
Mulai hari ini Maura dan Gifa sudah menempati salah satu kamar kosan kepemilikan Harun dan Fatimah. Kamar kosan yang mempunyai tiga ruang memanjang kebelakang. Ada ruang untuk menerima tamu, ruang tidur dan terakhir ruang untuk dapur serta kamar mandi. Biru muda menjadi pilihan yang keren untuk memberi aksen warna pada dinding kosan mereka.
Maura mengibaskan seprai, agar membentang luas untuk menutup kasur yang akan mereka gunakan pada saat melepas penat, asa maupun bertukar keringat dalam romansa percintaan panas mereka. Entah kapan, Gifali akan berani untuk melakukan nya lagi kepada Maura, setelah mereka sepakat untuk saling menjaga.
Melihat Maura sibuk, Gifa pun tidak begitu saja diam. Ia membantu istrinya untuk memasukan beberapa helai baju yang mereka punya untuk dimasukan kedalam lemari pakaian, setelah ia selesai menyikat lantai kamar mandi yang terasa kasar karena debu entah dari mana. Gifali dan Maura saling bahu membahu mengurus tempat tinggal mereka.
"Biar aku aja sayang.." Maura menoleh ketika melihat suaminya tengah sibuk menata baju mereka.
"Nggak apa-apa, Ra. Begini doang mah aku bisa." Gifa mengangkat dagunya sedikit dan memberikan kepalan di dada, seraya ia adalah lelaki yang hebat. Maura hanya menggelengkan kepala sambil melanjutkan menepuk-nepuk seprai dengan sapu lidi.
Fatimah sudah dua kali bolak-balik masuk ke kosan mereka untuk sekedar membawakan minuman dan makanan. Beruntung sekali Gifa dan Maura mendapatkan sosok pengganti orang tua di sini. "Nanti malem ngeluhnya capek sama pegal." Maura meledek suaminya.
Gifali tertawa sambil menatap bagian dalam lemari. "Itu hanya alasan, biar dipijit sama kamu aja..."
"Oh gitu??" Maura memiringkan sedikit bibirnya. Gifali pun menutup lemari setelah semua pakaian sudah tertata rapih di sana. Ia beringsut untuk memeluk istrinya dari belakang. Menyusuri leher istrinya dengan kecupan.
"Sayang, masih siang." ucap Maura.
Gifali tertawa. "Memangnya mau ngapain kalau masih siang?" Gifali terus saja menggoda istrinya, wajah Maura bersemu merah karena merasa malu. Ia terlihat seperti wanita yang sedang "ingin".
Maura menggeleng dan kembali melanjutkan untuk menyapukan seprai. Gifali kembali menarik tubuh istrinya untuk tetap dalam dekapannya.
"Sayang..." desah Maura.
"Aku kangen kamu, Ra." cicit Gifa dengan suara sendu. Maura pun terdiam, helaan nafas nya pun mencuat.
"Kamu kangen?" Maura menoleh, menatap wajah Gifali yang sedang mebenam di pangkal bahunya. Gifa mengangguk pasrah. Sesungguhnya Maura tahu arti kata rindu yang sedang ia tanyakan.
"Aku juga sayang.." Maura menjawab sendiri pertanyaannya, membuat Gifali terenyuh. "Apakah ada cara lain, Gifa?" ia kembali memberikan pertanyaan. Gifa melepas pelukan itu mendadak, ia tidak ingin tersulut mengikuti gelora hasratnya yang belum lepas dari semalam.
"Nanti ya, aku cari jalan lain. Jujur, aku nggak tau gimana caranya, Ra. Aku takut kalau kamu hamil."
Maura memutar bola matanya ke sana kemari, dadanya begitu ngilu ketika suaminya berkata seperti itu. Ia pun tahu alasan suaminya, bukan tidak mau memiliki anak, melainkan ia tahu kalau Gifa hanya takut jika kehamilan itu akan menghambat dan menghancurkan perkuliahannya. Maura pun berfikir yang sama, karena setengah uang Gifali sudah habis untuk membayarkan biaya kuliahnya.
"Kamu haid biasanya tanggal berapa, Ra?"
