My Sabbatical Wife

My Sabbatical Wife
Demi Kamu, Aku Sudah Siap.



"Selamat ya, ada tiga janin diperut Ibu."


Begitulah berita baik yang baru saja dr. Albert lontarkan kepada mereka, kedua matanya masih sibuk menatap layar usg. Namun kening Dokter lelaki paruh bayah itu seketika mengkerut menjadi beberapa lipatan bergelombang, ketika ia merasa tidak mendengar jawaban apa-apa dari Maura maupun Gifali.


Dan akhirnya dr. Albert memutuskan untuk menoleh dan menatap wajah mereka bergantian, lelaki itu aneh mengapa mereka berdua tidak memberikan respon apa-apa.


Dan


Ternyata.


Pasangan suami istri itu membeku, hembusan napas pelan mencuat dari wajah mereka. Maura dan Gifali terlihat sama-sama melongo. Mereka tercengang, tidak percaya.


Rusak kah indera pendengarannya?


Demi apa?


Ada tiga?


Maura dan Gifali saling bersitatap, tetap meluruskan pandangan. Tanpa mengeluarkan kata-kata yang sedang sama-sama mereka fikirkan.


"Pak?" panggil dr. Albert kepada Gifali.


"Bu." sambung Perawat mengelus lengan Maura.


Dokter dan perawat mencoba menyadarkan mereka berdua yang masih terlihat melamun.


Maura dan Gifali pun terkesiap, sepertinya kabut putih yang sejak tadi menutupi, telah sirna dari pandangan mereka. Pasangan suami istri itu kembali tersadar walau dengan napas yang semakin berat.


"Benar, Dok, anak kami ada tiga?" Gifali mengulang penjelasan Dokter. Debaran jantung lelaki itu bertalu-talu.


"Karena seminggu lalu ketika kami periksa, Dokter kandungan yang sebelumnya itu bilang kalau anak kami hanya satu."


"Iya, Dok. Apakah benar?" sambung Maura, raut wajahnya masih terlihat gugup. "Bukan penyakit kan ya, Dok?"


Dokter terkekeh geli. "Beneran kok, di sini saya temukan ada tiga janin. Ibu positif mengandung tiga bayi kembar. Mungkin saja seminggu yang lalu belum terlalu jelas untuk terlihat." jawab dr. Albert lalu mengulas senyum.


Samar-samar guratan bingung yang sedari tadi melekat di wajah Gifali mulai meredup, terganti dengan binar kebahagiaan.


"Masya Allah Tabarakallah ..." ucap Gifali.


Pemuda yang masih berusia 18 tahun itu langsung bersujud di atas lantai. Mengucap syukur atas nikmat dan karunia besar yang Allah berikan kepadanya.


Terdengar isak tangis pelan yang menetes kembali ketika ia sedang bersujud. Memang benar kata pepatah, selalu ada pelangi yang muncul sehabis hujan. Dan Allah memberikan pelangi ketika baru saja Gifali mengalami badai dalam kisruh keluarga besarnya.


"Terimakasih Ya Allah, nikmat mana lagi yang aku dusta kan." seru Gifali.


Maura menatap suaminya dengan senyum yang disertai dengan iringan tangis pelan. Ayah dan Bunda itu menitikan air mata dalam keharuan.


"Maha besar engkau, Ya Robb. Telah engkau percayakan tiga anak langsung untuk kami rawat, jaga dan bina." doa Maura dalam hatinya. Ia tidak henti mengelus perutnya, mengusap benih-benih cinta yang sedang berjuang untuk berkembang hidup.


Gifali beranjak berdiri. Ia menghampiri Maura ke ranjang dan bertukar posisi dengan Perawat yang sejak tadi berdiri disamping ranjang istrinya.


Gifali mengecup kening Maura. "Jaga anak kita ya, Bunda."


"Iya, Ayah Insya Allah, demi kamu dan mereka bertiga."


Gifali mengangguk dan kembali mengecup hangat kening istrinya. Hatinya begitu bahagia dan bangga. Lalu mendongak kembali menatap dr. Albert.


"Usia istri saya masih muda, Dok. Masih delapan belas tahun, apakah akan ada kontra indikasi nantinya?" tanya Gifali.


"Bapak sangat cerdas rupanya, baru saja saya ingin menjelaskan. Tapi sudah ditanyakan terlebih dulu, baiklah akan saya jelaskan." jawab Dokter lalu bangkit dari kursi bundar yang sejak tadi ia gunakan, ketika sedang menatap layar usg.


Maura pun dibantu untuk bangkit dan menuruni ranjang. Mereka berdua kembali duduk berhadapan dengan Dokter.


dr. Albert menyodorkan hasil print usg kepada Gifali dan Maura. Mereka berdua menatap gambar prinan usg bersamaan.


"Benar sayang, ada tiga." ucap Maura, wanita hamil itu tersenyum dan menjawil dagu suaminya. "Keluarga kita pasti senang."


Gifali menggenggam tangan Maura dengan erat, entah mengapa perasaanya tidak enak. Ia terus saja bergumam doa, agar apa yang dr. Albert jelaskan sesaat lagi tidak kembali membuat hati mereka menjadi rapuh.


