My Sabbatical Wife

My Sabbatical Wife
Perpisahan



Hari keberangkatan pun tiba. Semua keluarga besar sudah berkumpul di Bandara untuk melepas kepergian Gifali dan Maura.


"Jangan lupa shalat ya, Nak. Harus jaga kesehatan dan selalu berbakti kepada suamimu." ucap Papa Bilmar sambil menitikkan air mata.


Ia terus mengunci Maura di dalam dadanya. Anak itu pun memangis terisak, memandang lemah orang-orang disekitarnya yang akan ia tinggalkan.


"Papa juga ya, jangan telat makan. Papa kan punya maag, kalau Papa sakit nanti Kakak sedih, Pah."


Suara lembut itu terus saja menusuk sanubari Papa Bilmar. Lelaki paru baya yang semakin tampan itu terus saja meluapkan air matanya. Baru saja ia menangis dimeja akad ketika sedang mewalikan putrinya. Namun hari ini ia menangis kembali karena akan melepas Maura untuk masa depannya.


"Sabar, Pah." Mama Alika mengusap bahu suaminya dan ikut memeluk mereka. Maura pun melepas pelukan itu dan berpindah kepada Mamanya.


"Mah..." tangisan Maura lebih kencang ketika pelukan halus terasa dari wanita itu.


"Kakak harus selalu ingat pesan-pesan Mama ya, Nak! Janji, kan?"


"Janji, Mah. Doain Kakak dan Gifa ya, Mah."


"Iya, Nak, tanpa diminta. Kalian semua selalu dalam doa Mama." Mama Alika mencium wajah Maura yang sudah basah dan memerah karena terus menangis.


"Pah, jagain Mama ya."


"Iya, Kak. Pasti! Papa selalu menjaga Mamamu!"


Maura tersenyum dalam tangisannya.


"Kak..." Ammar menyentuh bahu Kakaknya. Maura pun melepas pelukan itu dan berbalik memeluk Ammar.


"Ammar tolong jaga Mama dan Papa. Gantikan posisiku untuk merawat mereka! Apapun yang Mama dan Papa mau, tolong penuhi Ammar, dan ambil alih lah toko kue ku. Supaya kamu bisa belajar berbisnis dari muda."


Papa Bilmar dan Mama Alika saling merangkul, mereka menangis bersamaan ketika mendengar putrinya mengutarakan keinginannya kepada Ammar.


"Aku janji, Kak. Kamu juga hati-hati di sana. Kalau ada apa-apa cepat kabari kami ya."


"Iya, Ammar. Kakak sayang kamu." Maura mencium kedua pipi Ammar. Ammar pun melakukan hal yang sama. Ia memeluk tubuh Kakaknya lama sekali.


Hal pilu yang sedang terjadi dengan keluarga Artanegara, pun terjadi pula dengan keluarga Hadnan.


Bedanya mereka berpelukan menjadi satu. Mama, Papa, Gifa dan triple G saling berpelukan melingkar. Mereka mengurung Gifa dalam untaian air mata.


"Ingat, Nak. Kami tetap keluargamu. Papa dan Mama tetap orang tuamu. Jika kamu mengalami kesusahan tolong hubungi kami. Kamu adalah anak kesayangan Papa, Nak." ucap Papa Galih dengan air mata yang juga sudah mengalir.


Mama Difa masih terisak, ia terus bertengger meletakan kepalanya didada sang anak. Memeluk erat seperti tidak ingin berpisah.


"Iya, Pah. Gifa pasti akan selalu kabarin Papa dan Mama serta kalian semua." Jawab Gifa lalu ia menundukkan wajahnya untuk menatap sang Mama yang masih menangis menunduk.


"Mah, jangan nangis. Nanti Gifa berat untuk pergi ke London." Gifa merintih.


Mama Difa semakin menangis. Di satu sisi, ia berat melepas sang anak pergi untuk jauh darinya, tapi di sisi lain, ini adalah salah satu kebahagiaan anaknya karena bisa bersama orang yang ia cintai.


