
"Pangkas rambutnya dek, udah gondrong tuh. Gak cakep lagi nanti kaya Al Ghazali." seru Papa Bilmar ketika sedang video call dengan Ammar. Anak lelaki nya itu hanya terkekeh geli di seberang sana.
"Botak ya? Boleh nggak?" tanya Ammar.
"Botak enggak boleh! Kalau pitak baru boleh." dan gelak tawa antara Bapak dan Anak itu kembali bertubrukan nyaring.
Mama Alika yang masih menata meja makan, kemudian menoleh dan melototkan dua bola matanya ke arah Papa Bilmar.
"Ini, Mah. Si Ammar, katanya keteknya mau di pitakin!" jawab nya antusias, lalu tertawa.
"BOHONG, MAH!" suara Ammar terdengar teriak di sambungan telepon. Membuat Papa Bilmar menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Teriak aja terus, Dek. Sampai gendang telinga Papa kamu keluar." sahut Mama Alika.
"Jangan dong sayang, nanti enggak bisa denger suara kamu pas lagi eem-eem dong." Papa Bilmar mengedipkan satu matanya.
"Bener-bener, nih. Udah tua, masih aja itu yang dibahas!" seru Mama Alika mulai menghampiri Papa Bilmar seraya ingin mencubit. Membuat Papa Bilmar seketika beringsut untuk menjauhi istrinya.
Mama Alika mengambil bantal sofa untuk menghentak tubuh Papa Bilmar.
"Udah ya, Nak. Ini Mama kamu lagi kesurupan." Papa Bilmar tetap berusaha menjauh dari pukulan istrinya.
"Kesurupan jadi apa, Pah?" Ammar memang mirip sekali dengan sang Papa. Sama-sama senang bercanda.
"Jadi maung." jawab Papa Bilmar. Bapak dan Anak itu kembali mentertawakan istrinya.
"Bener-bener, Nih!" Mama Alika terus saja ingin meraih tubuh suaminya. Untuk mencubit, namun langkahnya terhalang dengan meja.
"Ampun, sayang. Papa bercanda, Mah." seru Papa Bilmar.
"Gak ada ampun-ampun sini jambang nya! Mama gemes mau tarik!" Mama Alika mencondongkan tubuhnya untuk meraih kain kaos Papa Bilmar. Namun wanita itu kesulitan.
Sampai pada akhirnya Papa Bilmar bisa lolos dari istrinya pada saat Mama Alika menoleh ke arah pintu utama yang terdengar terbuka dan muncul suara salam dari Maura serta Gifali dari ambang pintu.
"Loh, Pah. Kenapa?" Papa Bilmar langsung bersembunyi dibelakang tubuh Maura dan Gifali. Ia takut dicubit oleh istrinya.
Mama Alika pun menghampiri mereka dengan kedua tangan yang sudah diletakan di atas pinggang.
"Sini nggak!"
"Enggak." jawab Papa Bilmar sambil tertawa-tawa.
Mama Alika mendengus kesal. "Sini!"
"Tolongin Papa, Ra. Mama lagi kesurupan."
"Kesurupan apa, Pah?" tanpa disangka respon Gifali sama seperti Ammar.
"Maung." jawab Papa Bilmar tertawa. Sontak ucapan itu membuat Maura dan Gifali ikut tertawa.
"Yeh diulang-ulang!" Mama Alika semakin gemas ingin mencubit suaminya. Namun lelaki paru bayah itu selalu handal untuk menghindari capitan kuku panas istri tercintanya.
"Mah, Pah. Udah dong. Masa bentar lagi mau jadi nenek dan kakek dari ketiga cucunya, masih aja berantem." ucap Maura tersenyum.
Hening sesaat. Mama Alika dan Papa Bilmar saling melemparkan tatapan.
"Apanya tuh tiga?" tanya Papa Bilmar masih dengan wajah melongo.
