My Sabbatical Wife

My Sabbatical Wife
cerita gratis



Assalammualaikum guys, moga selalu sehat ya, aamiin. Aku ada inpo cerita baru yang aku taro di tempat bacaan gratis yaitu di F I Z Z O.


judulnya LOVES IN COVID 19, bisa cari judul dan cari nama aku di sana (MEGADISCHA) atau DM ke Instagram ku @megadischa.


Berikut Blurb dan Bab 1 nya.


Tentang tiga serangkai yang sedang berjuang menata kisah asmaranya dalam masa-masa covid 19.


Ketika mereka merasa buntu,


Ketika mereka merasa tidak ada harapan atau pilihan. Dan memutuskan kata ingin sekali menyerah, di mana merasa bahwa pilihan pergi adalah hal yang paling masuk akal.


Namun, mereka lupa dengan sebuah makna khas yang lahir dari Pemilik Alam Semesta : bahwa sebesar apapun ombaknya jangan pernah melompat dari kapal.


Bagaimana Zila, Gista dan Malika mampu menghadapi keadaan pahit dengan orang terkasih mereka di masa dunia sedang tidak baik-baik saja? Bisakah ketiganya mendapatkan jalan pulang untuk kembali ke dalam versi terbaik?


🌾🌾🌾🌾


Dari hazel matanya, Azila memandang datar nan kosong kepada hamparan tambak lele milik sang Babe yang sudah berdiri puluhan tahun, memberikan jasa untuk kehidupannya sampai ia mampu menjadi seorang tenaga kesehatan yang Almarhum Ibunya impikan.


Sedang asik termangu, memikirkan lelaki yang dulunya paling ia benci namun berubah jadi tambatan hati dan sempat ia jadikan belahan hati walau hanya bertahan selama enam bulan, sampai akhirnya kandas karena ia lebih mengutamakan kebahagiaan Babe nya yang sudah menduda hampir sepuluh tahun, menurunkan tatapannya kepada layar ponsel yang tengah ia genggam di atas pangkuan.


Adam Is Camming Call.


"Mau ngapain sih kamu?" mendengus dalam hati dengan mimik mengkerut. Inginnya ia angkat untuk mengungkapkan rindu, tapi, kenyataanya hanya sepercik air mata yang lekas ia usap agar tidak turun karena Babe yang sedang duduk di sebelah kursinya terdengar akan mengakhiri sambungan telepon dengan calon istri yang akan dinikahi dua minggu lagi.


"Seneng banget, ya, Beh, mau nikah bentar lagi?" tanya Zila tersenyum di balik luka yang secara tak langsung sang Babe ciptakan sendiri untuk nya walau tanpa di sengaja. Ia masukan ponsel ke dalam celana, membiarkan Adam yang tengah sama frustrasi seperti dirinya, terus menelepon di seberang sana.


"Alhamdulillah Babe seneng, Nak. Elu seneng kan tapi?" Babe berbalik tanya dengan khas betawi nya.


Zila ... anak semata wayang Babe, mengangguk yakin. "Seneng dong, Beh."


"Walau nanti Babe udah nikah. Sayangnya Babe ke elu nggak akan berubah, Nak."


"Kalau ke Enyak, gimana, Beh? Masih sayang juga?"


Babe Jaja menghela napas, sembari membenarkan posisi peci tempat ia suka meletakkan uangnya di atas kepala walau posisinya sedari tadi sudah rapih. "Enyak lu tetap di hati Babe, Zil. Akan selalu ada dalam doa, Babe."


"Lebih besar mana cinta Babe ke Enyak sama Ibu Anggun?" sebenarnya sebagai anak, Zila sudah tahu jawabannya, malah, ia amat tahu siapa yang sejak dulu bersarang di relung hati Babe nya.


"Enyak lu, lah. Nggak akan terganti sampai kapanpun," balas Babe. Walau kejujuran tak Zila dapatkan dari binar mata Ayahnya. Zila tersenyum kecil, ia tahu Babe hanya sedang ingin melukis senyum di wajahnya. Zila beralih memandang langit, tercenung lagi, seakan mencari bayangan Almarhum Enyak yang selama menikah hanya bisa menerima kalau cinta Babe sulit untuk dibekuk. Babe dan Enyak memang menikah karena perjodohan.


"Lu bener setujuin Babe nikah, Nak?" Babe bukan orang tua yang tak peka ketika melihat Zila sedikit sendu setelah dirinya melamar Ibu Anggun, cinta pertamanya yang sudah menjada lima tahun.


