My Sabbatical Wife

My Sabbatical Wife
Sampai Mati Aku Tetap Keturunan Hadnan.



"Sabar sayang ..." Maura mendekap suaminya di atas sofa. Mengusap lembut dan terus berusaha untuk menenangkan Gifali yang masih gelisah.


Semua mata yang memandang pun menatap nanar. Malik dan Pramudya adalah orang yang saat ini merasa bersalah dan menyesal. Setidaknya mereka berhasil membuat kekacauan di keluarga ini. Namun mau bagaimana lagi, jalan seperti ini yang memang Semesta ridho kan.


Papa Bilmar dan Mama Alika pun masih menatap sedih menantunya. Mereka bingung harus berbuat apa. Yang jelas sekarang besannya bertambah, ada Pramudya dan Tamara.


"Pantas saja, Mas Galih membenci dia. Oh dulunya seperti itu ya. Kalau saya jadi Mas Galih, mungkin lelaki ini sudah ada di dalam tanah." kelakar Papa Bilmar menatap Malik yang masih menyandarkan tubuhnya di sofa. Lelaki itu memejamkan matanya sebentar, karena kepalanya terasa berat dan sakit. Bulatan keunguan tercetak jelas di wajahnya. Belum lagi ada robekan di ujung bibirnya, darah mengering di sudut mulut.


"Kalau aku jadi Mba Difa, mungkin aku sudah mati di tangan Bilmar." gumam Mama Alika dalam fikirannya. Lalu tanpa sengaja ia menoleh dan menatap suaminya yang juga sedang melirik Malik.


"Pah jangan ngelihatin orang kayak gitu!" bisik Mama Alika pelan.


Papa Bilmar pun menurunkan tatapannya dari Malik.


"Papa hanya ikut kesal, Mah."


Mama Alika mendelikan matanya dan mengedikkan pangkal bahu. "Kenapa?"


"Ada lelaki seperti dia, menyukai istri orang lain!" Papa Bilmar membalas bisikan istrinya, wajahnya seperti ikut murka dan geram.


"Itu kan dulu, Pah. Sekarang sudah masing-masing. Sudah berjalan dengan normal."


"Papa kagum sama Mas Galih, Mah. Masih mau dia menerima istrinya lagi."


Seketika rasa keingintahuan Mama Alika pun memuncak. Ia ingin tahu, apa yang akan dilakukan suaminya. Jika dirinya yang dalam posisi seperti itu.


"Kalau semisalnya Mama kaya Mba Difa gimana, Pah?"


Kalau tadi Mama Alika, kini giliran Papa Bilmar yang mendelik tajam.


"Papa akan bunuh Mama. Sebelumnya Papa cincang dulu jadi 40 potong lalu Papa bom pakai granat!"


Sontak bulu-bulu halus disekitar permukaan kulit Mama Alika meremang. Ia terlihat merinding dan takut.


"Kan, baru aja diomongin." gumam Mama Alika, lalu mencubit pelan lengan Papa Bilmar.


Walau dunia akan menjawab, Papa Bilmar akan lebih memilih ia yang meminum racun dibandingkan istrinya. Lebih baik dirinya yang mati.


Pramudya masih memperhatikan Gifali. Hatinya seperti mendung, jika saja Malik tidak mempunyai skandal dengan Mama Difa, dan selama ini tidak menutupi semua kebenaran itu, pasti Papa Galih tidak akan semarah tadi. Lelaki manis paru bayah itu pun bangkit dan berpindah duduk disebelah Gifali. Ia ingin mengusap punggung anaknya yang masih mendekap erat tubuh Maura.


"Mama dan Papaku, Ra." desah Gifali dalam rengekan tangisnya. Kedewasaannya sepertinya gugur begitu saja, ia sedih dan juga takut kalau terkaan nya benar.


"Gifa ..." suara Pramudya terhenti ketika pintu kamar Mama Difa dan Papa Galih terbuka.


Seketika itu pula Gifali melepaskan dekapan istrinya dan beranjak dari sofa untuk menghampiri Mama dan Papa nya yang sudah bersiap untuk pulang. Dua koper sudah di dorong Papa Galih ke luar kamar.


