
Maura menghempaskan tas nya secara asal di lantai. Ia pun merebahkan dirinya dengan posisi tengkurap. Menumpahkan segala air matanya di sana. Gifali yang langkahnya baru sampai sesaat setelah Maura hanya bisa mengusap wajahnya dengan frustasi. Ia masih berdiri mematung menatap istrinya yang tengah merajuk.
"Sayang." pasti kalimat itu yang akan Maura dengar.
Dan Gifali sudah hafal kalau Maura hanya akan diam saja. Ia pun duduk ditepian ranjang tepat dipangkal kaki istrinya. Gifali belai kaki mulus itu seraya memberikan pijatan hangat di sana.
Maura terlihat bergeliat, menjauhkan kakinya dari tangan Gifali. "Aku tau kamu marah, nangis aja kalau itu buat kamu lega." ucap Gifa. Ia pun merangkak ke atas kasur, dan meletakan tubuhnya disamping Maura. Tangannya di ayuhkan untuk mengusap lembut punggung istrinya.
Terasa isakkan tangis Maura begitu pecah dan tumpah ruah namun tidak terdengar karena Maura menutup wajahnya dengan bantal.
"Demi Tuhan, Ra. Aku baru tau kalau Agnes itu adiknya Kak Adrian, anaknya Pak Pramudya."
Gifali langsung to the point, karena ia sudah membaca kalau Maura akan curiga mengenai hal ini.
"Aku juga kaget setibanya di sana, niatnya aku ingin menceritakan ke kamu setelah pulang dari sana, tapi ternyata aku kaget lagi ketika lihat kamu juga ada di sana." Gifa terus saja mengelus-elus Maura, sesekali mendaratkan kecupan hangat di hijab Maura.
Istrinya hanya terdiam, isakkan tangis mulai mereda, ingin ia berbalik badan untuk memeluk suaminya. Namun hatinya masih linu. Ia tahu suaminya tidak salah, yang salah hanya Agnes yang selalu menginginkan Gifali.
"Kalau kamu tidak ingin aku bekerja di perusahaan mereka, tidak masalah, Ra. Aku akan tetap bekerja di Kafe. Besok aku akan menemui---"
Maura beringsut bangun dan meletakan satu jari di bibir suaminya.
"Jangan!"
Gifali hanya bisa menjawab dengan gerakan bola matanya karena kedua bibirnya masih dipaksa untuk mengkatup.
Maura pun menurunkan jarinya, lalu menundukkan kepalanya ke bawah.
"Aku tau kamu kurang suka, karena ada Agnes kan?"
Maura mendongak menatap suaminya kembali dengan basahan air mata yang sudah mengering.
"Agnes nggak akan ke kantor kan?" tanya Maura untuk meyakinkan dirinya sendiri.
"Kalau nanti dia ke kantor bagaimana? Mungkin saja ingin merayuku." jawab Gifali.
"Iihh---Kok kamu malah ngomongnya gitu sih!" Maura kembali mencebik.
Gifali tersenyum, lalu tangannya ia angkat untuk melepaskan jarum yang tengah bersemayam di bawah dagu untuk melepaskan kain hijab dari kepala istrinya. Meletakan hijab itu di atas lantai. Melepaskan kunciran rambut hingga rambut Maura terurai sampai ke bahu. Gifali menarik lengan istrinya untuk masuk kedalam dekapan dadanya.
Maura pun menurut dan bersandar di sana, ia memeluk perut suaminya dan mulai memejamkan kedua mata. Ia sampai lupa jika ada seseorang diseberang sana yang sedang menunggu kedatangannya.
"Aku sengaja membicarakan hal terpahitnya dulu. Takut-takut benar terjadi, bagaimana? Aku hanya ingin kamu berfikir ke arah sana dan bisa tahan banting dengan segala terkaan buruk yang mungkin akan datang menjamahi fikiran kamu." jawab Gifa.
Maura masih memejam kedua matanya, ia fokus mendengarkan nasihat yang suaminya berikan. Entah mengapa rasa cinta itu lebih besar dari rasa amarah yang sebenarnya ingin ia keluarkan sedari tadi, ia selalu akan luluh jika melihat sikap Gifali sudah seperti ini.
