My Sabbatical Wife

My Sabbatical Wife
Ayah Rindu Bunda.



Terlihat jari-jemari mungil anak berusia tiga tahun itu tak lepas menarik-narik kain dress rumahan yang panjangnya selutut dengan motif bunga matahari yang sedang di gunakan oleh Maura.


"Unda, aus."


Maura menurunkan tatapannya dari susu yang sedang ia racik ke arah netra pekat milik Bisma.


"Iya, Nak. Tunggu dulu."


"Unda ... itu." Maura menoleh ke belakang, mendapati Pradipta tengah berdiri ambang pintu dapur. Anak lelaki itu seraya menjulurkan jari telunjuknya ke arah ruang tamu.


"Anti unda, pongebobs."


"Iya, Nak. Sebentar." ucap Maura lembut.


Walau peluh sebesar jagung sudah berkerumun di sekitar dahinya. Wanita muda itu tidak kenal lelah, ia akan selalu mengiyakan semua kemauan anak-anaknya, sepanjang ia mampu.


Mengurus anak batita yang masih berusia tiga tahun tanpa bantuan baby sitter memang sangat melelahkan. Apalagi dari pagi sampai menjelang sore. Maura belum bisa beristirahat sama sekali.


Bisma, Geisha dan Pradipta belum juga mau tidur siang. Mereka terus saja bermain tanpa rasa letih, selalu minta ini itu, dan terus bergelayut di tubuh sang Bunda.


Namun bagaimana lagi, semua ini memang sudah tanggung jawabnya menjadi seorang ibu. Jika bukan dia yang mengurus ketiga buah hatinya, lalu siapa lagi?


Maura selalu sabar dan ikhlas untuk mengerti setiap permintaan ketiga anak-anaknya sekaligus dalam waktu bersamaan. Walau sesekali ia ingin marah karena ketiga anaknya itu sulit untuk diberitahu. Lagi-lagi Maura hanya bisa memendam, karena memaklumi usia mereka yang masih kecil dan sangar sulit untuk diatur.


"Ini susumu." Maura menyodorkan botol susu kepada Bisma.


Anak lelaki itu tersenyum ketika meraihnya. Dengan cepat langsung memasukan dot susunya kedalam mulut. Bisma seperti orang yang sedang berpuasa karena menahan haus seharian. Maura lantas menggandeng Bisma untuk meninggalkan dapur. Mereka berdua mengikuti langkah Pradipta.


"Unda cepeyan ... nanyi ais tuh." Pradipta berjalan duluan didepan mereka. Tangannya tidak berhenti menunjuk ke arah televisi. Ia takut acara spongebobs terlewat begitu saja.


"Nih, Unda." Pradipta menyodorkan remot tivi kepada Bundanya.


Bisma yang sudah asik dengan botol susu menggantung di mulutnya kemudian melangkah untuk naik ke atas sofa dan duduk bergoler dengan santai di sana. Ia melihat Bunda dan saudara lelakinya sedang sibuk dengan saluran tivi yang berganti-ganti.


"Unda cepeyan ..." desak Pradipta.


"Kamu nya duduk dulu." titah Maura. Ia menunjuk bagian kosong disebelah Bisma. Pradipta mengangguk, ia menurut dan bergegas naik ke atas sofa.


Seketika wajahnya bersinar terang karena melihat acara kartun kesukaannya sudah tayang di televisi.


Dan dua anak lelaki itu duduk manis bersamaan dengan sorotan mata lurus menatap televisi. Tiba-tiba saja, ekspresi wajah wanita itu berubah. Terlihat sedikit panik.


Maura seperti mencari sesuatu yang ia lupakan. Kemudian ia bergegas lari menuju kamar, mencari keberadaan satu anaknya lagi yang sejak tadi tidak terlihat batang hidungnya.


Ia takut terjadi sesuatu, dan Maura akan mengutuk dirinya sendiri, jika Geisha mengalami sesuatu yang tidak diinginkan.


"Ya Allah, Khumairah!" seru Maura.


Ia memanggil Geisha dengan sebutan yang selalu Gifali berikan. Karena anak perempuannya itu selalu saja memberikan rona merah di pipinya ketika sedang tersenyum atau tertawa. Geisha sangat cantik, persatuan dari wajah Maura dan Gifali.


Kaki Maura terasa lemas ketika dirinya baru sampai dibingkai pintu kamar, menggeleng samar sambil mengelus dada. "Astagfirullahaladzim ..."


