
Ketika sedang fokus memandangi awan dari balik jendela pesawat, Ganaya tersentak. Ia kaget karena ada secangkir teh yang tiba-tiba muncul tepat dihadapannya sekarang. Wanita itu mendongak ke atas dan mendapati Ammar yang tengah berdiri menatapnya.
"Ini untukmu, dari tadi aku perhatikan kamu belum minum apapun." ucap lelaki itu. Ngomong-ngomong dua keluarga ini sudah sepuluh jam di udara. Melakukan penerbangan menuju London.
Ganaya mengulas senyum tipis, dan meraih cangkir teh tersebut. "Makasih, Ammar. Kamu enggak perlu repot-repot. Aku bisa memintanya sendiri kepada Pramugari."
"Untuk kamu, aku tidak pernah merasa direpotkan, Gana." jawab Ammar. Ia kembali duduk disebelah Ganaya. Sedangkan diseberang nya ada Gelfa dan Gemma yang sedang tertidur pulas.
Papa Bilmar dan Mama Alika berada di bangku depan dan tak jauh dari mereka ada Papa Galih dan Mama Difa. Para Mama dan Papa itu terlihat tegang.
Terutama Papa Bilmar yang dadanya terus berdentam, ia terlihat gelisah. Sepertinya ia berfirasat kalau Maura sudah melahirkan. Ingin menelepon, masih tidak bisa. Karena mereka masih ada didalam pesawat.
Mama Alika berkali-kali menenangkan hati suaminya. Dan lelaki itu hanya bisa mendesah kan napas berat dan mengangguk seadanya.
Om Malik pun sudah di hubungi oleh Gifali mengenai keadaan Maura yang akan melahirkan. Tetapi lelaki itu mengerti, untuk tidak dulu datang ke London selama ada Galih di sana. Dirinya tahu, ia tidak akan bisa bercengkrama dengan Galih seperti hubungan manusia normal kebanyakan.
"Kenapa melamun?" Ammar kembali membuka percakapan.
Suara Ammar membuat Ganaya terlonjak dari keheningannya. Wanita itu masih setia memandangi awan-awan yang berwarna putih seperti gulungan kapas. Kembali menyesap air teh pemberian lelaki itu lalu menoleh.
"Aku hanya sedang memikirkan kedua Kakak kita."
Amar tersenyum dan kembali menyesap air tehnya. "Aku pun sama. Tapi tenang saja, Kakakku itu kuat. Lihat kan bagaimana ia nekat pergi sendirian ke London beberapa bulan lalu?"
Ucapan itu membuat Ganaya tertawa. Dan Ammar suka hal itu. "Kamu cantik Gana kalau sedang tertawa."
Buru-buru Gana melipat bibirnya, mengganti rasa lucu itu menjadi suatu kebisuan. Ia mengerutkan kening. Gadis itu tahu Ammar sedang menggodanya.
Lelaki berkulit putih, berwajah tampan dan mempunyai dua lesung pipit itu terus memperhatikan lekuk wajah Ganaya dari samping. Ammar memang sudah menaruh hati kepada Ganaya sejak lama.
Namun sikap perhatian yang selalu ia berikan, membuat Ganaya mundur dan malah berbalik tidak suka. Ganaya menganggap Ammar sebagai adiknya, lelaki itu mirip seperti Gemma.
"Maaf, kalau tidak suka." ucap Ammar pelan.
"Aku suka, terimakasih atas pujiannya." jawab Ganaya seadanya.
"Kenapa sudah seminggu ini tidak pernah membalas pesanku?"
Sudah gatal sejak pertemuannya dengan Gana di pesawat untuk menanyakan hal itu. Namun ia terus mencari waktu yang tepat, dan inilah saatnya. Ammar langsung memuntahkan kesedihannya yang sudah seminggu ini bercokol didalam hatinya.
Lelaki itu sering berkirim pesan malah sampai berulang-ulang, dan Ganaya tetap tega tidak mau membalas. Gadis itu sengaja, tidak mau memberi celah kepada Ammar.
"Seminggu ini aku memang sedang sibuk, Ammar."
Ammar mengerutkan kening. "Sibuk apa?"
Bukan menjawab, Ganaya memberikan delikan tajam kepada Ammar. Seraya tahu lelaki disampingnya itu sedang meragukan ucapannya. "Tugas kelompok!" jawabnya dengan nada mulai dingin.
"Siapa aja teman kelompoknya? Laki-laki atau perempuan?" oh, jangan lupakan Ammar adalah keturunan kental dari darah Bilmar Artanegara, lelaki yang begitu posesif dan pencemburu kepada wanitanya.
"Laki-laki!" Ganaya mulai malas menjawab.
"Jangan berteman dengan laki-laki, Gana. Bahaya buat kamu."
Ganaya menggeleng kepala samar, ingin berdecis geli karena di cemburui Ammar. Lelaki yang lebih muda tiga tahun dengannya.
"Oh berarti seharusnya kita tidak perlu bicara ya?"
"Aku kan ... saudaramu." ujung kalimat terasa kelu terucap dari bibir Ammar. Sialann, Ia benci kata-kata itu.
Ganaya mengembangkan senyum. "Karena kita saudara, maka untuk itu kamu tidak boleh suka padaku, Ammar!"
"Lho kenapa? Kita kan hanya saudara sekeluarga besar saja. Enggak sedarah!" Ammar tetap mempertahankan argumennya.
Ganaya mendengus. "Kamu itu mirip seperti Gemma. Sudah aku anggap seperti adikku sendiri."
Gleg.
Air ludah serasa sudah banjir bergerumul di dalam rongga mulutnya, Ammar menelan jauh-jauh ke dasar kerongkongan agar bisa menghilangkan rasa keterjutannya.
