
Sudah sepuluh hari usia Bisma, Geisha dan Pradipta di dunia. Dan selama itu pula dua keluarga besar berhimpit-himpit didalam satu rumah sekaligus, belum lagi jika keluarga Pramudya datang untuk menjenguk.
Apalagi sekarang sedang musim liburan sekolah di Indonesia. Maka dari itu, keluarga Artanegara dan Hadnan bisa memperlama keberadaan mereka di London, untuk merawat Maura dan ketiga cucu mereka.
Tidak perduli bagaimana pekerjaan dua Kakek itu, Papa Bilmar dan Papa Galih. Mereka seperti terlupa, karena perhatian mereka sedang asik-asiknya tercurah hanya pada ketiga cucu kesayangan mereka.
Tiga hari lalu, tiga keluarga ini mengadakan tasyakuran aqiqah untuk Bisma, Geisha dan Pradipta. Mereka membeli lima kambing sekaligus untuk dibagikan kepada para tetangga dan memberikan santunan kepada anak-anak kurang mampu yang terorganisir di negara ini.
"Pelan-pelan jalannya sayang." ucap Gifa dengan kedua mata yang masih setia menyorot layar notebook di pangkuannya. Ia masih harus tetap bekerja untuk mengelola sistem keuangan di kantor. Sore, di hari libur ini, Gifali membawa ketiga keluarganya untuk berjalan-jalan santai di taman yang pernah ia dan istrinya kunjungi. Yaitu taman St. James Park.
"Iya sayang ..." jawab Maura diiringi dengan senyuman.
Wanita itu terlihat mondar-mandir berjalan kaki. Ia ingin meluweskan tubuh nya. Karena beberapa hari setelah operasi, perutnya masih saja linu. Maka ia tidak berani untuk melangkah atau berjalan maximal.
Beruntunglah Maura, walau masih dalam keadaan lemah seperti itu, ada Mama Alika dan Mama Difa yang membantu mengurus ketiga buah hatinya. Karena Maura pun masih harus diajari sampai bisa cara menggendong, memandikan bayi, membedong dan hal lainnya.
Tidak jauh dari mereka ada tiga Kakek yang sedang duduk berjajar dengan tiga stroller di atas kursi melamin yang disediakan di pinggiran taman.
Kalau para nenek sedang berselonjor di rerumputan yang beralaskan karpet sambil mengobrol dan menyantap beberapa cemilan yang sudah mereka beli.
Lalu triple G dan Ammar sedang bercanda-canda, berfoto ria dengan kamera mahal milik Ammar, di sudut-sudut taman.
Dari pagi sampai malam, para bayi selalu berada dalam dekapan para Kakek mereka, Papa Bilmar dan Papa Galih akan memberikan para cucu jika sedang menangis dan ingin susu.
Gifali sampai sulit untuk menimang, karena ruang geraknya untuk para bayi dipangkas habis oleh ketiga Papanya. Beruntung lah Pramudya tidak menginap, jadi Gifali masih bisa menggendong Pradipta seorang.
"Geisha kalau sudah besar, mau jadi apa? Pemain bola ya?" Papa Galih mengajak bayi itu berbicara di hadapannya. Kedua tangannya menggoyang-goyangkan stroller, agar Geisha anteng.
Kening Papa Bilmar dan Pramudya terlihat menyerengit. Mereka mendelik, karena merasa aneh ketika mendengar ucapan itu.
"Dia kan cewek, masa iya jadi pemain bola." decak Papa Bilmar.
"Ada-ada aja kamu, Lih." timpal Pramudya.
Ngomong-ngomong hubungan antara Papa Galih dan Pramudya sudah berangsur hangat. Tidak ada lagi kecemburuan. Mereka sepakat untuk bersama-sama menemani Gifali sampai akhir hayat.
Papa Galih tertawa.
"Oh, iya. Kakek lupa, Nak. Geisha kan cewek ya." Papa Galih bergumam lagi kepada Geisha. Bayi itu hanya bisa memelet-meletkan ujung lidah. Menggeliatkan badan yang masih hangat dalam bedongan.
"Kakekmu memang sudah pikun, Geisha." ledek Papa Bilmar.
Mendesis geli, Pramudya tertawa akan hal itu. "Iya, Lih. Tuh lihat rambut kamu sudah ada ubannya."
"Ah, masa?" lelaki itu tidak percaya. Ia seraya mengelus rambutnya yang sebenarnya masih berwarna hitam pekat.
Dua lelaki yang mengapitnya tertawa lagi. Tahu jika sedang di ejek, Papa Galih hanya mendengus masam.
"Kalian tuh yang udah pada tua, pipi udah pada keriput begitu. Padahal istri-istri masih pada cantik. Lihat dong saya, masih kencang, luar dan dalam." ucap Papa Galih berbangga diri.
Seketika gelak tawa antara Papa Bilmar dan Pramudya redup.
