My Sabbatical Wife

My Sabbatical Wife
Menjadi Adik dan Kakak.



Terlihat Gifali dengan sekumpulan semangat, menggandeng tangan istrinya untuk kembali masuk keruang pendaftaran kampus. Sebelum langkah mereka benar-benar masuk kedalam, dengan cepat Maura menarik tangan Gifali untuk mundur.


Gifa menoleh ke belakang. "Kenapa lagi, Ra." tanyanya lembut.


Maura menatap wajah suaminya dengan genangan air mata kembali.


"Aku enggak mau kuliah di sini!" wanita berhijab itu akhirnya menangis. Gifali hanya bisa menghela napas dan memeluk wanita itu lagi, untung saja keadaan lorong sepi saat ini.


"Masih ada cara untuk mengatasi hal ini, kamu nya jangan takut, Ra."


Kedua mata Maura mengedip dua kali.


"Benar ada cara nya?" wajah sendu itu seketika berubah jadi berbinar. "Karena aku ingin, hamil cepat sayang." sambung Maura.


Gifali mendaratkan dua jari dibibir istrinya. "Kita bahas nanti, sekarang kita kembali dulu ke dalam. Kamu dengarkan satu jam yang lalu? Kuotanya tinggal lima."


Maura pun akhirnya mengangguk walau dengan berat hati. Gifali mengusap wajah istrinya yang basah kembali karena air mata.


"Ayo masuk!" Gifali menggandeng kembali Maura untuk masuk kedalam.


Setelah mengetuk pintu dan melongokkan sedikit kepalanya, ia pun bersambut senyum dengan wanita yang sedang duduk di sana. Petugas pendaftaran yang baru saja mereka tinggalkan satu jam yang lalu untuk berfikir.


Untung saja petugas itu lebih dulu menjelaskan syarat-syarat bersekolah di sini sebelum menanyakan lebih jauh biodata tentang Maura.


"Permisi, Bu." sapa Gifali


"Silahkan duduk." Ibu itu mempersilahkan mereka untuk duduk dihadapannya.


"Jadi bagaimana?" tanyanya kepada Gifa dan Maura.


"Adik saya jadi bu untuk mendaftar disekolah ini." Gifali memutuskan hal itu tanpa menoleh untuk menatap wajah istrinya. Maura hanya diam terpaku dengan air mata yang sepertinya ingin turun lagi. Wanita ini belum sepenuhnya menerima dengan lapang dada.


"Oh Adiknya, saya fikir kamu, pacarnya." Ibu itu mengulas senyum sambil melirik ke arah Maura. Maura hanya memberikan senyuman getir yang sangat dipaksakan. Beda hal dengan Gifa, walau hatinya juga menjerit tapi ia tetap memberikan senyum semangat di wajahnya, semua ini hanya untuk masa depan istrinya.


"Ya Allah, kenapa jadi begini. Kita harus mengubah status kita untuk menjadi Adik dan Kakak!" desah Maura dengan raut wajah amat menyesal. "Tolong Kakak, Mah, Pah." Maura semakin merintih.


"Oke baik saya jelaskan ulang peraturan di kampus ini ya. Yang boleh kuliah di sini hanya wanita. Dimulai dari umur 18-20 tahun, masih single belum boleh menikah, minimal sampai satu tahun perkuliahan di sini. Maaf, jika melanggar peraturan, maka akan di keluarkan langsung dari kampus, dan uang yang sudah masuk tidak akan bisa dikembalikan."


Dua bola mata Maura dan Gifa tetap menatap lurus wanita itu yang sedari tadi menjelaskan sambil memperbaiki tata letak kaca mata di hidungnya.


"Biaya kuliah dan praktikum minimal harus masuk sampai semester lima. Jika semua persyaratan sudah cukup, Maura akan saya persilahkan untuk mengikuti tes tulis terlebih dahulu, hasilnya akan diumumkan hari ini juga. Jika lolos, minggu depan sudah bisa mengikuti ospek dan kalau nilai tesnya unggul dari 20 besar, maka untuk buku-buku pelajaran selama lima semester akan digratiskan, bagaimana?"