Ia mendapati Geisha tengah memainkan bedak tabur di atas seprai. Pusaran ranjang sekarang berwarna putih karena sapuan bedak tabur yang Geisha pora-porandakan sejak tadi oleh telapak tangannya. Bukan hanya seprai, tapi pipi tembam bocah itu pun tersapu bersih dengan bedak. Entah sudah berapa lama Geisha anteng di dalam kamar sendirian.


Harusnya Maura kesal, namun melihat Geisha tertawa senang menatapnya. Membuat hatinya luluh. Bocah perempuan montok yang mempunyai kulit sangat putih, dan rambut hitam terurai sampai ke pangkal bahu itu, langsung berdiri dan menjulurkan tangan ketika Maura mendekat. Mengalungkan kedua tangan dileher sang Bunda. Maura menggendong anak itu didepan dadanya.


Maura mengecup habis wajah Geisha sampai anak itu bergeliat geli.


"Unda ..." serunya terpingkal-pingkal. Telapak tangan Geisha yang penuh dengan bedak lantas mengusap pipi Maura.


"Hahaha, Unda ..." Geisha tertawa lepas karena merasa lucu melihat pipi Bundanya belepotan karena bedak tabur.


"Untung kesayangan Ayahnya nih, Bunda jadi enggak bisa marah." Maura menjawil hidung Geisha yang bangir.


"Geisha keruang tivi ya, Bunda mau bersihin kamar dulu."


Bocah cantik itu mengerti dan menganggukan kepala. Maura menurunkan anak itu ke bawah. Geisha lantas berlari ke ruang tivi untuk ikut bergabung dengan kedua saudara lelakinya.


Maura melangkah menuju lemari dan meraih satu seprai baru untuk ia bentangkan di pusara kasur. Menggantikan seprai lama yang sudah kotor.


"Baru kemarin seprai ini diganti, karena Bisma ngompol." Maura menghela napas berkali-kali.


Beberapa saat kemudian, terlihat ranjang kembali rapih. Saking melelahkan nya hari ini, Maura berkali-kali melikukkan pinggang nya. Ada suara keretukan tulang penanda sendi-sendi didalam tubuhnya memang tubuh pijatan.


"Kayak nya harus pergi tempat refleksi, nih." gumamnya dengan raut wajah yang sangat melelahkan. Ia melangkah keluar kamar untuk menghampiri ketiga anaknya.


"Ayah, tumben sudah pulang?"


Gifali menoleh dan memberikan senyuman hangat kepada istrinya.


"Ayah rindu Bunda." Gifa memberikan smoke eyes kepada Maura. Sang istri terkekeh dan menggeleng samar. Ia menghampiri dan mencium tangan Gifali.


"Bisa aja, pasti ada mau nya nih." sungut Maura dengan desisan kecil. Ia melangkah menuju sofa ingin mengangkat Pradipta dan Bisma yang ternyata juga sudah tertidur entah dari kapan.


"Kamu bawa Geisha aja, biar aku yang gendong Bisma dan Pradipta." tangan Maura terhenti ketika ingin menjulur untuk meraih tubuh kedua anak lelakinya.


Ia beralih untuk menggendong Geisha dan membawanya menuju kamar. Dengan kekuatan lebih, Gifali berhasil membawa dua anak lelakinya dalam satu gendongan.


Ketiga anak tersebut sudah di baringkan di ranjang secara berjajar. Gifali ikut berbaring disamping Geisha, Bisma di tengah dan di paling ujung ada Pradipta.


"Bunda ke dapur dulu ya, mau buatkan Ayah minuman." Maura berlalu setelah mendapat anggukan kepala dari suaminya.


Tidak pernah usai tugasnya menjadi seorang istri dan ibu dalam sehari. Sudah sesore ini saja dirinya belum mandi, karena terlalu sibuk mengurus rumah dan anak-anak.


Tahun kedua ketika anak-anak mereka lahir, Gifa pernah memperkerjakan baby sitter dirumahnya untuk membantu menjaga ketiga anak-anak mereka. Namun sebuah insiden terjadi, dan membuat Maura trauma. Karena baby sitter itu kedapatan sering mencubit ketiga anaknya yang memang sedang aktif-aktifnya bergerak kesana kemari.


Dari pada terjadi sesuatu dengan ketiga anaknya, Maura berkorban untuk menahan lelah dan letih, agar bisa menjaga putra-putrinya dengan tangannya sendiri. Akan ada tukang cuci dan setrika yang datang per dua hari kerumah. Tentu Maura sudah cukup terbantu dengan hal itu.


