
Part ini panjang ya guys. 2ribu kata lebih. Bacanya pelan-pelan ya.
.
.
.
.
.
Jantung Mama Difa berdegup cepat, ia hanya bisa mematung diam untuk menunggu apa jawaban dari Malik. Papa Galih tetap memandangnya dengan wajah tidak suka.
"Saya kesini untuk----"
"Karena untuk menemani kedatangan saya kemari." suara lain kembali menyelak. Sehingga Mama Difa dan Papa Galih kembali mendongak ke sumber suara.
Pasangan suami istri pun terhenyak. Mereka terdiam sebentar seraya mengingat, benarkah lelaki yang akan mereka serukan namanya memang benar Pramudya.
Baru saja bibir Galih ingin terbuka untuk menyebutkan nama Pramudya, ia kembali terselak karena mendengar suara kaget dari Maura dan Gifa.
"Hhh ..." desahan napas Maura terdengar. Mereka memundurkan langkah ketika sekilas menatap Pramudya, Tamara dan Pamannya sudah berada di pintu bertatapan dengan kedua orang tua mereka.
"Gifa, itu bukannya Pak Pramudya, Ibu Tamara dan Om Malik? Mengapa mereka ada di sini? Ayo kita masuk Gifa, sebelum Pak Pramudya tau status kita!" seru Maura panik. Ia berusaha menarik tangan suaminya kuat-kuat untuk kembali masuk kedalam.
"Maura ... Gifa jangan takut. Saya sudah tau semuanya." seru Pak Pramudya dari luar.
DEG.
Seketika langkah Gifa dan Maura terhenti, mereka berdua membisu namun saling bertatapan. Debaran jantung bertalu-talu, mereka rasa tidak ada kesempatan lagi untuk kabur dari kenyataan ini.
"Mungkin riwayatku akan habis di hari ini, Ra." desah Gifali, ia sudah pasrah jika ia akan dikeluarkan dari kampus.
"Kenapa mereka bisa di sini dengan Pamanmu----"
Suara Maura begitu saja terselak ketika Pramudya menerobos masuk ke dalam lalu melangkah cepat untuk menghampiri putranya yang masih mematung.
"GIFA ..."
"Pak." jawab Gifali dengan raut wajah takut.
"Gifali ... Anak Ayah." ucap Pramudya dengan nada memelas, raut nanar dan sendu.
DEG.
Semua orang mengerutkan kening, kecuali Tamara dan Malik. Gifali masih mematung di posisinya, ditemani Maura dengan wajah yang masih termangu tidak percaya.
"Anak Ayah?" Gifa mengulang ucapan Pramudya. Guratan aneh muncul di wajahnya.
"Kamu adalah anak kandung Ayah dengan Bunda mu, Sagita Haryani."
"APA?" suara nyaring itu bukanlah mencuat dari bibir Gifali, tetapi dari Papa Galih. Lelaki itu menghampiri Pramudya dan Gifali yang masih saling berhadapan. Ia meninggalkan Mama Difa, Malik dan Tamara yang masih berdiri di ambang pintu utama.
"Apa maksud kamu, Pramudya?" Papa Galih menajamkan kedua matanya. Kedua rahangnya mengencang, wajahnya samar-samar berubah menjadi merah.
"Papa kenal dengan Pak Pramudya? Beliau ini Dekan nya Gifali di kampus, Pah." ucap Maura.
Gifali masih saja membisu, sembari terus berfikir dalam terawangan jauh. Mencerna bahwa apa yang ia rasakan saat ini bukanlah mimpi.
"Iya, Ra. Papa kenal lelaki ini. Pramudya adalah sahabat kami di sekolah." jawab Papa Galih.
Sontak penjelasan itu membuat Gifali tersadar dari lamunannya.
"Papa sudah mengenal Pak Pramudya?" Gifali mengulangi untuk memastikan bahwa pendengarannya tidak salah.
"Iya, Gifa. Papa, Mama, Bunda mu dan dia adalah kawan lama." jawab Papa Galih. Lelaki itu kembali menoleh.
"Lalu apa maksud kamu tadi?" Papa Galih langsung mencengkram kerah Pramudya.
Semua orang yang melihat pun berseru. Gifali, Papa Bilmar dan Malik langsung melerai mereka.
"Ini semua bisa dibicarakan baik-baik, Mas." pinta Papa Bilmar. Lelaki itu pun terlihat syok dengan sikap besannya.
"Pah, jangan. Ini Dekan Gifa, Pah." ucap Gifali.
"Saya bukan hanya Dekan kamu, Nak. Tapi juga Ayah kamu." Pramudya terus saja menjelaskan hal itu kepada Gifali dengan susah payah. Karena lehernya di cengkram begitu saja oleh Papa Galih.