Mama Difa menatap lekat wajah sang anak dan menangkup pipi putranya.


"Kakak enggak akan ninggalin Mama, kan?" tatapan Mama Difa lurus kedalam netra gelap kepemilikan Gifali.


"Ya enggak dong, Mah. Gifa kan anak Mama dan Papa. Selamanya akan seperti ini, tidak akan berubah!" Gifali mengusap-usap lengan sang Mama dan mengecup kening wanita paru baya itu yang sudah mengabdikan diri untuk membesarkannya.


"Mah, sudah. Kasian Gifa, nanti dia kefikiran kamu di sana. Papa janji kita pasti akan sering ke London menjenguk mereka." Papa Galih mengelus punggung istrinya.


Mendengar janji manis itu membuat Mama Difa menoleh menatap bahagia suaminya. "Beneran, Pah?"


Papa Galih mengangguk. "Iya sayang, Papa janji." Mama Difa pun berbalik dan memeluk suaminya.


Gifa pun tersenyum melihat kemesraan orang tuanya. Gifali kembali memeluk Papa dan Mamanya secara bergantian.


"Mah, titip Papa ya. Jangan sering dikasih teh manis, Mah. Nanti Papa bisa kena diabetes."


"Papanya susah, Nak. Maunya minum manis terus----"


"Demi Kakak, nanti Papa kurangin deh." Papa Galih mengelus bahu anaknya.


"Gifa titip Mama ya, Pah. Papa harus terus nyenengin hati Mama."


"Pasti, Kak. Papa sayang sekali sama Mamamu---" Mama Difa tersenyum lalu menjawil hidung suaminya. "Makasih ya, Pah."


"Kak..." seru triple G mengerubungi Gifali.


Gifa lebih dulu memeluk Gemma ke dalam dekapannya.


"Gemma kamu adalah pengganti Kakak. Karena kamu laki-laki, tolong jaga Gana dan Gelfa serta Mama dan Papa. Kamu harus jadi anak yang baik dan pengertian. Mau mengantar Mama dan akak-kakak perempuanmu ketika ingin pergi, faham kan?"


Gifa memberi petuah kepada Gemma. Anak lelaki itu mengangguk-anggukan kepala sambil menangis. Hari-harinya pasti akan terasa hambar, tidak ada lagi yang membantunya untuk mengisi PR matematika dan menemaninya untuk bermain futsal atau bermain game.


Kemudian ia melepaskan Gemma dari pelukannya dan meraih Ganaya dan Gelfani. Dua anak perempuan itu mendekap dadanya dengan erat. Gifa mengusap-usap rambut mereka yang terurai panjang. Ganaya dan Gelfani menangis terseguk-seguk.


"Kak, aku mau ikut." ucap Gelfani.


"Kakak mau sekolah, Gelfa. Bukan mau liburan di sana."


Gelfani kembali diam dan menangis.


"Kak bagaimana kalau aku kangen?" tanya Ganaya.


"Kan masih bisa bertukar kabar di wa, telepon atau sosmed lain. Kakak juga pasti pulang lagi ke sini, tapi mungkin agak lama."


Ganaya memandang wajah Kakaknya dengan tatapan sendu dan teriris.


"Kamu juga yang tertua diantara mereka, harus bisa menjaga Gelfa dan Gemma. Kakak percayakan sama kamu, Gana!" Gifa memberikan kecupan hangat di puncak rambut Ganaya lalu beralih kepada Gelfani.


"Kamu pun sama Gelfa, jangan nakal. Jadilah wanita feminin, atur hubunganmu dengan Fadhil. Jangan terlalu berlebihan!" Gelfa mengangguk.


"Dan kamu, Gana."


"Iya, Kak?" Ganaya mendongak menatap wajah Kakaknya untuk mendengarkan apa yang ingin diucapkan kepadanya.


"Atur juga hubunganmu dengan Ammar, nasihat ku tentu sama seperti Gelfani tadi."


"Kamu pacaran sama Ammar, Kak?"


