My Sabbatical Wife

My Sabbatical Wife
Sebuah Keputusan.



Seiring perputaran bumi pada porosnya, yang bisa mengganti detik menjadi menit. Mengganti menit menjadi dentikan jam, dan memutar jam untuk berganti menjadi hari-hari berikutnya. Membuat waktu begitu saja cepat berlalu.


Begitu pun luka basah di hati, semakin hari, luka itu semakin mengering karena banyak siraman doa yang diucapkan. Bisa membuat hati yang awalnya panas, lalu mengutuk dan mencaci, kini menjadi sejuk dan temaran, berganti dengan kelapangan dada. Ikhlas dengan segala jalan yang sudah Semesta berikan.


Satu minggu sudah berlalu pasca kejadian naas yang di alami oleh mereka berdua di London. Dan sudah tiga hari ini, Maura Zivannya di perbolehkan pulang dari Rumah Sakit oleh Dokter. Walau ia harus pulang ke rumah dengan keadaan banyak memakai bantuan alat penyokong di tubuhnya.


Dan dalam beberapa hari ini, ia juga sudah bersahabat dengan kaca mata, alat pendengar dan tongkat jalan. Walau terkadang ia masih kurang fokus dengan perintah otak terhadap keseimbangan tubuhnya.


"Et, ets! Kok ke dapur Kak?" dengan cepat Ammar loncat dari sofa, untuk meraih tangan sang Kakak yang akan melesat ke dapur. Lelaki itu merasa aneh, karena sebelum Kakaknya beranjak dari sofa, ia bilang ingin buang air kecil.


Maura tersenyum. "Oh, salah ya. Kakak fikir kamar mandi." bukan karena ia tidak melihat dengan jelas, tapi karena sistem sarafnya masih sedikit terganggu. Antara keinginan hati dengan sistem pengendalian otak pada tubuh belum ballance.


"Ayo aku antar." Ammar menggandeng tangan kiri Maura untuk dibawa menuju kamar mandi. Maura melangkah tertatah-tatah sambil membawa tongkat jalan di tangan kanannya.


"Dulu waktu kamu kecil, aku yang selalu menggendong mu ke kamar mandi, kalau Mama dan Papa tidak ada. Sekarang gantian kamu yang memapah ku, Dek."


Maura tersenyum, ia melangkah sambil meletakan kepalanya di bahu Ammar. Harusnya ia menangis, mengutuk mengapa keadaan dirinya bisa seperti ini. Tetapi Maura sudah legowo, ini lah keadaan yang sudah Allah takdir kan untuknya.


Allah berikan sakit kepada setiap hamba, hanya untuk penggugur dosa.


Berbeda dengan Ammar yang mengganti sinar di wajahnya dengan keredupan. Hati adik mana yang tidak lirih, ketika melihat keadaan Kakaknya seperti orang yang tidak berguna.


"Awas licin, hati-hati melangkah nya." ucap Ammar ketika pintu kamar mandi sudah ia buka, ia terlebih dulu masuk ke dalam agar bisa membawa Maura untuk masuk.


Ammar membantu Maura untuk duduk di atas closed.


"Adek di depan pintu ya." tukas Ammar.


"Iya, Dek."


"Kalau sudah selesai, hentak pintu ini dengan tongkat." titah Ammar menunjuk daun pintu kamar mandi.


Ammar meletakan tongkat jalan sang Kakak di sebelah closed, agar Maura dengan mudah meraihnya, kemudian berlalu dan menyandar di dinding luar kamar mandi.


Wanita berhijab rumahan itu mengangguk senyum. "Iya."


Drrt drrt drrt


Gawai Ammar bergetar. Lelaki itu merogoh kantung celana untuk meraih gawainya. Wajahnya sumringah ketika menatap layar ponsel, karena Kakak iparnya melakukan sambungan video call dari London.


"Assalammualaikum, Ammar ..." salam Gifali untuk membuka awal percakapan mereka.


"Waalaikumsallam, Kak. Bagaimana kabarmu?" tanya Ammar.


"Sudah membaik, lihatlah. Kakak sudah bisa berjalan dengan baik." Gifali memegang gawai sambil berjalan kesana kemari, memperlihatkan bahwa tubuhnya sudah membaik.


"Alhamdulillah, aku senang melihatnya." jawab Ammar.


"Kakakmu mana, Ammar? Sejak tadi aku telepon, hape nya tidak diangkat."


"Oh, iya. Hapenya tertinggal di meja, sekarang aku sedang menungggu Kakak di dalam kamar mandi."


Terlihat di sana, Gifali mengusap dada karena lega. Ia tersenyum senang. Gifali selalu saja mudah berfikiran negatif, di kala istrinya sulit untuk di hubungi.


"Maaf jadi merepotkan mu, Ammar." ucap Gifali dengan nada setengah getir.


Ammar menggelengkan kepala. "Repot dari mana? Dia kan Kakakku." jawab Ammar sambil tertawa.


Dug. Dug. Dug.


Ammar menoleh ke arah pintu kamar mandi, karena mendengar ujung tongkat menekan daun pintu dari dalam. "Aku matikan dulu ya, Kakak sudah selesai. Nanti akan aku telepon balik."


*****


"Sedang di kamar mandi?" tanya Mama Difa kepada Gifali yang masih berdiri memegang gawai.


