My Sabbatical Wife

My Sabbatical Wife
Tolong Jangan Pergi



Gifali mengejar langkah kedua orang tuanya namun ia kalah cepat. Pintu kamar kembali tertutup dan di kunci. Papa Galih termenung ditepi ranjang. Tatapannya kosong, kepalanya sedikit menunduk sambil meremas kain baju yang bertengger di permukaan dadanya.


Sakit


Hancur


Sedih


Patah


Itu yang tengah ia rasakan.


"Papa ... Papa, aku mau ice cream."


"Jangan makan ice cream terus, Kak. Nanti gigimu sakit!"


"Papa ... Papa, Kakak juara satu."


"Wah hebat anak Papa, mau makan dimana nih kita?"


"Pah, Kakak badannya panas."


"Iya, Mah, sebentar lagi Papa pulang."


Papa Galih terus terbayang-bayang kebersamaannya dengan Gifali dimasa kecil. Tidak ada satupun waktu yang ia lewatkan. Perkembangan dan pertumbuhan Gifali selalu lekat di dalam pantauannya.


Apapun yang Gifali minta, selalu ia belikan. Bahkan disaat Gifali masih berumur satu bulan, Papa Galih sudah membuka tabungan deposito untuk masa depan anak lelakinya itu.


Walaupun setelah 18 tahun ia baru tahu jika lelaki itu bukanlah anak kandungnya, tetap saja sayang dan cintanya tidak pernah berkurang. Bahkan dibanding dengan anak kandungnya, terkadang perhatian yang ia berikan melebihi batas.


Lihat saja sekarang, ia bela-bela datang ke London, meninggalkan tiga anak kandungnya dirumah dan pekerjaannya. Semua ia lakukan hanya untuk Gifali, karena ia senang akan mendapatkan seorang cucu.


Mama Difa terus mendekap suaminya, mengalungkan kedua tangan dileher Papa Galih. Wanita cantik itu terus saja menangis, kedua bahunya pun bergetar. Menumpahkan segala kesedihan yang sama.


Tidak mangkir ia pun sedikit cemburu, takut dan gelisah. Ia takut Gifali akan tenggelam dari keluarganya. Apalagi saat ini, Gifa dan Pramudya tinggal di negara yang sama. Namun inilah realitanya, Pramudya adalah Ayah kandung Gifa. Allah mengembalikan lelaki itu kembali untuk menjaga dan merawat putranya yang telah lama hilang.


"Mau tidak mau, kita harus menerimanya, Pah. Mama pun sulit, tapi mau bagaimana lagi. Allah sudah mengatur dan merancang semua ini." lirih Mama Difa, berbicara dengan isakkan tangis yang belum mau surut.


Papa Galih masih hening. Lidahnya terasa kelu, dadanya pun sesak. Air bening dari netra pekatnya pun kembali ia teteskan. Sesekali ia meraup oksigen di udara lepas, agar fikirannya kembali jernih. Ia pun menyesal telah membuka aib istrinya walau tidak secara langsung. Penyesalan terus bercokol di hatinya.


"Ya Allah papah! Kamu tau enggak sih, anak kita tuh alergi sama susu sapi, makanya jadi ruam-ruam kaya gini! Aaah aku kesel, enggak suka!"


"Kalo emang alergi, kenapa susu nya masih disatuin ditempat yang sama? Bukan salah aku doang dong ini!"


"Tapi kamu tuh harusnya bangunin aku aja, jangan sok-sok an bisa ngurus Gifali, coba liat kamu hampir aja nyelakain dia!"


Bayang-bayang ketika dirinya berseteru dengan sang istri kembali muncul. Hanya karena masalah tentang Gifali. Lelaki itu selalu ingin sigap mengurus buah hatinya, namun Mama Difa selalu tidak percaya dan kembali menyalahkan.


Gifali selalu mendapatkan cinta yang tulus dari kedua orang tuanya. Di timang kala ingin tidur, di tatah saat hendak berjalan dan selalu bela jika melakukan kesalahan.


"Apakah Kamu juga akan meninggalkanku?"


Mama Difa mendongak, menyeka air matanya. Ia menggenggam tangan suaminya dan menatapnya.


"Demi Tuhan, selama aku masih bernyawa. Aku berjanji, akan selalu berada disamping mu, Mas." jawab Mama Difa memelas.


Wanita itu beringsut untuk meletakan kepalanya di atas kaki suaminya. Memegang kedua kaki Papa Galih dan menciumnya.


"Tolong maafkan aku, Mas. Ampuni dosaku. Aku sangat berdosa kepadamu. Lupakan kekhilafan ku dulu." rintih Mama Difa.


Papa Galih hanya bisa menatap sendu dan mengusap kepala istrinya. Ia hening sesaat tanpa kata, tentu penghianatan akan selalu terkenang dalam ingatannya, karena sejatinya ia belum bisa mengikhlaskan walau kejadian itu sudah memakan belasan tahun.


"Iya, Mah. Papa maafkan kamu." entah, ucapan itu ikhlas atau tidak. Yang jelas ia merasakan sakit ketika istrinya menangis. Ia hanya ingin Mama Difa tenang.


