
"Kamu bawa CV?"
Maura hanya terdiam, menggelengkan kepalanya, ketika laki-laki berjas hitam ala kantor yang berwajah tampan sedang bertanya kepadanya.
Laki-laki itu pun mengerutkan kening. "Jadi kamu berniat bekerja atau tidak?" tanyanya kembali.
"Maaf Pak, saya lupa ..." jawab Maura dengan perasaan bersalah. Ia lupa jika mau melamar bekerja otomatis ada beberapa surat yang harus ia bawa. Surat lamaran kerja dan riwayat hidup, misalnya.
Lelaki itu sedikit tertawa menatap wajah Maura yang sedang dilanda kekhawatiran. Ia terus memandangi Maura dengan detail, dari hijab yang dikenakan sampai ke ujung kuku kaki Maura.
"Cantik juga, sayang kalau di posisikan sebagai pelayan ..." dalam hati lelaki itu.
"Keahlian apa yang kamu punya? Sehingga dengan percaya dirinya untuk melamar di sini?" tanya lelaki itu kembali.
"Saya bisa memasak, Pak." jawab Maura cepat. Ia menatap lelaki itu dengan segala penuh harap.
"Masak?" Lelaki itu membulatkan kornea matanya.
Maura mengangguk dengan tatapan bersinar.
"Masak air?" tanyanya nyeleneh. Jujur menatap luaran Maura, lelaki itu berpendapat Maura hanyalah gadis muda lugu yang manja, sudah dipastikan tidak bisa melakukan apa-apa. Nyatanya Edgar salah besar!
Sontak ucapan Edgar, membuat senyum Maura yang sudah terangkat dengan tinggi begitu saja redup. Maura menghela napasnya sedikit kesal karena terus diejek.
"Saya butuh pekerjaan ini, Pak. Saya mohon untuk bisa bekerja di sini." pinta Maura amat merendah.
Tiga puluh menit yang lalu, tanpa sengaja ia membaca info lowongan pekerjaaan di koran yang terjatuh begitu saja di bahu jalan. Seketika wajahnya bahagia lantaran ada pekerjaan yang bisa ia kerjakan untuk mencari uang. Walau hanya sebagai pelayan wanita di restoran hotel. Menurutnya itu bukan masalah, selagi uang yang dicari dalam batas kehalalan. Tanpa fikir panjang, Maura dengan cepat melesat kesana.
Dan di sini lah, Maura berada. Di dalam sebuah hotel mewah berbintang. Dengan segala tuntutan keadaan, mengharuskan dia untuk bisa mendapatkan pekerjaan dengan cepat. Ingin membayar kesalahannya kepada Gifa, karena sudah menghilangkan uang begitu saja.
"Benar kamu bisa memasak?" tanya lelaki itu lagi.
Laki-laki itu bernama Edgar, posisinya di sini sebagai manajer yang mengatur langsung ketenaga kerjaan di Hotel ini. Maka dari itu ia yang berhak memutuskan untuk menerima atau menolak siapa saja pegawai yang akan masuk. Seharusnya Berta yang bertugas untuk mewawancarai Maura, tapi karena wanita itu berhalangan hadir terpaksa Edgar yang harus turun tangan sendiri.
Padahal jauh dari kenyataan yang ada, Papa Bilmar adalah salah satu investor terbesar untuk menanamkan sahamnya di hotel ini. Benar memang istilah dunia sempit seperti daun kelor tengah terjadi dalam kehidupan Maura. Entah bagaimana jika seisi hotel tahu kalau wanita ini adalah anak dari pemilik setengah keuntungan dari hotel berbintang di sini.
Edgar menatap legam wajah Maura yang terlihat penuh harap. Melihat Maura yang menatapnya penuh iba membuat lelaki itu tidak tega. Edgar menghela napas panjang sembari terus berfikir. Maura hanya bisa menunggu sambil menatap bayangannya di meja. Terus berdoa agar lelaki dihadapannya ini mau menerimanya bekerja di sini.
"Coba buktikan jika kamu bisa memasak." ucapnya membuat Maura seketika mendongak dan mengulas senyum.
"Saya siap, Pak." jawab Maura penuh percaya diri.
Edgar pun mengajak Maura untuk pergi ke dapur kotor restoran. Mengingat selain kekurangan pelayan, hotel ini juga sedang kekurangan chef. Chef lama resign, karena di pecat. Ia teledor meninggalkan seuntai helaian rambut yang bercampur dengan sebuah pasta pesanan para tamu.
"Coba buatkan saya cordon blue sauge mushroom, apakah kamu bisa?"
Edgar mengingat sedikit penuturan Maura kalau ia pernah mengecam pendidikan sekolah tata boga di Indonesia.
Lelaki itu pun meminta bantuan chef yang ada di sana untuk membantu menyiapkan segala keperluan memasak yang akan dipakai Maura. Entah angin apa yang membuat ia ingin menguji keahlian Maura, wanita muda yang tidak membawa apa-apa sebagai tanda pengenal untuk melamar kerja di hotel tempatnya bernaung.
"Saya tunggu dua puluh menit lagi di ruangan saya. Kamu harus membawakan makanan itu tepat waktu!"
"Baik, Pak." jawab Maura, sesaat setelah itu ia mulai melangkahkan kakinya menuju pantry. Bersiap memakai celemek dan topi chef.
Edgar memandang Maura dengan senyuman sarkas. "Semoga kamu berhasil, Maura." ucapnya lalu pergi meninggalkan tempat itu.
