My Sabbatical Wife

My Sabbatical Wife
Langit London Malam Ini.



Bagai jerawat yang sedang memerah lalu pecah, membuat si kulit wajah langsung terbebas dari kuman-kuman yang sedang bersarang. Begitupun perasaan Gifali dan Adrian saat ini, mereka bisa bernapas lega ketika mengetahui kalau Maura memang sedang dalam perjalanan menuju London. Ucapan syukur dari bibir kedua lelaki itu, tidak surut terucap.


"Ada gunanya juga gue temenan sama lo, Rik." Adrian menghentak bahu sahabatnya yang bekerja di bagian Ground Staff bandar udara. Lelaki itu dapat leluasa mengecek secara khusus nama-nama penumpang yang sedang menuju ke negara mereka.


Riky, si bule tampan kemudian tertawa. "Bisa aja lo, Yan." Riki beralih menatap Gifali.


"Menurut perkiraan, pesawat dengan penerbangan pertama dari Indonesia, akan tiba enam jam lagi di sini."


Gifali mengangguk dan senyuman. "Terimakasih banyak, Rik."


Setelah berpamitan dari ruangan Riki. Gifa dan Adrian kembali melangkah untuk duduk di bangku tunggu. Gifa sudah meminta Adrian untuk pulang saja, karena ia akan tetap di sini untuk menunggu kedatangan istrinya, dan memutuskan untuk pulang dengan menggunakan taxi. Tetapi Adrian menolak, ia bilang kalau masih mencemaskan keadaan Gifali yang masih terlihat pucat dan lemas.


"Gue akan tetap di sini sampai Maura datang." jawab Adrian tegas. "Gue mau beli minum dulu, lo tunggu dulu di sini ya."


Gifali mengangguk untuk mengantar kepergian Adrian menuju mini market.


Gifali merogoh kantung celananya. Dan ia hanya bisa mendesah kesal karena baru ingat kalau tidak membawa gawai, dan tentu saja benda itu sudah hancur lebur berkat tangannya sendiri.


"Aku ingin mengabari Mama dan Papa di Jakarta, agar mereka tidak cemas lagi." desahnya frustasi. Dan ia hanya bisa menyesal, karena amarah yang tidak bisa ia kendalikan, membuatnya rugi sekarang.


Gifali memilih menyandarkan tubuh nya di sandaran kursi. Memijat-mijat pangkal dahinya. Rasa pening di kepala, rasa mual di perut dan tubuh yang masih terasa panas kembali ia rasakan. Serta rasa lemas semakin menjamah.


"Hhh ..." napas saja rasanya sangat panas.


Tidak masalah, yang penting ia bertemu dengan istrinya. Dalam pejaman matanya, ia masih saja memikirkan sikap Maura yang benar-benar sangat nekad.


Tidak akan ada wanita yang seberani itu, dan sekarang istri mungil yang tidak lagi mungil itu menguji kasar adrenalin semua orang.


"Kayaknya aku harus siapin borgol, biar kamu gak nekad kayak gini lagi." gumam Gifali dengan kekehan kecil.


Walau tengah sakit, wajah pucat dan bibir setengah kering. Tetap saja raut muka nya berbinar. Rasa rindunya akan terbayar sebentar lagi. Bayangkan saja dua bulan setengah tidak bertemu dan berbicara dengan sang istri sama sekali.


"Seperti apa kamu sekarang, Ra? Pasti tambah gendut." Gifa kembali terkekeh.


Betul-betul lelaki ini, terus saja meledek istrinya yang tengah berjuang untuk membunuh rasa takut selama di dalam pesawat.


Ya, biarkan saja lah. Toh, ini semua keinginan Maura sendiri. Ia bersikukuh ingin bertemu dan tinggal kembali dengan penghuni hatinya.


***


Adrian tidak berhenti menatap arloji ditangannya. Ia sudah menghabiskan beberapa kaleng minuman selama menunggu adik iparnya di sini.


Beberapa kali ia juga menatap wajahnya di layar ponsel, dan meratapi luka lebam yang diberikan oleh adiknya beberapa jam yang lalu.


"Tenaganya besar juga nih, sampe biru begini." desahnya. Namun lelaki itu mewajari nya, Adrian tidak marah ataupun dendam. Ia sudah jatuh hati kepada Gifali, untuk dijadikan sebagai adik. Adrian senang dan bahagia karena pada akhirnya ia memiliki adik lelaki juga. Ia tahu Gifali lebih bisa diandalkan dari pada Agnes, adik kandungnya sekalipun.


Sesekali ia melirik ke arah Gifali yang masih tertidur. Adrian membiarkan saja, dan tidak membangunkan lelaki itu. Adrian tahu tubuh Gifa masih dalam keadaan lemas.


Waktu semakin berjalan, arah jarum jam pun semakin berputar ke arah kanan. Tidak terasa pesawat yang di tumpangi oleh Maura selama enam belas jam di udara, akan landing lima menit lagi.


"Gif, bangun!" Adrian menggoyangkan bahu adiknya. Sontak membuat Gifali mengerjap mendadak. Terlihat matanya memerah dengan suara yang masih parau. Ia terdiam sebentar untuk mengumpulkan kekuatan dan tenaganya.


Lalu.


Gifa terkesiap, sepertinya kesadarannya baru muncul. "Apakah Maura sudah sampai?" tanyanya panik.


"Baru ngeh ya kalau kita masih di Bandara?" Adrian tertawa mengejek. Gifali melepas gelak tawa dan menghentak bahu Kakaknya. "Aku fikir sedang ada di bulan tadi."


Mereka berdua pun terkekeh. "Ayo kita tunggu di depan pintu masuk, biar Maura bisa menemukan kita langsung, sebelum banyak orang berkumpul di sana."