"Apaan sih." Ganaya hanya menggerutu dan berdecak sebal. Ia kembali menelungkup kan kepalanya di dada sang Kakak. Ia merasa malu kalau ketahuan basah sedang berdekatan dengan Ammar, mungkin ia malu dengan usia mereka yang berbeda cukup jauh.


Maura mendekati kedua mertuanya, memeluk mereka satu persatu.


"Ra, tolong titip Gifa ya. Kalau ada salah-salah sama sikapnya, tolong dimaafkan dan diterima ya, Nak." ucap Mama Difa.


"Iya Mah, Maura akan selalu berusaha memberikan kebahagiaan kepada Gifa."


"Kabari kami kalau perlu sesuatu, Ra. Jangan ditahan!" sambung Papa Galih.


Kesyahduan itu pun terjadi antara Gifali dengan Mama Alika dan Papa Bilmar.


"Tolong jaga putriku, Gifa. Kamu lah yang sekarang bertanggung jawab atas dirinya!" tutur Papa Bilmar.


"Iya, Nak. Tolong rawat dan sayangi Maura. Ia adalah harta berharga untuk kami." sambung Mama Alika.


"Iya, Mah, Pah. Gifa berjanji."


Lalu ia beralih menatap sosok lelaki yang baru saja sampai dengan dua perempuan cantik.


"Gifa!" seru Leta dan Aisyah. Kedua kakak sepupu perempuannya itu tengah berlari-larian kecil menerjang tubuh Gifali. Mereka memeluknya erat.


"Kabarin kita ya kalau sudah sampai di sana, kalau aku liburan, kita akan menjenguk kamu ke sana." ujar Aisyah, lalu di akhiri dengan anggukan kepala oleh Leta.


"Iya, Kak. Aku dan Maura selalu menunggu kedatangan kalian berdua di London. Tolong jaga Om ya." Gifa menatap Om Malik yang masih menatapnya dalam senyum tapi dua bola matanya berkaca-kaca. Lelaki paru baya itu seperti menahan sesak karena ingin melepas Gifa dalam waktu yang lama.


Gifa pun melepas dekapan Letta dan Aisyah, lalu memeluk Om Malik.


"Jaga diri, Nak. Sayangi istrimu setulus hati. Jaga ucapanmu untuk tidak menyakiti hatinya. Berhijad lah untuk keluargamu."


Gifali meneteskan kembali air matanya. Lalu Om Malik menyodorkan sebuah dompet panjang yang berisikan segala keperluan untuk Gifa di sana.


"Semua harta Mamamu sudah Om cairkan. Semua ada di sini, kelola lah seperti yang kamu inginkan, kalau masih kurang. Kabari Om ya, Om pasti bantu kamu."


Gifa menatap benda itu dalam-dalam, lalu ia menoleh menatap lagi wajah Om Malik dan memeluknya kembali.


"Makasih banyak, Om."


"Sama-sama, Nak." Malik mengelus lembut punggung anak lelaki itu.


"Mah!" seru Papa Galih meraih dagu istrinya untuk menoleh ke arahnya. Papa Galih masih tidak mau istrinya menatap lama wajah lelaki itu. Mama Difa pun memilih untuk menurut.


Lalu ada langkah terseok-seok dari belakang. Nafas mereka terlihat memburu. Ada Gadis yang sedang berlari-lari bersama Elang, Mama Binar, Om Rendi dan kedua Kakek mereka.


Hampir saja mereka terlambat datang menemani keberangkatan Maura dan Gifali.


"Kakak..." Gadis memeluk Maura. Saudara sepupu itu saling mendekap dalam tangisan.


"Jaga dirimu, Kak. Baik-baik di sana ya, tolong selalu kabari aku!" Gadis pun melirik ke arah Gifali yang sudah berdiri dibelakang Maura. Ia menatap Gifali dalam pelukan.


"Tolong titip Kakakku, Gifa. Jangan sampai ku lukai hatinya lagi. Sudah cukup dulu, kamu melukai aku. Jangan diulangi lagi kepadanya." Gadis melepas pelukan itu dan beralih menatap Maura dan mencium pipinya.


