My Sabbatical Wife

My Sabbatical Wife
Karena Gifali hanya MILIKKU, SUAMIKU!



"Ra ..." panggil Berta. Maura dan Ramona menoleh ketika mereka sedang mengaduk bahan adonan kue. Ada tugas praktek yang harus dikumpulkan siang ini.


"Kenapa, Ta?" tanya Maura.


"Itu ada Kakak kelas yang nyariin lo." Berta membawa arah mata mereka kedepan kelas.


"Mana orangnya?" Ramona pun mencari sosok yang ingin bertemu dengan temannya itu.


"Ada kok di depan, udah sana." Berta menyuruh Maura untuk cepat menghampiri orang itu.


"Mau gue temenin, Ra?" tanya Ramona.


"Nggak usah biar aku aja, kamu terusin aja ya." ucap Maura, ia melarang Ramona untuk menemaninya, karena ia takut yang datang untuk menemuinya adalah Gifali. Berta sengaja tidak mau memberitahukan nama si pencari, karena ia sudah di ancam oleh Agnes sejak awal, Agnes takut Ramona akan menggagalkan pertemuan mereka.


"Ra ..." Agnes memanggil Maura. Maura menoleh ke sisi barat dan ia menemukan Agnes yang setengah berlari mendekatinya.


Maura merasa aneh, ada hal apa gerangan wanita ini mencari dirinya. Dengan senyuman manis, Maura menyambut kedatangannya dengan sopan.


"Apa apa, Kak?" tanya Maura.


Agnes yang baru sampai dengan napas terengah-engah, mulai mengatur ritme napasnya agar kembali normal. Ia menggandeng tangan Maura untuk berjalan mengikutinya ke tempat yang akan ia tuju.


Dan di sini lah mereka berada, di dalam suatu kelas kosong yang tidak berpenghuni. Maura menjengit takut, ia semakin aneh dengan gerak-gerik Agnes.


"Kak, mau ngapain aku?" tanya Maura polos, ia pun takut dan gelisah.


"Duduk dulu, Ra. Tenang gue nggak ngapa-ngapain lo kok!" jawab Agnes tersenyum lalu mendudukkan Maura di kursi secara paksa. Ia pun menarik kursi yang lain untuk duduk disebelah Maura.


"Gifali itu Kakak lo kan?" tanya Agnes tanpa filter dan basa-basi.


Dua bola mata Maura membeliak hebat.


Deg.


Jantungnya seketika berdebar-debar tidak karuan.


"Kok, Kak Agnes bisa tau? Apa dia tau ya kalau aku sudah menikah? Wah, gawat nih!" batin Maura.


Wanita itu semakin gelisah dan gugup. Maura lupa kalau Gifali pernah membawakan surat sakitnya untuk izin tidak mengikuti ospek dulu satu bulan yang lalu kepada Agnes.


"Ii--ya, Kak. Memangnya ada apa?" tanya Maura ragu-ragu, tapi ingin tahu.


Agnes mengubah raut wajah sebaik putri salju kepada Maura. Ia malu pernah memaki, membuat malu dan menghukum Maura dengan alasan yang tidak masuk akal.


"Gue mau minta nomor ponsel Kakak lo boleh nggak, Ra? Please ya ..." Agnes memohon sampai menggenggam tangan Maura, meminta belas kasih dari wanita itu.


"Maksudnya gimana, Kak? Buat apa?" Maura mengerutkan keningnya menjadi beberapa lipatan. Ia aneh dan bingung melihat sikap Agnes yang seperti cacing kepanasan.


"Buat gue simpen nomornya, Ra. Gue mau kenalan sama Kakak lo, nggak apa-apa kan?"


Lagi-lagi Maura tersentak, ia kaget setengah mati melihat wajah Agnes yang berubah jadi anak solehah. Begitu manis, bertutur kata lembut dan tentunya tidak tahu malu.


"Kakak lo belum punya pacar, kan?"


Netra gelap milik Maura seperti ingin rontok dari kelopak matanya. Telak-telak ia tahu ada wanita yang datang kepadanya, untuk meminta belas kasihnya agar bisa dekat dengan lelaki yang melainkan suaminya sendiri.


Kalau Maura tidak menghargai Agnes dan sedang menutupi status pernikahannya dengan Gifali, sudah dipastikan Agnes akan berteriak karena rambutnya dijambak, minimal ada kebiruan disekitar wajahnya. Walau Maura mempunyai hati sabar dan seindah lembayung senja, dia tetap tidak mentolerir siapa pun yang ingin mengambil miliknya yang berharga.


"Karena Gifali hanya MILIKKU, SUAMIKU!" kecam Maura dalam hatinya. Tatapannya kepada Agnes langsung berubah drastis. Terlihat sengit dan tajam, Agnes pun merasa aneh dengan perubahan sikap Maura.


