My Sabbatical Wife

My Sabbatical Wife
Aku coba untuk percaya



"Assalammualaikum sayang ..." ucap Gifali setelah sampai diambang pintu dan langsung menguncinya.


Maura yang sedang menyetrika menoleh sekilas ke arah Gifali, lalu ia kembali menunduk ke pusaran kemeja suaminya yang sedang ia setrika.


Gifali mengerutkan kening, seperti ada yang berbeda dengan istrinya, dan perasaan aneh itu semakin menjalar ketika ia melihat ada balutan perban di punggung tangan Maura. Gifali mengernyit, ia pun beringsut untuk berjongkok disamping Maura.


"Tangan kamu kenapa?"


Maura hanya diam, tangannya tetap menggerakkan alat setrikaan disetiap lekuk baju.


Tadi sore, pada saat ia sedang memasak di hotel. Tangannya tidak sengaja terkena cipratan minyak yang sangat panas.


Selama mereka bersama, tidak pernah melihat Maura sehening ini. Apalagi jika Gifa yang bertanya padanya, wanita itu pasti menurut dan menyahut.


"Tangan kamu kenapa, sayang?" bukannya marah karena pertanyaannya tidak di gubris, ia kembali mengulangnya dengan lembut. Tangan Maura pun berhenti, bibirnya masih terkatup dan kedua matanya hanya membola menatap dinding.


Gifali tahu wanita ini sedang tidak beres. Gifa pun melepaskan tangan Maura dari gagang setrika. Mencabut kabel setrikaan dari saklar. Ia pun meraih tubuh Maura untuk dibawa menuju ranjang. Ingin bertanya ada hal apa yang membuat istrinya merajuk.


"Ayo sini duduk." titah Gifali, ia mendudukkan istrinya yang masih saja melamun ditepian ranjang.


"Kamu kenapa, Ra? Aku ada salah?" Gifa meraih dagu Maura untuk menatap wajahnya.


"Loh kok nangis?" Gifali terperanjat, ia sapu genangan air mata itu dengan kedua jarinya.


Maura menundukkan kepala, seketika kedua bahunya terlihat mengguncang, dan isakkan tangis menyusul setelahnya.


"Hey cantik, kenapa?" Gifali membawa Maura masuk kedalam dadanya. Mengunci tubuh lemah itu dengan kedua tangannya.


"Ayo cerita ada apa?" Gifali tetap memaksa.


"Aku takut kehilangan kamu lagi!" jawabnya terisak-isak.


Pengalaman mereka bertiga dengan Gadis dulu, masih saja belum bisa hilang dari ingatan. Gadis bisa merelakan Gifa karena wanita itu masih saudara dengan dirinya. Lalu jika perebutnya adalah Agnes, hanya orang lain tanpa ikatan darah, wanita itu tidak akan perduli dengan perasaan Maura, karena kalau seorang perebut kasihan dengan istri pertama, maka di dunia ini tidak akan ada pelakor.


"Maksudnya gimana, aku nggak ngerti." Gifali melepaskan pelukan itu dan menangkup wajah Maura yang semakin basah. Akhirnya ia paksakan untuk menatap suaminya.


"Ta-di.." ucapnya masih terbata, ia menjeda karena isak tangis masih sulit untuk ia berhentikan. Gifali masih setia menunggu, walau Maura dalam keadaan yang sulit terbaca.


"Ada, Kakak seniorku, dia---"


Gifali mengangguk dan tetap menunggu penjelasan itu sampai selesai.


"Dia datang ke aku, minta nomor telepon kamu. Katanya dia ingin berkenalan." Maura kembali menangis. Hatinya terasa sakit.


Tercetak jelas, ada beberapa lipatan di kening Gifali. "Kamu kenal sama dia, Gifa? Dimana? Kenapa dia bisa tau kalau Kamu adalah Kakakku? Kalian pernah jalan?"


"Hah?" Gifali kaget setengah mati, ia masih belum tersadar jika yang dibicarakan Maura adalah Agnes. "Aku nggak ngerti maksud kamu." cicitnya pelan, seraya menerawang jauh, siapakah wanita itu.