Zila yang hanya bisa menangis di kamar dan di mobil kesayangannya untuk menumpahkan masalah ini, mengangguk lagi. Ia berikan senyum seluas samudera kepada Babe.


"Iya dong, Beh. Yang penting Babe bahagia."


Babe mengulurkan tangan, membelai halus rambut panjang Zila yang terurai panjang, berwarna cokelat muda, agak ikal di ujungnya. "Moga lu sama Adam bisa jadi saudara yang baik. Kan dari dulu lu pengin banget punya Abang cowok."


"Iya, Beh." ada seteguk ludah yang seolah sulit turun dari pangkal kerongkongan, sampai sekilas ia mengusap dada untuk menghilangkan sesak yang kembali membuncah.


"Katanya kemarin elu bilang mau ngenalin Babe sama pacar lu, siape orangnya? Bawa ke sini, kenalin sama, Babe."


"Ya, Beh. Nanti."


"Nanti-nanti terus perasaan. Inget, Zil. Umur lu udah kepala tiga. Kapan dong kasih Babe cucu?"


Zila tertawa.


"Kalau cucunya aja dulu mau, Beh?" Babe lekas melotot tajam dan Zila buru-buru kabur ke dalam rumah ketika Babe akan melayangkan pecinya. "Kalau ngomong jangan macem-macem, Zil! Awas kalau lu hamil duluan, gue tekek burung laki lu!"


Zila terkekeh-kekeh, menoleh lagi ke belakang berdiri di bingkai pintu belakang. "Cepet ganti baju, Beh. Kita berangkat sekarang aja."


"Baru juga jam delapan. Emang Mall nya udah buka?" hari ini Zila lepas libur dinas. Ia sudah berjanji akan menemani Babe untuk berbelanja seserahan.


"Mall sih biasanya buka jam sembilan. Ya kita nya berangkat dari sekarang aja. Kan kalau belanja masih sepi itu enak, Beh."


"Oh oke dah." setelah sepakat untuk berangkat sekarang, keduanya masuk ke kamar masing-masing untuk berganti pakaian.


Seakan manusia hanya mampu berencana tapi Allah yang akhirnya menentukan, Babe keluar dari kamar dengan tatapan kaget ketika mendapati anak tercintanya sudah berdiri di depan pintu dengan bibir tertekuk.


"Kok lu pake seragam, Zil?"


"Aye disuruh masuk, Beh. Lembur."


"Astaghfirullah, pegimane sih?! Bukannya elu blg dua hari ini libur?"


"Dadakan, Beh. Ada temen yang sakit. Pasien ranap lagi banyak."


"Emang di RS itu cuman elu doang perawat nye? Nggak ada yang lain apeh? Elu manusia, Zila. Bukan robot!"


"Maaf, ye, Beh. Besok deh habis aye dines-"


"Ah, kagak-kagak! Gue kagak izinin elu dines hari ini!" Babe menjeda dengan nada tak suka nya. "Kalau tau lu bakal susah punya waktu buat gue. Gue nggak izinin elu kerja, Zila!"


Zila menatap Babe nya sendu. "Terus kenapa Babe maksain Zila biar jadi perawat? Kan resikonya emang gini."


"Enyak elu yang pengin. Gue mah ogah, nggak mau. Gue tuh pengin elu jadi arsitek!"


Zila lekas berhambur ke dada Babe, ia rasakan getaran jantung Babe yang sedang dag dig dug di sana seolah tengah meluapkan rasa keberatan dan kekecewaannya. "Babe kan pernah bilang ke Zila. Kalau tingkat paling tinggi mencintai seseorang itu, ketika kita bisa mengikhlaskan dan menerima apa yang menjadi kebahagiaan dari orang yang kita sayangi untuk kita jalani. Babe sama Zila lagi sama-sama berjuang demi impiannya, Enyak."


Babe yang jika mengingat Enyak selalu beruntai rasa sesal karena merasa gagal menjadi suami yang baik, sayup-sayup menganggukkan kepala. "Jadi Perawat yang bener buat Enyak lu, Zila."


"Iya, Beh. Doain aja." dan sekarang Azila kembali berjuang untuk kebahagiaan sang Babe, melepaskan Adam.


🌾🌾🌾🌾


"Nggak usah lembur sampai malam, Zil. Biar aku aja," ucap Malika yang sedang meracik obat ke dalam beberapa suntikan yang akan ia berikan kepada pasien sesuai advice Dokter.


Azila yang sedang menikmati ketoprak abang-abang yang ia beli di perjalanan sebelum sampai ke RS menggeleng dengan mulut penuh. "Elu kan lagi hamil muda, Ima. Kuat lu lembur sampe malem?"


