
Rasa keram yang sejak tadi siang bergelayut di perutnya, kini masih saja terus berlanjut. Walau rasa keram yang ia rasakan sekarang tidak begitu menyakitkan seperti sebelumnya.
Beberapa menit sekali Maura bisa bernapas lega karena rasa keram itu sedikit mereda, namun ia akan kembali meringis kalau rasa itu keram kembali datang.
Dan parahnya lagi, bukan hanya rasa keram yang ia rasakan, tapi sekarang malah merambat ke saluran pernafasan nya. Dadanya terasa sesak dan berat.
"Hhh ... Ya allah." Maura kembali mendenguskan napas.
Maura masih berdiri di belakang kursi meja makan. Satu tangannya dipergunakan untuk berpegangan pada puncak bangku dan satu lagi untuk memegang perutnya. Ia menyesal mengapa membiarkan art nya pulang jika keadaannya semakin tidak membaik.
"Ya Allah, keram lagi." desahnya lagi.
Maura terus mencoba membuat dirinya rileks. Walau dadanya masih terasa berat, ia memaksakan untuk terus menghirup oksigen di udara bebas agar ia tekan untuk masuk kedalam paru-paru, berharap ia bis bernapas lega kembali.
Sejak tadi ia ingin menelpon suaminya, tapi urung dilakukan karena rasa keram itu selalu hilang timbul. Tidak mau membuat suaminya khawatir dan hilang konsentrasi.
Dan tak berapa lama, wajahnya berbinar ketika ia mendengar suara deru mesin mobil sang suami sudah mendarat di garasi.
"Assalammualaikum ... Sayang, aku pulang."
Maura hanya bisa memberikan senyuman tipis yang disertai dengan sesakkan napas. Cahaya di wajah Gifali seketika pupus dan redup.
Dirinya fikir rasa lelah karena penat di kampus dan kantor akan menghilang setelah melihat wajah istrinya dirumah, namun ia salah. Gifali menjengit kaget karena melihat Maura tengah meringis.
Lelaki itu melangkah cepat sampai bungkusan yang ia genggam begitu saja terhempas dan jatuh ke atas lantai.
"Kenapa sayang?" tanyanya khawatir. Ia memapah Maura untuk di dudukan ke kursi.
"Jangan sayang! Jangan bawa aku duduk." Maura menghentikan papahan itu. Ibu hamil itu masih mengatur napasnya untuk menekan rasa sesak dan sakit di perut nya.
"Sakit?" Gifali mengelus lembut perut istrinya.
"Ehem ..." Maura mengangguk.
Sorot mata si calon Ayah itu membeliak. Sepertinya ia juga mulai kekurangan oksigen, karena rasa kecemasan terus saja menggema di benaknya.
"Aku panggil Dokter biar ke sini ya." Gifali memutuskan. Ia merogoh kantung celana untuk meraih gawainya.
"Jangan sayang!" Maura meraih paksa gawai tersebut dan ia genggam. "Mahal biayanya kalau harus panggil Dokter kerumah. Lebih baik kita saja yang ke Rumah Sakit."
Betul memang, biaya jasa Dokter jika dipanggil kerumah sangatlah besar. Dua minggu lalu ketika Maura mengalami mual muntah, mereka terpaksa memanggil Dokter kerumah karena itu semua kehendak Papa Bilmar, tentu lelaki paru bayah itu yang membayarnya.
"Enggak apa-apaa sayang, aku masih ada uang." ucap Gifali. Hatinya bergemuruh melihat istri nya mengerang sakit seperti ini.
"Kebutuhan kita masih banyak, Gifa. Lebih baik ditabung untuk biaya melahirkan." jawab Maura. Melahirkan memang masih jauh, tapi mereka tahu semua itu harus dipersiapkan dari sekarang.
Gifali hening sesaat, apa yang diucapkan istrinya memang betul semua. Ia harus menabung kembali untuk membayarkan kuliah mereka, kebutuhan rumah tangga, susu dan vitamin Maura selama hamil dan kontrol ke dokter seperti sekarang. Karena Maura sudah menjadi istri dan calon ibu, tentu jiwa perhitungannya akan muncul.
"Tolong ambilkan tas ku di kamar ya, kita pergi sekarang."
Suara itu membuyarkan lamunan Gifali. Ia termenung karena tadi dikampus, Pramudya berbicara ingin memberikan uang bulanan kepadanya, namun ia menolak. Gifali bilang kalau ia ingin berlajar mandiri.
