
Sejak subuh sampai siang hujan terus turun tidak mau surut. Baju-baju yang dijemur jarang kering dan sering bau apek. Wajar saja, karena bulan-bulan sekarang sudah memasuki musim hujan.
Walau udara dingin, tetap saja semangat Triple G terlihat berkobar-kobar untuk tetap datang ke sekolah. Sudah satu minggu ini mereka mengikuti kegiatan sekolah. Triple G begitu antusias ketika pelajaran sedang berlangsung, bisa mengenal huruf, angka, menggambar bersama teman-teman sebelianya.
Triple G anak yang dipenuhi sejuta humor, ramah dan baik, pantas saja ketika baru masuk, banyak teman yang sudah menempel dengan mereka.
Seperti Bisma langsung mempunyai teman dekat bernama Agil. Kalau Pradipta memang tidak mempunyai teman dekat khusus, tetapi ia bisa bermain dengan siapa saja. Walau kebanyakan ia lebih suka mengacaukan permainan teman-teman ceweknya. Dan Geisha akan selalu menjewer kupingnya. Ia tidak mau sang Adik ikut bermain dengannya.
Sedangkan Geisha mempunyai teman dekat bernama Dewi. Dewi adalah anak yatim. Ibu nya berjualan sayur gerobakan keliling. Tempat tinggalnya di kampung belakang komplek perumahan.
Setiap hari Geisha akan membagi bekal makanannya kepada Dewi. Begitupun dengan Dewi, ia juga membagi bekal untuk Geisha. Walau bekal yang ia bawa selalu mie goreng instan. Berbeda dengan bekal Geisha yang Maura buatkan, makanan empat sehat lima sempurna. Kedua anak perempuan itu seperti magnet, saat pertama kali bertemu.
"Huahh ... Aku capek banget." Geisha menghembuskan napas sambil membaringkan tubuhnya dengan posisi tengkurap di atas karpet depan layar televisi. Ada stroller Ginka dan Ghea di sana. Tapi kedua adiknya tidak ada di dalamnya.
Dan tak lama kemudian ada suara Bisma dan Pradipta menyusul ke dalam. Gifali terlihat mengekor dibelakang mereka dengan membawa tiga tas milik ketiga anak-anaknya.
"Assalammualaikum Bunda ...." seru Bisma dan Pradipta, mereka langsung masuk ke dalam kamar Bundanya, dan Maura sedang berbaring di sana dengan two G.
"Sstt!" Maura meletakan satu jari di bibirnya, sebagai kode agar Bisma dan Pradipta tidak kembali berseru kencang. Ginka dan Ghea pasti bangun, karena kedua anak itu baru saja tertidur
Si kembar tampan itu mengangguk faham. Mereka berinsiatif melepas sepatu, kaos kaki dan baju seragam. Tanpa di suruh oleh Bundanya.
"Letakan di tempatnya masing-masing ya." titah Maura. Wanita itu turun dari ranjang dan membuka lemari untuk mengambilkan baju salin untuk mereka.
"Iya, Bunda."
Bisma dan Pradipta bergegas menaruh baju seragam itu ke dalam keranjang baju kotor dan membawa sepatu berisi kaos kaki ke luar kamar. Meletakan nya di lemari sepatu. Kemudian masuk kembali dan minta dipakaikan baju. Setelah selesai, Bisma dan Dipta kembali ke luar menuju kamar mereka.
Maura mengekor dengan sudah membawa pakaian salin untuk Geisha dan air putih di gelas untuk suaminya. Bocah perempuan itu akan selalu leyeh-leyeh dulu di atas karpet atau sofa sebelum mengganti seragamnya. Maura sudah hafal dengan kebiasaan anak itu.
Terlihat Gifali sedang merebahkan diri di sandaran sofa. Melepas letih, dan juga tengah menunggu Adzan Dzuhur berkumandang. Ia selalu meminta ijin pulang dulu satu jam sebelum istirahat makan siang, bermaksud untuk menjemput Triple G dan makan siang bersama di rumah.
"Minum dulu, Yah." Maura menyodorkan air di gelas kepada Gifali.
"Makasih, Bun ..." Gifali langsung menenggak isinya sampai habis.
Maura mengusap lembut punggung Geisha yang masih tengkurap di atas karpet. Dan ternyata anak itu tertidur.
"Kapan kamu mau pakai kerudung, Nak." ucap Maura pelan, lalu mencium rambut Geisha. Anak itu masih saja tidak mau memakai kerudung. Alasannya selalu ... Aku nanas, Ayah, Bunda!
Gifali dan Maura hanya bisa mengiyakan dulu, dari pada sang anak akan ngadat dan mogok sekolah.
"Enggak usah dibangunin. Biarin aja dulu, Bun. Capek kayaknya." ucap Gifa.
"Iya, Yah." Maura menurut. Ia beranjak berdiri dan melangkah ke sofa untuk duduk disebelah suaminya.
"Kalau Ayah capek bolak-balik terus kayak begini, Bunda bisa kok jemput mereka pulang dari sekolah. Jadi Ayah hanya antar aja paginya, enggak usah jemput lagi."
Gifa menggeleng. "Kasian sama kamu."
Maura tersenyum haru. "Bunda lebih kasian sama Ayah, capek banget pasti. Udah gitu gak enak sama temen-temen kerja, masa anak baru udah sering ijin pulang dulu ke rumah."