"Sini, sini." ucap Maura, ia menarik tangan Mama dan Papanya untuk disatukan di atas perutnya.
"Ayo ketiga buah hati Bunda, salam buat Nenek dan Kakek."
Seketika wajah Mama Alika dan Papa Bilmar berbinar bahagia.
"Yang bener, Ra. Kembar?" tanya Mama Alika dengan bola mata yang sudah membulat sempurna. Mulutnya menganga sedikit.
"Kembar tiga, Kak?" sambung Papa dengan wajah tidak percaya.
Gifali dan Maura mengangguk bersamaan sambil tersenyum.
Mama Alika langsung memeluk putrinya, mengunci tubuhnya erat. "Ya Allah, Ya Rahman, Alhamdulillah." seru wanita paru bayah itu. Air matanya menggenang karena haru. Pun sama dengan Papa Bilmar. Lelaki itu tersenyum bahagia.
"Allah menggantikan kedua anak kita yang sudah pergi, dengan tiga cucu, Mah." ucap Papa kepada Mama.
Mama Alika semakin menangis. "Iya, Pah. Allah sayang sama kita." jawab Mama terbata-bata.
Gifali tersenyum menatap istri dan mertuanya saling berpelukan. Terlihat wajahnya kembali menerawang. Pusat otaknya kembali memikirkan Mama Difa dan Papa Galih. Apa kabar dengan mereka, mengapa kebahagiaan begitu sulit untuk direngkuh.
Lalu
Drrt drrt drrt
"Papa?" seru Gifa ketika menatap layar ponselnya. Lelaki itu berjingkrak kegirangan, membuat Maura dan kedua mertuanya beralih menatapnya.
"Kenapa sayang?" tanya Maura.
"Assalammualaikum, Nak." suara lelaki paruh bayah itu membuat dada Gifali bergetar. Entah mengapa air matanya menetes lagi.
"Waalaikumsallam, Pah." jawab Gifa dengan suara amat berat. Sang Papa tahu jika anaknya sedang menahan tangis.
"Ayo nangis kalau mau nangis. Papa siap dengerin." Papa Galih terdengar meledek diseberang sana. Samar-samar suara Mama Difa pun terdengar berbisik-bisik.
"Pah, Mama mau ngomong sama Kakak." seru Mama Difa pelan. Papa Galih akhirnya meloadspeaker pembicaraan mereka.
"Kakak, sayangnya Mama." panggil Mama Difa dengan nada lembut, sungguh meneduhkan.
Gifa pun melangkah untuk menghempaskan dirinya di atas sofa, ia tetap menempelkan gawai itu di telinganya.
Begitu Lega dadanya, ia kembali mendengar suara orang tuanya yang begitu hangat dan syahdu. Benar apa kata Mama Difa, suaminya itu butuh waktu untuk menenangkan diri. Dan selama ia berada di pesawat. Lelaki itu mencoba untuk bisa berfikir jernih.
"Ikhlaskan hati mu, Pah. Cintai Gifali hanya karena Allah. Kakak tetap anak kita, kamu tetap Papanya." begitulah sekumpulan kata yang diucapkan Mama Difa kepada suaminya. Membuat fikiran dan hati Papa Galih terbuka. Maka ketika mereka sudah tiba dirumah, Papa Galih langsung menghubungi putranya. Ia takut Gifali resah memikirkan dirinya dan sang istri.
"Iya, Mah, Pah. Kakak kangen kalian lagi." jawab Gifali sendu.
Ia memilih menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. Menutup wajahnya dengan bagian lengan dalam. Ia malu jika istri dan mertuanya melihat dirinya tengah menangis.
"Nanti kalau adik-adikmu sudah liburan, Papa dan Mama akan ke London lagi." jawab Papa.
"Iya, Pah." jawab Gifa sambil menarik ingusnya ke pangkal hidung.
"Mama dan Papa kapan sampai?" tanya Gifa kembali.
