My Sabbatical Wife

My Sabbatical Wife
Dia Juga Menyakiti Anakmu!



"Gifali tadi minta dibuatkan kopi." ucap Agnes berdusta.


"Gifali?" Maura mengulang dengan wajah yang masih terperangah. Ia kaget bukan main. "Meminta kamu?" tanya Maura menyelidik. Alisnya terlihat meninggi dengan mata yang memicing tidak suka.


"Ehem." jawab Agnes bangga dan tanpa rasa berdosa. Lalu ia melangkah menuju kulkas untuk mengambil air dingin.


Rasanya telapak kaki Maura lemas. Jantungnya kembali berdegup cepat tentunya karena menahan kesal. Ia masih termenung menatap lantai dengan napas berantakan. Agnes hanya tersenyum menatap Maura sambil menyesap air di gelasnya.


Namun, Maura bukanlah wanita yang bodoh. Ia tidak begitu saja percaya dengan ucapan Agnes.


"Jangan memfitnah suamiku!" ucap Maura dengan suara tegas. Ia melangkah dan mendekati Agnes. Agnes membeliakkan bola matanya sambil menurunkan gelas yang masih ia genggam. Ia tidak percaya sikap Maura akan berani seperti itu.


"Suamiku tidak suka kopi! Dia hanya suka minum teh dan air putih!" sambung Maura dengan rahang terlihat mengeras.


Agnes tertawa singkat. "Masa? Itu kan jika sama kamu, mungkin dia ingin mendapatkan rasa baru ... Mungkin dari ku?"


"Jangan gila kamu! Dia itu adikmu! Gifa adalah suamiku, ayah dari anak-anakku!" Maura mencondongkan tubuhnya untuk menatap legam bola mata Agnes. Tidak ada rasa ketakutan sama sekali di raut Maura.


Perebut memang harus dibasmi.


"Aku pernah bersumpah, akan selalu bersabar untuk mendampingi suamiku dalam setiap kondisi apapun! Tapi, aku tidak akan tinggal diam untuk membiarkan seekor rayap yang ingin menggerogoti kebahagiaan pernikahanku dengan Gifali!"


"Aku akan melakukan apapun untuk menjaga suamiku dari wanita-wanita sepertimu!"


Dua bola mata Maura menyalak tajam. Tidak terlihat lagi perangai Maura yang sabar dan menawan. Kini yang ada hanyalah perangai penuh amarah, berani dan tangguh.


Agnes terkesiap, ia seketika beku tidak bis berkutik. Kemudian mendorong tubuh Maura untuk menjauh dari nya. "Jangan deket-deket! Gue geli sama lo!"


Maura sedikit terhuyung ke belakang, untung saja ada meja sebagai tumpuan tangannya untuk menopang tubuh.


"Hidup lo dan kartu lo ada di gue, Maura! Lo lupa lupa punya rahasia besar di kampus?" Agnes kembali tertawa licik.


Maura terlihat gelagapan, ceroboh sekali fikirnya. Mengapa bisa ia melupakan hal itu.


"Lalu kamu mau apa?" jawab Maura, namun nada nya masih sama. Satu oktaf lebih tinggi. Ia sedikit menaikan dagunya seraya menantang.


"Berbagilah Gifali denganku, itu saja sudah---"


Pakk.


Belum saja Agnes menyelesaikan ucapannya, Maura sudah lebih dulu mendaratkan tamparan panas di pipi Agnes. Wanita itu meringis sambil memegangi pipinya.


"Kurang aj---"


"Ada apa ini?"


Bru saja Agnes berseru tapi sudah terhentikan dengan suara lain yang menelusup diantara mereka. Maura dan Agnes terkesiap dan menoleh ke sumber suara. Mereka kaget ada Gifali yang baru saja sampai diambang pintu dapur.


Agnes dengan cepat berlari dan bersembunyi dibelakang tubuh Gifali.


"Istrimu tampar Kakak, Dek." ucap Agnes dengan nada sedih yang di buat-buat. Tapi untuk tamparan, memang rasanya sakit sekali. Dan Agnes gatal ingin membalasnya.


"Apa-apaan kamu, Ra?" tanya Gifali menatap Maura dengan wajah tidak percaya.


"Aku tidak pernah mengajarimu untuk bersikap kasar, Ra. Ada masalah apa? Apa tidak bisa di bicarakan baik-baik?" jawab Gifali.


Maura tidak menjawab, ia hanya menghela napas panjang sambil mengusap perutnya dan melangkah menghampiri mereka. Lebih tepatnya menatap Agnes yang menggeser tubuhnya seraya menjauh.


"Jangan pernah berani untuk mengancam ku!" kelakar Maura dengan tatapan tajam kepada Agnes. Ia tidak mau menatap wajah suaminya. Maura pun berlalu meninggalkan mereka berdua tanpa kata pamit.


Maura bergegas cepat menaiki anak tangga untuk mencapai kamar yang sedari tadi ia pakai untuk melepas lelah. Gifali pun mengikuti langkah istrinya, menyusul Maura ke kamar.


"Hati-hati sayang naiknya." seru Gifali yang mengekor langkah Maura.


"Aku akan selalu buat kamu stress, Maura! Kamu harus membayar tamparan ini!" kelakar Agnes dengan wajah tidak suka, kemudian tertawa puas. "Semoga bertengkar ya, moga aja cepat cerai." gumamnya lagi. Lalu melenggangkan langkah untuk kembali ke kamar dengan wajah bahagia.


"Ada apa, Ra?" tanya Gifa setelah langkahnya sampai diambang pintu kamar. Kemudian menutup pintu dan menguncinya. Ia menghampiri Maura yang sedang duduk di bibir ranjang memunggunginya. Kepalanya tertunduk lalu menangis.


