
Satu bulan sudah Gifali, Maura dan Five G tinggal dirumah baru pemberian Papa Galih dan Mama Difa. Rumah berlantai dua dengan total delapan kamar dan empat kamar mandi.
Rumah yang asri, mempunyai lahan kebun yang cukup luas dan kolam renang, sungguh idaman Gifali yang terus ia syukuri. Mendoakan keselamatan dan kesehatan orang tuanya tanpa henti, entah bagaimana mengucapkan terima kasih, yang jelas dirinya sudah berjanji akan selalu mengabdi kepada keluarga Hadnan selamanya.
Tahu jika Gifa menerima pemberian dari keluarga Hadnan, Papa Bilmar berang. Pasalnya ia juga ingin melakukan yang sama untuk permata hatinya, Maura. Papa Bilmar memaksa untuk membelikan mobil, sopir dan baby sitter guna mengantar anak-anak mereka ke sekolah dan menjaga Five G ketika Maura sedang kuliah dan Gifali bekerja.
Tapi semua itu di tepis oleh Gifa dan Papa meradang lama. Sampai akhirnya permintaan Papa di kabulkan hanya untuk membelikan furniture rumah yang masih kurang, dan tentu saja Papa membelikannya dengan harga yang spektakuler.
"Apa tidak sebaiknya kita menerima permintaan Papaku, Gifa. Mungkin beliau khawatir dengan aku dan cucu-cucunya." ucap Maura ketika meyakinkan hati suaminya untuk menerima bantuan lagi dari Papa Bilmar perihal mobil, sopir dan baby sitter atau art.
"Bukan aku tidak mau. Aku malu dengan Papamu. Belum bisa membuat anaknya berhasil, malah sekarang mendapatkan bantuan. Aku merasa gagal menjadi suami." jawab Gifa sendu, menatap langit malam dengan hembusan angin dingin. Saat ini mereka sedang berbincang hangat di teras belakang rumah yang menghadap kolam renang.
"Tapi kita memang membutuhkannya. Anggap saja kita berhutang dan mencicilnya ke Papa. Jadi uang yang tidak jadi untuk membeli rumah, bisa Ayah pergunakan untuk memulai bisnis. Aku juga ingin meminta ijin untuk mengelola usahaku lagi. Lumayan, Yah. Bunda bisa membantu Ayah ..."
Gifali tertunduk, tengah berfikir keputusan apa yang harus diambil. Apa yang dikatakan istrinya memang benar semua. Kuliah Maura saja mahal, belum biaya praktek dan lainnya.
Bersamaan itu ketiga anaknya sedang sekolah walau masih dengan biaya yang murah, tapi kan umur mereka terus berjalan dan akan menginjak sekolah dasar.
Belum lagi keperluan Ginka dan Gheana, masih bayi. Masih juga harus kontrol ke Rumah Sakit untuk imunisasi. Sekali imunisasi saja harga nya sudah mahal.
Kemarin saja mereka harus merogoh ratusan ribu, itu saja karena jasa Dokter dan administrasi Rumah Sakit di free 'kan, karena tahu Maura adalah anak pemilik Rumah Sakit. Bisa saja semua digratiskan, tapi lagi-lagi Gifa menolak. Ia tidak enak kepada Mama mertuanya.
Ya begitulah, Gifa. Ia tidak mau merepotkan orang, hatinya teramat peka.
"Gaji Ayah hanya cukup untuk makan sehari-hari, kebutuhan rumah dan kelima susu anak kita. Ayah 'kan tau, kita sudah bertujuh sekarang, anak-anak lahap makannya dan susunya juga kuat, belum lagi vitaminnya. Bunda enggak mau Ayah nanggung beban sendirian, ijinin Bunda untuk membantu."
Bukan untuk merendahkan suami dengan hasil yang Gifali berikan. Tapi Maura hanya tidak mau, suaminya tercekik sendiri. Ada dirinya yang juga bisa menghasilkan.
"Bunda ingin meringankan beban Ayah. Bunda janji tidak akan melupakan kodrat Bunda sebagai Ibu dan Istri."
Jika saja Gifali mau menerima tawaran untuk bekerja di Hadnan Group atau di Eco Group. Sudah dipastikan puluhan juta sudah menantinya tiap bulan. Gifali sejenak terdiam dengan fikiran yang melalang buana entah kemana. Sedang menimang kata-kata istrinya.
"Baiklah kita ambil bantuan Papa, tapi aku akan membayarnya dengan mencicil, kita berhutang. Dan Bunda boleh ke toko kue tapi tidak setiap hari. Aku takut kamu capek. Nanti kuliahnya jadi tidak fokus."
Pasalnya Gifali sudah merogoh uang tabungannya dalam jumlah yang besar untuk membayarkan biaya kuliah Maura. Ia tidak mau terulang lagi kegagalan seperti di London empat tahun yang lalu.
Mendengar ucapan itu hati Maura senang. Dirinya peluk lelaki itu. Menghujaninya dengan berbagai kecupan di wajah Gifali.
"Makasih Ayah, makasih banyak."
Gifali mengangguk dengan senyum. Walau jujur dalam hatinya, ia masih enggan untuk menuruti semua ini. Tapi mau bagaimana lagi, ia tidak punya daya dan upaya.
"Aku bersyukur punya istri sebaik dan sesoleha kamu, Ra ..." lirihnya dalam batin. Mendekap tubuh Aisyah-nya dengan penuh cinta, menikmati indahnya malam berdua ketika semua anaknya sudah tertidur.