"Nih baru banget sampai kamar." jawab Mama dan Papa bersamaan. Mereka memang sedang bergoler d pusaran ranjang.
"Adek-adek lagi apa, Mah?" tanya Gifa.
"Lagi tidur dong, Nak. Ini kan udah malem banget, jam dua belas." Papa Galih yang menjawab.
"Oh iya, Kakak lupa, Pah." jawab Gifa tertawa.
"Kamu sedang apa, Nak? Apa sudah pulang kuliah?" sambung Mama, wanita itu tau jika saat ini si London pasti siang.
"Baru saja pulang dari dokter kandungan, Mah."
"Loh kenapa?" baru saja Mama Difa ingin menjawab, namun suara Papa Galih kembali menyelak, nadanya terdengar panik.
"Iya, Kak. Maura kenapa? Perutnya sakit?" Mama Difa ikut cemas.
Gifali sudah berhenti dari tangisnya, ia kembali teringat berita baik yang baru saja di jelaskan oleh dr. Albert beberapa jam yang lalu.
"Alhamdulilah, Pah, Mah. Maura hamil kembar tiga."
Sama seperti halnya Papa Bilmar dan Mama Alika barusan, Papa Galih dan Mama Difa hening sesat, terlihat mereka terlonjak untuk segera bangkit dari baringan dan duduk menyila.
"Masya Allah Tabarakallah ..." seru dua orang tua itu bersamaan di seberang sana.
"Yang benar, Kak? Kamu lagi enggak bercanda kan?" tanya Papa Galih meyakinkan.
"Iya, Pah bener. Maura hamil kembar, janinnya ada tiga."
Hening lagi. Papa Galih meneteskan air matanya. Ia langsung beringsut memeluk Mama Difa. "Perkasa banget anak kita, Mah. Nikah baru dua bulan langsung berhasil cetak gawang, nah aku dulu nunggu lima tahun dulu." Papa Galih terisak haru.
"Kak, nih Papanya senang sampai nangis." Mama Difa terkekeh. Melow sekali hati suaminya yang garang itu, ia mengelus lembut lengan Papa Galih.
"Cieh, Kakek." ledeknya. Papa Galih semakin menenggelamkan kepalanya di dada sang istri. Memeluk sandaran jiwanya.
Gifali tersenyum bahagia. Sesak yang sejak kemarin bercokol di dadanya kini sudah plong dan musnah. Napas kelegaan ia hembuskan berkali-kali ke udara. Senang sekali hatinya hari ini, terasa dobel dengan kebahagiaan yang baru saja bisa ia nikmati.
Pertama, berita kehamilan kembar tiga sang istri yang baru saja ia ketahui. Dan yang kedua, Papa Galih dan Mama Difa tetap bersikap hangat dan masih menerima dirinya seperti dulu.
"Alhamdulillah Ya Robb. Engkau tetap mengizinkanku, untuk terus berada di keluarga Hadnan. Dan aku bersyukur atas nikmatmu tentang kehamilan istriku."
"Sayang." Maura mengelus bahu suaminya. Gifa menurunkan lengan tangan yang sejak tadi menutupi wajahnya.
Ia meraih tubuh Maura dengan lembut untuk duduk disebelahnya. Menjadikan tubuh mungil itu sebagai sandaran. Memeluk perut Maura dan mencium pipi istrinya.
"Jangan lupa telepon Ayah Pramudya." bisik Maura. Gifali hanya mengangguk.
Papa Bilmar dan Mama Alika tersenyum bahagia melihat keromantisan anak dan menantunya yang masih duduk di sofa memunggungi mereka.
*****
Hari ini udah dua bab ya guys, see you❣️
Kalau suka sama mereka, Like dan Komennya jangan lupa ya🤗
Yang satu lagi di nina boboin sama ketiga kakeknya🤭. Tungguin besok ya, Maura dan Gifa akan bertandang kerumah Pramudya.