My Sabbatical Wife

My Sabbatical Wife
Ampuni Aku



Waktu sudah menunjukan pukul 20:00 malam. Arah jarum jam terus saja berdentang ke arah kanan, dan selama itu pula Maura duduk di pusaran ranjang menunggu kepulangan suami yang seharusnya sudah tiba dua jam yang lalu. Menghubungi gawai suaminya sudah, namun lelaki itu tidak menjawab.


Maura semakin resah dan gelisah, ia tahu jika suaminya sedang marah dan kecewa. Kedua matanya yang sudah sembab sejak sore kini terasa pedih untuk terus terbuka. Tapi jika di pejam, ia takut akan ketiduran dan tidak menyambut suaminya ketika pulang nanti.


Ini salahnya, memang salahnya! Mungkin saja Gifali akan memaafkan, tapi rasa kecewa tidak akan secepat itu pergi. Apalagi jika yang bersedihnya adalah lelaki pendiam, penyabar dan bijak. Kekecewaan itu akan terus membekas.


Sejak tadi gawai sudah ia genggam, Maura ingin sekali menelpon sang Mama untuk meminta petuah, tetapi ia urungkan karena selalu mencontoh Mama Alika yang selalu bungkam dari Kakek Luky ketika wanita itu tengah berdebat dengan Papa Bilmar.


"Aku pun harus seperti Mama, aku kuat dan bisa mengatasi masalah ini! Aku tidak ingin menambah-nambahkan beban dan fikiran mereka." ucap Maura dengan sedikit kekuatan yang masih tersisa.


Memang sebaiknya ketika kita sudah berumah tangga, jangan lagi memberikan beban masalah tentang pernikahan kepada orang tua. Berikan mereka hidup yang enak di masa-masa tuanya, jika masalah kita memang sudah besar dan tidak ada solusi, baru kita meminta pendapat mereka.


Maura pun bangkit menggapai seuntai tasbis yang tergantung di dinding. Mengucapkan lafaz Allah dan meminta agar hati suaminya dilembutkan. Bisa menerima kesalahannya dengan lapang dada.


Tak berapa lama kemudian.


"Assalammulaikum ..." suara yang ditunggu akhirnya terdengar ketika pintu kostan dibuka dari luar.


"Waalaikumsallam sayang." jawab Maura, ia pun beranjak untuk menghampiri suaminya. Mencium tangan dan mengambil tas nya seperti biasa. Debaran jantung kembali Maura rasakan, wajah Gifali memang sedikit berubah tapi tatapan matanya masih saja meneduhkan.


Gifali duduk di karpet tengah membuka kaos kaki dan sepatu bertali nya. Setelah menggantungkan tas suami di dinding, Maura kembali menghampiri suaminya yang ada diruang tamu, ia berjongkok untuk mengambil alih melepaskan sepatu serta kaos kaki suaminya.


Maura hanya diam menunduk, ia masih enggan menatap bola mata suaminya. Bukan takut karena marah, tapi ia tak tahan menatap rasa kekecewaan yang sangat tercetak jelas nantinya.


"Kamu belum tidur?" tanya Gifali.


Pertanyaan yang tidak akan Maura bayangkan. Masih perhatian kah suaminya? Benar kah lelaki ini yang ia temui di hotel tadi tanpa hijab menutup kepalanya?


"Sudah makan?" tanyanya lagi.


Sontak semua pertanyaan itu membuat jiwa Maura terenyuh, ia langsung mendongak dan menatap suaminya.


Lalu


Maura berhambur untuk menerjang Gifali dengan pelukan. Maura pun menangis, menumpahkan rasa penyesalannya.


"Maafkan a--ku---" ucap Maura dengan susah payah. Gifali kembali meneteskan air mata sambil mengusap lembut punggung istrinya.


"A--ku Khi--laf say--ang." tidak terlalu jelas, karena disertai isak tangis.


"Iya." jawab Gifali singkat. Nasi sudah menjadi bubur, namun apa yang harus ia salahkan sekarang?


Tadi, setelah selesai makan dengan Pramudya dan Adrian. Gifali memilih menelpon sang Mama, karena setiap mentalnya sedikit terguncang, suara dan kelembutan sang Mama lah yang selalu menenangkan jiwanya. Gifali menangis di sambungan telepon tanpa menceritakan duduk permasalahan yang sedang ia rasakan.


Ia pun tidak ingin membuka aib istrinya, karena sejatinya ia belum tahu apa alasan sebenarnya dari Maura. Namun sebagai manusia normal, ia pun kecewa dan marah karena sudah dibohongi seperti itu. Apalagi dengan istri, orang yang sudah berbagi cinta, kasih dan hasrat selama dua bulan pernikahan ini.


"Ada apa, Nak? Kamu nangis?" tanya wanita paru bayah yang masih setia mendengarkan isak tangis sang putra dari kejauhan.


Hening. Tidak ada suara lagi, hanya ada isak tangis dan leleran ingus yang ditarik paksa ke dalam pangkal hidung. Mama Difa yang sejak bayi mengurus Gifali, sangat hafal perangai sang anak jika sedang bersedih. Anak lelaki itu tidak akan menangis jika hati nya tidak sakit.


Ya, sore itu hati Gifali sangat sakit.