Dua bola mata Papa Galih semakin menyalak-nyalak. Menatap benci ketidaksukaan.
"Kamu boleh benci, Lih. Tapi kenyataannya, saya memang Ayah kandungnya Gifali. Saya yang mengambil kehormatan Gita di malam itu, dan akhirnya menghasilkan benih yang tidak berdosa."
"Astagfirullohaladzim." Mama Difa menutup mulut dengan kedua tangannya.
Bagai disambar ribuan halilintar menampar batin Papa Galih dan Mama Difa. Mereka tertohok tajam. Dada mereka terasa remuk, susah sekali untuk menelan ludah yang sudah berkumpul banyak di dalam mulut. Air bening begitu saja lolos terjatuh dari kedua pelupuk mata Mama Difa.
"BANGSATT!"
BUG.
Papa Galih langsung mendaratkan tinjuan panas di pipi Pramudya. Lelaki itu pun terhuyung ke bawah. Buru-buru Papa Bilmar dan Gifali memegang lengan Papa Galih untuk melerai sedangkan Malik memegang tubuh Pramudya yang tersungkur. Tamara pun berlari untuk menolong suaminya.
Ia menatap garang ke arah Papa Galih. "Masalah ini bisa kan dibicarakan baik-baik? Kenapa harus di awali dengan perkelahian!" sentak Tamara.
"Mama ..." sergah Pramudya, walau sudah dipukul. Ia tetap bisa bersikap bijak. Berbeda dengan Papa Galih yang sudah kepalang emosi, ditambah lagi ia benci mengapa Pramudya datang bersama Malik. Mengapa harus lelaki ini lagi.
Mama Difa berlari menghampiri suaminya. "Tenang dulu, Pah. Masalah ini bisa kita bicarakan baik-baik."
Papa Galih menghela napasnya kasar. Gerakan dadanya terlihat naik turun. Kedua tangannya terus mengepal karena menahan amarah.
"Bagaimana bisa Pak Pramudya ayahnya suamiku, Mah?" desah Maura kepada Mama Alika.
"Sabar, Nak. Tenang dulu." Mama Alika menenangkan Maura.
*****
Kini mereka semua sudah duduk di sofa. Di bangku panjang Papa Galih duduk diantara Mama Difa dan Gifali, disebelah Gifali ada Maura, Mama Alika dan Papa Bilmar. Lalu dihadapan mereka ada Malik, Pramudya dan Tamara. Mereka duduk saling berhadapan.
"Jelaskan sekarang!" titah Papa Galih dengan nada lugas. Membuat bulu-bulu halus di tengkuk semua orang yang mendengar menjadi meremang.
Dengan tegap dan berani, Pramudya membuka suaranya. Ia mulai menjelaskan duduk permasalahan dulu dengan Gita, mengapa ia bisa meninggalkan bayi yang tengah di kandung dengan penjelasan rapih, rinci dan jujur.
"Yang saya tahu, Gita bilang kepada saya, kalau ia sudah mengaborsi anak kami. Dia tetap bersikeras ingin menjadi istri kamu, Lih. Di saat itu saya syok, karena anak saya sudah meninggal. Maka saya lebih memilih pergi meninggalkannya untuk memulai hidup baru di negara ini." Pramudya mengakhiri penjelasannya.
Maura tetap menggenggam tangan suaminya, seraya menguatkan, sesekali mengelus lembut bahu Gifali, dan suaminya hanya termenung. Masih fokus mendengarkan dengan baik apa yang sedari tadi dijelaskan oleh Pramudya. Ia hanya memandang datar tanpa senyuman. Ia merasa begitu malu, mengapa ia bisa terlahir dengan keadaan seperti itu.
Anak haram. Mungkin itu yang sedang terngiang-ngiang di telinga nya. Ia malu kepada istri dan mertuanya.
"Dari awal kedatangan Gifali di kampus. Saya merasa dia adalah anak kandung saya. Karena wajahnya mirip sekali dengan Gita. Tetapi saya tepis terkaan itu, ketika saya mengetahui nama kalian yang berada di akta kelahirannya."
"Maka dari situ saya memutuskan untuk pergi ke Indonesia mencari Gita, dan akhirnya saya menemukan Pak Malik sebagai jembatan saya untuk bisa menguak jati diri Gifali."
Mama Difa dan Papa Galih menoleh dan menatap Malik. Malik pun menyambut tatapan mereka tetap dengan tatapan teduh dan bijak.
Air bening begitu saja menetes jatuh dari kelopak Mama Difa dan Papa Galih. Mereka merasa bukan lagi satu-satunya yang bisa memiliki Gifali secara utuh, ada orang tua kandungnya yang bisa merebut Gifali dari tangan mereka setelah ini.
