
18 tahun yang lalu, Galih dan Gita bekerja di sebuah perusahaan yang sama. Galih menjadi manajer dan Gita menjadi anak buahnya. Rasa cinta yang dipendam Gita sejak di bangku SMA begitu saja memuncak.
Ia merasa Nadifa sebagai istri yang tidak berguna, karena sampai lima tahun menikah. Wanita itu tidak bisa memberikan seorang anak kepada Galih. Jiwa perusak nya pun muncul untuk merebut Galih dari Nadifa.
Sehabis rapat antar karyawan. Gita berakting sakit kepala kepada Galih. Meminta lelaki itu untuk mengantarkannya ke rumah. Galih pun dengan senang hati mengantar Gita. Karena ia tahu Gita bukan hanya sekedar bawahan, tetapi juga sahabat baiknya sedari SMA.
Namun sikap Gita semakin kurang ajar, ia merasa Galih bisa di goda.
"Lepas Gita, kamu tidak boleh seperti ini!"
Galih melepaskan pelukan Gita dan cepat beranjak bangkit dari sofa.
"Aku sangat mencintaimu. Aku ingin bersamamu dulu, tolong jangan tinggalin aku, Lih!" ucap Gita memohon, wanita itu tetap menahan tubuh Galih untuk tetap tinggal bersamanya di sini.
Mengiba, mengerang dan menangis itulah yang Gita lakukan. Wanita itu sedang frustasi, ia tidak kuat menahan gejolak rasa cintanya kepada Galih. Selama sepuluh tahun ia memendam rasa kepada lelaki itu, mencoba melupakan sudah, namun hasilnya tetap nihil. Ia malah semakin mencintai lelaki itu.
Galih tidak kaget dengan apa yang Gita ucapkan, karena ia sudah mengetahui perasaan Gita sedari SMA. Namun lelaki itu hanya mencinta Nadifa, adik kelas mereka.
"Git, kamu harus ngelupain aku, aku nggak akan bisa sama kamu! Kita hanya bisa bersahabat."
"Kamu cantik dan pintar, nggak akan ada yang bisamenolak kamu! Menikahlah dan lupakan aku!" Galih meyakinkan Gita. Tanpa Galih sadari, ada yang betul-betul mencintai Gita dengan tulus. Namun wanita ini selalu menolak dan menghindar dari lelaki yang memang murni kepadanya.
Dengan air mata yang sudah tumpah ruah, Gita kembali mengerang.
"Kamu bilang semua laki-laki nggak akan menolak aku? Tapi kenapa hari ini kamu menolak aku, Lih! Aku nggak masalah dijadikan kedua setelah Difa, yang jelas aku tetap ingin sama kamu!" Gita tetap memaksa. Wanita itu terus menangis.
"Nggak mungkin, Git! Aku udah menikah, mempunyai istri, aku sangat mencintai Difa! Dia adalah segalanya bagiku, jiwa utama didalam hidupku! Sumber kebahagiaanku! Susah payah dulu aku bisa mendapatkan hatinya! Aku nggak akan sampai hati untuk menyakiti perasaannya!" jawab Galih tegas.
Begitu sakit hati Gita mendengarkan pengakuan itu dari Galih. Galih begitu memuji istrinya. Namun Gita tidak perduli. Ia tetap memeluk Galih. Galih terus meronta untuk berusaha melepaskan Gita dari tubuhnya.
"Tolong lihat diriku, aku akan berusaha seperti istrimu." Gita tetap bersikeras.
Galih menggeleng-geleng kan kepalanya. Mengingat hari sudah siang, menjamah waktu isoma dan ia sudah berjanji untuk makan siang bersama istrinya.
"Jangan lupa makan dan minum obat. istirahat dulu dirumah untuk beberapa hari ini!" ucap Galih melepaskan tubuh gita dari dadanya.
Seketika pula Gita menarik wajah Galih dan mengecup bibirnya. Lelaki itu pun kaget terbelalak.
Astaga dia mencium galih dengan paksaan.
Dengan cepat Galih melepas dirinya dan mendorong tubuh Gita ke sofa.
"Maaf, Git!" Galih berlalu untuk angkat kaki dari rumah Gita.
Hati wanita itu pun hancur. Remuk jiwanya. Ditolak mentah-mentah oleh orang yang dicintai. Rasanya sudah tidak ada harga diri. Sepertinya ia ingin mengakhiri hidup saja sekarang.
"GALIH!" Gita terus meraung-raung memanggil nama Galih. Lelaki tampan yang tidak pernah hilang dari hati dan kepalanya.
"Bagaimanapun caranya, aku akan menyingkirkan Nadifa!"
*****
Gita turun dari taxi dengan tubuh sempoyongan. Terlihat seorang lelaki berkacamata dengan tatapan teduh sedang berdiri didepan pagar rumah Gita.
Dengan sebuah bungkusan makanan ditangannya, ia bermaksud untuk membawakan Gita makan malam.
Namun Ia kaget, ketika melihat Gita keluar dari taxi dengan keadaan yang sudah berantakan. Lelaki itu pun langsung menyambar tubuh Gita yang akan terhuyung jatuh ke atas aspal.
Aroma alkohol pun tercium dari bibir Gita, membuat lelaki itu sesekali menjauhkan kepalanya.