"Adik saya setuju, Bu." lagi dan lagi Gifali yang memutuskan. Ia sudah tahu Maura belum mampu untuk menjawabnya.


Maura menoleh untuk menatap wajah Gifali yang masih fokus dan di iringi dengan anggukan kepala ketika mendengarkan wanita itu berbicara


"Sudah tidak boleh menikah, tidak boleh hamil, biaya kuliah harus segera dilunasi dimuka sampai lima semester, Ya Allah, mengapa perjalanan di sini begitu berat." Maura terus merintih. Ia tidak pernah membayangkan mengapa perjalanan hidupnya di London akan seperti ini.


Gifali meraih tangan Maura untuk digenggam, Maura pun menunduk untuk beralih menatapnya. Ia tahu istrinya kembali gundah, itu sebagai kode untuk menenangkan hati istrinya.


"Oke kalau begitu, untuk Maura boleh ikut saya. Saya akan antar anda ke ruangan tes mahasiswa baru. Kakaknya bisa tunggu diluar."


"Baik, Bu." jawab Gifali lalu ia memberikan anggukan kecil kepada Maura agar wanita itu mengiyakannya. Dengan wajah sendu dan sedih, ia pun bangkit untuk mengekor mengikuti langkah wanita itu menuju ruangan lain.


****


Sudah satu jam Gifali menunggu didepan ruang tes Maura. Ia berkali-kali mengintip di kaca melihat punggung istrinya yang sedang mengisi tes tulis.


"Kamu bisa sayang..." Gifali terus menyemangati istrinya dalam hati.


Memang batin suami istri begitu lekat kepada mereka. Maura mendongakkan kepalanya dari kertas putih yang kini sedang ia tatap. Ia berpendar untuk menoleh ke arah jendela untuk mencari keberadaan suaminya.


Dan


Betul saja


Garis simpul senyum Maura begitu saja terlihat dan menyembul ketika Gifa sudah memberikan senyum semangat kepadanya.


"Aku harus sabar, harus semangat. Demi kamu, Papa dan Mama." ujar Maura menatap jauh wajah suaminya. Ia pun kembali konsentrasi untuk menyelesaikan tes nya dengan baik.


"Semoga nilai ku tertinggi dari yang lain. Biar bisa meringankan beban suamiku untuk tidak membelikan buku-buku pelajaran lagi." Maura kembali bergumam. Wajah bahagia Gifa terus saja menjadi obat kegalauan hatinya yang sekarang sedang merana. Mau tidak mau, ia harus bisa berpasrah dengan keadaan.


"Sabar sayang, ini adalah cobaan awal untuk rumah tangga kita. Kita pasti mampu, Ra." Gifali bertutur dalam batinnya.


Tap.


Langkah terhenti dari kejauhan, beberapa jarak meter dari wanita yang kini sedang memandang Gifali.


Gifali begitu saja tersentak ketika ia mendengar hardikan dari sisi kirinya. Lelaki tampan itu pun menoleh dan mendapati seorang wanita yang memakai seragam sekolah berdiri tegap di tengah koridor sambil membawa beberapa buku ditangannya.


Gifali hanya memberi senyum datar dan menjauhkan dirinya dari kaca.


"Ganteng banget, siapa dia?" ucap Agnes. Wanita itu masih mematung hebat menatap wajah Gifali yang sudah mulai duduk kembali dibangku tunggu.


"Kok bengong, kenapa?" hentakan tangan Monik di bahu Agnes begitu saja membangunkan lamunan Agnes.


"Coba lo lihat deh, ganteng ya?" Agnes membawa arah mata Monik untuk beralih menatap Gifali.


"Wah iya, Nes. Ganteng banget. Lagi ngapain ya di sini?"


Agnes hanya menggelengkan kepalanya, karena ia tidak tahu siapa dan apa tujuan lelaki itu di sini.