"Kakak kelas kamu? Sekampus?" tanyanya.


Maura hanya diam dan mengangguk. Kini, wajahnya tidak lagi putih tapi sudah memerah, Maura mirip dengan kepiting rebus. Dadanya terasa sesak, karena ia merasa Gifali masih saja berpura-pura tidak faham.


"Oh iya----Aku ingat sekarang!"


Isak tangis Maura terlihat terhenti sesaat ketika menatap suaminya yang mulai jujur.


"Ceweknya putih, rambutnya panjang gelombang cokelat gitu ya? Terus pakai seragamnya agak ketat?"


Maura mendelik tajam ketika mendengar kalimat di akhir ucapan. "KAMU PERHATIIN TUBUH DIA, GIFA??" tanya Maura dengan nada nyaring tidak suka.


"Sstt, sayang! Jangan teriak-teriak ini tuh udah malam!" Gifali meletakkan satu jarinya di bibir Maura yang masih menganga.


Waktu saat ini sudah menunjukan pukul 23:00 malam, tentu suara mereka akan terdengar nyaring. Apalagi kostan mereka masih berhimpitan dengan kostan yang lain. Gifali takut mereka akan keluar dan mengetuk pintu kostan mereka. Seakan Maura sudah termakan api cemburu. Tidak terlihat lagi perangai anak baik yang selalu menurut. Karena baginya, suami harus dijaga sampai mati, itulah nasihat dari sang Mama.


"Oke deh aku jelasin." Gifa memutuskan untuk menceritakan saat ini juga. Padahal tubuhnya sudah sangat lelah, segelas air pun belum ia terima dari Maura untuk membasuh tenggorokannya yang kering, bernyanyi puluhan lagu selama empat jam, tentu membuat energi habis terkuras.


Padahal setiap Gifali muncul dari ambang pintu sehabis pulang bekerja, ia akan disambut dengan beberapa kecupan dan segelas air hangat dari istrinya.


"Ya udah jelasin sekarang!"


Gifali mengangguk dan mengelus lembut pipi sang istri.


"Semoga aja pandangan kita sama ya tentang wanita itu. Karena jujur aku enggak pernah kenalan, ketemuan atau gimana pun sama dia."


"Tapi yang aku tau dia itu Ketua Senat, benar gak?"


Maura mengangguk setuju. "Iya benar Gifa, dia itu orangnya. Namanya Agnes."


"Maksudnya gimana? Kok kamu bisa tau dia itu Ketua Senat dikampus ku?"


Gifali tertawa. "Emang bener ya, cemburu itu bisa membuat orang hilang akal---Kayak kamu." Gifali menggoda Maura dan mencium pipinya sekilas karena merasa sangat gemas.


"Jangan cium aku!" decak Maura dengan bibir maju seperti itik.


"Emang bisa? Kalau malam kan harus di cium dulu, terus di sentuh ini nya.." Gifali meremass salah satu gundukan yang masih terhalang kain baju.


"Iih, nakal!" decak Maura, ia menepis kepalan tangan itu untuk menjauh.


"Jadi tuh gini sayang. Kamu ingat kan waktu ospek kamu pernah sakit? Nah, aku bawain surat sakit kamu ke dia. Ya udah mungkin dia terkesima atau gimana, mungkin karena aku tampan?" Gifali kembali meledek Maura, dan wanita yang ia ledek, kembali mendelikan matanya.


"Bercanda ih, segitunya sih kamu cemburuin aku."


Maura hanya memiringkan sudut bibirnya dan memutar bola matanya jenga.


"Mungkin dia jadi tau nama aku dan status kita. Udah gitu tadi pagi habis aku nganter kamu, dia manggil aku. Sempat kok dia minta nomor hape aku, tapi aku nggak kasih. Makanya dia minta nomornya sama kamu."


"Beneran?" cicitnya sendu.


"Demi Tuhan, aku berani bersumpah." jawab Suaminya jujur.