Ia sedikit takut dengan perangai Maura yang tatapannya melebihi ketajaman mata artis Suzzana, ketika sedang berperan sebagai kuntilanak.


"Lupain aja, Kak Gifa, Kak." jawab Maura. Sontak ucapan itu membuat raut wajah Agnes juga ikut berubah. "Loh, kenapa---"


"Karena Kak Gifa sudah bertunangan, kekasihnya di Indonesia. Tahun depan mereka akan menikah." selak Maura. Ia sengaja beralasan seperti ini, karena ia sudah tidak ada pilihan, Maura harus bersiaga, ia takut Agnes akan semakin mengejar Gifali.


Mendengar jawaban itu membuat Agnes seketika menjadi kaku. Dua bola matanya bergerak kesana kemari, napasnya kembali terengah-engah. Seperti ada tamparan dashyat yang baru saja ia rasakan.


Agnes kecewa? Sudah pasti! Ia tidak akan menyangka kalau si tampan itu sudah memiliki kekasih.


Agnes memegang dadanya, ia merasa amat terpukul.


"Kaget ya?" tanya Maura seperti meledek.


Agnes mengangguk lalu menundukkan kepalanya. Menghembuskan napas yang keluar dengan kasar. Ia pun langsung beranjak dari kursi dan berlalu meninggalkan Maura tanpa ucapan pamit. Agnes patah hati kembali.


"Lebih kaget lagi, kalau kamu tau aku lah istrinya!" ucap Maura. Seperti ada kepulan asap yang keluar dari kepalanya.


"Lagian kok bisa sih, Kak Agnes tau tentang Gifa? Apa mereka pernah bertemu? Lalu kenapa Gifali tidak pernah cerita?"


Maura terus saja di bakar api cemburu. Kekurangan yang ia punya adalah rasa cemburu yang suka berlebihan, dulu ketika masalah Gadis, Maura sempat ingin mundur karena ia tidak bisa menahan cemburu kalau Gifali dan Gadis sedang dalam ruangan yang sama, padahal saat itu ada dirinya juga di sana.


Maklum, Maura sudah merasakan diduakan, ditinggalkan oleh Gifali beberapa waktu yang lalu. Ia seperti orang trauma kalau melihat ada orang yang ingin merenggut suaminya.


"Gifali harus menjelaskan tentang hal ini kepadaku!" Maura mengepalkan tangannya, wajahnya terlihat geram dan marah.


"Aku bisa sabar, kalau harus mengikuti semua kesusahan hidup yang sedang kita jalani, tapi tidak dengan adanya wanita lain!"


Maura pun beranjak pergi untuk kembali ke kelas. Wajahnya merungut dan kesal.


"Lo kenapa, Ra?" tanya Ramona yang masih menyalakan mixer di dalam panci kue.


Maura menggelengkan kepala, ia hanya memberikan senyuman tipis kepada Ramona sebagai respon bahwa ia tidak sedang kenapa-napa. Jika saja Maura bisa berbicara dengan jujur kepada Ramona perihal Agnes, sudah ia lakukan sedari tadi untuk melampiaskan rasa kekesalannya.


"Eh iya, Ra. Besok temenin gue yuk."


"Kemana, Ramona?" tanya Maura sambil memasukan lelehan mentega kedalam adonan.


"Besok, sehabis pulang kampus, ada acara makan siang dirumah pacarku. Aku agak sungkan kalau sendirian. Lagian juga aku mau kenalin kamu sama Kekasihku." ajak Ramona.


Maura terdiam sejenak, seraya menimang-nimang permintaan Ramona.


"Ayolah hanya bentar, Ra. Makan siang aja, lo selalu aja nolak setiap gue ajak main, please ya, sekali ini aja temenin gue." pinta Ramona dengan wajah manja seperti anak bayi yang tengah merengek meminta susu kepada sang ibu.


"Iya udah, tapi jam tiga sore aku sudah harus ada dirumah ya, Ramona." jawab Maura. Karena jam tiga sore ia harus sudah berada di hotel untuk bekerja. Sepertinya menerima ajakan Ramona, tidak ada salahnya setelah menolak beberapa kali ajakan Ramona untuk main setelah pulang kuliah.


"Tenang, Ra. Nanti pulangnya aku anterin sampai kostan, deh." Ramona terus saja merayu, ia pun sekilas memeluk Maura karena merasa sangat senang.


Maura mengangguk dan menjawil pipi Ramona karena gemas. Ia senang karena melihat Ramona bahagia, tentu selama mereka berteman, Ramona sering mentraktir Maura, padahal Maura sudah menolak. Itu memang hanya ucapan terimakasih dari Ramona, karena Maura mau mengajarinya masak memasak.


Sesugguhnya Maura belum tahu, kalau kekasih Ramona adalah Adrian, Kakak lelaki dari seorang Agnes. Bagaimana nanti pertemuan Gifali dan Maura dirumah Pramudya?


*****


Like dan Komen nya ya guyss❤️