Oh, inikah alasan Ganaya terus menghindari Ammar? Batin Ammar bergejolak tidak suka.
"APA?" selak Ganaya.
"Setelah aku menjadi Presdir. Aku akan meminang mu, Ganaya."
DEG.
Wajah Ganaya berubah tegang, jantungnya berdentam kuat. Anak semuda itu, sudah memikirkan tentang pernikahan? Hebat sekali.
"Ijinkan aku untuk menyentuh relung hatimu, Gana."
Ganaya berdecis geli. Ia tergelitik dengan rayuan gombal yang Amar berikan. "Jangan banyak bicara, buktikan saja!"
"Baik, akan aku buktikan!" ujar tegas Maldava Ammar Artanegara.
****
Setelah ketiga anak mereka lahir, Gifali sempat cemas karena melihat Maura tidak sadarkan diri. Ia sampai berteriak histeris didalam kamar operasi. Ia takut kondisi Maura menurun atau sedang masuk ke dalam fase yang buruk.
Namun ia salah terka, Maura hanya tertidur. Entah mengapa efek obat anestesi berjalan sangat lambat di dalam tubunnya. Ia malah merasa ngantuk disaat sudah melahirkan. Tidak jarang memang pasien yang mengalami hal serupa seperti Maura.
Saat ini wanita itu masih berada diruang pemulihan seorang diri. Karena Gifali sedang mengadzani ketiga buah hati mereka secara bergantian diruang bayi.
Kedua tangan Gifali terasa bergetar dan sangat kaku ketika menggendong Bisma, Geisha dan Pradipta secara bergantian. Memegang tubuh mungil itu dengan lidah yang menjulur-julur. Telapak tangan mungil mereka menggenggam erat jari-jemari Gifali.
Mungkin mereka rindu dada kepemilikan Bundanya yang hangat. Karena setelah di berisihkan, ketiga bayi mereka di letakan didada Maura untuk mencari putingg susu. Gifali menyesalkan kenapa disaat kejadian penting itu, istrinya malah sedang asik didalam mimpi.
Gifali mengadzani bayi-bayi mereka dengan suara merdu dan syahdu. Ada sesegukan napas dari lelaki itu. Ternyata air matanya menetes lagi. Tidak henti mengucap syukur kepada Allah, atas apa yang sedang ia rengkuh.
Maha Suci Allah atas kebesarannya. Ia memberikan Gifali tiga bayi sehat, lucu dan sempurna. Tentu semua ini diberikan, berkat buah kesabaran Gifali selama menjalani hidup.
Setelah selesai mengadzani ketiga bayinya. Gifali di persilahkan untuk keluar dulu dari ruang bayi. Karena Bisma, Geisha dan Pradipta harus kembali masuk kedalam infant warmer, agar kembali hangat. Wajarlah ketiga bayi itu keturunan darah Indonesa. Bukan tahan dingin seperti kulit-kulit bule di sini.
"Sayang ..." Gifa mengelus pipi tembam istrinya yang masih tertidur.
Rintik cairan infus masih mengalir kedalam darahnya. Dengkuran halus pun terdengar pelan. Gifali melepas kecupan singkat di bibir Maura sebelum berlalu meninggalkan wanita itu untuk mengabari keluarga yang masih menunggu didepan kamar operasi.
"Bagaimana, Nak?" Pramudya langsung bangkit berdiri dari duduknya. Ketika melihat putranya muncul dari balik pintu.
Gifali tersenyum dan memeluk Pramudya. "Makasih Ayah atas doanya. Istri dan anak-anaku selamat."
Semua nya menghela napas kelegaan. Adrian dan Tamara saling memberikan pelukan kepada Gifali. Dan Ramona hanya mengelus bahu Gifali untuk memberikan rasa haru yang sama.
"Apakah Maura nya sudah sadar?" tanya Tamara.
"Masih di ruang pemulihan, Bu. Maura malah tertidur setelah melahirkan." jawab Gifali disertai kekehan kecil. Lelaki itu menggeleng samar, mengingat kelucuan yang sempat istrinya lakukan di kamar operasi.
"Selama proses persalinan, Maura enggak tidur, Bu. Eh pas bayi kami sudah keluar semua, baru dia ngantuk." sambung Gifali dengan decisan geli.
Semua pun tertawa. "Istrimu itu memang lucu, Gifa. Sayangi dia sampai akhir hayat ya." Tamara menasehati Gifali.
"Tentu, Bu, pasti! Aku akan menjaganya sampai akhir hayat."
***
Guys maap nih aku mau curcol dikit. Aku mau promo hahaha. Jadi nanti project baru aku, setelah MSW adalah cerita Ammar dan Ganaya. Kalau difikir2 kayak cerita tujuh turunan yak?😂
Tapi tetaplah konfliknya berbeda-beda. Semua ceritaku tidak akan ada yang sama, satu sama lain. Mungkin di cerita Ganaya dan Ammar, aku akan beralih ke genre berbeda.
Agak lebih seram sih karena Ammar akan menjadi seorang Presdir sekaligus Mafia besar, banyak mempunyai musuh dimana-mana. Dia lebih keras dibandingkan Papanya. Dan pasti berkonflik yaw hahah🤭. Gitu aja spoiler dari aku. Dan gimana sinopsis nya biar kalian ngerti, akan aku post juga di eps finall MSW.
Boleh follow IG aku (@megadischa). Soalnya aku suka masih spoiler tentang cerita mereka disana.
Yang nanya kapan akan realis, mungkin sebentar lagi kalau enggak ada hambatan. Karena ceritanya juga masih sering aku revisi.
Okey deh lanjut ke Abang Gifa. Like dan Komennya ya. Maacih🤗❤️. Ayo kalian mau gendong siapa dulu?