"Iya sayang, tunggu dulu di sini ya." Gifali bergegas cepat menuju kamar untuk menjalankan perintah dari istrinya.
Padahal tubuhnya sangat letih, banyak sekali tugas kuliah dan pekerjaan dikantor yang membuat tubuhnya remuk. Belum lagi ia harus mampir ke toko makanan untuk membawakan pesanan Maura dan kembali masuk kedalam kemacetan menuju rumah.
Sungguh begitu besar perjuangan dan pengorbanan si calon Ayah.
"Gifa ..." rintih Maura.
"Iya sayangku ... Pelan-pelan ya." Gifali memapah Maura untuk melangkah hati-hati menuju pintu utama rumah mereka.
****
Sebegini kah rasanya akan menjadi seorang Ayah dan suami siaga? Harus siap mental dan tetap berfikir jernih di setiap keadaan apapun. Dan Gifali mulai menyadarinya sekarang, bahwa menjadi seorang Ayah dan suami sigap amatlah sulit.
Kesulitan yang saat ini tengah ia rasakan, membuat dirinya rindu dengan Papa Galih. Lelaki yang selalu ia elu-elu kan di setiap sakit dan senangnya.
Walau saat ini sudah ada sosok Pramudya, tetap saja jiwanya kental dengan sosok Papanya yang sekarang berada di Indonesia.
"Sabar sayang ..." ucap Gifali sambil meraih punggung tangan Maura untuk ia cium beberapa kali. Maura hanya bisa mengangguk dan bergeliat memegangi perutnya.
"Sebentar lagi kita sampai ya, sabar sayang." Gifali tetap menenangkan sang istri.
Tiga puluh menit kemudian, mereka sampai di pelataran rumah sakit. Dengan hati-hati Gifali membawa Maura untuk masuk kedalam ruang emergency. Membaringkan istrinya di ranjang pasien.
Dokter mulai memeriksa keadaan Maura dan menanyakan keluhan apa yang sedang dirasa. Gifali masih saja terlihat panik, berkali-kali ia mengusap wajahnya yang basah karena cucuran peluh. Belum lagi debaran jantung yang hebat.
"Ibu sedang hamil ya?" tanya Dokter, ia mengetahuinya ketika sedang memeriksa perut Maura.
"Iya Dok istri saya sedang mengandung." sahut Gifali yang masih berdiri di samping Maura. Menggenggam tangan istrinya kuat-kuat. Ia melihat Dokter tersebut sedang memeriksa di area dada.
"Napasnya masih sesak, Bu?" tanya Dokter lagi.
"Masih, Dok."
Dokter mengangguk dan melepas stetoskop dari telinganya, dan mengalungkan kembali di lehernya. Ia memegang nadi dipergelangan tangan Maura.
"Tolong berikan terapi oksigen ya, Sus." titah Dokter.
"Bapaknya bisa ikut saya ya." Gifali mengangguk.
"Tunggu dulu ya sayang."
Maura mengangguk dan melepas kepergian suaminya untuk menyusul langkah Dokter.
Tak lama terlihat selang oksigen sudah terpasang di kedua lubang hidung Maura. Kepalanya pun menyandar diatas dua bantal sekaligus. Rasanya ritme dadanya kembali membaik. Perawat pun berlalu meninggalkan Maura seorang diri di ranjang, ketika merasa napas Maura sudah berangsur normal.
Ketika ia baru saja ingin memejamkan kedua mata karena napasnya mulai lega, tiba-tiba saja keningnya terlihat mengerut, kedua matanya kembali ia paksakan untuk terbuka. Daun telinganya seraya bergerak-gerak untuk mendengarkan suara yang begitu saja mengusik dirinya.
"Suaranya seperti ...?" Maura kembali mempertajam suara tersebut. Suara yang saling bersautan disebelahnya, membuat ia begitu penasaran, mengapa bisa mirip dengan suara yang ia kenal.
Karena untuk melegakan hatinya, bahwa terkaan nya benar. Maura mencoba beringsut perlahan untuk lebih mendekat ke arah hordeng pemisah ranjang mereka.
Dengan rasa penasaran yang semakin membuncah, ia geser tirai itu pelan-pelan, melongokkan kedua mata sedikit untuk menatap jelas.
Lalu
DEG.
"Ya Allah ...?" desah Maura terperanjat.
Maura terpaku ketika melihat dua orang yang cukup ia kenal dengan satu lelaki yang masih ia pertanyakan keberadaannya ditengah-tengah mereka.
"Siapa dia?"
*****
Like dan Komen ya guyss, see you❣️