"Kenapa tadi kamu membentakku!" ucap Maura menepis tangan Gifali yang akan mendarat di punggungnya.


"Demi Tuhan, tadi aku tidak membentak. Aku hanya bertanya dengan suara biasa sayang." jawab Gifali meyakinkan.


"Tadi kamu bentak aku, Gifa! Dan terlebih lagi kamu melakukannya didepan Agnes!" Maura menoleh, memperlihatkan wajahnya yang sudah banjir karena air mata.


"Kamu terlalu sensitif, Ra. Nada bicaraku tetap biasa. Hanya aja aku tuh kaget, kenapa kamu bisa menampar Kak Agnes. Kalau Ayah dan Ibu tau bagaimana? Aku akan malu karena tidak bisa mendidik istri." desah Gifali, ia mengusap-usap lengan Maura dan mencium pusaran rambut istrinya.


"Jangan membelanya! Aku tidak suka, Gifa!" jawab Maura terbata-bata, isak tangis masih mengembang. Pangkal bahunya terlihat bergetar. Hati Maura begitu sakit dan pedih mendengar ucapan Agnes.


"Aku benci dengan dia, Gifa!" Maura meremas kain baju suaminya yang ada dibagian dada.


"Kenapa? Apa yang dia lakukan? Kak Agnes menyakitimu?" tanya Gifa.


Maura menjauh dari dada Gifali, lalu menatap lugas wajah suaminya. Menghentikan tangis. Kilat matanya menunjukan rasa ketidaksukaan ketika nama perempuan itu kembali disebut.


"Bukan hanya aku, tapi dia juga menyakiti anakmu! Dia bilang, aku harus berbagi kamu dengan dia!" jawab Maura lantang. "Dia mengancam aku, Gifa! Agnes bilang, dia punya rahasiaku yang bisa ia beberkan di kampus!"


Gifali menata wajah Maura dengan tatapan melongo lalu mengubahnya dengan senyuman manis. Ia menggenggam tangan Maura yang terasa sudah dingin.


"Enggak mungkin, Ra. Barusan aja Kak Agnes sudah berjanji didepan Ayah dan Kak Adrian kalau ia akan menjaga kamu dan merahasiakan status serta kehamilan kamu di kampus."


"Tuh kan kamu membelanya!"


"Enggak sayang, aku gak bela dia. Tapi itu memang benar, dia sudah berjanji."


Maura hanya menghela napas kesal. Ia berbalik memunggungi Gifali. Menepis tangan suaminya untuk tidak lagi memegang tubuhnya.


Demi Tuhan, Gifali sepertinya ingin menjambak rambutnya sendiri. Entah mengapa Maura yang selalu menurut ucapannya malah berubah menjadi pembangkang. Namun lelaki itu sadar, istrinya tengah cemburu apa lagi saat ini sedang mengandung.


"Sini ... sini aku peluk. Sebelum kamu menjadi gendut dan susah untuk dipeluk." ucapnya terkekeh. Ia kembali berguyon untuk merayu Maura.


Sebisa mungkin Gifa harus bersikap wajar dan dewasa untuk meredam amarahnya agar bisa terus bersabar untuk menghadapi istrinya. Karena pada dasarnya ia tahu hati Maura itu sangatlah baik.


Maura masih saja bergeliat, ia tidak mau disentuh.


"Tenang sayang. Aku akan mengawasi Agnes."


Seketika Maura menoleh. "Beneran? Jadi kamu percaya kan sama aku? Kamu harus hati-hati sama dia, jangan deket-deket Gifa. Tadi dia aja fitnah kamu!" Maura kembali berapi-api.


"Iya sayang aku lebih percaya kamu."


"Beneran?"


Agar Maura berhenti merajuk, dan terhindar dari rasa stress. Gifali mengikuti saja apa kemauan Maura sekarang.


"Iya sayangku, Aisyahnya aku."


Maura pun berhambur kembali kedalam dekapan suaminya. Ia tahu lelaki ini pasti akan lebih mempercayai ucapannya.


Dikamar Agnes masih saja terlihat senang, sambil memeluk guling ia masih membayangkan keributan yang tengah terjadi di kamar Maura dan Gifali.


"Aku jadi penasaran." ia pun beranjak bangkit menuruni ranjang. Melangkah keluar menuju kamar tamu. Ingin mendengar raungan Maura yang tengah mencerca suaminya.


"Pasti jadi tontonan asik nih." Agnes terkekeh.


"Yah kok udah di kunci sih!" dengan pelan Agnes menekan handle pintu kamar Maura dan Gifali yang sudah terkunci dari dalam. Ia pun beringsut untuk menempelkan daun telinganya di pintu.


"Kok hening ya? Gak ada suara keributan?" kening Agnes terlihat mengerut.


Lalu ia mengambil bangku dan meletakannya tepat di depan pintu. Menaikinya dengan hati-hati dan melongo ke dalam kamar dari celah ventilasi pintu.


"Brengsekk!" Agnes berseru kesal bukan main. Ia tidak pernah membayangkan apa yang akan ia tatap sekarang.


"Keparat! Bagaimana bisa aku melihat mereka sedang berciumann seperti itu!"


Rasanya dua bola mata Agnes ingin rontok dan terlepas dari kelopaknya. Ia sudah mengharapkan Maura dan Gifali akan bertengkar nyatanya mereka berdua malah bermesraan.


Hati Agnes seketika mendidih, seperti sedang terbakar. Ia tidak rela, melihat Gifali seperti orang yang sedang kehausan ketika memagut bibir istrinya.


"Ra ..." Gifali melahap habis mulut Maura.


"Eum ..." Maura melenguh, kedua tangannya tidak lepas melingkar di leher suaminya.


******


Like dan Komen ya guyss❣️