
"Lo kan yang bekap wajah Maura pakai bantal tadi?" tanya Ramona dengan tatapan kesal. Otot-otot di lehernya tersembul.
Agnes berdecis geli. "Kenapa emang? Lo mau juga gue bekap?"
Ramona tertawa sinis. "Lupa lo? Mau gue ingetin?"
Ramona seperti membawa Agnes untuk mengingat sesuatu hal yang mungkin ia lupakan.
Sontak kening Agnes mengerut, terhenti dari gelak tawanya.
Lalu
Dengan hati yang terasa sesak, Agnes beringsut cepat untuk menarik tangan Ramona. Membawa gadis itu ke ruangan praktek yang kosong.
Ramona melepaskan genggaman tangan itu dengan kasar sesampainya mereka di dalam ruangan ini.
"Lo ancam gue?" sentak Agnes.
"IYA!" jawab Ramona menyalak tajam.
Ramona mengeraskan rahangnya. Lalu mendorong tubuh Agnes yang sudah mecondong dekat ke arah tubuhnya.
"Gue bisa bocorin rahasia, lo! Dan semua keluarga lo akan kirim lo, untuk pergi jauh kesana!" kelakar Ramona. Seketika hatinya berdebar. Mengoyak cerita lama yang sudah mereka deal kan beberapa waktu lalu.
Benarkah ia seberani ini?
Agnes tertawa puas, tertawa dan semakin tertawa. "Bocorin aja! Dan Razik pasti akan terseret!"
Mendengar nama lelaki itu membuat Ramona hening sesaat.
Razik?
"Lo gak sayang sama Bokap, lo? Kalau Razik kenapa-napa?" Agnes berbalik menyudutkan Ramona.
"Masalah gue sama Maura, gak ada urusannya sama lo! Lagian kan posisi lo sama kakak gue juga udah enak! Lo gak perlu jadi pahlawan kesorean buat si Maura!" Agnes menoyor kepala Ramona dengan jari telunjuknya.
Ramona menepis tangan Agnes dengan kasar dan terhuyung ke udara. Ia menarik kerah baju Agnes dan mereka kembali bersitatap dalam kontak mata yang lekat.
"Udah saatnya Razik dan elo, tobat, Nes! Bokap gue pasti akan ngerti, walau dia akan kecewa!" jawab Ramona tegas.
Raut Agnes berubah menjadi takut. Napasnya menghela panjang. Jantungnya berdebar, menerka-nerka apakah mungkin Ramona mau melanggar kesepakatan yang sudah mereka sepakati.
"Jauhi Gifali! Dan jangan pernah jahati Maura! Jika lo masih berani ... Akh!" Ramona seketika menjerit ketika rambutnya begitu saja dijambak oleh Agnes.
"Apa yang mau lo lakukan? Brengsekk!" sentak Agnes, ia kembali mengeratkan jari-jarinya ketika menjanggut rambut Ramona.
"Gue akan kasih tau ke Mama lo, Papa lo, Adrian, Kampus, Med ... Akhh!" Ramona kembali memekik sakit. Begitu perih ketika rambutnya di jambak dengan tekanan erat.
"Bang ... Sat! Lo bener-bener berani ngancem gue!" jawab Agnes dengan mata terbelalak. Emosinya seketika memuncah. Ingin sekali ia melahap Ramona detik ini.
"Selama lo bersikap baik dengan Maura, menjaga rahasianya dan menjauhi suaminya. Gue akan jaga rahasia, lo! Gue gak akan pernah mencampuri urusan, lo! Gue gak perduli walau ujung-ujungnya lo akan hancur, Nes!"
Dan setelahnya Ramona kembali berteriak, karena Agnes kembali menjambak rambutnya. Wanita itu kembali berbisik.
"Gue akan tetap membunuh Maura dan bayinya! Gifali hanya boleh untuk gue!"
"Dasar jalangg! Berani-beraninya, lo!"
Ramona kembali merintih, ketika rambutnya di janggut, ingin menepis tangan Agnes namun ia sulit.
"Sepertinya berpura-pura mengalah kepada wanita sialann ini gak akan buat gue malu." batin Agnes.
"Lo enggak usah pura-pura diam, Nes! Gue tau lo lagi memikirkan hal jahat kan?" ucap Ramona masih berusaha untuk melepaskan cengkraman tangan Agnes dari rambutnya. Satu tangan untuk menjambak rambut Ramona dan saru tangan lagi untuk meraih ponsel Ramona dari saku celananya.
"Lagi ada apa ini?"
Tiba-tib ada suara lain yang membuat mereka terlonjak. Reflek Agnes melepaskan jambakan nya dari rambut Ramona. Dua-duanya memberikan senyuman tipis kepada Ibu Debora.
"Kalian lagi gak berantem kan?" tanya Ibu Debora.
"Oh enggak kok, Bu. Tadi Ramona minta bantuan aku, dia ketumpahan saos di rambutnya."
Agnes sedikit menghentak bahu Ramona agar wanita itu juga mengeluarkan alasan.
"Hemm ... Iya bu, tadi saya minta bantuan Kak Agnes." dalih Ramona.
"Tapi rambut kamu udah gak apa-apa kan?" tanya Ibu Debora.
Ramona tersenyum dan mengangguk.
"Ya udah ayo cepat keluar. Kalian jangan terlalu lama di sini ya, ruangan ini tuh udah lama gak kepakai." ucap Ibu Debora.
"Baik, Bu." jawab mereka berbarengan.
Ibu Debora mengangguk kemudian melepas langkah untuk berlalu.
"Eh denger ya!" Ramona kembali berseru, ia menatap Agnes dengan tunjukan jarinya.
"Semua kartu lo ada di gue! Gue punya bukti-buktinya ... Ayo, berdamai sama gue! Biar kita sama-sama selamat!" tukas Ramona.
Agnes hanya bisa menatap netra pekat Ramona yang mengkilat tajam. Bibirnya kelu untuk menjawab. Posisinya memang sedang tidak aman sekarang.
"Lo jangan mimpi mau dapetin Gifali. Lelaki itu hanya cinta sama Maura, ISTRI SAHNYA! Lo hanya butiran debu buat dia!"
Ramona pun pergi dengan senyum penuh kemenangan pada wajahnya. Tinggallah Agnes dengan wajah memerah, rahang mengerang sambil mengepal kedua tangannya. Hatinya sakit bukan main.
"Breng ... Sek!!" teriaknya. "Kenapa sih susah banget buat si Maura menderita! Sebegitunya si Ramona belain dia! Euh, keparat!!" kelakar Agnes. Ia menghentak-hentakan kakinya di atas.
"Oh tenang, Mon, Ra. Kalian fikir gue lemah? Lo belum tau kan, siapa yang masih bisa gue andalkan?" Agnes tersenyum licik. "Bukan cuman Maura, tapi elo juga Mona!"
Agnes terlihat sangat murka kepada Ramona. Karena secara garis besarnya, wanita itu sudah tidak perduli dengan kesepakatan yang sudah mereka bentuk.
"Aku tidak masalah kalau Papa akan marah dan kecewa. Memang sudah saatnya Papa tau tentang Kak Razik!" gumam Ramona sambil melangkah menuju kantin untuk membelikan minum dan makanan untuk Maura.
*******
Hayoloh ada yang bisa nebak gak sih rahasia mereka itu apa? Bentar lagi juga kebongkar guyss, orang jahat tuh bahagianya gak boleh lama, tungguin yak❣️