Dengan kelopak mata mengerjap-mengerjap, Malika terpongah kaget. Ia yang sedang dalam posisi berdiri di meja perawat, gegas duduk dengan memegang lengan Zila, menatapnya dengan menuntut ribuan tanya.


"Kaget, ya, gue tau lu hamil?"


"Sst!" Malika sontak membekap bibir Zila dengan telapak tangannya agar Gistara, sahabat mereka, yang sejak tadi ada di dalam kamar mandi yang letaknya tidak jauh dari meja perawat, tidak mendengar.


"Kenapa harus rahasia-rahasia sih? Bukannya ini kabar baik?" Zila menurunkan tangan Malika dari bibirnya. Memandang keberatan.


"Kamu tau dari mana?"


"Dari Babe."


Malika menghela napas lelah. "Uwa aku yang cerita ke Babe?"


"Hem." kembali menikmati ketoptrak yang sejak tadi membuat air liur Malika hendak turun. Sebenarnya tadi Zila sudah menelepon Gista dan Malika, menawarkan apakah ingin ketoprak juga. Dan mereka mengatakan tidak mau. Kalau Gista berucap ia sedang tak ingin karena sedang tak napsu makan. Berbeda cerita dengan Malika yang memang sedang mengirit. Tadi pagi, ia hanya membuatkan sarapan untuk suaminya. Nasi di rumah tidak cukup jika dimakan untuk dua orang. Sehingga makan pagi dan siang akan ia rapel jadi satu nanti. Terkadang, Zila juga tidak mau mengambil uang pengganti yang para sahabatnya sodorkan jika sedang menitip sesuatu. Mungkin jika Malika tamak, ia akan senang dengan hal itu. Tapi baginya, persahabatannya dengan Gista dan Zila bukan lagi hanya sekedar pertemanan dari jaman SMA, melainkan sudah seperti saudara. Jadi ia tidak mau membuat Zila merasa gerah karena disalah artikan kebaikannya.


"Kenapa sih harus sembunyi-sembunyi? Kan kalau semua tau lu hamil-" kembali terjeda dengan gelengan kepala yang Malika beri.


"Kamu tau kan Gista baru aja keguguran? Aku nggak pengin menyakiti hatinya dengan kabar ini." anak kedua Gista mengalami IUFD di delapan bulan kandungan.


Seakan mata hatinya baru terbuka, Zila ber oh sadar kalau alasan Malika ada benarnya.


"Tapi bakal lebih sakit kalau Gista tau dari orang, Ima. Dia memang harus segera berdamai dengan masalahnya."


Malika yang seolah paham betul apa yang Gista rasakan, menggeleng lagi. "Enggak segampang itu, Zil. Gista butuh waktu. Apalagi sekarang Mas Gandi agak berubah sikapnya setelah Gista keguguran." Gandi merasa harapannya hancur untuk memiliki anak yang benar-benar sempurna setelah mendapati Neva, anak pertama mereka yang mengalami kelainan penyangga pada tulang tubuh, berusia delapan tahun.


Zila jadi tidak napsu makan, ia yang baru menelan kudapan itu dengan tiga kali sendokan, memilih mengakhiri.


"Lho kok dibuang, mubadzir dong, Zil." Malika mencegah Zila yang akan membuang bungkusan ketoprak ke dalam tempat sampah.


"Nggak napsu."


"Ya udah buat aku aja, sini."


"Yakin? Udah bekas gue ini. Udah gue acak-acak juga."


"Enggak apa-apa. Sini, aku aja yang habisin." walau malu, Malika palingkan rasa itu karena ia sudah lapar sekali dan merasa sayang dengan makanan yang masih bisa dinikmati namun dibuang begitu saja.


"Kan kalau elu mau, gue bisa beliin yang baru. Nggak bekas gue, Ima."


Malika yang lekas melahap makanan itu dengan rakus, tersenyum sembari menggeleng. "Bekas kamu aja udah nikmat kok. Alhamdulillah." Ima sedang mengumpulkan uang karena anak sambungnya akan masuk SD bulan depan. Ia sudah diperingatkan oleh Kakaknya untuk tidak menyetujui pinangan dari lelaki duda yang juga berprofesi sebagai perawat, satu Rumah Sakit dengan mereka bertiga. Karena sang Kakak seakan sudah mengira bahwa Ima akan di ajak hidup melarat oleh Musa. Nyatanya, walau mereka serba pas-pasan, Malika begitu menikmati kehidupan rumah tangganya bersama Musa. Yang dalam dua tahun menikah baru diizinkan hamil oleh Yang Maha Kuasa.


