My Sabbatical Wife

My Sabbatical Wife
Kecurigaan Pramudya



Bagaimana perasaan mu, ketika kamu adalah seorang istri namun didepan semua orang kamu harus menjadi seorang adik untuk suamimu?


Sakit seperti tertusuk penuh duri dihati. Itulah yang mungkin tengah Maura rasakan sekarang.


"Saya Maura, Pak, Bu." Maura mencium punggung tangan Pramudya dan bergantian kepada Tamara. Mereka berdua pun mengangguk dan menyambutnya dengan senyum.


"Kalian sepantar?" tanya Tamara, membuat Gifali dan Maura seketika kikuk dan kaku, tentu hal seperti itu tidak pernah terfikir oleh mereka. Mana ada sih, Kakak dan Adik yang sepantar dan seleting dalam menempuh pendidikan.


"Oh enggak, Bu. Kami hanya beda setahun, Kak Gifa sudah dulu kuliah setahun di Indonesia, tapi tidak sesuai. Akhirnya memutuskan untuk ikut kuliah di sini bersama saya." jawab Maura.


Lega hati Gifali, ia betul-betul terselamatkan dengan alasan Maura. Ia tidak tahu kalau Maura jadi pintar berdalih sekarang.


"Oh..." ucap mereka semua yang mendengar.


"Ayo baiklah, silahkan duduk." Tamara mempersilahkan mereka untuk duduk, Tamara dan Pramudya pun kembali ke kursinya. Agnes yang berharap Gifali akan kembali duduk disampingnya hanya bisa merungut, karena lelaki itu memilih duduk disebelah Maura.


Mereka semua mulai menyantap makanan yang sudah tersaji secara tumpah ruah di meja. Pramudya masih saja lekat menatap Maura dan Gifali secara bergantian.


"Saya curiga, bahwa Maura bukanlah adik dari Gifali." gumam Pramudya sambil mengunyah makanan yang sedang bersarang didalam mulutnya.


"Gifa coba deh ini enak loh." Agnes meletakan daging ayam panggang di piring Gifali, sontak Maura menatap perhatian itu tidak suka. Agnes pun sepertinya menangkap raut wajah Maura.


"Ini tuh sebenarnya lo kali yang gak suka gue deket sama Kakak lo, cih!" Agnes membatin.


Ramona dan Adrian saling bertatapan, melihat ke arah Maura yang wajahnya terlihat pucat mendadak.


"Kamu sakit, Ra?" tanya Ramona, membuat Gifali, Tamara menoleh namun tidak dengan Pramudya, sedari tadi ia memang masih menatap perangai Maura yang tidak ada mirip sama sekali dengan Gifali. Seberkas terkaan membuaikan ia dalam lamunan panjang.


Maura hanya memberikan senyuman tipis dengan gelengan kepala. Ia kembali menunduk untuk menatap makanannya. Gifali hanya menghela napas, detak jantungnya sudah bergemuruh sejak tadi, ia tahu malam ini pertengkaran akan kembali menerpa rumah tangganya.


"Apakah bulan ini orang tua kalian sudah menjenguk?" tanya Pramudya.


Gifali dan Maura mendongakkan wajah mereka, mencari tahu kepada siapa Pramudya berbicara.


"Papa nanya ke kamu, Gifa." ucap Agnes lembut. "Iya kan, Pah?" tanyanya lagi kepada Pramudya.


"Iya, Nak." jawab Pramudya.


Adrian menatap Agnes penuh curiga, lalu kedua matanya ia alihkan untuk menatap sang Mama, seraya bertanya mengapa adiknya bisa berubah hangat kepada Papanya.


Tamara hanya diam dengan kedipan mata, kode kalau mereka akan mengadakan pembicaraan panjang setelah ini.


"Belum, Pak. Orang tua kami masih sibuk di Jakarta." jawab Gifa dan disertai anggukan kepala oleh Maura.


Pramudya hanya mengangguk-angguk kepalanya seperti orang yang tengah percaya namun nyatanya tidak. Sangat susah untuk mengelabuhi otak profesor seperti Pramudya.


"Kalau boleh tau, apa profesi orang tua kalian?" tanya lelaki paruh bayah itu lagi, ia sengaja mencari-cari kegamangan di antara Maura dan Gifa.


Gifali merasa aneh dengan sikap Pramudya. Sudah sebulan ia menjadi asisten lelaki itu, mengapa juga ia harus menanyakan hal itu di sini, tidak dikampus atau sedang berdua.


Gifali dan Maura hening sesaat. Mereka bingung harus menjawab apa.


"Karyawan biasa, Pak." akhirnya Maura yang memutuskan untuk menjawab.


"Karyawan kantor, dimana?" Pramudya memperjelas.


"Di Eco Group, ups." Maura seketika mengunci bibirnya, tanpa sadar Gifali memegang bahu Maura, Ia takut istrinya kebablasan.


Melihat sikap kebingungan diantara mereka membuat Pramudya semakin curiga, namun ia tetap bisa menahan. "Eco Group? Saya seperti tidak asing mendengar nama perusahaan itu?" fikirnya.