"Ini surat yang pernah dibuat oleh Gita sebelum ia melahirkan. Ketika ia merasa umurnya tidak akan lama lagi." Malik mengeluarkan sebuah surat wasiat yang Gita buat dan meletakkannya di meja.
Papa Galih langsung menyambar surat itu dan membacanya. Tangannya bergetar dengan air mata yang terus saja menetes. Membaca surat itu bertiga dengan istri dan anaknya.
Lelaki itu terlihat menahan napas dan memegang dadanya, rasa sesak dan linu bercampur menjadi satu. Hatinya begitu tertekan, karena pedih dan sakit. Tega dibohongi mentah-mentah oleh wanita laknat yang mungkin akan menjadi kerak di neraka.
Mama Difa menangis terisak, ia menundukkan kepalanya di pangkal bahu suaminya.
"Suamiku memang tidak pernah bersalah, ia memang tidak pernah berkhianat! Aku yang salah, aku yang jahat!" Mama Difa membatin.
Gifali terus menatap Pramudya, dengan tatapan datar dan kosong.
"Mengapa bisa seperti ini." desahnya pelan.
Lalu
Stimulus otak Papa Galih berjalan pesat. Ia meremas surat itu lalu berdiri dan beringsut mendekati Malik. Menarik kain baju lelaki itu dan menatapnya tajam.
"Jadi selama ini, kamu sudah tahu bahwa saya tidak bersalah! Saya tidak pernah melalukan hal itu kepada Gita! Saya tidak pernah menghianati Difa! Jadi kamu sudah tau kan selama ini?"
Lalu
BUG.
Papa Galih kembali mendaratkan kepalan tangannya di tulang pipi Malik. Lelaki itu pun tersungkur menimpa tubuh Pramudya.
"BANGSATT ... SIALANN!" kelakar Papa Galih. Ia kembali menarik baju Malik, agar lelaki itu bangkit dari sofa.
Dan
BUG.
Ia kembali menghajar Malik. "Berani sekali kamu menutupi rahasia ini! Kamu ingin membuat saya dibenci oleh Nadifa seumur hidup? Karena sudah menjadi penghianat? Kamu tahu rahasia itu tetapi lebih memilih bungkam! Ingin membuat saya bersalah seumur hidup kepada Difa!" kelakar Papa Galih.
BUG.
Pukulan kembali didaratkan. Malik kembali tersungkur, lalu ditarik dan dipukul kembali. Papa Bilmar, Gifali dan Pramudya pun tidak tinggal diam.
Papa Bilmar dan Gifali kembali memegang Papa Galih, dan Pramudya tetap membela Malik. Memisahkan mereka berdua agar tidak kembali bergulat.
"Bukan maksud saya seperti itu, Lih. Demi Tuhan." lirih Malik. Terlihat wajahnya mulai memancarkan bulatan keunguan seperti Pramudya. Dua lelaki itu sudah habis di pukul oleh Papa Galih.
"Mengapa kamu selalu mencampuri urusan rumah tanggaku? Apa tidak cukup dulu kamu pernah merebut cinta istriku!"
DEG.
Semua orang kembali dibuat tertohok. Kini pusat mata beralih kepada Mama Difa dan Malik. Mama Difa hanya bis menangis, karena luka dan dosanya kembali dibuka.
"Papa." sentak Gifali. Wajahnya berubah merah, ia tidak suka jika Papanya harus menguak masa lalu Mamanya.
"Galih demi Tuhan. Sudah lama saya dan Kinanti ingin mengambil hak asuh untuk Gifali. Namun kalian selalu enggan, dan terlebih lagi saya tidak tega kalau melihat Nadifa bersedih karena kehilangan Gifali." Malik menatap Mama Difa sendu.
"DASAR BAJINGANN! JANGAN TATAP ISTRIKU!" seru Papa Galih.
Otot-otot hijau tercetak jelas di pelipis dan disekitar kulit tenggorokannya. Lelaki itu mengerang. Kekuatannya kembali muncul. Ia melepaskan tangannya yang sedari tadi dipegang oleh Gifali dan Papa Bilmar.
Pag.
Papa Bilmar seketika menjauh, ketika tidak sengaja hentakan tangan Papa Galih mengenai wajahnya.
"Ah, Papa." seru Mama Alika dan Maura. Mereka pun menghampiri suami dan Papanya. "Papa nggak apa-apa, Pah?" tanyanya sambil memeriksa mata suaminya.
"Sana, Mah. Jangan di sini, nanti kamu kena pukul." Papa Bilmar mentitah istrinya untuk tenang dan kembali ke sofa. "Maura juga sana, temani Mama mertuamu." titah Papa Bilmar kepada Maura.
Papa Bilmar bergegas lagi memegang tubuh Papa Galih untuk menjauhkannya dari Malik. Papa Galih kembali memukuli Malik tanpa ampun. Para lelaki sekuat tenaga melerai tetapi tenaga lelaki itu semakin dahsyat.
