
"Sudah aku gugurkan bayi ini. Jadi kamu gak perlu merasa bersalah, atau iba kepadaku! Aku sudah maafkan kamu, walau kamu lebih dulu yang menikmati kehormatan ku!" ucap Gita dengan nada dingin.
Mendengar pengakuan dari Gita, sontak membuat jiwa Pramudya seperti terbakar. Ia terperanjat hebat. Hampir saja sukmanya terlepas dari aksa. Helaan napas mendesah berat. Air matanya lolos begitu saja. Lelaki itu pun bangkit dari sofa, ia ikut berdiri menatap Gita yang sedang memunggungi nya.
"Tega kamu Git. Bunuh anak kita!" jawab Pramudya dengan bibir bergetar.
Gita tertawa sarkas. Ia membalikan tubuh dan menatap Pramudya dalam-dalam.
"Ini untuk kebaikan kita bersama, Pram!"
"Kamu bohong kan? Tidak mungkin kamu setega itu untuk mengaborsi nya!" rahang Pramudya mengencang. Kedua matanya memerah karena terus mengeluarkan air mata yang sudah tumpah ruah membasahi pipi dan turun ke leher.
"Itu anakku! Kenapa tega sekali kamu membunuhnya! Jika kamu tidak mau urus, biar aku yang urus!" jawab Pramudya dengan suara tinggi. Gita pun tersentak, ia sampai mengangkat pangkal bahunya karena kaget. Tidak pernah selama ini, Pramudya berucap kasar kepadanya. Mungkin karena Pramudya sudah kepalang kecewa.
"Menikahlah denganku Git. Kita mulai hidup baru di London. Aku mendapatkan beasiswa untuk sekolah di sana. Aku akan berusaha untuk menyenangkan kamu. Aku akan bertanggung jawab dengan apa yang telah aku lakukan kepadamu."
Gita kembali tertawa, ia menatap Pramudya dengan tatapan menghina.
"Hanya bekerja sebagai dosen honorer? Gaji kecil! Memakai motor butut? Rumah saja kamu gak punya, Pram! Apa yang menyenangkan? Orang tua ku membesarkan aku, bukan untuk dibuat susah sama kamu!" kelakar Gita, ia mengangkat dagunya tinggi-tinggi lalu melipat kedua tangan di dada.
"Sadar Gita, Galih itu sudah menikah dengan Difa. Tega kamu menghancurkan rumah tangga mereka?" Pramudya semakin emosi. Ia terus bersuara nyaring kepada Gita. Wanita yang sulit untuk di sadarkan.
"Tega dari mana? Malah aku ingin menyelamatkan Galih dari pernikahan itu!"
Pramudya menggeleng lemas. "Kamu memang sudah gila, Gita!" Pramudya semakin geram.
"Tinggalkan Galih, mulailah untuk mencintai aku! Aku pasti akan sukses seperti Galih. Aku janji padamu." Pramudya kembali memohon dan menurunkan nada suaranya. Ia terus mencoba merayu dan meyakinkan Gita.
Lalu
Cih.
Air ludah begitu saja disemburkan Gita ke wajah Pramudya. Lelaki itu kembali tertohok, dengan tatapan sedih ia mengusap ludahan itu dari wajahnya dengan kain baju.
"Dengarkan aku baik-baik. Kamu dan Galih bagaikan bumi dan langit. Galih adalah langit yang luas, sementara kamu hanya menjadi kerak bumi! Dia seorang manajer! Mempunyai dua mobil, motor dan rumah bertingkat! Dia tampan dan yang terpenting, aku mencintainya! Jelas perbedaan kalian sangat jauh! Fikir kan lah kesuksesan untuk dirimu sendiri, Pram! Syukur-syukur ada wanita yang akan mencintai dan menerima mu apa adanya!"
"Jangan pernah kamu datangi aku lagi! Anak ini sudah aku gugurkan!"