"Kita pulang ya hari ini. Kasian anak-anak kita dirumah. Kita sudah terlalu lama." ucap Papa Galih ia terus mengusap-usap kepala Mama Difa.


Istrinya pun mendongak, kembali menatap Papa Galih. "Kita tetap orang tuanya Gifa, Pah. Kakak mencintai kita."


"Ya, aku tahu itu. Tapi mungkin sebentar lagi hanya akan menjadi kenangan. Hadnan dibelakang namanya akan terlupakan, berganti dengan nama ayah kandungnya. Gifali milik Pramudya, Mah. Bukan milikku lagi." ucap Papa Galih. Ia mendongakkan wajahnya ke arah lampu, menahan agar air matanya tidak kembali jatuh.


"Kita pulang sekarang! Bereskan barang-barang kita." titah Papa Galih.


Mama Difa sedikit bangkit dengan lutut sebagai tumpuannya. Ia memeluk perut suaminya dan masih saja menangis.


"Jangan benci Kakak, Pah. Kakak tidak bersalah." desah Mama Difa.


"Papa tidak membencinya, Mah. Papa sayang dengan Kakak. Tapi kita kan harus pulang, Gana, Gelfa dan Gemma sudah menunggu." ucap Papa Galih mulai tenang.


Ia melepas kecupan di pusaran hijab istrinya. Ia hanya berdalih untuk menutup rasa sakit di hatinya dan menenangkan Mama Difa yang terus saja menangis. Ia tahu, dirinya tidak mempunyai hak lagi untuk merengkuh Gifali.


"Kakak akan baik-baik saja di sini, Mah. Toh di sini juga ada istri dan Ayahnya. Pintu rumah kita akan selalu terbuka jika ia ingin pulang."


"Ayo, masukan baju-baju kita ke koper. Papa akan menyuruh Handi untuk menyiapkan kepulangan kita ke Indonesia." Papa Galih pun bangkit dan meraih ponselnya di atas nakas. Ia mulai menghubungi Handi, asistennya di kantor.


Mama Difa hanya bisa menurut apa yang suaminya katakan. Hatinya sedikit lega, karena Papa Galih sudah lebih tenang walau kesedihan dan amarah masih bercokol di hatinya. Mama Difa berat untuk meninggalkan Gifali dalam keadaan seperti ini. Tapi bagaimanapun, Papa Galih adalah orang yang harus ia turuti ucapannya sekarang.


"Mah ... Pah! Buka dulu pintunya, ini Kakak! Mah ... Pah, Kakak mau masuk."


Terdengar Gifali terus menyerukan suaranya dari luar, disertai dengan ketukan pintu berulang-ulang.


"Ssstt! Mama jangan! Ayo bereskan barang-barang kita." Papa Galih menoleh, dengan satu jari yang ia goyangkan lurus kepada sang istri, untuk menghalau langkah Mama Difa yang ingin membukakan pintu untuk Gifali.


"Tapi, Pah."


"Baru saja tadi kamu meminta maaf padaku, sekarang ingin kembali menjadi istri pembangkang?" suara Papa Galih memang tidak kembali nyaring, tetapi hanya terdengar pelan dan dingin. Ia kembali membawa arah matanya kepada layar ponsel yang terang.


"Maafkan Mama, Kak." gumam Mama Difa.


"Papa! Mah! Buka dulu pintunya. Jangan pergi dari sini----Pah, Mah ..." Gifa terus merancau di depan kamar orang tuanya.


Suara nya terdengar bergetar. Lelaki itu menangis, ia terus merengek seperti anak kecil yang di sedang di kurung di kamar ketika melakukan kesalahan. Ia sudah lupa jika sebentar lagi ia akan menjadi seorang ayah.


Maura yang melihat suaminya seperti itu pun tidak tega. Ia ikut menyerukan nama mertuanya dari luar pintu. Namun tetap saja dari dalam tidak ada yang memberikan sautan atau pun membuka pintu.


"Pah ... Mah, tolong buka dulu!"


Gifali tetap memaksa agar kedua orang tuanya mau membukakan pintu. Lelaki itu terus mengiba dan memohon. Jujur ini bukan maunya, tidak pernah terbesit didalam jiwanya, memikirkan atau mencari siapa Ayah Kandungnya.


Papa Galih masih berdiri memunggungi Mama Difa. Ia kembali mengeluarkan air bening dari dalam pejaman matanya. Kembali meremas kain baju di permukaan dadanya.


"Kamu harus belajar untuk menerima Pramudya, Kak. Dia lah Ayah kandung kamu." Papa Galih membatin.


Begitupun Mama Difa, sesekali ia menoleh ke arah pintu, ingin menghampiri anak itu dan memeluknya, menghujani kecupan hangat seperti biasa. Namun urung ia lakukan, ia tidak berani melawan suaminya.


Mama Difa hanya memilih diam, sambil terus melipat pakaian-pakaian mereka dan memasukannya ke dalam koper.


*****


Gengss, hidung aku mampet nih. Bikin part ini tuh bikin dada aku sesek sendiri😢. Segini dulu ya besok kita sambung lagi, udah tiga part aku buat hari ini. Makasih udah nurutin kemauan aku, aku sayang kalian semua🤗🤗.