"Ya udah habisin. Sehat-sehat, ya, utun," ujar Zila sembari mengusap perut Malika yang masih rata.


"Makasih, Onti. Ingat, ya, Zil. Jangan sampai keceplosan ke, Gista. Biar nanti aku yang kasih tau dia."


"Okeh gimana baiknya lu aja, Ma." Zila mengangguk terserah, ia mendekati dispenser untuk meraih air di sana.


"Pagi, Neng."


Baik, Zila yang sedang minum dan Malika yang sedang makan, sama-sama menatap Pak Satpam yang baru tiba meletakan paper bag di meja.


"Berdua aja nih dinesnya?" mereka yang tahu kalau Pak Satpam ini memang centil, khususnya kepada Perawat yang cantik-cantik, menjawab irit. "Bertiga."


"Sama, Neng Gista?"


"Iya." Zila dengan wajah malas kembali duduk di tempatnya, ia menggantikan kesibukan Malika yang tadi sedang menyiapkan obat-obatan untuk pasien.


"Jangan asem-asem dong, Neng, mukanya. Bisi susah dapat jodoh."


"Pak Kur!" Malika yang bibirnya sedang belepotan bumbu ketoprak seolah membungkam lidah lelaki itu untuk tidak bergerak lebih jauh. Malika amat tahu, Zila yang sampai di usia tiga puluh satu belum juga menikah, pasti amat sensitif dengan kalimat seperti itu.


Zila tak ambil pusing perkataan Pak Kur. "Buat siapa itu?" melirik ke paper bag dengan nada dingin.


"Buat Neng Ima. Dari Kakaknya."


"Kakak saya?" Malika menyerobot.


"Ya, Neng."


"Beneran ke sini?" karena selama Malika menikah dengan Musa, nomor hapenya di blokir. Kakaknya merasa, Malika bukan Malika yang dulu. Sudah terprovokasi akan Musa. Padahal Musa hanya ingin menjaga aurat istrinya agar lebih tertutup yaitu dengan hijab.


"Beneran, Neng."


Dengan wajah bahagia yang ingin sekali menuangkan rindu dalam pelukan kepada  sang Kakak yang kini hanya sosok itu yang ia punya karena kedua orang tua mereka sudah meninggal, lekas merogoh paper bag. Ia mendapati sebuah bahan brukat dan sebuah amplop.


"Makasih, ya, Pak Kur."


"Sama-sama, Neng." Satpam genit itu kembali berlalu dengan mata melirik gairah kepada Zila.


Awalnya Malika senang dengan isi surat yang menyatakan kalau Kakak lelakinya itu rindu, menginginkan Malika bertandang ke rumahnya dan menghadiri pesta pernikahan anaknya, namun wajah bahagia itu lekas sirna ketika ia mendapatkan sejumput kata yang langsung merusak moodnya di akhir surat.


"Kok Kakak lu masih aja begini, ya, Ma." Zila seolah merangkul bahu Malika yang sedang tertegun diam, sembari meremas surat tersebut yang berisikan bahwa sang Kakak memberikan baju keluarga hanya kepadanya dan menginginkan wanita itu datang sendiri tanpa Musa.


"Mungkin kalau Kakak lu tau lu lagi hamil dia bakalan seneng, Ma."


Malika hanya mampu menggeleng pelan dengan isak mulai muncul. "Udah, udah, sabar. Nggak selamanya kok keadaan bakalan begini. Iman lu lebih gede dari gue. Lu pasti bisa lewatin ini," tutur Zila yang meyakini bahwa selama menikah dengan Musa, Malika jauh lebih sabar.


"In Syaa Allah, Zil." Malika mencoba menata hati kembali dengan menguatkan senyum yang terlihat getir untuk di paksakan kuat terpampang. Ia seka air mata untuk kembali memasukan bahan brukat itu ke dalam paper bag.


Dan di detik itu pula, keduanya kembali terhenyak sampai sekilas berteriak ketika melihat Gistara keluar dari kamar mandi dengan tangan sudah berdarah-darah karena goresan silet.


"GISTA!" Zila dan Malika melangkah cepat, menghampiri dan menopang sahabatnya itu yang sebentar lagi akan terkapar lemas di lantai.


"Lu gila, ya?" bentak Zila.


"Kenapa sampai begini, Gis," timpal Malika dengan mimik cemas dan takut.


Dalam keadaan lemah, menatap lampu yang bergantung pada langit-langit, Gista bergumam pelan. "Mas Gandi selingkuh."


🌾🌾🌾🌾bersambung🌾🌾🌾🌾


Di sana sudah ada lima bab, silahkan mampir yaa, aku tunggu❤️