My Sabbatical Wife

My Sabbatical Wife
MSW 2 : Panjang Umur.



Waktu semakin bergulir. Sudah pukul 02:00 malam, tapi Papa Galih, Mama Difa, Gifali dan Maura masih terjaga di ruang tamu. Karena satu jam lalu, akhirnya Maura dan Gifali bisa bernapas lega karena Geisha dan Bisma sudah kembali normal.


Berkat uluran tangan dari Allah SWT lewat Bapak Kiyai H. Agus. Kedua anak itu sekarang sudah tertidur di kamar Gana dan Gelfa. Habis diberi susu, karena badan mereka terasa lemas. Sungguh sulit untuk mengeluarkan jin-jin tersebut, memakan waktu dua jam. Maka dari itu membuat kedua anak kembar tersebut kekurangan energi.


Padahal kelopak mata Maura dan Gifa berkali-kali memejam karena menahan kantuk. Tapi ia paksakan, karena Papa Galih masih ingin berbincang. Ada hal penting orang tua itu ingin sampaikan.


Tidak 'kah bisa besok pagi? Tapi Maura dan Gifa tidak memaki. Mereka menurut dengan ikhlas. Gifa dan Maura sangat sayang dengan kedua beliau tersebut.


Papa Galih merogoh kantung celana dan menyodorkan sebuah kunci di meja ke hadapan Gifali dan Maura. Si wanita baik berhati seindah lembayung senja langsung membulatkan mata, pun sama dengan Gifa.


"Buat kalian dari Papa dan Mama." tukas Papa. Mama tersenyum disebelah Papa.


"Buat kami, Pah? Memangnya ini kunci apa?"


"Kunci lemari." Papa Galih tertawa. "Mata kamu udah dipenuhin belek kali, jadi enggak bisa menatap jelas." imbuh Papa dengan kekehan.


"Wajar, Pah. Udah malam, Gifa dan Maura pasti udah ngantuk. Tuh lihat mata mereka udah kriyep-kriyep." selak Mama.


"Eeng---enggak 'kok, Mah." sergah Maura dan Gifa. Mereka kembali segar karena habis di sindir secara halus. Dan kenyataanya memang betul, jam segini seharusnya dipakai untuk tidur bukan untuk ngeronda. Eh?


"Ini adalah kunci rumah. Papa dan Mama belikan rumah untuk Kakak." ucap Papa.


Gifali dan Maura mengerakkan daun telinga berkali-kali, takut-takut telinganya ketutupan sendal, jadi agak tidak jelas.


"Kunci rumah, Pah, Mah? Untuk apa?"


Papa menggeleng samar sedikit berdecak kepada Mama. "Anakmu memang seharusnya sudah langsung tidur, Mah. Dia enggak ngudeng ucapan Papa."


Mama dan Maura tertawa. Sang istri mengelus punggung suaminya.


"Papa belikan kita rumah, Yah." Maura tersenyum menatap Gifali.


"Hah?" mulut Gifa menganga. Sebelum akhirnya ia tersadar lalu menggelengkan kepala.


"Jangan, Pah. Kakak sudah ada uang untuk membelinya. Tinggal di rumah Bunda hanya sementara saja." sergah Gifa. Papa dan Mama tahu anaknya sedang berkilah. Itulah Gifali selalu memendam rasa beratnya sendiri. Menolak bantuan dari Papa, Papa Bilmar dan Pramudya.


Pramudya yang notabene adalah Ayah kandung sendiri, harus dengan tarikan urat dulu agar Gifali mau menerima uang yang ia beri. Gifali memang ingin menghidupi keluarganya dengan tenaga nya sendiri. Walah Maura tahu, gaji Gifa di kantor masih tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Tetapi demi suaminya senang, Maura harus belajar seirit mungkin, agar semua terkecukupi.


Papa Galih menghela napas panjang. "Rumah ini memang sudah Papa siapkan ketika kamu dan Maura baru menikah. Papa akan memberikannya ketika kamu akan kembali ke sini. Walaupun kamu mempunyai minat untuk membeli rumah yang lain, tetap saja simpan rumah ini. Anak-anakmu 'kan banyak. Bisa dijadikan investasi, hitung-hitung untuk tabungan kalian."


"Rumah ini juga hasil dari tabungan yang Papa kumpulkan dari kamu bayi sampai saat ini. Tanahnya cukup luas, ya seluas rumah Papa ini." bola mata Papa berpendar ke setiap sudut rumah.


"Masya Allah, Papa ..." seru Maura dan Gifa tidak percaya. Pasalnya rumah yang ditempati oleh Papa Galih cukup luas dan mewah.