"Tapi tadi gue lihat, dia lagi ngintip di kaca itu. Apa lagi nungguin---"


"Monik, Agnes!" seruan terdengar dari belakang tubuh mereka.


"Ayo cepat!" seorang dosen baru saja keluar dari ruangan dan mendapati mereka berdua tengah berbisik-bisik.


"Oh iya bu, baik." ucap mereka bersamaan, lalu mengikuti langkah dosen itu untuk memutar arah menjauh memasuki ruangan lain. Sekali lagi Agnes menoleh ke belakang untuk melihat lagi wajah tampan Gifali.


"Bye tampan, semoga kita bisa bertemu lagi." ucap Agnes dalam hatinya.


*****


Gifali terus saja menggandeng tangan istrinya dengan penuh haru. Begitu bahagianya ia ketika mendengar Maura lulus tes dan masuk ke dalam dua besar nilai mahasiswa baru tertinggi. Administrasi kuliah Maura sudah Gifali selesaikan, walau jauh dari perkiraannya kalau ia harus membayar lima semester sekaligus di muka.


Kini giliran Gifali yang mulai mencari tempat kuliah untuknya. Memang sebelumnya ia sudah mempunyai target akan kuliah dimana setelah di tiba London. Dengan menggunakan transportasi bus yang berkali-kali turun dan naik, akhirnya mereka tiba di kampus yang diinginkan oleh Gifali.


"Wah besar banget ya kampusnya." ucap Maura dengan wajah bangga dan takjub.


"Apa kamu senang jika suamimu kuliah di sini sayang?"


"Iya dong sayang, aku pasti bangga."


Alih-alih sedang sibuk berbincang, Gifali tanpa sengaja menabrak lelaki paru bayah yang juga sedang melangkah terburu-buru.


Brag.


Kaca mata lelaki itu pun terjatuh ke lantai. Membuat Gifali, Maura dan si lelaki itu pun kaget.


"Ya Allah, maaf ya, Pak. Saya tidak sengaja." ucap Gifali yang ikut berjongkok untuk meraih kaca mata yang sudah tergeletak di atas lantai.


"Oh ya tidak apa-apa-------"


Suara lelaki paru baya itu terhenti ketika kedua matanya menatap jelas wajah Gifali. Ia langsung mengambil kaca mata itu dan digunakan lagi untuk menegap kan penglihatannya agar kembali jelas.


Ia terus menyusuri wajah Gifali tanpa henti, seperti ada bayangan masa lalu yang mengingatkan dirinya lewat wajah tampan lelaki ini.


"Wajahnya seperti tidak asing? Seperti mirip dengan----"


"Bapak nggak apa-apa?" tanya Maura yang membuyarkan lelaki itu dari lamunan.


"Iya, Pak nggak apa-apa?" Gifali mengulangi pertanyaan istrinya sambil mengelus lengan lelaki ini.


Lelaki paru bayah itu pun menggelengkan kepalanya. Ia tersenyum hangat kepada Gifali dan Maura.


"Saya tidak apa-apa. Baiklah kalau begitu saya permisi." ucap lelaki itu bangkit lalu diikuti pula oleh Gifali.


Gifa dan Maura pun mengangguk, melepas kepergian lelaki berjas itu.


"Seperti bukan orang sembarangan ya, Gifa."


"Iya sayang, untung saja ia tidak marah karena aku tabrak dan kaca matanya terjatuh."


Maura mengangguk dan kembali menggeliat dilengan suaminya untuk kembali mengatur langkah bersama menuju ruang pendaftaran.


"Siapa ya anak itu, mengapa saya jadi teringat dengan Gita?" lelaki paru baya itu terus saja berfikir dengan awal pertemuan tadi bersama Gifali, sebelum sopir mempersilahkan dirinya masuk ke dalam mobil dan membawanya berlalu dari dalam kampus.


****


Bayar aku ya, sama like dan komen kalian❤️