"Biasanya sih tanggal 19."
"Selalu rutin?"
Maura mengangguk. "Selalu tanggal segitu, Gifa. Kenapa memang?" tanya Maura dengan manik mata yang polos.
"Biar antisipasi, dan biar hafal." jawab Gifa.
"Kata kamu ada cara lain kan?"
"Kita cari aja di internet?" Maura memutuskan sendiri. Lalu ia menghempas sapu lidi yang masih ia genggam lalu beringsut untuk meraih ponselnya.
"Ya udah malem aja, kalau ketemu nanti tinggal praktek." Gifali tertawa sarkas. Membuat Maura hanya mengangguk dan menurut, ia kembali meletakan ponselnya.
"Kita tinggal beli apa aja, Ra?" tanya Gifa sambil merebahkan dirinya di atas kasur yang tidak terlalu besar tapi masih cukup empuk untuk mereka pergunakan.
"Beberapa alat rumah tangga yang belum kita punya, sayang. Tapi aku sudah mencatatnya, agar nanti tidak lupa jika sudah di tempat perbelanjaan."
Gifali mengangguk dan mulai memejam kedua matanya, karena rasa kantuk mulai melanda. Maura pun membiarkan dirinya untuk tidur siang dahulu sebelum mereka pergi ke pasar.
Maura yang sedang duduk tepat diujung kaki suaminya, terus memberikan pijatan disekitar jari dan telapak kaki Gifali. Membuat lelaki itu merasa nikmat untuk mulai merambah masuk dalam dunia mimpi.
****
"Kebesaran, Gifa." ucap Maura ketika Gifa sedang berjongkok dibawah kakinya untuk membantunya mencoba sepatu baru yang akan digunakan untuk bersekolah. Gifali membelokkan langkah Maura untuk masuk kedalam toko sepatu.
Padahal rencananya sore ini ia ingin berbelanja perlengkapan rumah tangga yang belum lengkap di kosan mereka. Gifali ingat, istrinya butuh sepatu yang sudah di standar kan untuk pra mahasiwa di kampusnya. Maura saja harus memakai seragam, tidak seperti kampus lain yang bebas tentang pakaian yang akan dikenakan ketika sedang menimba ilmu. Karena saat ini wanita itu hanya menggunakan flat shoes yang tidak mungkin ia pergunakan untuk kuliah.
"Enggak ah, ini pas kok di kaki kamu." Gifa mendongak menatap wajah istrinya yang juga sedang menatapnya ke bawah. Pelayan toko pun ikut menemani mereka, menunggui aba-aba jika sepatu ke lima yang sudah dicoba, jadi untuk dibeli.
Maura bergeming, tidak memberikan respon apapun ketika suaminya sudah memutuskan. "Saya pilih ini, Bu." Gifali beranjak berdiri lalu menyodorkan sepatu itu kepada pelayan toko.
"Baik, silahkan ke kasir ya." pintanya.
Selama melangkah menuju kasir, Maura tidak berhenti untuk berbisik kepada suaminya. "Tapi itu mahal, Gifa. Nanti uangmu habis."
"Kalau buat kamu, aku nggak masalah, Ra!" Gifa tersenyum. Membuat Maura merasa bersalah berkali-kali, ia merasa sudah banyak membebani suaminya. Namun ia sudah menjadi seorang istri, sudah kewajiban Gifali untuk menafkahi segala kebutuhan primer dan sekundernya.
"Tapi sayang, kamu juga belum beli sepatu."
"Aku pakai ini aja, kan kampus ku bebas. Enggak seperti kamu banyak peraturannya." Gifali meledek, ia sedikit meringis ketika mendapat cubitan pelan dari istrinya.
Lalu
Tampak dari kejauhan ada sepasang mata yang sedang mengerjap untuk memperjelas sosok yang sedang ia terka.
"Lelaki itu?" desahnya, lalu beralih menatap wajah Maura yang sekilas sedang tertawa. "Apa mungkin itu pacarnya?"
*****
Follow IG aku ya @megadischa
Biar kalian tahu tentang novel-novel aku ada dimana aja❤️