"Mereka semua kayak gitu 'kok. Yang penting kan jam pulang kerjanya di lebihin. Kerjaan aman, bos nya baik, ngertiin banget anak buah. Apalagi beliau tau aku punya lima anak." jawabnya sambil mengulurkan tangan di atas pangkuan Maura. Dengan sigap wanita itu memijat dengan kelihaian jari-jemarinya.
"Tapi kamu nya capek, Yah. Bolak-balik dari kantornya, itu kan jauh."
"Enggak apa-apa, aku sanggup kok." jawab Gifali dengan senyuman hangat. Kembali memejam mata untuk menikmati pijatan dari istrinya.
"Oh, iya. Besok aku akan mendaftarkan kamu ke kampus. Takut kuotanya keburu penuh. Karena katanya ajaran baru di percepat, sebulan lagi Bunda sudah bisa masuk kuliah."
Maura menarik napas pelan. Sebenarnya hal ini yang ingin ia bicarakan empat mata dengan suaminya. Tapi sepertinya tidak mungkin di perbincangkan sekarang, ia tahu Gifali sedang lelah.
"Nanti malam aja deh, aku bicaranya." gumam Maura.
Memang begitu seharusnya, ketika seorang istri bersikap. Rasa empati dan simpati perlu di mainkan, ketika hendak bertutur sesuatu kepada suaminya yang dianggap penting, harus melihat keadaan terlebih dahulu.
Sedang santai 'kah? Sudah terlepas dari rasa letih atau lapar? Lebih baik memilih berbicara ketika perut sudah kenyang dan sedang terlibat dalam obrolan santai. Agar penyampaian maksud yang ingin kita sampaikan, bisa diterima dengan kepala dingin. Jadi, tidak menimbulkan cekcok.
"Bun ..."
"Ehmm?"
"Perutnya sakit?"
"Sakit sih enggak, Yah. Hanya linu aja. Masih suka kedut-kedutan gitu di bagian lukanya."
Gifali membuka mata. "Coba Ayah lihat."
"Masa di sini, Yah."
"Ya enggak apa-apa. Siapa lagi yang mau lihat?" ucap Gifali dengan kekehan.
Maura menurut dan mengangguk. Dibantu Gifa, ia singkap kain daster ke atas sampai ke permukaan perut.
Benang jahitan memang sudah terlepas. Dan bagian kulit yang kemarin di sayat untuk mengeluarkan two G sudah tertutup rapat. Tidak berbau atau basah. Sangat kering dan bersih. Karena selama ini yang membantu membersihkan lukanya juga Gifali.
"Yang penting lukanya gak basah. Nanti malam kita kontrol aja ke Dokter." ucapnya masih mengusap-usap bekas luka operasi tersebut.
Maura menggeleng. "Bulan depan aja, Yah. Sekalian dedek imunisasi."
Terlalu boros uang jika hanya mengeluhkan linu kepada Dokter. Hal yang umum di rasakan oleh para Ibu setelah melahirkan dengan proses SC. Apalagi ini adalah proses SC yang kedua baginya. Tentu Maura sudah hafal.
"Tapi enggak linu-linu banget 'kan, Bun? Jangan ditahan kalau sakit. Jangan fikirkan uang, cukup aku aja yang berfikir. Yang penting kamu dan anak-anak selalu sehat dan enggak kurang apapun."
Maura mengelus lembut pipi suaminya. "Iya cintaku ..." godanya. Gifali tersenyum lalu mencium bekas luka tersebut dan mendongak.
"Makasih ya, Bun. Karena sudah mau melahirkan kelima anak kita. Perut kamu jadi kayak begini."
Maura tersenyum, lalu menangkup wajah suamimya, dan dikecup nya sampai puas.
"Aku ikhlas, demi kamu."
Gifali tersenyum dan gantian mengecup bibir Maura. "Jadi kangen." bisik nya nakal.
Maura membulatkan matanya. "Hehe. Bercanda sayang. Aku mah tahan 'kok." Ia kembali menyandarkan tubuh di sandaran sofa dan memejam matanya kembali.
Maura tertawa di buatnya. "Nanti ya tunggu lima bulan lagi."
Gifali berdecis geli. "Enak aja. Satu bulan lagi juga udah aku tengok."
Mereka kembali tertawa walau pelan karena takut Geisha akan bangun.
"Ayah mau makan sekarang? Bunda masak sop buntut, kesukaan Ayah."
Raut lelaki itu senang. "Setelah Shalat Dzuhur aja, Bun. Sekarang Ayah mau rebahan dulu."
Maura mengangguk dan membiarkan suaminya tertidur di sofa, dan Geisha di atas karpet. Sedangkan Bisma dan Pradipta entah sedang apa di dalam kamar mereka.
Maura menatap penuh cinta wajah suaminya yang sedang tertidur melepas penat. Ia bersyukur telah menikah dengan lelaki yang selalu memenuhi tanggung jawab sebagai suami dan Ayah.
Walau Maura mempunyai lima orang anak, dan mengurusnya sendiri tanpa bantuan Art, dirinya tidak pernah mengeluh. Karena ada sosok suami siaga yang selalu membantunya dalam segi apapun.
Jika malam saja, kalau two G terbangun. Dan dirinya sudah kepalang nyenyak, Gifa yang akan bangun memberikan susu. Tanpa harus membangunkan dirinya untuk menimang si kembar. Walau di kantor, lelaki itu akan banyak menguap karena menahan kantuk.
"Makasih ya sayang atas semuanya untuk kami." ucap Maura. Ia beringsut mencium pipi Gifali. Kembali memijat dari pangkal bahu sampai ke lengan suaminya.
****
Like dan Komennya ya🌺🌺