Gifali mengangguk dan beranjak bangkit. Mereka berdua jalan bersisihan ke pintu yang akan dilewati oleh penumpang yang turun dari pesawat.


Gifali dan Adrian menatap lurus orang-orang yang keluar dalam pintu. Kebanyakan mereka bertubuh besar dan tinggi-tinggi. Hanya secuil wajah Indonesia yang menapakkan kaki nya di Bandara ini.


"Dimana istriku ya? Benarkan pesawat ini yang ditumpanginya, Kak?" tanya Gifa dengan wajah mulai panik.


Adrian hanya mengangguk tanpa kata. Jauh dalam hatinya pun merasa takut. Pasalnya seluruh penumpang sudah turun, dari pintu ini hanya terlihat beberapa orang saja yang melewati mereka.


Tak lama, kedua mata Adrian memicing. Seperti menyoroti sesuatu yang sedang mereka tunggu.


"Gif, sabar! Jangan emosi, tuh coba lihat. Itu siapa?" Adrian menghentak bahu adiknya agar mendonggak. Ia menunjuk ke arah wanita hamil yang terlihat buntal sedang memakai gamis berwarna biru muda satin dan hijab rumahan bunga-bunga. Tengah menggerek koper baru saja muncul dari belokan lorong sebelumnya. Ia melangkah sembari menundukkan kepala.


"Itu, Maura bukan?" tanya Adrian lagi. Gifali mengikuti arah mata Adrian. Samar-samar garis di sudut bibirnya terangkat. Gifali melebarkan rahang dan senyuman mengembang di wajahnya.


Tanpa menjawab pertanyaan Adrian, lelaki itu melesat cepat untuk berlari menuju Maura yang sedang melangkah. Rasa lemas dalam dirinya seperti terganti dengan kekuatan. Ketika melihat istri dan calon bayinya dalam keadaan baik-baik saja.


"Sayang ..." serunya. Namun langkah Gifali terhenti dipertengahan lorong ketika ada laki-laki yang mulai mengekor langkah dibelakang istrinya. Mereka berjalan bersisihan sambil berbincang.


Kening Gifali mengerut sampai dimana Maura mendongak dan berseru histeris. Ia amat kaget ketika menemukan belahan hatinya ada dihadapannya sekarang. Kopernya saja sampai jatuh terjerembab ke atas lantai, membekap mulut saking tidak percaya. Membetulkan tata letak kaca matanya, ia takut apa yang ia lihat hanyalah ilusi.


Benarkah lelaki itu suaminya? Gifali? Lelaki itu di sini sekarang, datang menjemputnya? Kok, bisa?


Maura masih mencoba untuk menyadarkan dirinya, bahwa apa yang ia lihat sekarang ini bukanlah ilusi.


"Kenapa, Ra?" lelaki yang ada disebelahnya menyentak bahu dan mencoba membangunkan Maura dari lamunan.


Namun Maura tidak menjawab, ia masih terdiam dan fokus menatap lelaki berjaket yang sedang berdiri dihadapannya tanpa senyuman. Karena Gifali lebih fokus menatap lelaki yang sedang bersama istrinya.


"Siapa dia?" gumam Gifali.


Dirasa apa yang dilihatnya betul-betul suaminya. Wanita hamil itu pun berseru dengan kencang.


"Gifa?" teriak Maura. Ia pun melangkah setengah berlari sambil memegangi perutnya. Gifali kembali menatap istrinya dengan lenguhan senyum.


Blass.


Maura berhasil menerjang tubuh suaminya yang masih mematung ditempat. Mengalungkan kedua tangan dileher Gifali.


"Aku tidak bermimpi, kan?" rancau Maura tidak habis-habisnya.


"Iya sayang, ini aku. Suamimu yang kamu rindukan." Gifali masih saja meledek.


"Kenapa kamu bisa ada di sini sayang?" tanya Maura dengan kaca-kaca di bola mata yang mulai tampak.


"Semua karena Allah."


Maura semakin terisak dalam tangis. Ia tidak tahan lagi untuk menahan rindu. Maura melepas banyak kecupan di wajah lelaki yang sudah ia rindukan selama dua bulan ini. Maura berbohong, ia tidak bisa melawan rasa rindu yang sudah lama bercokol di hatinya.


Lelaki yang ada dibelakang Maura pun terbelalak kaget.


"Oh, ini kah suaminya? Katanya sedang dirawat, kok ada di sini?" tanyanya bingung.


Maura terus saja mencium wajah suaminya sampai puas. Tanpa rasa malu di lihat beberapa orang yang masih lalu lalang melewati mereka. Pun sama dengan Gifali, ia menimpali ciuman tersebut. Mereka berdua seakan tidak perduli.


Langit London malam ini hanya milik mereka berdua


Menyeka air mata istrinya yang terus berleleran membasahi pipi.


"Cintaku, Aisyah." ucap Gifali. Mereka saling menatap dan menyatukan kening


"I miss you, Bunda."


"I miss you too, Ayah."


Gifali kembali mendekap Maura erat dengan pejaman mata. Merasakan kehangatan tubuh yang Maura berikan kepadanya. Namun dua bola matanya kembali terbuka, dengan tatapan garis lurus, Gifali menatap Kamil yang masih berdiri tidak jauh di belakang istrinya.


"Siapa lelaki itu?"


****


Hayo siapa yang ingat sama Kamil? Kalo baca Mps pertama pasti tau🤭😬. Jangan nething dulu ya sama Kamil haha. Tenang geng gak akan ada konflik lagi wkwkw.


Like dan Komen yah buat Abang sama Kakak❤️