My Sabbatical Wife

My Sabbatical Wife
Apakah Aku Hamil?



"Resign? Memangnya ada apa?" tanya Edgar dengan wajah panik. "Maura tidak kerasan bekerja disini?"


"Oh bukan begitu, Pak. Malah di sini saya sangat nyaman. Tapi sepertinya saya tidak bisa bekerja lagi, tugas-tugas kuliah saya semakin banyak dan sepertinya saya sudah mulai keteter." jawab Maura sopan.


"Bagaimana kalau saya kasih dispensasi?" Edgar kembali menawarkan.


"Terimakasih banyak, Pak. Tapi Bapak dan hotel ini sudah banyak memberikan saya dispensasi, untuk memperbolehkan bekerja paru waktu di sini."


Edgar menghela napas perlahan, ia terlihat sedih. Namun untuk memaksa Maura tetap bekerja di hotel ini sepertinya tidak mungkin. Maura tetap dalam pendiriannya. Padahal dulu Maira yang merengek-rengek meminta untuk diterima bekerja di sini walau sebagai pelayan. Namun karena kebaikan hati Edgar, membuat Maira untuk menjadi chef di sini.


"Tapi besok kamu masuk kan, Maura?"


Maura mengangguk senyum.


"Karena besok ada tamu spesial. Sahabatnya Tuan Robert, beliau meminta kamu untuk yang memasak makanan yang akan disajikan untuk tamunya."


Tuan Robert adalah pemilik hotel, tempat dimana Maura bekerja. Yang tidak lain adalah teman bisnis Papa Bilmar.


"Baik, Pak. Insya Allah, besok saya akan datang tepat waktu. Jam berapa mereka akan datang?"


"Katanya sore sekitar jam 4."


Maura mengangguk kembali tanda faham. "Baik kalau begitu, Pak. Saya permisi."


Edgar menatap kepergian Maura dengan tatapan sedih. Ia kehilangan wanita cantik itu di hotel ini. Selama ada Maura, restoran menjadi ramai, karena para tamu suka dengan makanan yang dimasak olehnya. Membuat income hotel naik, dan tentunya sebagai Manajer, Edgar mendapatkan bonus karena itu. Ia merasa beruntung mempunyai Maura di sini.


Tadinya ia fikir, dengan cara mendekati Maura dan membuat wanita itu tertarik kepadanya. Akan membuat Maura betah bekerja di sini, kenyataanya tidak, ada Semesta yang lebih dulu menjaga Maura dari perbuatan jahat manusia.


****


"Eugh." desahan nikmat lolos begitu saja dari bibir Maura, membuat hasrat Gifali semakin mendidih ketika masih menghentakkan miliknya di liang kenikmatan Maura. Walau malam terus bergulir dan waktu sudah menunjukan tengah malam, tapi tidak menyurutkan keinginan Gifali untuk kembali melepas lelah dengan cara melepas cinta bersama istrinya.


"Eumm." suara Gifali menyusul setelahnya. Ia terus mengulumm pangkal bongkahan salju yang sedikit bergoyang-goyang karena ritme persatuan tubuh mereka.


"Bareng ya, sayang." ucap Gifali sesaat ia kembali memagut bibit Maura dengan gerakan di ujung bawah sana terasa cepat dan mulai kasar.


Maura terus saja melenguh, mengalungkan kedua tangannya di leher Gifali. Mencium bibir lelaki itu dengan rakus. Maura sudah mulai terbiasa, ia sudah tidak kaku lagi.


"Sekarang ya." ucapnya lagi untuk membimbing Maura agar bisa melalukan pelepasan secara bersamaan dengan sang suami.


Dan kenyatannya mereka mampu. Maura dan Gifa terlihat bahagia karena sudah menempuh puncak kenikmatan seperti malam-malam kemarin. Gifali memang selalu meminta hak nya setiap malam dan Maura akan memberikannya dengan sukarela.


Gifa melepaskan persatuan mereka dan menjatuhkan dirinya dengan bebas di sebelah Maura. Menetralkan napas yang terlihat terengah-engah. Ia pun berbaring dan meriah Maura untuk masuk kedalam dekapannya.


"Makasih ya sayang, kamu keren malam ini, bibir aku sampai bengkak." Gifali berdecis geli. Ia terus saja menggoda Maura sampai wakahnya memerah.


"Ih kamu tuh." jawab Maura malu-malu.


Maura menarik selimutnya sampai sedada untuk lebih menutup tubuhnya yang sudah polos sejak tadi. Terlihat jari-jemarinya masih ia mainkan di pusaran dada Gifali yang tidak tertutup kain sama sekali.


"Geli dong, Ra." ucap Gifali sedikit tertawa, kedua matanya terasa sudah rapat, rasa kantuknya sudah datang menjamah.


Maura senang karena Gifa sudah benar-benar resign dari Kafe. Maka malam ini adalah malam terakhirnya untuk berpisah dengan pemilik Kafe dan karyawan lainnya. Hasil tips dari pengunjung malam ini pun lumayan banyak.