"Berapa Pak ongkos taxi nya?" tanya lelaki itu kepada sopir taxi.
"200 ribu."
Ia mengeluarkan dompet dan meraih uang untuk membayar taxi. Taxi pun berlalu meninggalkan mereka berdua.
"Galih .... Sayang." Gita terus merancau. Ia memeluk lelaki itu dengan kedua tangannya. Sesekali ingin limbung, namun sekuat tenaga lelaki itu terus membawanya masuk kedalam rumah.
"Ayolah menikah denganku, Lih. Tinggalkan wanita yang tidak berguna itu!" Gita terkekeh geli, ia kembali ingin menyergap lelaki yang sejak tadi menolongnya.
"Git, lepas! Aku ini Pramudya bukan Galih."
Gita semakin tertawa.
"Pramudya? Si Dosen miskin itu?" Gita kembali tertawa, ia terus merendahkan Pramudya.
"Bilang padanya, tidak usah mengejar ku lagi. Karena aku akan menjadi nyonya Galih sebentar lagi." dan Gita pun kembali tertawa.
"Lupakan Galih, Git! Menikahlah denganku." ucap Pramudya.
Ia membaringkan Gita di sofa yang terus saja meronta dan susah untuk dibekukan.
"Cintaku tulus untuk kamu." sambung Pramudya dengan tatapan mengiba. Ia terus menyeka air keringat yang bercucuran membasahi wajah Gita.
Gita terus saja tertawa melepas rasa kekecewaannya. "Tunggu sebentar ya, aku ambilkan kamu minum dulu."
"Jangan! Kamu di sini aja, Lih! Jangan tinggalin aku!" Gita menarik tangan Pramudya yang akan beranjak dari sofa. Lelaki itu pun terhempas kembali di bantal sofa.
"Iya, Lih. Ayo kita menikah."
Gita tetap menganggap Pramudya adalah Galih. Alam bawa sadarnya sudah kacau karena pengaruh minuman beralkohol. Ia memang pergi ke diskotik untuk menghilangkan stres.
Kejadian tadi siang dengan Galih sangat memukul batinnya. Untung saja di sana tidak ada lelaki yang ingin menjahati nya. Pelayan diskotik berbaik hati untuk membawa Gita menuju taxi agar bisa pulang kerumah.
"Aku Pramudya, Gita. Bukan Galih!" Pramudya tetap sabar menenangkan Gita. Walau hatinya terinjak-injak bahkan terludahkan.
"Galih, aku mencintaimu, ayo kita menikah! Aku akan memberikan banyak anak untuk kamu." Gita menjawil hidung Pramudya. Ia mengelus lembut wajah lelaki itu, dan mencoba untuk mencium bibirnya.
"Git, jangan!" Pramudya menolak, ia sedikit menjauh dan memalingkan wajahnya.
"Aku bisa kok bikin kamu puas, Lih!" Gita terkekeh.
Pramudya pun melepas paksa tubuh Gita yang kembali memeluknya. Terus menyesap rasa gurih di leher Pramudya. Lelaki itu susah payah untuk menjauh, namun sentuhan Gita susah untuk di hindari.
"Gita sadarlah! Aku ini Pramudya sayang." nada lembut mencuat dari bibir Pramudya.
Ia terus menangkup wajah Gita agar berhenti untuk melakukan hal beringas kepada dirinya. Walau sedari tadi libido Pramudya, sepertinya sudah terpancing naik. Tadi sebisa mungkin ia lawan, ia tidak mau menodai Gita sebelum mereka menikah.
Setan-setan terus bergerumul membisiki Gita dengan hasrat yang membara. Dengan secepat kilat ia melumatt habis bibir Pramudya.
Lelaki itu pun terbelalak kaget. Awalnya ia hanya diam hanya menikmati, namun ia adalah lelaki normal yang mempunyai nafsu, apalagi dirinya sangat mencintai Gita, tentu rasanya menjadi sangat nikmat.
Perlahan-lahan ia membalas, dan terpancing untuk memagut. Decitan saliva pun terdengar bersatu. Pramudya yang awalnya hanya ingin membuat Gita sadar, malah ikut terjerumus. Jiwanya seperti meminta lebih untuk menuntut.
Gita meraba-raba permukaan dada Pramudya yang bidang. Sontak tanpa sadar wanita itu membuka seluruh helaian pakaian atasnya. Pramudya kembali tercengang, ia mengagumi kemolekan tubuh Gita. Tanpa sadar ia mulai menikmatinya.
Kini, Pramudya yang bergerak. Ia memimpin permainan. Mereka pun akhirnya bersetubuhh di atas sofa. Pramudya merenggut kehormatan Gita untuk pertama kalinya.
*****
Guyss biar aku gak kapok ngasih kalian dua episode berturut-turut. Komennya dan Like nya ya jangan lupa.
Kadang kalian jadi cuman like di episode terakhir aja. Nulis satu episode aja aku satu-dua jam.
Dan kalian baca paling gak sampe lima menit, apa salahnya tekan jempol kalian untuk like dan komen. Biar aku semangat terus, Kan jadi sedih aku tuh😢
Kayaknya sehari satu episode aja kali ya guys, heheh.
Bonus nih untuk pengantar tidur kalian❣️