suara serak.
Gifali membuka mata lalu sedikit mendongak. Menatap wajah Maura yang masih terlihat sembab karena air mata beberapa jam lalu, permukaan kulitnya juga pucat pasi serta bibir yang terlihat kering.
"Sebentar lagi kita akan punya anak, Ra."
"Hah? Maksudnya?" Maura menarik tangannya dari genggaman itu. Mengusahakan sekuat tenaga untuk bisa duduk bertatapan dengan suaminya.
"Maksudnya gimana, Gifa? Aku hamil?" netra pekat milik Maura terlihat membola. Menyalak tajam tanpa kedipan sama sekali. Napas nya kembali terengah-engah.
Gifali beringsut untuk membawa Maura masuk kedalam dekapannya.
"Iya sayang, kamu sedang mengandung."
"Ya Allah ..." desahnya panik.
"Aku hamil? Hamil?" gumamnya pelan.
"Iya sayang, ada anak kita di dalam." jawab Gifa dengan suara yang tenang, lembut dan hangat.
Maura pun mendongak dan ingin melepaskan dekapan itu namun Gifali tetap menguncinya. Ia masih ingin memeluk Maura saat ini.
"Maafkan aku, Gifa. Ini semua salahku!"
Gifa memberikan gerakan kepala dengan menggeleng. "Ini bukan kesalahan siapa-siapa. Anak itu adalah buah cinta kita, Ra, jantung hati kita!" Gifali semakin sadar, kalau apa yang diucapkan oleh Harun semuanya benar.
"Tapi bagaimana---"
"Jalani saja dulu ya, kita berdoa terus kepada Sang Khalik, serahkan semua pada Nya. Allah akan memberikan kita jalan yang terbaik." jawab Gifa mantap.
Masih ada raut takut, cemas dan gelisah yang terpampang nyata di wajah Maura. Bagaimana tidak, kuliahnya akan terancam terhenti. Ia akan dikeluarkan dari sekolah, dan uang yang sudah Gifali bayarkan tidak akan dikembalikan. Perjuangannya mereka berdua akan sia-sia saja. Papa Bilmar pasti akan kecewa jika mengetahui hal itu, dan Gifa akan dianggap gagal karena tidak bisa membawa Maura kedalam kesuksesan.
Maura tidak kuasa untuk bersikap tenang. Ia pun menangkup wajah dengan kedua telapak tangannya. Menumpahkan segala asa yang ia tidak tahu pasti, rasa apa yang sedang ia rasakan.
Di satu sisi, tidak dipungkiri kalau hatinya terasa bahagia karena tengah mengandung. Tapi di sisi lain, rasa takut masih saja terbayang-bayang.
"Kamu nya sabar dulu ya, pasti ada jalan kok." Gifa kembali menenangkan istrinya. Maura hanya bisa mengangguk datar, hatinya terasa campur aduk antara bahagia dan bingung.
"Sekarang coba jelasin, gimana ceritanya kamu bekerja di hotel dan melepas hijab."
Kini Gifa sudah merubah suaranya menjadi lugas dan Maura mengangguk dengan wajah semakin takut. Menghela napas panjang, karena adrenalin nya kembali naik. Maura mulai menceritakan duduk masalah dari awal sampai akhir tentang alasan mengapa bisa ia bekerja dan melepas jilbabnya.
"Jadi cincin kawinnya kamu jual?"
"Iya, sayang. Maaf ya, aku nggak punya pilihan waktu itu. Aku takut kamu marah dan sedih."
"Tapi kenapa harus memaksa untuk bekerja?Melepas hijab dan terlebih lagi kamu membohongiku selama ini, Ra!"
Maura kembali menggenggam tangan suaminya. "Niatnya hari ini adalah hari terkahir ku bekerja di sana sayang. Gaji yang sudah aku terima selama dua bulan, aku rasa sudah cukup untuk menggantikan setengah uangmu yang telah aku hilangkan. Tapi ternyata kamu memang harus tau tentang kesalahanku ini, Allah membiarkan kamu untuk tau semuanya."
"Kamu sangat berdosa, Ra. Melepas hijab dan membohongi suami. Apapun alasannya aku tidak mentolerir itu!" decak Gifali, walau didalam lubuk hatinya ia sudah memaafkan istrinya. Tapi ia hanya ingin Maura tahu kalau ia masih kecewa dan marah, agar wanita itu jera dan tidak akan mengulanginya lagi.
"Aku tau aku salah, aku merasa tidak bisa begitu saja diam dan membuatmu sedih."
"Sedih tidak punya uang, itu tidak masalah bagiku! Dibanding melihat aurat istri ditatap bebas oleh lelaki yang bukan mahramnya. Oh apa mungkin kamu yang belum terbiasa hidup susah denganku, Ra?" tanya suaminya.
Maura menggeleng cepat, menepis terkaan sang suami untuk menjauh sejauh mungkin.
"Enggak, enggak, Gifa! Bukan seperti itu, demi Tuhan!" jawab Maura dengan nada memelas.
"Aku menerima dengan iklhas keadaan kita selama ini. Tapi sepertinya imanku masih rendah, aku masih tergoda untuk melakukan kekhilafan seperti itu. Hanya karena ingin mengembalikan uang yang telah aku hiangkan saja, selebihnya aku tidak ada maksud apa-apa, sayang."
Air mata itu kembali menetes, wajah Maura kembali memerah, ia takut sang suami akan menaruh dendam dan kecewa berkepanjangan.
"Udah, udah. Jangan nangis, aku maafkan kamu, kok." Gifali mengusap kebasahan di wajah istrinya. ia takut Maura akan syok dan pingsan lagi.
"Beneran?" cicit Maura manja.
Gifali tersenyum dan mengangguk, mengecup bibi Maura sekilas. "Iya sayang beneran."
"Demi apa?" tanya Maura lagi dengan nada suara seperti anak kecil.
"Demi cintaku padamu." Gifali terkekeh geli.
"Gifa ..." Maura mencubit pelan perut suaminya. "Yang bener!"
lalu mengecup dahi istrinya. "Demi Tuhan aku maafkan kamu."
"Kamu Ridho sama aku?" Maura menimpali.
Gifali mengangguk.
"Iya Ayah, ridho sama Bunda." Gifali menatap istrinya dengan senyum, sontak ucapan itu membuat Maura semakin bahagia. Dahi dan pangkal hidung mereka saling menempel. Kembali mengasihi dibalik masalah yang sempat hadir.
"Aku akan jadi Ibu, jadi Bundanya dia." Maura mengusap-usap kembali perutnya.
"Assalammualaikum, jantung hati Bunda dan Ayah." Gifali menimpali dan ikut mengusap perut Maura. Membungkuk, untuk mencium perut Maura yang terhalang kain baju.
Betapa bahagianya mereka, selamat ya Bunda Maura dan Ayah Gifa❤️
****
Kalau komennya tembus lagi lebih dari 100, aku akan up lagi. Maccih udah selalu setia sama cerita meraka, semoga kalian selalu sehat selalu ya, aamiin❤️