"Kamu kenapa melamun?"


Maura menjengit ketika suaminya tidak jadi memejamkan mata, malah terbuka lagi karena merasa istrinya belum tidur. Maura sedang bimbang, ingin berterus terang sekarang atau tidak. Ia takut momennya tidak tepat.


"Kamu masih mikirin tentang Agnes? Jangan di fikirin terus ya, nanti kamu stress!" pinta Gifali.


"Hanya takut aja, sedikit."


"Banyak juga gak apa-apa kok, wajar." jawab suaminya sambil menjawil pangkal hidung Maura, ia merasa gemas.


Maura tertawa dan makin merekatkan pelukannya. Entah mengapa kedua matanya menatap dalam, tanggal di kalender yang tengah menempel di dinding.


Seperti sedang berfikir dan menerawang jauh, membuat raut wajahnya seperti orang yang sedang cemas dan gelisah. Ia kembali menoleh menatap Gifali yang sudah mengeluarkan dengkuran napas halus. Lelaki itu akhirnya tertidur pulas, kini tinggal Maura dengan segala rasa penuh ketakutan.


"Aku sudah lama tidak meminum pil KB, pekerjaan di hotel membuat aku lupa dengan obat itu, dan aku sudah telat haid dua hari, dan selama seminggu ini kami terus berhubungan, Apakah aku hamil?" desah Maura dengan sekumpulan ludah yang terjun bebas kedalam kerongkongan.


Ia semakin ketakutan, dadanya terasa sesak dan kepalanya penuh.


"Apa jadinya kalau aku hamil?"


****


Siang ini, langit terlihat cerah. Gifali kembali tersenyum menatap keindahan sang raja matahari di atas sana.


Berkat doa dan dorongan dari sang istri membuat Gifali mantap untuk melangkah maju. Ia menerima tawaran dari Pramudya untuk mau bekerja di perusahaannya bersama Adrian. Siang ini setelah kampus selesai, Pramudya membawa Gifali dan juga Adrian ke perusahaan miliknya. Lelaki itu ingin memperkenalkan bangunan kantor, tata letak dan tentunya ruangan mereka di sana.


Hubungan Adrian dengan Gifali pun semakin dekat, malah bisa dibilang seperti saudara. Tidak ada rasa cemburu di hati Adrian, walau pun terkadang bisikan-bisikan setan jahat selalu memprovokasinya.


"Perusahaan di bidang garmen ya, Pak." tanya Gifa ketika tatapannya fokus menatap mesin jahit otomatis yang sedang digunakan oleh para pekerja. Pramudya mengangguk, kembali merangkul Gifa dan Adrian untuk dibawa berkeliling ke ruangan yang lain.


"Ini perusahaan Papa dari gue kecil, Gif. Papa kelolah sendiri, tapi tetap aja Papa gak mau ninggalin dunia perguruan nya, iya kan Pah?" ucap Adrian.


Pramudya mengusap kepala Adrian.


"Iya, Nak." senyuman hangat ia tebar begitu saja kepada Adrian, entah mengapa jantung Gifali berdenyut.


Ia seperti lirih melihat kemesraan Pramudya dengan Adrian, seperti ada rasa kecemburuan yang tidak jelas unsurnya. Namun ia tahu itu hanya fikiran buruk yang mulai mencoba membuatnya untuk berfikiran tidak baik.


Memang seharunya dirinya lah yang diperlakukan seperti itu oleh Pramudya, anak kandung dari lelaki paru baya itu.


"Nah ini ruangan kalian berdua ya." ucap Pramudya ketika pintu ruangan yang tidak terlalu besar berhasil ia buka. Memperlihatkan ada dua meja lengkap dengan perabotan pendukungnya di sana.


"Kalian harus saling bahu membahu menjalani perusahaan ini, nanti ada Tuan Lie, dia akan membantu dan mengawasi kalian dulu untuk beberapa waktu."


Untuk kursi kepemimpinan memang masih direngkuh oleh Pramudya, namun untuk pengawas keuangan serta perdagangan, ia serahkan kepada Gifali dan Adrian.


Gifali dan Adrian tersenyum senang, dua bola mata mereka terus saja berpendar ke penjuru ruangan. Ruangan yang sangat elegan, aksen yang klasik dan ventilasi cukup baik.


"Aku bersyukur karena seruangan dengan Adrian, setidaknya Agnes tidak bisa menggangguku." tuturnya dalam hati.


"Oh iya, nanti sore kalian ikut Papa ya. Ada teman Papa yang mengundang kita untuk makan di restoran hotelnya."


Adrian dan Gifali pun mengangguk. Mereka menurut saja apa yang Pramudya katakan dan perintah. Bagaimanakah setelah ini? Apakah Maura akan bertemu mereka bertiga sore ini?


****


Kuat kuat kalian yaa❤️