"Papa udah, Pah." seru Mama Difa sambil menangis.
"Sabar, Mah." Maura memeluk Mama mertuanya. Mama Alika hanya bisa merangkul, ia sulit untuk berkata-kata.
"Sudah, Mas. Nanti dia mati!" seru Papa Bilmar. Ia berhasil menarik Papa Galih untuk menjauh dari tubuh Malik yang sudah terkulai dengan babak belur di wajah. Seperti sudah puas menumpahkan rasa benci yang selama ini masih bertahta di jiwanya.
"Om ... Om!" seru Gifali. Ia menepuk-nepuk pelan pipi Pamannya yang mulai menutup mata tidak sadarkan diri. Pukulan Papa Galih memang sangat membabi buta. Dengan napas yang terengah-engah, Papa Galih masih ingin melancarkan aksinya.
"Mas, Mas, jangan! Kamu bisa masuk penjara nanti!" sergah Papa Bilmar. Lelaki itu tetap membekukan langkah Papa Galih yang sedari tadi ingin kembali menghajar Malik.
"Ayo di dibaringkan ke sofa." titah Papa Bilmar kepada Galih dan Pramudya. Mereka pun mengiyakan dan memapahnya untuk dibaringkan.
"Mama tolong obati lukanya." pinta Papa Bilmar kepada Mama Alika.
"Et, et, Maura aja. Jangan Mama!" Papa Bilmar kembali berseru. Ia menghentikan langkah istrinya yang baru saja beranjak. Jangan lupakan, ia juga lelaki pencemburu. Tidak mau istrinya memegang wajah atau tubuh lelaki lain. Mama Alika hanya mendengus kesal karena sikap suaminya sama saja seperti sikap besannya.
Maura pun ke dapur mengambil air hangat untuk mengompres luka serta membawa obat antiseptik. Mama Difa hanya bisa menangis di sofa menatap Malik.
"Maafkan suamiku, Pak." desahnya pelan. Ia ingin menolong untuk mengobati luka. Tapi ia takut suaminya akan kembali marah.
"Gifa, ini Ayah, Nak. Ayahnya kamu." ucap Pramudya, mengelus lembut punggung Gifali. Gifa yang masih setengah berjongkok menatap Malik kemudian menoleh menatap Pramudya. Melihat bola mata lelaki itu sudah di penuhi kaca-kaca.
"Ayah?" seru Gifali. Samar-samar garis senyumnya terangkat sempurna. Air mata Gifa pun lolos dan membasahi permukaan pipinya.
"Iya, ini saya. Ayah kandung kamu, Nak."
Mereka berdua pun akhirnya saling memeluk, menangis bersamaan dalam dekapan hangat. Pramudya dan Gifali saling menyerukan nama. Kebahagiaan kembali menerpa Gifa dan Pramudya. Hidup mereka terasa tidak pincang lagi.
"Ayah." seru Gifa berulang-ulang dengan segala isak tangisnya.
"Iya, Gifa. Kamu itu anak Ayah ... Putra kandungku!" jawab Pramudya yang ikut menangis.
Mereka terus memeluk menumpahkan segala kerinduan. Lebih tepatnya Pramudya yang bisa bernapas lega karena sang putra bisa menerima kehadirannya.
"Lepaskan saya, Mas." ucap Papa Galih kepada Papa Bilmar yang sama-sama masih termenung menatap anak dan menantunya tengah berpelukan mesra dengan Pramudya. Papa Galih melangkah mendekati istrinya yang masih terduduk di atas sofa sambil menangis.
"Ayo kita pulang dari sini, Mah. Kakak sudah menemukan lagi orang tuanya."
Sontak mendengar ucapan itu membuat Gifali melepas pelukannya lalu menoleh dan bangkit berdiri.
"Pah ... Mah." serunya.
Papa Galih tidak mau mendengarkan seruan dari sang anak. Ia tetap menggandeng tangan Mama Difa untuk beranjak bangkit dari sofa, dan membawanya menuju kamar tidur mereka.
Ingin membereskan baju dan bergegas pulang ke Indonesia. Papa Galih cemburu dan sedih, karena kenyataanya Gifali masih memiliki Ayah kandung. Bukan lagi dirinya yang menjadi Ayah satu-satunya bagi sang anak. Anak yang sudah ia besarkan dari bayi sampai menikah.
*****
Bagaimana perasaan kalian setelah membaca huru-hara yang baru saja terjadi? Kasih komen ya sebanyak-banyaknya. Kalau tembus 200 komentar. Akan aku up lagi.
Sabar ya Papa Galih, aku tau. Cemburu mu itu karena kasih, sayang dan cinta.