Pengakuan dan sikap Gita yang merendahkan, sangat menusuk batin dan jiwa Pramudya. Ia menyesal mengapa bisa mencintai Gita sedalam itu. Mengapa juga cintanya terus merekah sedari bangku SMA. Mengapa Semesta tidak memberikan wanita yang bisa menerimanya dengan cinta tulus tanpa hinaan.
Sejak peristiwa itu, Pramudya memilih menghilang. Untuk menyembuhkan luka lara yang menganga di sanubarinya.
*******
Gita mengulum senyum tipis. "Kamu pasti sudah hafal dengan benda itu, sayang! Nadifa pasti sering mencobanya dan akan selalu menangis karena gagal!"
Tangan Galih bergetar ketika meraih Alat tes kehamilan itu. Tercetak jelas strip dua garis merah muncul di benda tersebut.
"Aku hamil!" sentak Gita.
Galih terperanjat, kaget dan murka lalu membuang alat itu ke atas tanah taman belakang kantor yang sekarang sedang mereka pijaki.
"Tidak mungkin! Ini bukan anakku!" Galih geram, ia emosi sejadi-jadinya.
"Bukankah ini yang kamu mau? Mendapatkan seorang anak yang tidak kunjung datang selama kamu bersama dia? Sekarang aku sudah mengandung anak kamu, Lih! Darah daging kamu!" kelakar Gita. Ia terus berakting seperti artis profesional, untuk membuat Galih percaya.
Galih bergeming, wajahnya mendadak pucat matanya fokus melihat kebawah, hancur sudah hidup nya. Demi Tuhan, saat ini ia hanya lebih menginginkan Nadifa saja ketimbang seorang Anak.
"Kamu harus nikahi aku secepatnya! Aku tidak mau perutku membesar tanpa seorang suami!"
"Tapi itu bukan anakku, Git! Aku tidak pernah merasa meniduri kamu!"
"Lalu malam itu apa? Kamu mau menghindar dari kenyataan?"
Galih betul-betul tidak ingat, mengapa bisa dirinya berada di atas ranjang dengan Gita dalam keadaan polos tanpa pakaian.
Galih tetap hening. Fikiran nya penuh, dadanya pun sesak. Jantungnya terus menderu-deru. Bayangan Nadifa terus saja berputar-putar dikepalanya. Galih sangat takut apabila sang istri meminta cerai darinya.
"Kamu urus saja pernikahan itu, aku tidak ada waktu!" sentak Galih. Kemudian ia berlalu meninggalkan Gita seorang diri yang sedang tersenyum menang karena kebahagiaan yang sebentar lagi ia rasakan.
Galih berjalan sambil berlinang air mata, hancur sudah rumah tanggnya. Bagaimana ia bisa mampu untuk membagi hidup dan cintanya dengan dua wanita sekaligus.
Sama sekali tidak ada pilihan, dia harus menikahi Gita, anak yang sekarang sudah ada dirahim Gita, yang ia percaya itu adalah benih dari nya, anak kandungnya yang ia inginkan selama ini.
"Maafkan aku sayang! Aku terpaksa melakukan ini, agar kamu bisa menjadi milikku!" ucap Gita, ia terus memandangi bayangan Galih yang mulai menghilang dari pandangannya. Lalu menurunkan tatapannya ke arah perutnya yang masih datar, mengelus lembut.
"Makasih ya, Nak. Sudah mau hadir untuk membantu Bunda mendapatkan calon Ayah untuk kamu."
******
Ada yang mau nakol si Gita? Untung aja dia udah modarr gengss🤭. Kalau ada yang kangen sama kisah mereka, baca-baca aja lagi novel pertamaku ya. Bersahabat dengan cinta terlarang.
Kisah mereka sengaja dibuat, sebagai pembelajaran, ilmu dan contoh di kehidupan orang banyak. Karena yang senang diatas penderitaan orang lain, hidupnya tidak akan pernah bahagia lama. Contohnya Sagita Haryani.
Like dan Komen ya guyss❣️