Papa Galih berusaha untuk sekuat mungkin didepan Gifali. Ia tidak boleh menangis, ia harus tegar. Kenyataannya memang seperti ini, karena di dalam kamusnya. Tidak ada kata membagi, hanya ada kata melepaskan atau memperjuangkan. Dan untuk Gifali, ia memilih untuk melepaskan.


"Papa pulang dulu ya, Nak. Kasihan adik-adikmu, kami sudah lama meninggalkan mereka dirumah." jawab Papa Galih, nada nya terdengar lembut.


"Enggak, Pah. Kakak maunya Papa di sini dulu."


Gifa beringsut untuk memeluk Papanya. Lelaki itu menangis terisak-isak. Hatinya begitu sedih, ia takut dibuang dari keluarga Hadnan. Papa Galih memandang nanar anak itu. Putranya yang dulu selalu ia timang-timang. Kejadian hari ini memang membuat luka menganga di jantungnya. Sampai ia sulit untuk bisa bernafas walau hanya menghela.


"Anak Papah siapa namanya?" celoteh Galih mengajak bicara Gifali. Bayi itu hanya bisa menatap dan tertawa.


Lolos juga air matanya, ketika bayangan Gifali kecil muncul lagi di benaknya. Dadanya terasa sesak, karena sang anak terus saja memeluknya dengan erat. Menangis di pusaran kemeja sang Papa. "Jangan pergi ya, Pah, Mah. Di sini dulu." rengek Gifali.


Batin Mama Difa terhunus tajam, bagai ditusuk dengan samurai. Leleran air matanya terus mengalir, hanya bisa menatap lirih Gifali namun tidak bisa melakukan apa-apa. Ia tidak bisa berhenti menangis.


Rasanya kedua matanya sudah sakit dan perih. Ia hanya bisa menyeka air matanya dengan tepi hijab syar'i nya. Wanita itu mengusap punggung Gifali. Sentuhan dan kelembutan itu membuat Gifali menangis dengan kencang.


"Jangan tinggalin Kakak, Mah, Pah. Sampai mati Kakak tetap keturunan Hadnan!" seru Gifali.


Sontak ucapan itu menusuk hati Pramudya. Namun lelaki itu harus bisa pasrah dan menerima, kalau didalam hati Gifali saat ini memang hanya ada satu Papa yang masih terikat kental dengannya yaitu Papa Galih.


Papa Galih melepas paksa tubuh sang anak. Memegang kedua lengan Gifali dan menatap wajahnya yang sudah banjir. Gifali menatap Mama dan Papanya secara bergantian dengan leleran air mata.


"Sudahlah, Nak. Jangan menangis." Papa Galih mengusap wajah putranya.


"Kamu akan menjadi calon ayah sebentar lagi. Mental kamu harus kuat! Lagi pula di sini sudah ada Ayah kandungmu. Papa akan tenang melepas kamu di sini dengan Maura, karena kalian akan ada yang menjaga."


"PAPA!!" tangis Gifali kembali pecah. Ia memeluk lagi dada bidang milik Papanya. Tangisannya lebih kencang, ia terus merengek seperti anak bayi. Ia tidak perduli apapun lagi, ia hanya ingin Papa dan Mamanya.


"Pah ..." desah Mama Difa kepada suaminya, seraya mengatakan kalau dirinya tidak kuat melihat Gifali meronta seperti itu.


Papa Galih dengan sekuat tenaga hanya bisa menggelengkan kepala kepada Mama Difa. Meminta wanita itu untuk bisa bersabar, dan mau dengan ikhlas melepas Gifali untuk sementara waktu.


"Sudah, sudah, Nak. Taxi sudah menunggu didepan, satu jam lagi pesawat kami akan berangkat."


Papa Galih melepas paksa tubuh Gifali. Rasanya sangat sakit memperlakukan anak yang ia cintai seperti itu. Namun bagaimana lagi, ia tidak punya cara lain.


"Ayo, Mah!"


Papa Galih kembali melangkah dengan membawa dua koper di tangan kanan dan kirinya. Ia terus melangkah sampai dipertengahan ruang tamu, semua orang pun berdiri. Maura dan kedua besannya menghampiri mereka.


*****


Ada satu part lagi, tungguin ya❣️