***
Hari ini Maura akan di opsek menjadi mahasiswa baru. Walau umurnya menjadi lebih tua dibandingkan mahasiswa baru lainnya. Bodo amat katanya, yang penting dirinya tetap kuliah. Ia sedih, coba saja dulu tidak kuliah di London, mungkin ia masih bisa menimba ilmu bersama Luna, sahabatnya.
Tapi waktu yang sudah berlalu tidak bisa disesali. Ia tahu tidak mempunyai kantung ajaib seperti doraemon untuk bisa menatap waktu di masa lalu.
Ginka dan Ghea sudah di susui dan di mandikan terlebih dulu sebelum Maura berangkat ke kampus. Menitipkannya kepada Baby sitter dan art dirumah. Gifali memilih tidak kerja hari ini karena ingin menunggui Maura seharian di pelataran kampus. Ia takut istrinya butuh sesuatu.
Dengan sikap Gifa yang seperti ini membuat Maura berkali-kali jatuh cinta padanya.
Triple G juga merengek ingin ikut, mereka mogok sekolah karena ingin menemani Bundanya. Terlebih sedari diperjalanan Triple G terus tertawa-tawa, menertawakan Bundanya.
"Bunda kan mau sekolah, jadi harus kayak begini." tutur Gifali. Lelaki itu masih fokus memutar-mutar stir kemudinya sambil memangku Geisha yang kembali tertidur. Karena masih pagi sekali dan udara terbilang dingin. Seperti biasa dirinya belum mandi.
"Tapi ke cekolah maca pakai tas nya jelek. Bunda mau ndak pakai tas Adek aja?" ucap Dipta dengan wajah yang belepotan bedak tabur. Ia menunjuk tas karung dengan tali tambang sebagai pegangan di pangkuan Bundanya.
Maura terenyuh dan mencium Bisma dan Dipta bergantian. Hatinya berdesir kuat sekali karena mereka begitu memperhatikan dirinya.
"Selama menunggu di mobil dengan Ayah, jangan ribut dan berisik ya!" titah Maura.
Dua anak baik itu mengangguk.
Tak lama, Geisha menggeliatkan badan. Ia terbangun dan menoleh ke arah Bundanya. Mengulurkan tangan agar Maura meraih dan menarik tubuhnya keatas pangkuannya.
Geisha menguap. "Ih bau tigong!" seru Bisma dan Dipta sambil membekap mulut. Karena posisi dua anak itu sedang berdiri tepat dibekakang dipertengahan jok Ayah dan Bundanya.
Geisha tertawa dan meng hah kan napasnya.
Bukan hanya Bisma dan Dipta yang kelojotan akan baunya, tapi Gifa dan Maura pun sama.
"Matan apa cih kamu. Kok bau banet." ujar Bisma.
"Iya nih Kakak bau. Aku ndak cuka ah!" Dipta mengibaskan tangan di kedua lubang hidungnya.
Geisha malah tertawa-tawa. Sepertinya nyawanya sudah berkumpul lagi. Ia beranjak ingin menerjang Bisma dan Dipta yang sontak memundurkan diri ke belakang.
"Hah ... Hah. Hihihi." si bocah jahil tetap saja menggoda saudaranya dengan desahan napas.
"Ahh bauu ... bau eek!" seru Dipta tidak tahan.
"Iya nih lebih bau dali eeknya dedek Gika dan Geya." tambah Bisma. Geisha tetap memaksa agar Bisma dan Dipta membuka capitan jari di lubang hidungnya.
"Hah ... Hah. Racain nih wanginya. Hihihi." suara tawa Geisha yang nyaring dan terdengar lucu dan menggemaskan begitu menggema di dalam mobil.
"Kelakuan anak kamu, Yah." ucap Maura. Entah sejak kapan si wanita berhati baik seindah lembayung senja sudah menempel di tubuh Gifali. Menerjang lelaki itu dengan pelukan.
Masih pagi, sudah di peluk-peluk. Hawa dingin menciptakan libido Gifa mendadak naik. Wajar saja, dirinya merindu. Maura baru saja selesai dari masa nifas.
"Pengin, Bun." bisik nya pelan. "Kalau nanti malam udah boleh belum ya?" tanya Gifa pelan-pelan lagi. Ini merupakan percakapan hot, dalam keberisikan yang tengah Triple G ciptakan di bangku penumpang belakang.
"Boleh, Yah. Bunda juga kangen." Maura menjawab dengan kekehan.
Gifali mendongak ke arah spion. Melihat Triple G masih asik bercanda. Buru-buru ia menurunkan wajahnya dan memagut bibir Maura dengan gerakan cepat.
Maura menerimanya tanpa eluhan. Benar-benar mereka, sudah tidak sabar mengeluarkan rasa rindu. Gifali memagut bibir istrinya beberapa kali dengan durasi singkat tapi sering. Tangannya mengendur di pijakan stir kemudi. Dengan mata yang masih awas memperhatikan jalanan pagi ini.
"I love you, Aisyah." ucapnya setelah melepas ciumann tersebut.
Maura kembali menegapakan tubuh di jok sambil mengusap kebasahan di bibirnya. Mereka kembali menoleh dengan senyum yang mengembang, tangan mereka kembali saling menggenggam.
****
Like dan Komennya ya guys.