"Ada masalah? Dengan istrimu?" tanya Mamanya lagi.


Sangkaan Mama pun terjawab manakala ia mendengar sayup pelan dari seberang sana mengatakan iya. Sudah di duga, namun Mama tidak ingin mengintrogasi masalah sang Anak, ia tidak akan bertanya lebih jauh, kecuali Gifali sendiri yang menceritakannya. Nyatanya tidak, lelaki itu memilih untuk tidak menceritakannya.


"Di jalan, Mah. Barusan Kakak di ajak makan bersama di hotel, dengan atasan dan teman Kakak." susah payah Gifali mengatur pola napasnya dan menarik air matanya agar bisa berbicara jelas dengan sang Mama.


"Jangan pulang dulu ke kostan, shalat dua rakaat dulu di Masjid sebelum kembali bertemu istrimu. Tenangkan dulu hati Kakak. Jangan gegabah, Nak. Tumpahkan rasa kesal dan kecewa di sana, jangan di kostan!"


Walau Mama tidak tahu apa penyebab sang Anak bisa menangis seperti itu, tapi jauh dalam telepati batinnya ia tahu sedang ada masalah yang tidak biasa, bisa membuat hati anaknya menjerit dan sakit.


"Ingat bagaimana dulu kalian bisa bersatu, sangat sulit bukan? 12 tahun berpisah, lalu dipertemukan dengan berbagai cobaan dan rintangan. Sekarang kalian sudah bersatu, kerikil dalam rumah tangga pasti akan selalu terjadi."


"Apapun masalahnya bisa dibicarakan baik-baik, tanpa emosi, Kak. Jangan gunakan kekerasan atau ucapan kasar jika sedang menumpahkan amarah. Ayo ke Mesjid dulu, tenangi hati kamu, Nak."


Dan itulah yang terjadi pada Gifali, setelah mengikuti saran Mama. Ia memilih berdiam diri dulu di Mesjid. Dari pada ia harus menumpahkan rasa amarahnya yang mungkin akan membabi buta.


Berdoa dan berdzikir untuk meluapkan rasa sakit dan kecewa. Maka setelah shalat Isya berjamaah dan membaca satu juz ayat Al-Quran. Gifali pun kembali menuju kostan. Hatinya sudah tenang dan bisa berdamai untuk siap mendengarkan apa penjelasan dari istri tanpa amarah.


Dan di sini lah ia berada sekarang, mendekap istrinya yang masih menangis, menumpahkan segala penyesalan yang tiada tara.


"Ampuni aku, Gifa. Aku minta maaf!"


"Iya, sayang." jawab Gifa tulus. Tidak ada yang bisa menutup rasa sedih dan kecewa kalau bukan karena rasa cinta.


"Aku bersedia di hukum!" jawab Maura. "Tapi demi Tuhan, aku melakukan ini semua tidak sengaja, Gifa." sambungnya lagi, wanita itu terus saja menangis sesegukan.


Sudah basah kain baju yang melekat di bahu kiri nya karena air mata sang istri. Maura mengalungkan kedua tangannya dileher Gifali, merebahkan kepala di ceruk suaminya. Bahkan tanda kiss mark kecil yang ia oleskan tadi malam saja masih tercetak jelas di bagian kulit leher, bisa terlihat karena kain baju itu tertarik dengan gerakan kepalanya.


Ia sedih, baru saja melepas cinta kemarin malam mengapa malam ini harus melepas cinta dengan kekecewaan, dan air mata.


"Maafkan aku!" suara Maura terdengar sudah berat dan serak.


"Iya, aku maafkan kamu." jawab Gifali. Padahal Gifali sudah berkata seperti itu, tetapi Maura merasa suaminya masih kecewa dan tidak akan mempercayainya lagi.


"Aku ingin menjelaskan semuanya."


"Iya udah besok pagi saja, sehabis shalat subuh." jawab Gifali, ia terus menggenggam tangan istrinya.


Sehabis subuh adalah waktu yang sangat memenangkan hati dan jiwa, ia merasa akan benar-benar mengerti jika fikiran dan hatinya sedang tenang.


"Tuh kan kamu masih marah, Gifa." Maura kembali menangis, kini tangisannya sangat kencang sampai suara erangan pun semakin terdengar.


Ia tahu suaminya marah tapi menahannya. Ia takut sekali jika Gifa tidak mencintainya lagi, apalagi ada Agnes yang akan menjadi saingan baru untuknya. Ya begitulah wanita, ketika merasa bersalah maka bayangan buruknya sudah terbang jauh kemana-mana.


"Hey, sayang. Jangan begini nanti kamu---"


Belum saja Gifali menuntaskan ucapannya, apa yang ia takutkan pun terjadi.


"Ra, Ra, bangun sayang!" Gifali menjauhkan kepalanya dari Maura untuk menatap jelas wajah istrinya yang sudah memejam kedua matanya.


Maura syok, wanita itu pingsan. Lebih sakit menerima sikap Gifali yang hanya tenang dan tetap perhatian tanpa mau menghardik dan meluapkan kekecewaan dan amarahnya. Begitulah marahnya orang sabar, lebih bahaya dari marahnya orang yang berhati iblis sekalipun.


*****


Terhurađź’”


Like dan Komennya ya guyss🤗