"Oh iya, apakah Kakakmu sudah menceritakan perihal keinginan saya untuk memperkerjakan Kakakmu bersama Adrian, di perusahaan saya, Maura?" tanya Pramudya kepada Maura, yang notabene adalah menantunya sendiri.


"Beneran itu, Kak? Kamu mau kerja di perusahaan Papamu?" bisik Ramona kepada Adrian.


"Enggak apa-apa sayang, aku suka kok." Ramona melebarkan senyumnya.


"Please deh, jangan gatel!" sungut Agnes kepada Ramona yang sedang duduk disebelahnya.


Ramona yang setiap harinya dengan perangai tomboi, akan selalu berubah jadi seorang peri yang imut jika tengah bersama dengan Adrian.


"Omelin Adik kamu nih, Kak." cicitnya manja.


"Nes!" Adrian memberikan delikan tajam kepada sang Adik. Agnes hanya mencebik dan kembali menatap Maura dan Gifa yang ada diseberang mereka.


"Iya, Pak. Kak Gifa sudah menceritakannya."


"Lalu bagaimana? Apakah kamu setuju?" tanya Pramudya.


Awalnya Maura setuju, tapi melihat Agnes di sini, dan ia adalah putri Pramudya, membuat hati Maura kembali berkelit. Ia bingung, dirinya takut Agnes akan memanfaatkan orang tuanya untuk merebut Gifali dari tangannya. Gifali tahu hal itu, dan ia hanya bisa diam menunggu keputusan dari sang istri.


"Selama itu tidak menganggu perkuliahan Kak Gifa, saya setuju saja, Pak." jawab Maura dengan wajah datar. Ia hanya bisa pasrah, tidak mungkin menolak permintaan Pramudya, secara lelaki paru baya itu adalah dekan kampus suaminya.


Gifali tidak akan keberatan jika Maura menolak, ia lebih senang berkerja di Kafe dari pada membuat istrinya merasa tidak enak.


"Ra?" panggil Gifali.


Maura menoleh dan memberikan senyuman tipis dengan anggukan kepala, walau seperti itu, jauh dalam bayangannya Gifali tahu kalau istrinya sedang bimbang. Beda hal dengan Agnes, ia senang kegirangan. Karena ia tahu kapan saja bisa menemui Gifali dan merebut hati lelaki itu.


"Habiskan makananmu, Ra." titah Gifali. Maura pun menurut, ia kembali menunduk menatap makanannya.


****


Makan siang mereka pun telah selesai, kini Gifali dan Maura tengah duduk bersebelahan di kursi penumpang belakang. Didepan mereka ada Ramona dan Adrian di kursi kemudi. Mereka akan mengantarkan Maura dan Gifali pulang kerumah, padahal mereka berdua sudah memaksa untuk tidak usah diantar, bahkan Agnes pun memaksa untuk ikut.


Namun Adrian melarang, beralasan kalau mobilnya sempit. Pramudya meminta Adrian untuk mengantar Gifali dan Maura pulang, lebih tepatnya meminta anak tirinya untuk mengantar pulang anak kandung dan menantunya. Sungguh ironi misteri kehidupan Pramudya.


Sesekali Gifali ingin menggenggam tangan istrinya, namun Maura melepasnya. Ia hanya membisu disepanjang jalan menuju kostan. Setiap kali Adrian dan Ramona mengajak mereka bercanda, Gifali dan Maura hanya memberikan respon ala kadarnya. Mereka tidak tahu kalau pasangan suami istri itu sedang dilanda kecemasan. Terutama Gifali, ia sedang gelisah, karena tahu sebentar lagi Maura akan menangis dan mengerang seperti tadi malam.


Lalu


Drrt drrt drrt


Ponsel Maura bergetar, ia pun meraihnya dari saku baju. Layar ponsel seketika terang dan memunculkan satu nama si penelpon.


Mr. Edgar Incaming Call


"Mr Edgar? Siapa itu?" tanya Gifa, sontak membuat Maura mendongak untuk menatap suaminya. Sekilas Gifali masih menangkap jelas ketika nama si penelpon ada dilayar ponsel istrinya.


Maura gelagapan, ia bingung ingin memberikan alasan apa kepada suaminya.


"Ini tuh----"


"Gif, abis ini belok kemana?" tanya Adrian menanyakan alamat kostan mereka. Lelaki itu masih saja memutar-mutar stir kemudinya. Maura menghembuskan napasnya lega, hampir saja ia ketahuan.


"Lurus aja sampai persimpangan nanti belok ke kiri ya." jawab Gifali, ia kembali fokus menjelaskan arah jalan menuju kostan kepada Adrian. Maura pun sama pura-pura membahas tugas praktek besok kepada Ramona.


Melihat Gifali masih berbincang dengan Adrian, membuat Maura mempunyai waktu untuk menghapus nama Mr. Edgar dari ponselnya, ia ingin mengelabuhi suaminya. Ia takut Gifali akan kembali bertanya dan ingin memeriksa ponselnya setiba nanti di kostan.


"Mr. Edgar menghubungiku, ada hal apa ya?" hati Maura bertanya-tanya.


****


Nah janji udah aku tepatin ya, dua episode di hari ini, cuman buat kalian loh❤️