"Makasih, Dis. Begitupun dengan kamu di sini, maafkan Gifa dulu pernah menyakiti hati kamu ya. Tolong bantu Ammar dalam mengelola toko. Aku serahkan pada kalian berdua."


Gadis mengangguk. "Sudah, Kak. Gadis sudah melupakan itu semua. Sekarang sudah ada Elang." Gadis menoleh menatap Elang yang juga sedang menatap dirinya dan Maura. "Dan masalah toko, aku dan Ammar akan berusaha untuk terus berusaha meningkatkan usahamu. Keuntungannya akan kami kirimkan kepadamu."


Maura menggeleng cepat, ia mengedipkan matanya agar Gadis tidak meneruskan hal itu. Ia takut Gifa akan marah. Gadis yang baru tersadar, lalu memngangguk dan diam. Maura pun menoleh untuk menatap Elang.


"Elang tolong jaga Gadis, cintai dan terima dia apa adanya. Aku menitipkan dia ke kamu!"


"Iya, Ra. Aku janji akan selalu jagain Gadis. Aku juga akan nikahin dia."


Wajah Maura berseri bahagia begitu pun wajah Gadis yang merona karena malu. Mama Binar dan Om Rendi hanya tersenyum senang, karena melihat Elang yang begitu sungguh-sungguh menyayangi anak mereka. Sudah tidak ada kesedihan lagi di hati Gadis, walau semua rasa itu masih berproses untuk menghilangkan Gifali secara utuh di dalam relung jiwa Gadis.


"Cepet nikah, bro. Enak banget rasanya." bisik Gifa menggoda Elang, Gifa pun terkekeh.


Elang hanya memiringkan sudut bibirnya. "Sombong, lo. Mentang-mentang udah duluan."


"Makanya cepetan sebelum di salip sama orang----"


Elang mengangguk dan Gifa memberikan pelukan pamit kepadanya. "Maaf kalau dulu gue begitu menyebalkan dimata lo, Lang!"


"Sama, Gif. Maafin gue juga ya, doain gue cepet nikahin Gadis! Oh iya kuliah yang bener lo dan jagain Maura."


"Iya lah pasti, Lo juga harus jaga Gadis. Awas aja kalau sampai dia nangis."


"Hahaha, ya enggak lah, emangnya lo?" Elang tertawa sarkas.


"Sayang..." ucap Mama Binar mengelus bahu Maura.


"Tante akan kangen sama kamu, Ra. Perasaan dulu kamu masih kecil deh, kenapa sekarang udah besar kayak gini, terus mau ninggalin kita?" ucap Mama Binar yang kedua matanya sudah berkaca-kaca.


Maura memeluk tantenya. "Maura akan selalu kangen sama Tante. Tante sehat terus ya biar bisa jaga Kakek. Maura juga titip Mama dan Papa ya."


"Iya, Nak pasti."


"Kek..." Maura bergantian memeluk Kakek Bayu dan Kakek Luky. Dua Kakek yang sudah ringkih serta dipenuhi uban di seluruh rambutnya pun memeluk dirinya dengan tetesan air mata.


"Gifa tolong jaga cucu ku, di sana. Berikan ia kehidupan yang layak. Aku sangat mencintainya." ucap Kakek Bayu sambil memeluk Maura dan menatap Gifali.


Gifali yang masih dalam dekapan Kakek Luky pun mengangguk.


Kini, hari perpisahan pun tiba. Perjalanan rumah tangga Maura dan Gifali akan segera dimulai, setelah mereka sampai di negara tetangga. Meninggalkan sejuta kasih dan sayang dari keluarga dalam kasat mata. Hanya akan ada kenangan dan bayangan keluarganya yang menemani mereka di sana. Pengorbanan Gifali sebagai suami pun akan dimulai, dan kesabaran Maura sebagai istri pun akan diuji.


Mampukah Gifali dan Maura mengikuti alur drama rumah tangga yang akan mereka jalani?


****


Udah tau kan, yang bikin aku semangat nulis cerita ini apa?


Like dan komen ya guys, jangan pelit❤️