Maura pun mengangguk, ia menerima alasan itu dari bibir suaminya. "Terus kamu jawab apa ke dia, kamu kasih nomor aku ke dia?"


"Kamu berharapnya gitu?"


"Ya Allah, Ra. Salah lagi aja aku tuh." Gifali mengusap wajahnya kasar, ia pun merebahkan dirinya di kasur dengan posisi terlentang sambil memejam kedua mata. Maura akhirnya iba, ia tidak sampai hati melihat suaminya yang sudah letih seperti itu tetapi masih ia introgasi.


"Iya udah kalau gitu, untuk saat ini aku percaya. Awas aja kalau sampai kamu bohong!" jawab Maura. Ia lebih memilih mengalah, jika bukan dia yang mempercayai ucapan suaminya, lalu siapa lagi?


Gifali mengangguk sambil memijit-mijit pangkal dahinya.


"Kamu pusing sayang?" tanya Maura, kini kedua tangannya sedang bersandar diatas betis Gifali dan memijatnya dengan tekanan kecil.


Sebelum Gifali mengangguk dengan cepat ia mengerjapkan kembali bola matanya. Ia bangkit dan duduk kembali.


"Ini kenapa? Kamu belum jawab pertanyaan aku tadi!"


"Biasa deh kena minyak panas pada saat praktek." jawab Maura santai.


"Udah dikasih salep?" Gifa menyentuh tangan istrinya, menatap lagi balutan perban di sana.


"Udah kok, tadi Ramona yang ngobatin aku."


"Bener? Nggak karena habis pukul kaca atau pukul barang lain, sebagai pelampiasan kekesalan ke aku, kan?"


Maura menggeleng cepat. "Ya enggak lah."


"Ya bagus. Kalau gitu kamu harus hati-hati kalau lagi praktek. Jangan sampai teledor." Gifa melepas kecupan hangat di pucuk rambut Maura yang terurai. Aroma sampo membuat Gifa merasa temaran.


"Oh iya hitung, Ra. Malam ini aku dapat berapa." Gifa menunjuk tas yang ia letakan sedari tadi dibawah lantai tidak jauh darinya. Setiap malam Maura yang akan menghitung berapa banyak uang tips yang dibawa oleh suaminya.


"Aku ambilkan air minum dulu buat kamu ya, nanti habis itu baru aku hitung." Maura pun beranjak untuk berlalu ke dapur.


"Sekalian siapin air hangat ya sayang, aku ingin mandi."


"Iya sayang aku siapkan, kamu mau makan? Biar aku buatkan nasi goreng."


"Iya sayang aku mau, walau perut aku sudah kenyang tapi kalau kamu ingatkan aku tentang makanan itu, perut aku terasa lapar lagi." jawab Gifa terkekeh.


"Iya udah mandi dulu, keburu malam." Maura kembali lalu menyodorkan segelas air hangat untuk suaminya. Gifa pun beranjak bangkit ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan Maura bersiap untuk membuatkan sepiring nasi goreng.


Sungguh sejuk suatu rumah tangga, jika salah satu pasangan bisa terus bersabar dalam meredam api cemburu, emosi atau kesalah fahaman yang sedang muncul diantara keduanya. Sikap mengalah, tidak membesarkan ego dan penuh keterbukaan.


Namun mereka lupa jika besok masih ada satu drama lagi yang harus mereka hadapi. Pertemuan mereka berdua di kediaman Pramudya. Bagaimana mereka nanti disana, tetap kah menjadi Kakak beradik? Atau memilih untuk diam, agar sandiwara mereka tidak diketahui.


*****


Gifali nih emang beda banget dari perangainya Papa Galih, dia lebih mirip ke Mas Ibra, ada yang setuju nggak yah? hehehe


Oh iyaa maap banget kayaknya besok aku gak bisa up MSW dan MPS season tiga ya. Aku minta libur dulu sehari. Tapi ya ini sih masih rencana, takut aja gitu kalian nungguin kol aku gak up-up. Sebisanya aku usahain ya, kalau waktunya sempat aku langsung up lagi.


Like dan komennya ya, maacih❤️