"Ah, masa?" kini, dua lelaki itu yang tidak percaya. Apalagi si Kakek yang selalu bilang dirinya mirip dengan Ji Chang Wook. Dia langsung kelabakan setengah jenggot. Buru-buru meraih ponsel dan melihat keadaan wajahnya di sana. Takut jika memang apa yang dibicarakan Papa Galih terjadi dan nyata. Bisa turun kepercayaan dirinya, karena sang istri masih sangat awet muda.
"Saya masih kencang begini kok dibilang keriput! Nah, kalau Ayahnya Gifa baru tua banget." Papa Bilmar menoleh ke arah Pramudya dengan kekehan.
Pramudya pun sama, sedang memperhatikan wajahnya di ponsel. "Ah, saya masih gagah. Malah gagahan saya dibanding kalian. Lihat saja Gifali, ganteng kan kayak Mark Prin?"
"Duh Geisha, lirikan matanya cantik banget." puji Pramudya.
"Gendong sama Kakek ya, mau?" sahut Papa Bilmar, ia seraya bangkit untuk beranjak dari kursi, membungkuk sedikit untuk meraih Geisha.
"Udah jangan, kamu urusin aja si Bisma." Papa Galih menghalau tangan besannya.
"Tapi lihat tuh, Geisha melirik nya ke saya, Mas. Itu tandanya dia mau digendong." Papa Bilmar tetap memaksa. Dan akhirnya ia berhasil menggendong dan mencium cucu perempuan satu-satunya saat ini.
Dan
Byrr.
"Duh kok anget-anget gitu ya?" gumam Papa Bilmar. Suatu kebasahan mengalir dan tercetak di kain kaos yang sedang lelaki itu pakai.
Pramudya dan Papa Galih tertawa bersamaan.
"Pantesan dia melirik kamu, karena kamu tempat paling enak buat di pipisin." ucap Papa Galih, dan Pramudya masih saja tertawa tidak mau berhenti.
Papa Bilmar mendengus dan sedikit menggerutu. Bajunya basah karena air urin Geisha.
"Ya enggak apa-apa deh, buat cucu, apa sih yang enggak. Di pipisin juga gak masalah." ucap Papa Bilmar dengan wajah jenaka. Ia kembali mengajak Geisha bergumam, namun bayi perempuan itu malah menangis.
"Tuh kan, dia seram lihat kamu, Mas. Geisha terbiasa lihat saya, Kakeknya yang ganteng. Udah sini, balikin ..." Papa Galih meraih paksa Geisha dari gendongan Papa Bilmar.
Ia kembali meletakan cucu perempuannya itu ke dalam stroller. Membuka kain bedongan dan membersihkan kebasahan di intinya.
"Lihai sekali kamu, Mas. Bisaan gitu kaya ibu-ibu gantiin popok."
Papa Galih menyunggingkan senyum.
"Iyalah, saya itu bisa ngelakuin semua ini. Enggak cuman mau buatnya aja. Tapi bisa juga bantuin istri. Saya tuh udah punya anak empat, wajarlah kalau saya khatam soal ginian. Walau udah lama, saya tetap ingat." Papa Galih terus saja merancau untuk membanggakan dirinya. Papa Bilmar hanya bisa memiringkan sudut bibirnya karena telinganya terasa penging.
Tahu begitu, tidak usah memuji, ck.
Pramudya tersenyum dan mengelus bahu Papa Galih. "Kamu memang hebat, Lih. Terimakasih karena sudah mau melakukan hal seperti ini kepada Gifali dulu. Bahkan saya saja Ayahnya tidak pernah melakukan hal sekecil itu untuknya. Dalam seumur hidup saja, saya belum pernah merasakan bagaimana cara mengurus bayi sendiri." ucapnya sendu.
Papa Galih menoleh, dan mengeratkan tangannya di pangkal bahu Pramudya. "Tidak perlu berterimakasih, karena Gifali Juga Amanah yang telah dititipkan oleh Allah kepada saya. Saya sudah ikhlas, Pram. Gifali adalah takdir hidup saya dan Nadifa."
Pramudya merangkul Papa Galih dengan dekapan erat. Menumpahkan rasa terimakasih dan rasa syukur. "Terimakasih banyak, Lih. Kamu benar, saya memang tidak akan bisa membayar apa yang telah kamu berikan kepada putra kita."
Papa Galih mengangguk, dan terus mendekap erat Pramudya. Dua lelaki paru bayah itu yang hanya berteman biasa di bangku SMA, tidak akan menyangka dapat dipertemukan dalam satu takdir yang sama.
"Terharu saya, sampai pengen pipis ngelihat mereka pelukan, udah ah cari toilet dulu." Papa Bilmar tanpa sadar malah membawa tiga stroller sekaligus untuk dibawa pergi bersamanya.
Lihat saja nanti bagaimana Pramudya dan Papa Galih akan kelabakan mencari.
****
Like dan Komennya ya jangan lupa, Buat Abang, Kakak dan triple G.
Gardapati Bisma Hadnan, udah gede aja nih🤗😘