
"Akhh ..." Agnes berteriak ketika menarik paksa selang infusan yang sedang menancap di punggung tangannya. Razik terbelalak kaget dengan aksi Agnes yang cukup menegangkan.
"Aku enggak mau punya anak dari kamu!" kelakar Agnes.
Wanita itu begitu emosi ketika baru saja mendengar dirinya tengah hamil. Menuruni ranjang dan bergerak cepat untuk melewati bahu Razik dengan cucuran darah yang menetes di atas lantai. Lekas lengan tangan Agnes dibekukan. "Jangan pergi, kondisi kamu belum cukup stabil sayang." jawab Razik lembut.
Agnes menatap tajam. "Lepaskan aku! Akan aku gugurkan bayi ini!" bola mata cokelat itu menyalak bagai api yang tengah berkobar-kobar.
"Dia anak kandungmu, tega kamu? Aku akan tetap menikahi kamu." Razik menjatuhkan putusannya.
"Aku hanya ingin menikah dengan Gifali, bukan kamu!" Agnes berteriak, ia memukul-mukul perutnya, menginginkan benih itu luruh.
"Gifali sudah menikah dan istrinya tengah mengandung, lagi pula kalian bersaudara." ucap Razik dengan nada yang sudah berubah tinggi. Razik mendapatkan banyak informasi dari Ramona perihal Gifali. Wanita itu pun terhenyak mengapa sang Kakak bisa mengetahui siapa Gifali.
Air mata Agnes tetap saja luruh berduyun-duyun. "Ini semua karena kamu! Aku tidak bisa merengkuhnya lagi! Kau jahat, Kak! Kamu hancurin hidup aku!" Agnes memukul-mukul dada Razik dengan brutal. Ia terus menangis sampai kembali jatuh pingsan.
"AGNES!"
Suara histeris yang terdengar dari ambang pintu kamar perawatan yang sudah di buka. Razik menoleh cepat ke sana ketika sedang menggendong tubuh Agnes ke pembaringan.
Tamara, Pramudya dan Adrian menatap tajam ke arah Razik. Terlihat Ramona tengah berdiri dibelakang mereka dengan leleran air mata.
Tidak ada pilihan lain, selain jujur dan mengatakan hal yang sebenarnya kepada mereka. Ramona memilih menghubungi keluarga Agnes untuk bertandang ke Rumah Sakit.
Setelah Agnes dibaringkan dalam keadaan tidak sadar. Razik melangkah dan menyalami mereka semua.
"Maafkan saya, Tante, Om ..." ucap Razik.
Tamara tidak terlalu meresponnya, ia melangkah sedikit lagi untuk sampai tepat di bibir ranjang. Adrian pun sama dan Ramona tetap mengekor dibelakang mereka.
"Bangun, Nak. Ini Mama dateng." ucap Tamara dengan tangisan.
"Mengapa bisa seperti ini, Mona?" Adrian menatap lekat bola mata kekasihnya. Air ludah berkali-kali Ramona telan, walau rasanya itu masih mengganjal di pertengahan kerongkongan. Ia hanya menunduk dengan air mata yang terus bercucur.
"Katakan ...!" Adrian mencengkram lengan Ramona. Sehabis menyeka air matanya, ia menggandeng tangan Adrian keluar. "Ikut aku, Kak." pintanya. Dan Adrian menurut dengan debaran jantung yang cukup kuat.
"Apa yang kamu lakukan dengan anakku?" tanya Pramudya kepada Razik.
"Agnes hamil, Om. Dan saya yang menghamilinya."
******
"Apa?" Adrian berteriak dengan kencang sekali di ujung koridor. Ia syok dengan penuturan Ramona. Semua yang terjadi dengan Agnes, Ramona beberkan semua.
Adrian masih melongo tidak percaya.
"Adikku seorang pecandu? Dan sekarang hamil?" desahnya dengan helaan napas yang berat. Mengusap wajahnya gusar beberapa kali.
"Lalu bagaimana kamu bisa tahu semua hal ini? Dan siapa lelaki tadi?" Adrian mendongak menatap Ramona yang masih berdiri memandang wajahnya sendu.
Ramona bersimpuh, dengan kedua lutut menyangga di atas dinginnya lantai rumah sakit. Lalu memeluk perut Adrian. "Maaf, Kak."
Adrian menatap tubuh Ramona. "Maaf? Maksudnya apa?" nada suara Adrian sudah meninggi.