"Kakak enggak pantas mendapatkan semua ini dari Papa. Ada Adek-adek yang lebih membutuhkan ini untuk masa depan mereka."


"Jika kamu merasa tidak pantas. Berarti aku bukan orang tuamu 'kan? Lalu untuk apa malam-malam kamu datang kemari mencari kami?" ucap Papa.


Dada Gifali terasa di hentak dengan suatu kebenaran yang sulit ia sangkal.


"Jangan melulu memusingkan perihal darah yang tidak sekandung. Papa dan Mama tetap orang tuamu. Ganaya, Gelfani dan Gemma tetap Adek-adek kamu."


"Tidak ada yang Papa dan Mama beda-bedakan. Kasih sayang Papa dan Mama kepada kalian semua itu rata. Apa yang Papa kasih ke Kakak, begitupula nanti yang Papa berikan kepada Adek-adekmu." ucap Mama mewakili Papa.


"Jika Papa dan Mama tidak ada, tentu pegangan mereka adalah kamu. Kamu tetap Kakak mereka, Nak." timpal Papa.


Air mata Gifa menggenang. Seakan nafsu untuk bisa berdiri dikaki sendiri goyah. Ia sadar, kalau dirinya sudah sombong untuk menyampingkan uluran tangan dari orang tua yang sudah membesarkannya dari bayi sampai detik ini.


Keluarga Hadnan adalah tempat untuk berpulang.


Papa Galih tersenyum. Air bening di matanya mulai tampak, ia membentangkan tangan untuk memeluk anak lelaki yang selalu ingin mandiri tanpa dibantu.


Gifali beringsut untuk menerjang Papa dengan dekapan. "Papa ... Maafin, Kakak. Kakak belum bisa membalas semua kebaikan Mama dan Papa selama ini." seru Gifa dalam tangisan. Papa Galih memeluk sang anak untuk memecah kerinduan. Bagaimana ingin membalas, jika hidupnya saja masih pas-pasan. Maka untuk itu Gifa ingin sekali memulai bisnis, agar ia bisa membahagiakan tiga keluarga besarnya.


"Baru kemarin rasanya, Papa bawa kamu ke Dokter untuk di sunat. Sekarang sudah sedewasa ini dan memiliki banyak anak." Papa terkekeh dalam bendungan air mata. Mengusap lembut punggung anak yang sedang ia peluk seperti batita.


"Walau begitu kamu tetap anak Papa. Anak kecil Papa. Tetap Papa perhatikan sampai umur Papa berakhir." merekatkan pelukan itu semakin erat. Mama mengusap air matanya dan beringsut untuk memeluk mereka. Mendengar ucapan itu membuat Gifali meraung histeris.


"Panjang umur, Pah, Mah. Panjang umur ..." lelaki itu semakin meronta dalam tangisannya yang pecah. Suara ingus bersatu padu di iringan air embun yang berduyun-duyun membasahi permukaan pipinya.


Tidak ingin ditinggal. Ingin selamanya orang tua ini terus hidup dalam keadaan sehat. Ia belum membalas. Membalas seluruh kebaikan mereka. Dengan tulus dan ikhlas, tetap mau memberikan kasih sayang sama rata untuk ke tiga anaknya yang lain. Walau darah mereka tidak pernah mengalir dalam darahnya.


"Kakak sayang Mama dan Papa. Makasih banyak."


"Sama-sama, Nak." balas Mama sambil mengecup pucuk rambut Gifali.


Maura mengusap kebasahan di wajahnya dengan punggung tangan. Haru sekali. Pertahanan kokoh Gifali bisa begitu saja runtuh karena kasih sayang dari orang tuanya. Ia tidak akan merasa sendiri, atau dibedakan. Hatinya genap, dan merekah. Maura tak henti mengucap syukur kepada Allah SWT, karena sudah membuat hati suaminya kembali bermekaran.


Tanpa mereka sadari ada tiga pasang mata yang juga ikut menangis dari balik Pintu kamar. Triple G senior memandang sendu dengan kucuran air bening dari mata mereka.


"Kakak ..." ketiganya berseru dan berlari menuju Kakak, Papa dan Mamanya di sofa. Mereka menimpa tiga orang yang sedang berpeluk.


Isakkan tangis mulai bertambah. Maura tersenyum dalam duduknya.


"Terima kasih Ya Allah, atas nikmatmu untuk keluarga kami."


Maka nikmat Allah mana lagi yang Gifa dustakan? Dan percayalah, dibalik kesulitan pasti ada kemudahan.


****


Like dan Komennya ya guys🌺🌺