"Hamil dalam usia dibawah 21 tahun memang sangat riskan. Walau kenyatannya banyak juga yang melahirkan dibawah usia Ibu." ucap dr. Albert sambil menatap Maura lalu bergantian kepada Gifali.


"Ada pasien yang datang ke saya dengan usia tujuh belas tahun. Ia bilang ingin program anak. Namun saya bilang sama pasien itu, kalau lebih baik menunggu empat sampai limat tahun lagi. Agar alat reproduksinya sudah benar-benar siap."


Baru saja mendengar awal pernyataan, membuat Maura dan Gifali bisa membaca hal yang tidak baik seperti sedang berjalan menghampiri mereka. Terlihat kedua pangkal bahu mereka serasa merosot. Mendadak lemas.


"Perempuan yang belum berusia dua puluh satu tahun, serviks dan rahimnya belum terlalu matang. Sehingga ada beberapa resiko yang bisa timbul."


"Maaf, Dok. Apa resikonya?" selak Gifali, lelaki itu terlihat khawatir.


Dokter Albert menghela napasnya sambil memperbaiki tata letak kaca mata ditulang hidungnya.


"Resikonya bermacam-macam. Bisa terjadi keguguran di awal-awal mengandung, bayi lahir prematur atau kematian janin di dalam rahim. Apalagi saat ini Ibu mengandung tiga bayi sekaligus. Tentu saya sangat mengkhawatirkannya."


DEG.


Maura meringis, ia mengigit bibir bawahnya karena takut. Ia kembali teringat dengan kejadian Bilka dan Abrar. Pun sama dengan Gifali, rasa bahagia yang belum lama ia rasakan, kini langsung berganti dengan rasa kekhawatiran. Jantung mereka kembali berpacu, napas terasa kembali berat.


"Lalu bagaimana cara menjaga istri dan bayi saya, Dok?" tanya Gifali, wajahnya sudah berubah mendung dan pucat. Tanpa sadar genggaman tangan itu merubah menjadi suatu remasan. Maura menatap genggaman tangan itu, lalu mengusapnya. Seraya untuk mengusir ketakutan yang sedang dirasakan oleh suaminya.


"Tenang sayang."


Maura masih mencoba untuk tenang sampai Dokter menjelaskan masalah mereka dengan tuntas. Biasanya Gifali yang akan bersikap dan berfikir bijak, namun karena masalah yang sejak kemarin belum terselesaikan ditambah lagi dengan keadaan Maura dan bayinya yang sangat riskan. Membuat dada Gifali kembali sesak. Lelaki itu tidak bisa berfikir jernih.


Dokter tersenyum menatap perubahan wajah Gifali yang sedang panik.


"Bapaknya sabar dulu ya, jangan langsung down."


"Maaf, Dok. Hal ini merupakan pengalaman pertama bagi saya." jawab Gifali jujur, ia tersenyum malu.


"Tidak apa-apa, Pak. Saya mewajari itu." jawab Dokter.


dr. Albert memaklumi kecemasan yang sedang mereka rasakan, pasangan suami istri dengan perangai yang masih sangat muda dan polos. Hanya mungkin tubuhnya Gifali saja yang sudah terlihat kekar dan bidang.


"Sesuatu hal yang akan menyebabkan akar masalah pasti ada solusinya. Dan saya ingin, kalian berdua menaati apa yang akan saya ucapkan, faham?"


"Faham, Dok." jawab Maura dan Gifali bersamaan.


Setidaknya hati mereka sedikit tenang karena dr. Albert memberikan banyak wejangan dari perihal makanan, minuman, susu, vitamin dan pola hidup yang sehat untuk mulai di jalani oleh Maura. Berhubungan badan hanya boleh dilakukan satu kali dalam seminggu.


"Dan satu lagi, Ibu tidak boleh stres. Aktivitas apapun yang membuat stres, tidak saya perkenankan. Buat hati istri Bapak selalu tenang dan senang."


"Dan untuk Ibu terutama, kendalikan rasa takut, rasa kesal, tidak cepat emosi, serta memupuk dalam hati kalau Ibu sudah yakin dan mantap untuk menjadi orang tua."


"Karena banyak saya temukan, pada pasien di usia seperti Ibu. Mereka banyak mengalami gangguan mental diperjalanan kehamilan. Ada banyak faktor, yaitu rasa ketakutan ketika sedang mengandung, rasa belum pantas menjadi seorang Mama, perubahan tubuh pada fisik, itu juga menjadi momok pengganggu."


"Tolong Bapak sebagai suami, harus bisa menjaga mood Istrinya. Harus selalu sigap untuk menenangkan jika Ibu sedang cemas atau gelisah."


Serentetan penjelasan Dokter, sudah khatam Gifali telan. Lelaki itu mengangguk berkali-kali sebagai tanda faham kepada Dokter.


"Apakah kamu sudah mantap mengandung dan menjadi Ibu untuk ketiga anak kita, Ra?"


"Iya sayang, Demi Tuhan. Untuk kamu. Aku siap."


*****


Masih mau satu episode lagi? Ayo, buat aku senang dulu dengan beri banyak like dan komen dari kalianšŸ¤—ā¤ļø


Duh Abang sayang banget sih sama istrinya.