"Lelaki yang kamu maksud itu adalah Kakak tiriku." jawab Ramona dengan menatap lurus bola mata Adrian.
Jdrr.
"Ampun, Kak. Aku minta maaf. Aku tidak tau akan seperti ini jadinya." Ramona masih meronta untuk meminta maaf. Dan Adrian masih saja membisu tidak percaya.
****
Pakk.
Tamparan keras mendarat di pipi Razik oleh telapak tangan Pramudya. Tamara di buat syok dengan penuturan Razik dan perlakuan Pramudya kepada lelaki itu. Pramudya sangat marah dan kecewa.
Samar-samar Agnes mengerjapkan matanya perlahan, suara berisik yang mulai menelusup telinganya membuat ia bergeliat dan sadar dari pingsannya. Agnes terus memegangi kepalanya yang masih pening. Ia kembali tersentak ketika melihat Tamara sudah berada di sisinya.
"Mah ..." desah Agnes panik. Tamara hanya bisa menangis terseguk-seguk dan belum bisa berkata apapun. Agnes kembali panik ketika menoleh ke depan. Ada Pramudya dengan Razik saling bertatapan. "Ada apa ini? Apakah Kak Razik sudah memberitahu Mama dan Papa?" Agnes membatin.
"Kamu sudah menghancurkan masa depan putri saya!" kelakar Pramudya. Lelaki bijaksana itu lepas kendali. Otot-otot hijau menyembul di sekitar permukaan lehernya.
"Maafkan saya, Om ... Saya menci---"
PAKK.
Pramudya kembali menampar Razik. Agnes melongo dan bangkit untuk duduk menatap mereka lebih jelas dari atas kasur. Air matanya menetes, meremas kain selimut karena malu.
"Putri saya?" gumam Agnes mengulang ucapan Pramudya dalam hatinya. Munculah wajah menyesal.
"Ini kah lelaki yang selama berbelas tahun aku benci? Aku muak dengan kehadirannya selama ini ditengah aku, Mama dan Kakak? Lelaki itu memikirkan masa depanku?" untaian penyesalan terus bercokol di benaknya.
Agnes kembali menangis.
"Mengapa bisa begini, Dek? Mama enggak pernah ajarin kamu hidup bebas seperti itu!" ucap Tamara dengan suara memelas.
Agnes beringsut memeluk Tamara. "Maafin Agnes, Mah. Ini semua enggak seperti yang Mama fikir."
Baru tahu Agnes hamil saja Tamara dan Pramudya sudah geram dan murka, entah apa jadinya jika ia tahu Agnes adalah pencandu narkoba dan Razik adalah bandar narkobanya. Hancur sudah keluarga itu.
Mendapat tamparan panas sebanyak dua kali dari Pramudya, tidak membuat Razik marah. Lelaki itu masih tersenyum sopan.
"Maaf, Om. Saya memang salah. Saya akan menikahi Agnes." ucap Razik, lalu ia menatap ke arah Agnes yang masih bergeleng tidak mau.
Pramudya masih berdiri memunggungi Agnes dan Tamara di ranjang. Lelaki paru baya itu menunduk ke atas lantai. Kedua tangannya masih ia letakan di atas pinggang. Pramudya memejam mata lama sekali dan terus berfikir.
Kejadian Agnes dengan Razik, sungguh mengingatkan lukanya kembali dengan Gita. Ia berhasil menghadirkan Gifali tanpa ikatan pernikahan.
Membuat Gifa tidak mempunyai nasab. Sampai mati ia hanya akan menyandang bin dari Sagita Haryani. Dan Pramudya sedih ketika penderitaan itu terulang kepada calon cucunya, dari Agnes. Bayi itu hanya akan menyandang nasab dari Agnes, tidak dengan Razik.
Sungguh prihatin, itulah bahayanya jika melahirkan anak diluar pernikahan yang sah.
"Pah, aku gak mau!" Agnes berteriak.
Pramudya menoleh dengan air di muka yang sudah banyak. Pramudya menggelengkan kepala dan kembali menoleh kepada Razik.
"Kamu harus menikahi Agnes ... Besok pagi!" ucap Pramudya kepada Razik. Razik membelalakkan mata. Tidak percaya dirinya, kalau ia akan sebahagia ini sekarang. Ia fikir, dirinya akan ditolak mentah-mentah. "Siap, Om. Akan saya siapkan segera untuk keperluan besok."
"PAPA!" Agnes kembali berteriak.
*****
Like dan Komen ya guyss❣️