"Lalu bagaimana kalau sampai itu terjadi? Apakah kamu bisa menolak Agnes?" Maura membuka suaranya.
"Doakan aku selalu dalam doamu. Biar Allah yang menjaga ku dari semua perempuan yang ingin merusak Rumah tangga kita, Ra! Dan sebisaku untuk menahan diri, Insya Allah." Gifali melepas satu kecupan di kening istrinya.
"Iya nanti aku akan ajukan resign dari Kafe, malam ini." jawab Gifali, lalu memejam kedua matanya karena merasa hawa kantuk mulai menjamah. Ia sudah tenang karena Maura bisa untuk dibujuk.
"Kalau kamu sudah berhenti dari Kafe, mungkin aku sudah tidak bisa lagi bekerja di hotel. Karena jam 5 sore kamu pasti sudah ada di kostan. Apa sebaiknya aku jujur ke kamu sayang, kalau aku sudah menghilangkan uang dan bekerja di sana."
"Oh tapi tidak, untuk masalah pekerjaan aku tidak akan memberitahukannya ke kamu. Biar lah itu jadi rahasia selamanya di dalam hidupku! Kamu pasti marah besar jika tau aku melepas hijab hanya karena bekerja."
*****
Maura terus berlari menuju hotel dengan langkah blingsatan, ia sudah telah satu jam. Ia baru terbangun setelah Gifali sudah berangkat lebih dulu ke Kafe.
"Aduh telat, gajiku bisa di potong nih!" rintih Maura ketika langkah kaki nya mulai ia pelan kan setelah sampai di ambang pintu utama hotel.
"Maura!" seru seseorang membuat ia menolehkan kepalanya ke belakang.
"Ya Allah, Mr. Edgar." desahnya. Ia pun terlihat panik, baru saja dirinya ingat kalau beberapa jam lalu ia telah mengabaikan panggilan masuk dari lelaki itu.
"Kamu baru sampai?" tanya lelaki itu ramah, sungguh diluar bayangan Maura, kalau Edgar akan marah.
"Iya, Pak. Maafkan saya ya, saya terlambat. Tadi ada ujian dulu."
Edgar terlihat mengangguk. "Saya telepon tadi siang, tapi kamu tidak angkat."
"Oh iya, Pak?" Maura berdalih seraya bertanya kembali.
"Maaf ya, Pak. Saya memang belum lihat ponsel sedari tadi."
"Enggak apa-apa, harusnya saya yang minta maaf sudah menganggu kamu." jawab Edgar. Lelaki manis berjas hitam itu terus saja memandang Maura dengan penuh kelembutan. Membuat Maura tidak enak hati ditatap seperti layaknya kekasih.
"Ada apa ya, Pak, telepon saya tadi siang?"
"Saya hanya ingin mengajak kamu makan siang, Maura." jawabnya santai dengan iringan senyum mengembang setelahnya.
Kerutan di kening Maura terlihat muncul bergelombang, merasakan ke anehan yang tidak biasa dari lelaki ini. Padahal sejatinya Maura tahu Edgar sudah memiliki istri dan anak. Banyak chef-chef dan karyawan hotel yang membicarakannya dibelakang, sehingga Maura pun hafal dengan perangai Edgar.
"Oh begitu." jawab Maura singkat.
"Apakah besok, kita bisa makan siang bersama?" Edgar tidak putus asa, ia tetap memaksa.
"Pak, maaf. Sepertinya besok adalah hari terakhir saya bekerja di sini." jawab Maura tegas dan lugas.
Seorang pebinor memang jangan diberi celah. Karena bagi mereka pasangan orang lain itu lebih asik, gurih dan nikmat dibandingkan pasangan sendiri. Sebagaimanapun kucing jika ditawari Ikan, pasti akan dimakan juga.
Kita sebagai wanita yang ingin didekatinya harus terus menyadarkan, kalau ia hanya tengah mengalami kebosanan dan kejenuhan kepada istrinya, jangan sampai kita ikut terperosok dan jatuh ke lubang dosa bersama-sama. Karena sejatinya tidak ada perselingkuhan yang indah, hanya bisa membawa kehancuran dan malapetaka.
*****
Kalau enggak sibuk, malam nanti aku UP lagi ya❤️