"Iya, Mah. Ammar mengantarnya." jawab Gifa sambil melangkah ke sofa, menghempaskan tubuhnya disebelah sang Mama yang sedang mengupas buah apel untuk dirinya.


Selama satu minggu, Mama Difa memutuskan untuk menetap di London seorang diri. Karena empat hari lalu, Papa Galih harus membawa ke tiga anaknya untuk kembali pulang ke Indonesia. Karena mereka harus tetap sekolah.


Mama Difa memilih untuk tidur di kamar perawatan Gifali. Padahal Pramudya dan Tamara sudah mempersilahkan dirinya untuk bisa tinggal dirumah mereka.


Namun wanita berhijab syar'i itu menolak dengan bahasa halus. Ia hanya ingin seharian bersama putranya di Rumah Sakit. Toh kamar yang di saat ini digunakan oleh Gifali, adalah kamar vvip, memiliki ranjang khusus untuk penunggu pasien.


Pramudya dan Tamara pun setiap hari akan datang ke Rumah Sakit. Untuk melihat keadaan putra mereka dan mengantarkan makan siang untuk Mama Difa. Dan perihal Agnes, ia sudah dijadikan tersangka. Namun karena diketahui ia sebagai pencandu. Akhirnya wanita itu dimasukan terlebih dulu ke tempat rehabilitasi narkoba di Negara ini.


"Ayo, Nak. Makan lah ..." Mama Difa menyodorkan irisan buah apel kepada Gifali.


"Apakah besok Kakak sudah boleh pulang, Mah?" tanya Gifali. "Kan kemarin kata Dokter juga, luka di perut ku sudah kering." sambung Gifali sambil memasukan potongan buah apel itu kedalam mulutnya, membawa arah mata Mamanya untuk menatap perutnya.


Mama Difa meraih tissue untuk mengelap tangannya lebih dulu, sebelum menyingkap baju pasien yang di gunakan oleh Gifali.


"Iya, sih. Sudah kering, dan sudah tidak berbau." Mama Difa mengendus aroma dari balik luka yang ditutup perban dengan samar. Karena setiap sore, suster akan mengganti balutan Gifali agar terhindar dari kuman.


"Sebelum pulang ke Indonesia, Kakak ingin mendatangi kampus Maura dulu, Mah. Sudah ada dua panggilan dari sana, Sebagai suami, Kakak harus menghadapinya."


Mama Difa menghela napas. "Apa keputusan Kakak sudah bulat?"


Mama Difa mengingat keputusan yang kemarin malam sudah anaknya kemukakan.


"Iya, Mah. Papa Bilmar juga sudah setuju. Kakak akan mengambil cuti kuliah dulu selama tiga bulan untuk mengurus Maura di Jakarta, dan setelah itu Kakak akan kembali ke London." jawab Gifali.


"Tapi setelah tiga bulan, Kakak akan berpisah dengan Maura ... Tiga tahun, Kak? Kakak yakin?"


Dengan mantap lelaki itu mengangguk.


"Kakak harus tetap melanjutkan kuliah, Mah. Maura sudah gagal untuk mengemban ilmu di sini. Jangan sampai Kakak juga. Biarlah Kakak yang berjuang untuk menggantikannya. Setidaknya Papa Bilmar tidak akan kecewa, ia tetap memiliki menantu yang bisa dibanggakan."


"Tapi kan mertuamu sudah tidak memaksa, ia membolehkan Kalian jika ingin sama-sama di Jakarta."


Gifali menggelengkan kepala.


"Kakak harus tetap berpegang teguh pada pendirian, Mah. Harus menjadi lelaki yang sukses, untuk istri, anak dan orang tua. Tiga tahun tidak lama, Kakak akan usahakan pulang per dua bulan sekali ke Indonesia."


"Tapi kan kuliah di Jakarta bisa, Kak. Nanti Kakak juga bisa bekerja di kantor Papa." Mama Difa terus memaksa.


Gifa beringsut untuk memeluk Mamanya. "Kakak tetap mau mandiri, Mah. Kakak akan melanjutkan study di sini sampai selesai. Bekerja di kantor Ayah seperti biasa. Kakak harus tetap menafkahi Maura dan ketiga bayi kami. Kakak juga akan menabung lagi untuk menyekolahkan Maura setelah ia melahirkan."


"Kakak akan tenang, jika Maura tinggal di Indonesia. Di London, begitu banyak luka untuk batinnya." sambung Gifali kembali.


Mama Difa hanya bisa mengangguk berat. Ia tidak bisa berkata-kata lagi, jika itu sudah menjadi keputusan sang putra.


"Mama akan selalu mendoakan untuk kebahagiaan mu dan Maura." air mata haru kembali menetes dari sudut mata Mamanya.


Gifali tersenyum dan mengusap air mata itu dengan buku jarinya. Mencium kening Mama Difa lama. "Kakak janji, akan bahagiakan Mama dan Papa setelah Kakak mempunyai uang yang banyak. Maka dari itu, biarkan Gifa melanjutkan sekolah yang sudah setengah jalan di sini." Gifa tahu hati Mamanya masih saja berat untuk melepasnya seorang diri di sini tanpa Maura. Walau ada Pramudya, tetap saja rasa khawatirnya belum cukup sirna.


*****


Like dan Komen ya guys, biar kalian gak rindu karena, beberapa episode lagi akan mendekati ending.