****
Tanpa menunggu lama, Pramudya sudah mendapatkan dokumen berisikan jatidiri Gifali ketika mendaftar di kampus ini. Harun yang masih duduk satu meja dengannya, terus menatap Pramudya dengan wajah penuh ketegangan. Walau ia sudah menyiapkan alasan, jika takut-takut Pramudya ingin menyelidiki status Gifali yang sudah menikah.
Dua lelaki paru baya itu terlihat lucu, karena mereka sedang mencemaskan orang yang sama. Jika saat ini Pramudya sedang cemas, takut-takut menemukan Gifali sesuai dengan berbagai terkaannya, namun lain hal dengan Harun yang sedang cemas karena takut status pernikahan Gifali terbongkar.
"Pergi lah, Run. Tinggalkan saya sendiri." titah Pramudya sambil terus membuka halaman per halaman yang ada dalam file dokumen tersebut.
Pramudya mendongakkan wajahnya, mengerutkan kening dan menatap Harun penuh tanda tanya. Namun sebelum Pramudya curiga, lebih dulu Harun membuka suara kembali untuk menyelak Pramudya yang sebentar lagi akan membuka katupan bibirnya.
"Baik aku pergi dulu, Pram." Harun dengan cepat beranjak berdiri dari kursi, Pramudya hanya mengangguk dan kembali menurunkan pandangannya untuk menatap lagi berkas-berkas kepemilikan Gifali di atas meja.
"Kenapa?" lagi-lagi suara bariton Pramudya membuat Harun sedikit terenyak. Harun tidak benar-benar pergi, ia masih berdiri mematung menatap Pramudya diambang pintu utama.
"Pergilah." titah Pramudya tanpa menatapnya. "Kamu tenang saja, Run, saya tidak ada maksud jahat kepada Gifali." sambung Pramudya dengan suara kembali tegas.
"Baiklah, aku permisi." Harun menjawab bersamaan dengan langkah kakinya yang akan beranjak pergi dari ruangan itu.
Bagaimana Harun tidak akan curiga dengan sikap sahabatnya, kalau tanpa asalan jelas Pramudya menyelediki Gifali seperti terdakwa yang akan diberikan hukuman berat. Memang betul sekarang, Gifali tengah bermain-main mengibarkan bendera kebohongan tentang status yang sebenarnya.
****
"Assalammualaikum sayang, aku pulang." Gifa mengucap salam ketika ia membuka pintu kotsan.
Namun ia bingung kenapa tidak ada jawaban dari Maura. Padahal aroma ikan goreng berhembus lezat sampai kedalam lubang hidung Gifali.
"Ya Allah, Ra. Awas gosong!" seru Gifali langsung mematikan knob kompor. Membuat Maura seketika terbangun dari lamunannya.
"Masak dalam keadaan melamun itu berbahaya, Ra!" Gifali menghembuskan napasnya kasar karena begitu cemas.
"I--ya sayang, maafkan aku." jawab Maura. Dengan cepat ia mengangkat Ikan yang sudah mengering hampir gosong itu dari dalam wajan. Meletakan nya di atas piring.
"Kamu kenapa, Ra?" Gifa meraih dagu Maura, agar ia bisa langsung menatap wajah istrinya dengan jelas. Karena sedari tadi Maura bersikap aneh. Ia seperti orang yang tengah dilanda kebingungan. Maura tidak mau bersitatap dengan Gifali, wanita itu masih tidak tega dengan kejadian yang baru saja ia alami. Tidak ingin membuat Gifali merubah wajah cerianya menjadi guratan mendung karena menanggung kekecewaan.
Terlebih lagi dengan keputusannya ingin bekerja, dan ada satu alasan lagi yang pasti akan membuat Gifali marah dan tidak akan memperbolehkan ia bekerja di Hotel itu.
"Kamu enggak enak badan, Ra?" tanya Gifa sembari memegang kedua lengan istrinya yang terasa biasa saja.
Maura tersenyum menatap suaminya. "Ayo mandi dulu sayang, habis itu kita makan bersama. Ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu."
"Tentang hal apa?" kerutan di kening Gifali kembali terbentuk.
Maura mengecup pipi suaminya sekilas. "Ayo mandi dulu sana."
Gifa pun mengangguk dan melangkah masuk kedalam kamar mandi. Ia merasa aneh dengan sikap Maura yang terlihat lain dari biasanya, istrinya saat ini sungguh berbeda.
"Apakah kamu sudah mandi, Ra?" tanyanya sambil melucuti semua pakaian yang hinggap di tubuhnya, dan meletakkan nya di tempat cucian kotor.
"Belum sayang, habis kamu nanti aku yang mandi."
Jag.
Wajah Gifa seketika berbinar bahagia, garis senyumnya melebar sempurna. Ada fikiran yang cukup nakal tiba-tiba hinggap di kepalanya.
Ia pun kembali memakai handuk dan melangkah keluar dari kamar mandi. Meraih lengan Maura, seketika Maura yang akan kembali memutar knob kompor, mengedikkan pangkal bahu karena kaget.
"Kenapa?" tanya istrinya.
"Aku mau mandi sama kamu sayang ..." dengan wajah yang masih melongo, Maura begitu saja ditarik paksa tanpa perlawanan oleh Gifali. Wanita itu hanya bisa menurut dan mengiyakan apapun kemauan suaminya.
Dan sudah dapat dibayangkan, Gifali kembali mendapatkan hak nya sore ini. Ia merasa lelah ditubuhnya akan menghilang jika sudah bermain cinta dengan istrinya.
Lakukanlah terus sepuasmu Gifa, sampai dimana waktu akan datang dan tidak mengizinkanmu lagi untuk menjamahi Maura.
****
Like dan Komennya buat Abang Gifa dan Kakak Maura ya❤️