Memang betul, kalau ibu rumah tangga tidak pernah mempunyai hari libur layak nya karyawan kantoran, ia akan terus bekerja dari pagi sampai malam, serta dari hari senin sampai minggu. Maka terpuji lah bagi ibu-ibu rumah tangga yang selalu mengabdikan dirinya untuk selalu dirumah, menjaga dan merawat anak dan suaminya.


Pangkal bahu Maura seketika naik. Bulu-bulu halus di sekitaran tengkuknya terlihat berdiri. Ia hening sesaat, ketika mendapat sentuhan dan kecupan yang Gifali berikan secara tiba-tiba. Kedua tangan lelaki itu melolong masuk dibawah lengan Maura.


Mengusap-usap bagian dada, memeras dua bongkahan permata secara bergantian, lalu menjalar ke atas perut dan terjerembab turun ke arah inti istrinya. Maura masih berdiri didepan wastafel habis mencuci tangan, karena baru saja selesai membuatkan minuman yang akan ia berikan kepada Gifali.


Maura memejam kedua mata, ia melenguh. Mendongakkan kepala ke belakang tepat diatas pundak suaminya.


"Bunda, sudah selesaikan datang bulannya?" tanya Gifa dengan wajah penuh damba.


Maura mengangguk dengan mata yang masih terpejam. Seakan ia meminta Gifali untuk terus mencumbunya.


"Tapi Bunda belum mandi, Yah." Maura bergegas membuka mata. Ia baru sadar akan hal itu. Ingin menjauh dan melepas pelukan mereka.


"Enggak apa-apa, Ayah suka baunya." Gifali lantas mengecup permukaan leher istrinya sampai ke pangkal bahu. Dengan cepat ia membalikan tubuh Maura agar bisa lekat berhadapan dengannya.


Dengan gulungan hasrat yang sudah menderu-deru. Gifa langsung membenamkan bibirnya di bibir kenyall Maura. Melumatt dan memberikan gigitan kecil di sana. Membuat wanita itu membuka mulutnya, mengizinkan Gifa untuk melakukan hal lebih selain melumatt.


Decita saliva begitu kentara, lidah mereka saling membelit. Gifali memegangi kepala belakang Maura agar terus menempel di wajahnya. Keduanya terlihat haus, karena selain Maura kedatangan tamu bulanan.


Mereka juga jarang menikmati pelepasan dengan keadaan yang nyaman, biasanya buru-buru tanpa sentuhan dan belaian. Anak-anak mereka lah salah satu faktor penghambatnya.


Walaupun begitu mereka tidak pernah kehilangan akal, Gifa akan selalu mengajak Maura bermain di sudut mana saja. Dibelakang sofa, di meja dapur, di kamar mandi, atau dikamar tamu.


Rasanya memang sangat berbeda, mereka selalu menciptakan beberapa fantasi untuk mendukung permainan cinta mereka yang pada akhirnya akan selalu memberi kesan.


Gifali mengangkat tubuh istrinya dan diletakan di meja makan yang kosong tanpa penampakan benda apapun di sana.


"Di sini aja ya."


Maura mengangguk dengan wajah malu-malu. Gifali kembali memagut bibir istrinya, dengan tangan mengalun kebawah untuk melepas gesper dari celana kerjanya. Kembali turun untuk menyesap rasa gurih di leher Maura. Walau wanita itu belum mandi, tetap saja aroma tubuhnya sangat disukai.


Maura membusungkan dadanya ke udara. Menikmati setiap sentuhan yang suaminya berikan. Mengalungkan kedua tangan di leher Gifali.


"Ayah ..."


"Iya, Bunda ..."


Dan tak lama kemudian, mereka pun melakukannya.


****


Guys kalau kalian suka sama ceritanya. Boleh kok dipromosiin di manapun. Mau di screen potongan ceritanya boleh kok, aku membebasinya.


Asal jangan plagiat isinya aja untuk di update ulang. Contoh ke youtube, atau ke aplikasi lain. Karena bukan menguntungkan namun menjerat leherku haha.


Karena membuat satu episode plus edit, aku membutuhkan waktu dua jam untuk fokus mengetik.


Gitu aja sih dari aku heheh, like dan komen ya. Besok adalah part terkahir MSW. Sore nanti aku akan kasih info, sinopsis tentang cerita Ganaya dan Ammar di sini ya.